22 June 2017

Doa BAPA KAMI yang sering dilupakan

Umat Katolik di seluruh dunia hari ini disuguhi bacaan tentang doa Bapa Kami. Pater Noster. Romo Kawulo. Our Father. Ama Kamen (bahasa Lamaholot, Flores Timur)....

Doa sederhana yang diajarkan untuk anak-anak TK, selain Salam Maria, Aku Percaya, Kemuliaan. Kalau tidak hafal Bapa Kami jangan harap ikut komuni pertama. Itu pernah dialami teman saya di pelosok NTT... dulu.

''Bapa kami yang ada di surga... saya sudah tobat,'' begitu doa Bapa Kami versi teman saya yang sangat sulit mengingat.

Sampai sekarang saya masih ingat teman masa kecil ini ketika umat Katolik mendaraskan (lebih sering dinyanyikan) Bapa Kami di gereja. Saya tidak sempat mengecek apakah kawan ini sudah hafal Bapak Kami setelah punya beberapa anak.

Yang pasti, umat Kristen (semua denominasi) sangat paham Bapa Kami. Bahkan tahu banyak lagu yang syairnya diambil dari doa yang diajarkan Yesus Kristus ini. Mulai yang gregorian (banyak versi), pentatonik Jawa, Tionghoa, Flores (versinya banyak), hingga versi keroncong dan karismatik.

Saya sendiri belakangan suka Bapa Kami versi KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) yang hit di paroki-paroki seluruh Pulau Jawa itu. Dua nyanyian Bapa Kami ciptaan Pak Putut itu memang indah sekali melodinya. Dan tetap dalam pakem liturgi.

Beda dengan lagu Bapa Kami Filipina yang sudah lama tidak dipakai dalam misa karena iramanya mars. Katanya tidak cocok dengan kriteria liturgi. Padahal dulu Bapa Kami Filipina paling ngetop di Jawa. Sampai semua orang Katolik di Jawa hafal nomornya di Madah Bakti: 144.

Bacaan Injil pagi tentang Bapa Kami juga mengingatkan saya pada seorang ibu Tionghoa di kawasan Trawas Mojokerto. Ibu janda ini bangga banget dengan putrinya yang punya banyak prestasi di sekolah, fashion show, duta wisata, dsb.

Apa rahasianya Bu? ''Doa Bapa Kami. Tiap hari saya dan anak-anak saya selalu berdoa Bapa Kami,'' ujar ibu yang aktif di gereja aliran Pentakosta.

Wow... Saya pun manggut-manggut. Jadi malu karena saya tidak rutin berdoa Bapa Kami.

Pater noster
qui est in caelis...

20 June 2017

Ali Aspandi Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo



Apa yang kau cari di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda)?
Adakah gaji bulan atau proyek untuk pengurus?

Begitu pertanyaan Denny Novita, novelis di Sedati, yang mengaku baru tahu kalau di Sidoarjo ada dewan kesenian. Dewan seniman yang dinamikanya tidak kalah dengan partai politik. ''Kok ribut seperti itu?'' tanya Novita kepada saya.

Yang jelas, tidak ada gaji atau honor. Dekesda biasanya cuma dapat dana hibah dari APBD Sidoarjo. Jumlahnya tidak pasti. Pernah cuma Rp 10 juta setahun (versi Hartono mantan ketua Dekesda), kemudian dinaikkan terus. Kabarnya sudah di atas Rp 100 juta. Bahkan katanya lagi sekitar Rp 450 juta.

Yang pasti, suasana musyawarah seniman di Museum Mpu Tantular, Buduran, Minggu 18 Juni 2017 jauh dari kata kondusif. Hiruk pikuk, penuh interupsi, teriak-teriak layaknya sidang parlemen di Senayan. Pengurus lama mempertanyakan panitia musyawarah yang dianggap cacat prosedural.

Sebaliknya, panitia yang dipimpin Lidia Iik memiliki legitimasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Ada surat keputusan dari Kepala Dikbud Sidoarjo Mustain tertanggal 13 Juni 2017. Debat, adu argumentasi pun terus berlanjut.

Akhirnya, kubu pengurus lama memilih walkout alias meninggalkan ruang musyawarah. Dari 59 peserta (49 undangan dan 10 pengurus lama), yang bertahan tinggal 33 peserta.

''Sudah lebih dari kuorum. Sidangnya jalan terus. Lah, mereka sendiri yang memilih tidak menggunakan hak untuk memberikan suara,'' ujar Gatot Kintranggono, sekretaris panitia.

