22 June 2017

Doa BAPA KAMI yang sering dilupakan

Umat Katolik di seluruh dunia hari ini disuguhi bacaan tentang doa Bapa Kami. Pater Noster. Romo Kawulo. Our Father. Ama Kamen (bahasa Lamaholot, Flores Timur)....

Doa sederhana yang diajarkan untuk anak-anak TK, selain Salam Maria, Aku Percaya, Kemuliaan. Kalau tidak hafal Bapa Kami jangan harap ikut komuni pertama. Itu pernah dialami teman saya di pelosok NTT... dulu.

''Bapa kami yang ada di surga... saya sudah tobat,'' begitu doa Bapa Kami versi teman saya yang sangat sulit mengingat.

Sampai sekarang saya masih ingat teman masa kecil ini ketika umat Katolik mendaraskan (lebih sering dinyanyikan) Bapa Kami di gereja. Saya tidak sempat mengecek apakah kawan ini sudah hafal Bapak Kami setelah punya beberapa anak.

Yang pasti, umat Kristen (semua denominasi) sangat paham Bapa Kami. Bahkan tahu banyak lagu yang syairnya diambil dari doa yang diajarkan Yesus Kristus ini. Mulai yang gregorian (banyak versi), pentatonik Jawa, Tionghoa, Flores (versinya banyak), hingga versi keroncong dan karismatik.

Saya sendiri belakangan suka Bapa Kami versi KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) yang hit di paroki-paroki seluruh Pulau Jawa itu. Dua nyanyian Bapa Kami ciptaan Pak Putut itu memang indah sekali melodinya. Dan tetap dalam pakem liturgi.

Beda dengan lagu Bapa Kami Filipina yang sudah lama tidak dipakai dalam misa karena iramanya mars. Katanya tidak cocok dengan kriteria liturgi. Padahal dulu Bapa Kami Filipina paling ngetop di Jawa. Sampai semua orang Katolik di Jawa hafal nomornya di Madah Bakti: 144.

Bacaan Injil pagi tentang Bapa Kami juga mengingatkan saya pada seorang ibu Tionghoa di kawasan Trawas Mojokerto. Ibu janda ini bangga banget dengan putrinya yang punya banyak prestasi di sekolah, fashion show, duta wisata, dsb.

Apa rahasianya Bu? ''Doa Bapa Kami. Tiap hari saya dan anak-anak saya selalu berdoa Bapa Kami,'' ujar ibu yang aktif di gereja aliran Pentakosta.

Wow... Saya pun manggut-manggut. Jadi malu karena saya tidak rutin berdoa Bapa Kami.

Pater noster
qui est in caelis...

20 June 2017

Ali Aspandi Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo



Apa yang kau cari di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda)?
Adakah gaji bulan atau proyek untuk pengurus?

Begitu pertanyaan Denny Novita, novelis di Sedati, yang mengaku baru tahu kalau di Sidoarjo ada dewan kesenian. Dewan seniman yang dinamikanya tidak kalah dengan partai politik. ''Kok ribut seperti itu?'' tanya Novita kepada saya.

Yang jelas, tidak ada gaji atau honor. Dekesda biasanya cuma dapat dana hibah dari APBD Sidoarjo. Jumlahnya tidak pasti. Pernah cuma Rp 10 juta setahun (versi Hartono mantan ketua Dekesda), kemudian dinaikkan terus. Kabarnya sudah di atas Rp 100 juta. Bahkan katanya lagi sekitar Rp 450 juta.

Yang pasti, suasana musyawarah seniman di Museum Mpu Tantular, Buduran, Minggu 18 Juni 2017 jauh dari kata kondusif. Hiruk pikuk, penuh interupsi, teriak-teriak layaknya sidang parlemen di Senayan. Pengurus lama mempertanyakan panitia musyawarah yang dianggap cacat prosedural.

Sebaliknya, panitia yang dipimpin Lidia Iik memiliki legitimasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Ada surat keputusan dari Kepala Dikbud Sidoarjo Mustain tertanggal 13 Juni 2017. Debat, adu argumentasi pun terus berlanjut.

