10 June 2017

GKJW Sumberpucung Malang Tahun 1980




Sumber: Majalah TEMPO 23 AGUSTUS 1980

SIANG itu hampir semua rumah tertutup. Jalan-jalan pun lengang. "Kalau siang begini hampir semua penduduk ke sawah," ujar Satuadi carik Desa Peniwen. Desa ini, berbeda dengan desa sekitarnya, 100% penduduknya beragama Protestan. Mereka tergabung dalam jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Upacara sembahyang di satu-satunya gereja di sana dilakukan dalam bahasa Jawa. Dan umumnya penduduk memiliki Kitab Injil dalam bahasa dan huruf Jawa. Untuk bisa sampai ke Peniwen harus menempuh jalan desa yang berdebu. Itu pun harus naik-turun sepanjang tak kurang dari tujuh km. Tapi tahun depan jalan masuk ke desa ini sudah akan diaspal dengan biaya Inpres.

Semua penduduknya bertani, hampir tak ada yang berdagang. Desa Peniwen masuk Kecamatan Sumberpucung, 40 km sebelah barat Malang. Kamis 21 Agustus 1980 ada perayaan besar di sana. Yaitu peringatan seabad berdirinya desa.

Ada tiga acara yang dijadikan satu: bersih desa, pemugaran gereja yang sudah berumur 50 tahun dan peringatan ulangtahun ke 100 umur desa itu sendiri. Bersih desa memang biasa dilakukan tiap tahun, sebagaimana halnya di desa lain. Kebiasaan ini dilakukan seusai panen sebagai pemujaan Dewi Sri, dewi padi. Tapi di Peniwen upacara itu tidak pernah pakai tari gambyong atau pesta minuman keras. "Disesuaikan dengan peraturan agama," ujar Satuadi.

Baik Djajus maupun Satuadi tidak bisa memastikan apakah benar desa itu mulai dibangun pada 21 Agustus seabad silam. "Buku sejarahnya dipinjam orang dan tidak kembali," ujar Djajus. Tapi menurut cerita, desa itu terbentuk berkat jasa tiga orang yaitu Sakeus, Surti (anak Sakeus) dan Karsini. Orang-orang ini berasal dari Desa Mojowarno, Jombang.

Sebelum membabat hutan Peniwen, mereka pernah menetap di Swaru, Gondanglegi, sebelah selatan Malang. Di situ mereka berhasil mendapat banyak pengikut. Sampai sekarang masih telihat betapa kuatnya jemaat GKJW di Saru.

Di Peniwen dakwah Kristen juga sukses. Mula-mula hanya ketiga orang pen diri tadi yang menempati Desa Peniwen Lambat-laun, menetap pula para pendatang sebagai buruh tani. Penduduk pendatang banyak yang berasal dari Jawa Tengah. Peniwen yang luasnya 717 ha, kini dihuni oleh 689 KK atau 3.381 jiwa.

Sejak 4 bulan lalu, menurut catatan Satuadi, ada 4 orang Islam. Mereka, semuanya perempuan, karena baru saja pindah ke Peniwen karena akan kawin dengan pemuda desa itu. "Ya nanti kawinnya di Balai Sipil," ujar Satuadi. "Tapi biasanya, mereka mengikuti cara sini juga." Artinya masuk Kristen.

Ada juga pemuda Peniwen yang kawin dengan gadis desa lain, kemudian masuk Islam. "Lalu-lintas" semacam itu hampir seimbang. "Tahun 1979 bahkan ada 4 orang Peniwen kawin dengan orang desa lain lalu masuk Islam. Sebaliknya, dalam tahun itu juga, hanya 3 orang luar yang kawin dengan orang sini dan masuk Kristen," tutur Satuadi lagi.

Menurut Djajus yang pernah jadi kepala desa (1950- 1969), belum pernah terjadi pertentangan antar agama di lingkungan desa ini. Juga belum pernah ada penganut agama lain yang berusaha mengembangkan pengaruh di Peniwen. Tapi ada orang Peniwen pindah ke desa sebelahnya dan tetap Kristen, lantas mendirikan jemaat di tempat baru itu.

Sekarang di tiga desa sekitarnya Kromengarf, Tegalrejo dan Sumberpucung -- sudah berdiri kelompok jemaat GKJW yang dilayani oleh pendeta dari Peniwen. Baik Kromengan, Tegalrejo maupun Sumberpucung sebenarnya justru lebih kuat Islamnya. Di Kromengan misalnya ada 2 madrasah, sementara Sumberpucung sudah lama dikenal basis Muhammadiyah. Tapi di Desa Jambuwer -- juga tetangga Peniwen -- yang paling tipis pemeluk Islamnya, belum ada kelompok GKJW-nya.

Ketaatan beragama di Peniwen diperkuat oleh keputusan rembuk desa. Ketika Djajus baru jadi kepala desa, setiap hari Minggu penduduk tidak diperkenankan bekerja di sawah, ladang atau pekerjaan besar lainnya seperti memperbaiki rumah. Melanggar ketentuan ini dihukum "kerja bakti": memperbaiki jalan atau saluran air. Tapi pelanggaran semacam itu biasanya hanya terjadi setahun sekali. "Itu pun biasanya si pelanggar dari luar desa yang tidak tahu kalau hari itu dilarang kerja. Kalau begini yang kena hukuman bukan buruhnya, tapi pemilik tanahnya," ujar Djajus.

Setelah ke gereja, penduduk Peniwen suka saling kunjung-mengunjungi. "Inilah salah satu sebab desa ini maju," ujar Djajus. Sebagai contoh disehutkan, lebih 10 putra desa ini sekarang bekerja di luar negeri, meskipun mereka anak petani. Penduduk Peniwen semuanya memang petani. Dan tidak seorang anak pun yang tidak bersekolah. Di desa itu ada 3 SD negeri dan sebuah SMP Kristen.

Adat Jawa ternyata juta tetap hidup. "Islam atau Kristen itu kan agama pendatang. Aslinya di sini kebatinan," ujar Djajus. Karena itu, menurut Djajus, masih banyak penduduk Peniwen yang menyimpan keris. "Tidak mustahil keris itu punya kekuatan atas kehendak dan kekuasaan Allah," tambahnya.

Dan penduduk Peniwen ternyata juga masih melakukan upacara seperti halnya kebiasaan orang Jawa. Misalnya mengadakan selamatan untuk keluarga yang meninggal: pada hari ketiga, ketujuh sampai keseribu hari. Tapi Djajus menambah: "tentu saja tanpa tahlil."

2 comments:


  1. Hi! Aku tinggal di biara "Zusters van Onze Lieve Vrouw" dengan para biarawati / Lawang samt pergi ke sekolah di sana, di tahun-tahun 1950-1954. Aku mendengar Biara masih ada. Tolong bantu saya dengan orang kontak. Salam Mavis Faverey dari Denmark.

    Mavis...

    ReplyDelete
  2. Biara susteran masih ada di Lawang. Silakan berkunjung kalau mevrow punya kesempatan datang ke Indonesia. Terima kasih.

    ReplyDelete