Ada empat calon ketua umum yang diajukan. Ali Aspandi (sutradara film), Dwi Puji Utami (tari), Aji (musik), dan Lidia Iik (seni rupa). Mbak Lidia mundur dari bursa calon. Sudah bisa diperkirakan hasilnya seperti apa.

Ali Aspandi, lawyer yang tinggal di Sekardangan, meraih dukungan terbanyak dengan 8 suara. Aji dapat 3 suara. Dwi nihil. Maka, Ali Aspandi dinyatakan sah sebagai ketua Dewan Kesenian Sidoarjo periode 2017-2022. Tinggal menyusun pengurus lengkap untuk disahkan Kepala Dinas Dikbud Sidoarjo sebelum dilantik oleh bupati.

Apakah hasil musyawarah (yang tidak mufakat) di museum ini bisa diterima semua kalangan seniman dan pembina kesenian di Kabupaten Sidoarjo? Rasanya berat. Mengingat pengurus lama yang walkout tadi. Bukan tidak mungkin akan ada musyawarah tandingan untuk membentuk Dekesda versi yang lain.

''Yang jelas, saya datang ke sini dalam kapasitas pribadi. Bukan sebagai ketua Dekesda (lama),'' tegas Djoko Supriyadi.

Mumpung masih Ramadan, bulan suci, penuh rahmat dan ampunan, mudah-mudahan para seniman Sidoarjo bisa kompak dan bersatu lagi. Jarene rukun agawe sentosa!!!

19 June 2017

Sulitnya menyimak khotbah di gereja

Tidak gampang menyimak homili (alias khotbah) di gereja. Khususnya usia kita sudah tak muda lagi. Ketika usia romo lebih muda. Sebab bahan-bahan khotbah itu sudah kita kunyah sejak sekolah dasar.

Joke-joke pastor untuk bumbu khotbah pun hampir tidak ada yang baru. Guyonan lawas. Kita sudah hafal kelucuannya di mana. Maka, ketika banyak orang tertawa, saya hanya diam saja. Senyum sedikit lah.

''Mazmur itu seluruhnya ada berapa? Ada umat yang tahu,'' ujar Romo Stanislaus E. Beda CM dengan logat Flores Timur super kental.

''Ada 150 romo....,'' jawab seorang pelajar dengan suara keras.

''Bagus... ternyata ada juga umat Katolik yang paham kitab Mazmur,'' ujar romo kongregasi misi (CM) itu. Umat tertawa sejenak.

Setelah pater senior ini bicara tentang ekaristi. Sesuai topik Tubuh dan Darah Kristus. Isi homilinya sudah tak asing lagi bagi umat yang usianya di atas 30.

''Kita harus menjadi umat Katolik yang ekaristis,'' ujar pater masih dengan logat Lamaholot kental punya.

Maksudnya ekaristis? Saya sudah melamun ke mana-mana. Badan di dalam gereja, dengar homili, tapi otak berkeliaran tak menentu. Betapa sulitnya mengendalikan pikiran. Konsentrasi mendengarkan khotbah.

Tahu-tahu khotbah selesai. Misa dilanjutkan dengan Credo alias Aku Percaya.

''Maksudnya pater tentang umat yang ekaristis ya umat yang rajin ikut ekaristi. Aktif misa di gereja,'' begitu kesimpulan yang saya buat sendiri di warkop usai misa.

Apa benar begitu? Kapan-kapan saya tanya Pater Stanis, romo asal Flores, yang nyasar ke Pandaan Pasuruan, Keuskupan Malang.

Salam ekaristi.

Sidoarjo hanya perlu satu klub super

Sidoarjo mestinya hanya punya SATU klub sepak bola yang berlaga di level tinggi. Sidoarjo tidak punya kapasitas ekonomi, sumber daya, pemain-pemain bermutu untuk membentuk lebih dari satu klub di Liga Indonesia.

Sayang, rupanya orang-orang bola di Kabupaten Sidoarjo sulit bersatu. Dan mengalah. Egonya terlalu tinggi. Maka wacana merger klub-klub besar di Sidoarjo gagal total. Situasi persepakbolaan di Sidoarjo pun tak beranjak dari masa lalu. Bahkan mungkin lebih buruk.