Akhirnya, kubu pengurus lama memilih walkout alias meninggalkan ruang musyawarah. Dari 59 peserta (49 undangan dan 10 pengurus lama), yang bertahan tinggal 33 peserta.

''Sudah lebih dari kuorum. Sidangnya jalan terus. Lah, mereka sendiri yang memilih tidak menggunakan hak untuk memberikan suara,'' ujar Gatot Kintranggono, sekretaris panitia.

Ada empat calon ketua umum yang diajukan. Ali Aspandi (sutradara film), Dwi Puji Utami (tari), Aji (musik), dan Lidia Iik (seni rupa). Mbak Lidia mundur dari bursa calon. Sudah bisa diperkirakan hasilnya seperti apa.

Ali Aspandi, lawyer yang tinggal di Sekardangan, meraih dukungan terbanyak dengan 8 suara. Aji dapat 3 suara. Dwi nihil. Maka, Ali Aspandi dinyatakan sah sebagai ketua Dewan Kesenian Sidoarjo periode 2017-2022. Tinggal menyusun pengurus lengkap untuk disahkan Kepala Dinas Dikbud Sidoarjo sebelum dilantik oleh bupati.

Apakah hasil musyawarah (yang tidak mufakat) di museum ini bisa diterima semua kalangan seniman dan pembina kesenian di Kabupaten Sidoarjo? Rasanya berat. Mengingat pengurus lama yang walkout tadi. Bukan tidak mungkin akan ada musyawarah tandingan untuk membentuk Dekesda versi yang lain.

''Yang jelas, saya datang ke sini dalam kapasitas pribadi. Bukan sebagai ketua Dekesda (lama),'' tegas Djoko Supriyadi.

Mumpung masih Ramadan, bulan suci, penuh rahmat dan ampunan, mudah-mudahan para seniman Sidoarjo bisa kompak dan bersatu lagi. Jarene rukun agawe sentosa!!!

19 June 2017

Sulitnya menyimak khotbah di gereja

Tidak gampang menyimak homili (alias khotbah) di gereja. Khususnya usia kita sudah tak muda lagi. Ketika usia romo lebih muda. Sebab bahan-bahan khotbah itu sudah kita kunyah sejak sekolah dasar.

Joke-joke pastor untuk bumbu khotbah pun hampir tidak ada yang baru. Guyonan lawas. Kita sudah hafal kelucuannya di mana. Maka, ketika banyak orang tertawa, saya hanya diam saja. Senyum sedikit lah.

''Mazmur itu seluruhnya ada berapa? Ada umat yang tahu,'' ujar Romo Stanislaus E. Beda CM dengan logat Flores Timur super kental.

''Ada 150 romo....,'' jawab seorang pelajar dengan suara keras.

''Bagus... ternyata ada juga umat Katolik yang paham kitab Mazmur,'' ujar romo kongregasi misi (CM) itu. Umat tertawa sejenak.

Setelah pater senior ini bicara tentang ekaristi. Sesuai topik Tubuh dan Darah Kristus. Isi homilinya sudah tak asing lagi bagi umat yang usianya di atas 30.

''Kita harus menjadi umat Katolik yang ekaristis,'' ujar pater masih dengan logat Lamaholot kental punya.

Maksudnya ekaristis? Saya sudah melamun ke mana-mana. Badan di dalam gereja, dengar homili, tapi otak berkeliaran tak menentu. Betapa sulitnya mengendalikan pikiran. Konsentrasi mendengarkan khotbah.

Tahu-tahu khotbah selesai. Misa dilanjutkan dengan Credo alias Aku Percaya.

''Maksudnya pater tentang umat yang ekaristis ya umat yang rajin ikut ekaristi. Aktif misa di gereja,'' begitu kesimpulan yang saya buat sendiri di warkop usai misa.

Apa benar begitu? Kapan-kapan saya tanya Pater Stanis, romo asal Flores, yang nyasar ke Pandaan Pasuruan, Keuskupan Malang.

Salam ekaristi.

