28 July 2017

Redenominasi rupiah makin tidak jelas

Redenominasi rupiah kapan? Sepertinya masih lama. Bisa jadi setelah Jokowi menjabat periode kedua (kalau menang). Bisa jadi lebih lama lagi. Sebab orang Indonesia sulit bersepakat untuk urusan begini. 

Jauh sebelum ada isu redenominasi, sekitar 10 tahun lalu, saya sudah usulkan penghapusan tiga nol di mata uang rupiah. Lewat surat pembaca. Ini karena ada beberapa orang asing yang terheran-heran dengan banyaknya nol di rupiah. Uang USD 100 ketika dijadikan rupiah... wow buanyaak banget. 

Sebaliknya, kita orang Indonesia yang berada di luar negeri terkejut ketika menukar uang. Kok IDR 1 juta cuma jadi sedikit ringgit atau dolar Singapura? Betapa lemahnya rupiah. 

Pisang goreng yang di masa kecil saya cuma IDR 100, sekarang ini 2000 di Sidoarjo. Itu yang di kaki lima. Di restoran atau hotel pasti lebih mahal lagi. Artinya, inflasi memang luar biasa.

Saya teringat omongan Monsinyur Bello, saat jadi Uskup Dilli, Timor Timur. Waktu masih masuk Indonesia. Bapa Uskup bilang rupiah ini terlalu lemah. Mestinya satu rupiah sama dengan satu dolar. Atau setidaknya 10 dolar. Caranya? Yang tahu ahli keuangan dan ekonomi, katanya. 

Waktu itu belum ada istilah redenominasi. Maka saya cuma iseng-iseng menulis surat pembaca tentang perlunya menghapus tiga nol. Sehingga kita kembali punya uang receh sen.

 Istilah jutawan pun sudah lama tidak relevan di Indonesia karena semua orang memang jutawan. Wong upah minimum buruh sudah di atas 3 juta. Beda kalau jutawan di Eropa atau Amerika.

Lalu, kapan redenominasi? Menkeu Sri Mulyani kemarin mengatakan masih perlu diskusi dan proses panjang. Pemerintah malah belum berpikir untuk mengajukan rancangan undang-undang ke parlemen. ''Belum prioritas,'' katanya. 

Pagi ini saya untuk pertama kalinya melihat uang kertas baru IDR 1000. Ada gambar gunung dan pemandangan di Banda Neira. Seorang penari berpakaian adat sedang memukul tifa. Eksotis memang.

 Sayang, duit seribu itu tidak cukup untuk menukar tahu isi di warkop kawasan Waru Sidoarjo. 

5 comments:

  1. Di masa kecil saya, Rp 100 bisa beli nasi bungkus komplet dgn sayur dan empal, ga hanya pisang goreng.

    ReplyDelete
  2. betul cak... nilai tukar rupiah jaman biyen memang luar biasa. uang Rp 5 juga bisa untuk beli jajanan.

    ReplyDelete
  3. Redenominasi sebenarnya hanya optik saja. Mau dikurangi 3 atau 4 nolnya sebenarnya gak ngaruh. Dalam ilmu ekonomi, nilai tukar suatu mata-uang itu tergantung dari kuatnya ekonomi suatu negara dibandingkan dengan ekonomi negara lain. Kalau suatu negara eknominya kuat, permintaan pasar modal akan mata uang negara tersebut untuk maksud investasi juga akan kuat. Dan sebaliknya.

    Pd masa rejim Suharto, nilai tukar uang IDR di-peg, turun sedikit demi sedikit terhadap USD, ada min-max nya, batasnya. Walaupun ekonomi Indonesia kalah (lebih tinggi inflasinya) dibandingkan USA, tetap saja di-peg thd dolar. Akibatnya tiap beberapa tahun sekali, harus diadakan devaluasi; kalau tidak, pemerintah harus menanggung beban bunga yg menggunung, dan pengusaha yang untung dari arbitrase nilai tukar yang sebenarnya "fiktif" tersebut.

    Pd thn 1997, belum sempat rejim Suharto devaluasi, IDR kena serangan kilat dari pedagang2 valas dunia, sehingga anjlok dari sekitar 2.200 per USD menjadi 17.000. Akibatnya pengusaha2 yang hampir semuanya melakukan arbitrase thd peg-pemerintah RI, bangkrut. Ekonomi Indonesia kolaps. Yg tidak melakukan arbitrase atau tidak pinjam dlm denominasi USD, selamat, misalnya PT Maspion. Itu krn jasa CFO nya Cik Ronawati Wongso.

    Dari 17.000, setelah dilakukan langkah2 penyelamatan dan kemudian reformasi, nilai IDR kemudian di-float di pasar, tidak lagi di-peg thd USD. (Pd saat ini IDR berada pada posisi 13.325 thd 1 USD.)

    Jadi, nilai tukar valas yg nolnya banyak itu salah siapa? Salah Suharto, hehehe. Paling mudah memang menyalahkan orang yang sudah mati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. luar biasa analisis sampean... gak kalah sama ekonom top. iso dadi penasihan ekonomi bapak trump hehe...

      Delete
    2. Gak usah jd ekonom top. Hanya sempat ambil kelas international finance, bung, dan project akhir saya membahas nilai tukar mata uang Baht pas sebelum krismon terjadi, jd semua analisa yg kupelajari lengket sampai sekarang. Ekonom beneran yg top IQnya 10-20 point diatasku.

      Delete