Saat ini ada beberapa klub Sidoarjo yang berkiprah di Liga 2 dan Liga 3. Persida di Liga 2, Deltras di Liga 3. Sinar Harapan dari Tulangan juga main di Liga 3. Selevel dengan Deltras.

Ada juga klub luar yang memilih homebase di Sidoarjo. Kalau tidak salah Jombang FC di Tulangan. Mitra Muda di Gedangan. Dulu Bhayangkara FC (papan atas Liga 1) di Gelora Delta Sidoarjo. Sebelumnya lagi Laga FC juga berumah di Sidoarjo.

Sayangnya, semua klub ini tidak punya penonton setia. Stadion selalu kosong. Maka Bhayangkara memilih hengkang ke Bekasi atau Jakarta. Laga FC juga lari ke Jawa Tengah.

Dari sekian banyak tim itu, sebetulnya hanya dua yang bisa dianggap mewakili Sidoarjo: Deltras dan Persida. Yang punya nama besar tentu Deltras. Persida yang merupakan klub tertua (tepatnya perserikatan) tidak terlalu buruk. Siapa sangka Persida bisa lolos ke Liga 2 alias Divisi Utama? Deltras yang justru terjun ke kasta terendah.

Baik Persida maupun Deltras sama-sama sulit dapat sponsor alias duit. Apalagi ada larangan menggunakan APBD untuk membiayai sepak bola di daerah. Larangan itulah yang membuat Deltras akhirnya degradasi. Dulu punya nama besar ya karena didukung APBD.

Musim kompetisi tahun ini sangat berat bagi semua klub Sidoarjo. Ini akan menjadi seleksi alam sekaligus bahan evaluasi bagi pengurus PSSI Sidoarjo, pemkab, suporter, stakeholder yang lain untuk melakukan evaluasi.

Apakah tetap semangat ikut kompetisi terbawah, Liga 3, buat cari pengalaman pemain muda, kemudian dijual ke klub-klub di atasnya? Atau membentuk satu tim yang benar-benar tangguh? Sebagai ikon Kota Sidoarjo?

Kita bisa belajar dari tetangga di utara itu. Persebaya makin mantap sebagai satu-satunya ikon kebanggaan arek Suroboyo. Loyalitas ribuan bonek tidak ada duanya di Indonesia. Dan, ironisnya, sebagian besar anak-anak muda Sidoarjo penggemar bola justru bonek alias suporter fanatik Persebaya.

Maka, kalaupun Sidoarjo hanya punya satu superclub, belum tentu Gelora Delta Sidoarjo dijubeli penonton. Apalagi dengan banyak tim seperti sekarang.

Persebaya masih mengkhawatirkan

Persebaya sudah kembali ke kompetisi resmi. Manajemennya baru dan bagus. Suporter tulen yang disebut Bonek pun tetap setia mendukung tim kesayangannya. Dukungan masih yang tidak diperoleh tim-tim mana pun di Indonesia.

Bandingkan dengan Persida Sidoarjo yang sama-sama main di Liga 2. Tim lawas tetangga Persebaya ini tidak punya suporter dan penonton. ''Kami seperti bermain di kandang lawan,'' kata Alhadad pelatih Persida yang asli Surabaya itu.

Bandingkan dengan Persebaya yang ditonton 50 ribu orang. Gelora Bung Tomo kemarin penuh sesak saat laga hari jadi melawan Persik Kediri. Ini modal bisnis sepak bola yang luar biasa. Persebaya bakal punya masa depan yang cerah. Sebagai klub sepak bola yang sangat sehat. Pasti banyak sponsor yang berminat.

Sayang banget, mutu permainan Persebaya belum bagus. Cuma seri 1-1. Padahal peluangnya banyak. Padahal bonek-bonek, yang datang dari berbagai kota di Jatim sudah haus kemenangan.

''Kami haus gol kamu!'' Begitu tulisan besar-besar di kaos beberapa bonek Waru Sidoarjo yang saya baca.

Kapan menangnya mas-mas Persebaya? Di uji coba sebelumnya kalah dari Badung Bali yang tidak terkenal. Lah.. kok sama Persik yang bukan Liga 1 belum menang juga?

Ini jadi PR besar dan sangat berat pelatih baru Alfredo Vera. Sangat sangat berat. Sebab materi pemain Persebaya bukan sekelas Evan Dimas atau Andik atau kelas Liga 1. Mereka nama-nama baru yang masih muda. Belum terbiasa menghadapi tekanan yang luar biasa dari Bonek dan media massa.