Sidoarjo hanya perlu satu klub super

Sidoarjo mestinya hanya punya SATU klub sepak bola yang berlaga di level tinggi. Sidoarjo tidak punya kapasitas ekonomi, sumber daya, pemain-pemain bermutu untuk membentuk lebih dari satu klub di Liga Indonesia.

Sayang, rupanya orang-orang bola di Kabupaten Sidoarjo sulit bersatu. Dan mengalah. Egonya terlalu tinggi. Maka wacana merger klub-klub besar di Sidoarjo gagal total. Situasi persepakbolaan di Sidoarjo pun tak beranjak dari masa lalu. Bahkan mungkin lebih buruk.

Saat ini ada beberapa klub Sidoarjo yang berkiprah di Liga 2 dan Liga 3. Persida di Liga 2, Deltras di Liga 3. Sinar Harapan dari Tulangan juga main di Liga 3. Selevel dengan Deltras.

Ada juga klub luar yang memilih homebase di Sidoarjo. Kalau tidak salah Jombang FC di Tulangan. Mitra Muda di Gedangan. Dulu Bhayangkara FC (papan atas Liga 1) di Gelora Delta Sidoarjo. Sebelumnya lagi Laga FC juga berumah di Sidoarjo.

Sayangnya, semua klub ini tidak punya penonton setia. Stadion selalu kosong. Maka Bhayangkara memilih hengkang ke Bekasi atau Jakarta. Laga FC juga lari ke Jawa Tengah.

Dari sekian banyak tim itu, sebetulnya hanya dua yang bisa dianggap mewakili Sidoarjo: Deltras dan Persida. Yang punya nama besar tentu Deltras. Persida yang merupakan klub tertua (tepatnya perserikatan) tidak terlalu buruk. Siapa sangka Persida bisa lolos ke Liga 2 alias Divisi Utama? Deltras yang justru terjun ke kasta terendah.

Baik Persida maupun Deltras sama-sama sulit dapat sponsor alias duit. Apalagi ada larangan menggunakan APBD untuk membiayai sepak bola di daerah. Larangan itulah yang membuat Deltras akhirnya degradasi. Dulu punya nama besar ya karena didukung APBD.

Musim kompetisi tahun ini sangat berat bagi semua klub Sidoarjo. Ini akan menjadi seleksi alam sekaligus bahan evaluasi bagi pengurus PSSI Sidoarjo, pemkab, suporter, stakeholder yang lain untuk melakukan evaluasi.

Apakah tetap semangat ikut kompetisi terbawah, Liga 3, buat cari pengalaman pemain muda, kemudian dijual ke klub-klub di atasnya? Atau membentuk satu tim yang benar-benar tangguh? Sebagai ikon Kota Sidoarjo?

Kita bisa belajar dari tetangga di utara itu. Persebaya makin mantap sebagai satu-satunya ikon kebanggaan arek Suroboyo. Loyalitas ribuan bonek tidak ada duanya di Indonesia. Dan, ironisnya, sebagian besar anak-anak muda Sidoarjo penggemar bola justru bonek alias suporter fanatik Persebaya.

Maka, kalaupun Sidoarjo hanya punya satu superclub, belum tentu Gelora Delta Sidoarjo dijubeli penonton. Apalagi dengan banyak tim seperti sekarang.

Persebaya masih mengkhawatirkan

Persebaya sudah kembali ke kompetisi resmi. Manajemennya baru dan bagus. Suporter tulen yang disebut Bonek pun tetap setia mendukung tim kesayangannya. Dukungan masih yang tidak diperoleh tim-tim mana pun di Indonesia.

Bandingkan dengan Persida Sidoarjo yang sama-sama main di Liga 2. Tim lawas tetangga Persebaya ini tidak punya suporter dan penonton. ''Kami seperti bermain di kandang lawan,'' kata Alhadad pelatih Persida yang asli Surabaya itu.

Bandingkan dengan Persebaya yang ditonton 50 ribu orang. Gelora Bung Tomo kemarin penuh sesak saat laga hari jadi melawan Persik Kediri. Ini modal bisnis sepak bola yang luar biasa. Persebaya bakal punya masa depan yang cerah. Sebagai klub sepak bola yang sangat sehat. Pasti banyak sponsor yang berminat.

