16 June 2017

Beras rojolele untuk si miskin

Dulu namanya raskin: beras untuk rakyat miskin. Mensos Khofifah yang asli Wonocolo Surabaya itu kemudian mengganti namanya memjadi rastra: beras untuk keluarga sejahtera. Maksudnya sih bagus. Agar kualitas rastra lebih bagus ketimbang raskin.

Sayang, omongan Khofifah sepertinya lebih cuma jargon ala birokrat. Ganti nama, bungkus doang. Beberapa kenalan saya yang kepala desa mengeluhkan beras rastra yang tidak layak konsumsi (manusia).

''Hampir gak ada bedanya dengan raskin dulu,'' ujar sang kades.

Kok gak dikembalikan? ''Jelas dikembalikan. Diganti dengan beras yang mutunya lebih baik,'' jawabnya.

Teman ini sudah lama usul agar raskin alias rastra ini diuangkan saja. Dibuat setara dengan harga beras standar di pasar yang Rp 8.000an itu. Mengapa orang miskin dikasih beras yang kualitasnya setara makanan ternak?

Sekarang ini warga miskin mengganti rastra dengan uang Rp 1.600. Jauh di bawah harga beras terjelek di pasar. Apakah karena itu beras rastra umumnya berdebu, apek, kekuningan, banyak kotoran?

Beberapa hari terakhir saya baca di koran soal rastra yang dikembalikan. Hari ini giliran Trenggalek yang mengembalikan beras miskin sebanyak 25 ton. ''Warga mengeluhkan kualitas beras yang sangat jelek,'' ujar seorang kepala desa di Trenggalek.

Mumpung bulan puasa, bulan berbagi kebahagiaan, saya membayangkan pemerintah melakukan revolusi mental di bidang perberasan untuk rakyat miskin. Beras rastra atau raskin bukan lagi kualitas terjelek (cuci gudang), tapi kelas premium seperti rojolele.

Apa salahnya rakyat miskin makan beras yang harganya 12 ribuan? Beras yang biasa disantap menteri-menteri, gubernur, bupati, camat?

4 comments:

  1. Yang jadi menteri ga mau turun ke bawah seperti Ahok. Telusuri aliran dana dari atas sampai jadi raskin atau rastra atau apalah namanya. Di mana aliran tersebut bocor, bisa ditelusuri. Ini kalau mau kerja. Begitu ditelusuri, tinggal ditembel dan gunakan perangkat2 anti kebocoran.

    ReplyDelete
  2. Setiap sabtu dan minggu mensos khofifah ini pulang kampung di surabaya. Biasanya diundang ke desa2, pengajian dsb. Tapi ya gak bisa kontrol masalah2 tetek bengek kayak beras miskin ini. Sistem birokrasinya wis kadung bobrok... makanya perlu revolusi mental kayak Baba Ahok itu.

    Di indonesia ini aneh: subsidi untuk wong miskin kok pake beras terjelek. Mestinya ya beras standar lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru masalah tetek bengek itu yg perlu diberesin, baru lah rakyat akan makmur

      Delete
  3. Jangankan unt.orang miskin dapat beras jelek.wong menjelang lebaran bnyk beredar beras oplosan.kyak sy beli beras harga 10 rbu.eh dapetnya beras putih dioplos ama yg jelek.naseb naseb orep di indonesia

    ReplyDelete