Sayang banget, mutu permainan Persebaya belum bagus. Cuma seri 1-1. Padahal peluangnya banyak. Padahal bonek-bonek, yang datang dari berbagai kota di Jatim sudah haus kemenangan.

''Kami haus gol kamu!'' Begitu tulisan besar-besar di kaos beberapa bonek Waru Sidoarjo yang saya baca.

Kapan menangnya mas-mas Persebaya? Di uji coba sebelumnya kalah dari Badung Bali yang tidak terkenal. Lah.. kok sama Persik yang bukan Liga 1 belum menang juga?

Ini jadi PR besar dan sangat berat pelatih baru Alfredo Vera. Sangat sangat berat. Sebab materi pemain Persebaya bukan sekelas Evan Dimas atau Andik atau kelas Liga 1. Mereka nama-nama baru yang masih muda. Belum terbiasa menghadapi tekanan yang luar biasa dari Bonek dan media massa.

Ojo lali, coach Iwan Setiawan dipecat gara-gara arogan dan... gagal memberi kemenangan. ''Kualitas Persebaya sekarang ini masih jauhlah (ketimbang Persebaya-Persebaya) yang lalu,'' ujar Suhu Slamet, wartawan balbalan senior plus pengamat Persebaya sejak era perserikatan tahun 1980-an.

Setelah Lebaran, Persebaya kembali berkompetisi di Liga 2. The Green Force ini dituntut untuk menang menang menang.... agar bisa promosi ke Liga 1. Minimal bisa bertahan di Liga 2.

16 June 2017

Beras rojolele untuk si miskin

Dulu namanya raskin: beras untuk rakyat miskin. Mensos Khofifah yang asli Wonocolo Surabaya itu kemudian mengganti namanya memjadi rastra: beras untuk keluarga sejahtera. Maksudnya sih bagus. Agar kualitas rastra lebih bagus ketimbang raskin.

Sayang, omongan Khofifah sepertinya lebih cuma jargon ala birokrat. Ganti nama, bungkus doang. Beberapa kenalan saya yang kepala desa mengeluhkan beras rastra yang tidak layak konsumsi (manusia).

''Hampir gak ada bedanya dengan raskin dulu,'' ujar sang kades.

Kok gak dikembalikan? ''Jelas dikembalikan. Diganti dengan beras yang mutunya lebih baik,'' jawabnya.

Teman ini sudah lama usul agar raskin alias rastra ini diuangkan saja. Dibuat setara dengan harga beras standar di pasar yang Rp 8.000an itu. Mengapa orang miskin dikasih beras yang kualitasnya setara makanan ternak?

Sekarang ini warga miskin mengganti rastra dengan uang Rp 1.600. Jauh di bawah harga beras terjelek di pasar. Apakah karena itu beras rastra umumnya berdebu, apek, kekuningan, banyak kotoran?

Beberapa hari terakhir saya baca di koran soal rastra yang dikembalikan. Hari ini giliran Trenggalek yang mengembalikan beras miskin sebanyak 25 ton. ''Warga mengeluhkan kualitas beras yang sangat jelek,'' ujar seorang kepala desa di Trenggalek.

Mumpung bulan puasa, bulan berbagi kebahagiaan, saya membayangkan pemerintah melakukan revolusi mental di bidang perberasan untuk rakyat miskin. Beras rastra atau raskin bukan lagi kualitas terjelek (cuci gudang), tapi kelas premium seperti rojolele.

Apa salahnya rakyat miskin makan beras yang harganya 12 ribuan? Beras yang biasa disantap menteri-menteri, gubernur, bupati, camat?

14 June 2017

Kanker gerogoti Jupe, Yana, Cak Priyo

Baru saja artis Julia Perez berpulang. Kanker serviks stadiun akhir. Dokter sudah lama angkat tangan. Jupe meninggalkan kita dengan segala kenangan manis, pahit, kecut. Jadi ingat lagu Belah Duren yang asal jadi itu.

Sebelum Jupe menyerah, artis lawas Yana Zein juga meninggal dunia. Kanker parah. Sempat ke Tiongkok tapi gagal diatasi. Pura-pura sehat di depan wartawan, senyum manis, dandan cantik... eh besoknya wassalam.

Kematian Yana yang biasa jadi pemeran antagonis sempat ramai di internet. Bukan bahas kanker dan kiat-kiat mengatasi wabah kanker, gaya hidup, pola makan dsb, tapi... agama.

Yana yang awalnya mau dimakamkan secara kristiani, tiba-tiba didatangi bapaknya. Pak Nurjaman ngotot agar anaknya dimakamkan secara muslim. Bapak ini tidak tahu kalau Yana sudah punya jalan lain sejak orang tuannya bercerai. Saat itu Yana masih SMP alias belasan tahun.

Syukurlah, ibunda Yana yang berdarah Rusia dan Ortodoks mengalah. Ribut-ribut soal SARA tidak membesar. Toh ini bukan pilkada. Jenazah Yana hendak pergi ke liang lahat. Bukan ikut pilkada di Jakarta.

Sebelum Yana, seniman teater, pelawak, dan presenter terkenal di Surabaya/Sidoarjo Priyo Aljabar berpulang. Pelawak grup Galajapo ini ternyata diam-diam menyimpan sel kanker di perutnya. Ususnya digerogoti.

Rongga perut untuk menyimpan makanan tidak ada. Akibatnya, Cak Priyo tidak bisa makan. Tubuhnya yang dulu gemuk jadi tinggal tulang. Perutnya yang menggelembung. Saya yang dekat Cak Priyo, sering cangkrukan, diskusi, tak tega melihat kondisinya. Meskipun sempat besuk tiga kali ke rumahnya di Jenggolo Sidoarjo.

Akhirnya... Cak Priyo meninggal dunia. Dimakamkan dinihari. Maaf Cak, saya tidak sempat mengantar karena malam itu saya berada di kawasan pegunungan Trawas. Saya hanya bisa berdoa di depan makam Sampean di dekat sungai di Pucang Sidoarjo itu.

Rupanya kanker menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya artis atau selebritis, siapa saja bisa terinfeksi. Karena itu, rencana Ahok untuk membangun hospital khusus kanker di Jakarta patut didukung penuh.

Sayang, Ahok lagi nyantri di ruang tahanan.

10 June 2017

GKJW Sumberpucung Malang Tahun 1980




Sumber: Majalah TEMPO 23 AGUSTUS 1980

SIANG itu hampir semua rumah tertutup. Jalan-jalan pun lengang. "Kalau siang begini hampir semua penduduk ke sawah," ujar Satuadi carik Desa Peniwen. Desa ini, berbeda dengan desa sekitarnya, 100% penduduknya beragama Protestan. Mereka tergabung dalam jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Upacara sembahyang di satu-satunya gereja di sana dilakukan dalam bahasa Jawa. Dan umumnya penduduk memiliki Kitab Injil dalam bahasa dan huruf Jawa. Untuk bisa sampai ke Peniwen harus menempuh jalan desa yang berdebu. Itu pun harus naik-turun sepanjang tak kurang dari tujuh km. Tapi tahun depan jalan masuk ke desa ini sudah akan diaspal dengan biaya Inpres.

Semua penduduknya bertani, hampir tak ada yang berdagang. Desa Peniwen masuk Kecamatan Sumberpucung, 40 km sebelah barat Malang. Kamis 21 Agustus 1980 ada perayaan besar di sana. Yaitu peringatan seabad berdirinya desa.

Ada tiga acara yang dijadikan satu: bersih desa, pemugaran gereja yang sudah berumur 50 tahun dan peringatan ulangtahun ke 100 umur desa itu sendiri. Bersih desa memang biasa dilakukan tiap tahun, sebagaimana halnya di desa lain. Kebiasaan ini dilakukan seusai panen sebagai pemujaan Dewi Sri, dewi padi. Tapi di Peniwen upacara itu tidak pernah pakai tari gambyong atau pesta minuman keras. "Disesuaikan dengan peraturan agama," ujar Satuadi.

Baik Djajus maupun Satuadi tidak bisa memastikan apakah benar desa itu mulai dibangun pada 21 Agustus seabad silam. "Buku sejarahnya dipinjam orang dan tidak kembali," ujar Djajus. Tapi menurut cerita, desa itu terbentuk berkat jasa tiga orang yaitu Sakeus, Surti (anak Sakeus) dan Karsini. Orang-orang ini berasal dari Desa Mojowarno, Jombang.

Sebelum membabat hutan Peniwen, mereka pernah menetap di Swaru, Gondanglegi, sebelah selatan Malang. Di situ mereka berhasil mendapat banyak pengikut. Sampai sekarang masih telihat betapa kuatnya jemaat GKJW di Saru.

Di Peniwen dakwah Kristen juga sukses. Mula-mula hanya ketiga orang pen diri tadi yang menempati Desa Peniwen Lambat-laun, menetap pula para pendatang sebagai buruh tani. Penduduk pendatang banyak yang berasal dari Jawa Tengah. Peniwen yang luasnya 717 ha, kini dihuni oleh 689 KK atau 3.381 jiwa.

Sejak 4 bulan lalu, menurut catatan Satuadi, ada 4 orang Islam. Mereka, semuanya perempuan, karena baru saja pindah ke Peniwen karena akan kawin dengan pemuda desa itu. "Ya nanti kawinnya di Balai Sipil," ujar Satuadi. "Tapi biasanya, mereka mengikuti cara sini juga." Artinya masuk Kristen.

Ada juga pemuda Peniwen yang kawin dengan gadis desa lain, kemudian masuk Islam. "Lalu-lintas" semacam itu hampir seimbang. "Tahun 1979 bahkan ada 4 orang Peniwen kawin dengan orang desa lain lalu masuk Islam. Sebaliknya, dalam tahun itu juga, hanya 3 orang luar yang kawin dengan orang sini dan masuk Kristen," tutur Satuadi lagi.

Menurut Djajus yang pernah jadi kepala desa (1950- 1969), belum pernah terjadi pertentangan antar agama di lingkungan desa ini. Juga belum pernah ada penganut agama lain yang berusaha mengembangkan pengaruh di Peniwen. Tapi ada orang Peniwen pindah ke desa sebelahnya dan tetap Kristen, lantas mendirikan jemaat di tempat baru itu.

Sekarang di tiga desa sekitarnya Kromengarf, Tegalrejo dan Sumberpucung -- sudah berdiri kelompok jemaat GKJW yang dilayani oleh pendeta dari Peniwen. Baik Kromengan, Tegalrejo maupun Sumberpucung sebenarnya justru lebih kuat Islamnya. Di Kromengan misalnya ada 2 madrasah, sementara Sumberpucung sudah lama dikenal basis Muhammadiyah. Tapi di Desa Jambuwer -- juga tetangga Peniwen -- yang paling tipis pemeluk Islamnya, belum ada kelompok GKJW-nya.

Ketaatan beragama di Peniwen diperkuat oleh keputusan rembuk desa. Ketika Djajus baru jadi kepala desa, setiap hari Minggu penduduk tidak diperkenankan bekerja di sawah, ladang atau pekerjaan besar lainnya seperti memperbaiki rumah. Melanggar ketentuan ini dihukum "kerja bakti": memperbaiki jalan atau saluran air. Tapi pelanggaran semacam itu biasanya hanya terjadi setahun sekali. "Itu pun biasanya si pelanggar dari luar desa yang tidak tahu kalau hari itu dilarang kerja. Kalau begini yang kena hukuman bukan buruhnya, tapi pemilik tanahnya," ujar Djajus.

Setelah ke gereja, penduduk Peniwen suka saling kunjung-mengunjungi. "Inilah salah satu sebab desa ini maju," ujar Djajus. Sebagai contoh disehutkan, lebih 10 putra desa ini sekarang bekerja di luar negeri, meskipun mereka anak petani. Penduduk Peniwen semuanya memang petani. Dan tidak seorang anak pun yang tidak bersekolah. Di desa itu ada 3 SD negeri dan sebuah SMP Kristen.

Adat Jawa ternyata juta tetap hidup. "Islam atau Kristen itu kan agama pendatang. Aslinya di sini kebatinan," ujar Djajus. Karena itu, menurut Djajus, masih banyak penduduk Peniwen yang menyimpan keris. "Tidak mustahil keris itu punya kekuatan atas kehendak dan kekuasaan Allah," tambahnya.

Dan penduduk Peniwen ternyata juga masih melakukan upacara seperti halnya kebiasaan orang Jawa. Misalnya mengadakan selamatan untuk keluarga yang meninggal: pada hari ketiga, ketujuh sampai keseribu hari. Tapi Djajus menambah: "tentu saja tanpa tahlil."

Kangen Kampoeng Ilmu Surabaya

Sudah lama banget saya tidak mampir ke Kampoeng Ilmu. Pusat buku-buku lawas (plus) bajakan di Jalan Semarang, Surabaya. Padahal dulu hampir tiap minggu saya singgah untuk memburu buku-buku murah. Harganya lebih murah di bawah 50 persen ketimbang di Gramedia.

Suasana Kampoeng Ilmu tidak seramai 5 atau 6 tahun lalu. Pengunjungnya tidak sampai 20 orang. Itu pun lebih banyak yang nunut internet gratis. Tidak ada yang baca buku. Mungkin inilah tanda-tanda senjaningkala buku di negeri kita. Negeri yang masyarakatnya tidak sempat menjadi reading society, tapi langsung melompat ke media sosial dan internet.

''Turun banyak Bang. Sehari dapat 5 pembeli aja wis apik,'' kata gadis berjilbab di pojok. Dulu bisa 50 pembeli sehari.

Saya perhatikan cukup banyak buku baru, best seller, edisi miring. Alias kopian. Alias bajakan. Saya pun membeli 3 nobel. Satu karya Pramoedya dan 2 karya Eka Kurniawan. Tidak sampai IDR 100 ribu. Kalau di Gramedia bisa IDR 250.

''Titip Arus Balik dan Dunia Sophie,'' pesan Novita novelis asal Sedati Sidoarjo.

''Ada... tapi versi kopian. Gak apa-apa?'' jawab saya. Siapa tahu penulis buku ini benar-benar antibuku bajakan.

Hem... mau juga. Bagaimana kalau bukumu juga dibajak dan dijual di lapak-lapak itu? Gak sempat saya tanyakan. Hehe...

Semoga buku cetak masih diberi umur panjang! Tapi kalo gak ono sing moco yo piye...

Trimoelja Soerjadi gigih membela Ahok

Di usianya yang jelang kepala delapan, tepatnya 78 tahun, Trimoelja Darmasetia Soerjadi masih tahes. Advokat kawakan ini masih sibuk mendampingi kliennya di ruang sidang pengadilan. Tak hanya di Surabaya, tapi juga Jakarta dan kota-kota lain.

Jamunya apa? Hehe... Istirahat cukup, jaga makanan, olahraga ringan, tidak stres. Ibadah jangan lupa. Begitu antara lain yang dikatakan Pak Tri yang asli arek Suroboyo itu. ''Kita tidak boleh membeda-bedakan manusia atas dasar suku agama ras golongan dsb. Itu prinsip kami sebagai advokat,'' ujar lulusan FH Unair tahun 1979 itu.

Trimoelja sangat kondang di masa Orde Baru karena getol membela korban-korban HAM di Jatim. Yang paling fenomenal tentu kasus Marsinah. Buruh pabrik arloji di Porong itu (sekarang ditenggelamkan lumpur Lapindo) dibunuh dan mayatnya dibuang ke hutan.

Pak Tri dan kawan-kawan berjuang untuk mengungkap kasus ini meskipun ditekan rezim orba yang represif. Sejak itulah nama Trimoelja mencorong di dalam dan luar negeri. Trimoelja pun makin dikenal sebagai tokoh pembela hak asasi manusia (HAM).

Belum lama ini Trimoelja dipercaya Ahok untuk mendampinginya dalam sidang kasus dugaan penodaan agama. ''Saya diminta langsung sama Pak Ahok,'' ujarnya.

Meskipun capek, maklum sudah sepuh, Trimoelja senang menangani kasus yang diduga kental dengan muatan politik SARA itu. Coba kalau Ahok tidak maju pilkada, mungkin tidak akan ada unjuk rasa jutaan manusia. Berjilid-jilid. Ahok pun mungkin tak bernasib seperti sekarang.

Sebagai muslim tulen, Trimoelja menegaskan bahwa Ahok tidak melakukan tindak pidana penistaan agama. Ada banyak bukti, saksi ahli, hingga saksi fakta yang kasih keterangan di sidang. Tapi.... hasilnya seperti itu. Ahok divonis 2 tahun penjara.

Cukup ringan dibandingkan hukuman maksimal 5 tahun. Tapi bagi Trimoelja, mestinya vonis bebas. Setidaknya hukuman percobaan seperti tuntunan jaksa. Karena itu, Trimoelja dan tim pembeli menyiapkan memori banding.

Tapi.... kerja keras siang malam itu sia-sia. Ahok lewat istri dan adiknya mencabut banding. Pasrah bongkokan. Menerima vonis 2 tahun. Trimoelja dkk pun tak bisa apa-apa. Kalau kliennya pasrah, rela dibui.. ya piye maneh?

Trimoelja pun hanya bisa mengikuti keinginan Ahok dan keluarganya. Meskipun gara-gara membela Ahok, dia dibuli di media sosial. Dianggap membela seorang penista agama. Dan tuduhan-tuduhan tidak enak lainnya.

''Ini sudah risiko profesi (pengacara),'' kata ayah tiga anak itu.

02 June 2017

Grup WA tanpa permisi

Aplikasi WA sudah lama menggantikan SMS yang dulu sangat terkenal itu. Saat ini belum tentu dalam seminggu ada SMS yang saya terima. Kalau WA mah sangat sering.

WA memang luar biasa. Bisa dipakai untuk kirim foto, musik, video, dan apa saja kecuali uang. WA juga sudah lama menggantikan grup BBM di berbagai komunitas dan tempat kerja. Ponsel BB saya sudah lama jadi besi tua. Nganggur.

Tapi ya itu... WA juga terlalu berisik. Apalagi kalau ikut grup yang anggotanya hiperaktif. Kalau dituruti bisa habis waktu kita memelototi layar HP. Kapan bisa diskusi yang sedikit serius atau baca buku? Bisa gila kita orang!

Selama dua minggu ini saya harus menghapus 4 grup WA. Bukan apa-apa. Sang teman yang jadi admin(istrator) memasukkan begitu saja nomor saya di grup WA yang baru dia buat. Ada grup seniman, tempo dulu, komunitas dsb. Tahu-tahu saya sudah masuk grup.

Berbeda dengan grup BBM atau Facebook, grup WA ini tidak punya mekanisme unfollow. Tidak pakai invite atau restu dari calon anggota. Siapa saja dicemplungkan ke grup A B C D dst. Memangnya semua orang senang ngerumpi di media sosial?

Kalau di FB, yang juga laris di Sidoarjo, kita bisa tetap anggota grup tanpa perlu membaca status-status yang ditulis anggota. Tidak ada notifikasi karena memang sudah dimatikan. Maka saya masih anggota 3 grup FB Sidoarjo tapi tidak pernah membaca isinya.

Nah, di grup WA kita hanya bisa membisukan (mute) saja. Tapi tetap ada notifikasi. Orang seakan dipaksa untuk membuka pesan-pesan yang sudah puluhan atau ratusan itu. Lebih gila lagi kalau semua anggota rajin bikin status, nyebar meme, komen ini itu dsb.

Maka, satu-satunya cara agar tidak diganggu notofikasi WA ya... tidak ikut grup. Kecuali grup khusus untuk pekerjaan atau topik yang benar-benar penting.

Semoga pembuat aplikasi WA mau menambah opsi unfollow kayak di FB itu. Iseng-iseng saya lihat di Google, ternyata sudah ada ribuan orang yang komplain karena tiba-tiba dimasukkan dalam grup WA.