Ojo lali, coach Iwan Setiawan dipecat gara-gara arogan dan... gagal memberi kemenangan. ''Kualitas Persebaya sekarang ini masih jauhlah (ketimbang Persebaya-Persebaya) yang lalu,'' ujar Suhu Slamet, wartawan balbalan senior plus pengamat Persebaya sejak era perserikatan tahun 1980-an.

Setelah Lebaran, Persebaya kembali berkompetisi di Liga 2. The Green Force ini dituntut untuk menang menang menang.... agar bisa promosi ke Liga 1. Minimal bisa bertahan di Liga 2.

16 June 2017

Beras rojolele untuk si miskin

Dulu namanya raskin: beras untuk rakyat miskin. Mensos Khofifah yang asli Wonocolo Surabaya itu kemudian mengganti namanya memjadi rastra: beras untuk keluarga sejahtera. Maksudnya sih bagus. Agar kualitas rastra lebih bagus ketimbang raskin.

Sayang, omongan Khofifah sepertinya lebih cuma jargon ala birokrat. Ganti nama, bungkus doang. Beberapa kenalan saya yang kepala desa mengeluhkan beras rastra yang tidak layak konsumsi (manusia).

''Hampir gak ada bedanya dengan raskin dulu,'' ujar sang kades.

Kok gak dikembalikan? ''Jelas dikembalikan. Diganti dengan beras yang mutunya lebih baik,'' jawabnya.

Teman ini sudah lama usul agar raskin alias rastra ini diuangkan saja. Dibuat setara dengan harga beras standar di pasar yang Rp 8.000an itu. Mengapa orang miskin dikasih beras yang kualitasnya setara makanan ternak?

Sekarang ini warga miskin mengganti rastra dengan uang Rp 1.600. Jauh di bawah harga beras terjelek di pasar. Apakah karena itu beras rastra umumnya berdebu, apek, kekuningan, banyak kotoran?

Beberapa hari terakhir saya baca di koran soal rastra yang dikembalikan. Hari ini giliran Trenggalek yang mengembalikan beras miskin sebanyak 25 ton. ''Warga mengeluhkan kualitas beras yang sangat jelek,'' ujar seorang kepala desa di Trenggalek.

Mumpung bulan puasa, bulan berbagi kebahagiaan, saya membayangkan pemerintah melakukan revolusi mental di bidang perberasan untuk rakyat miskin. Beras rastra atau raskin bukan lagi kualitas terjelek (cuci gudang), tapi kelas premium seperti rojolele.

Apa salahnya rakyat miskin makan beras yang harganya 12 ribuan? Beras yang biasa disantap menteri-menteri, gubernur, bupati, camat?

14 June 2017

Kanker gerogoti Jupe, Yana, Cak Priyo

Baru saja artis Julia Perez berpulang. Kanker serviks stadiun akhir. Dokter sudah lama angkat tangan. Jupe meninggalkan kita dengan segala kenangan manis, pahit, kecut. Jadi ingat lagu Belah Duren yang asal jadi itu.

Sebelum Jupe menyerah, artis lawas Yana Zein juga meninggal dunia. Kanker parah. Sempat ke Tiongkok tapi gagal diatasi. Pura-pura sehat di depan wartawan, senyum manis, dandan cantik... eh besoknya wassalam.

Kematian Yana yang biasa jadi pemeran antagonis sempat ramai di internet. Bukan bahas kanker dan kiat-kiat mengatasi wabah kanker, gaya hidup, pola makan dsb, tapi... agama.

Yana yang awalnya mau dimakamkan secara kristiani, tiba-tiba didatangi bapaknya. Pak Nurjaman ngotot agar anaknya dimakamkan secara muslim. Bapak ini tidak tahu kalau Yana sudah punya jalan lain sejak orang tuannya bercerai. Saat itu Yana masih SMP alias belasan tahun.

Syukurlah, ibunda Yana yang berdarah Rusia dan Ortodoks mengalah. Ribut-ribut soal SARA tidak membesar. Toh ini bukan pilkada. Jenazah Yana hendak pergi ke liang lahat. Bukan ikut pilkada di Jakarta.

Sebelum Yana, seniman teater, pelawak, dan presenter terkenal di Surabaya/Sidoarjo Priyo Aljabar berpulang. Pelawak grup Galajapo ini ternyata diam-diam menyimpan sel kanker di perutnya. Ususnya digerogoti.

Rongga perut untuk menyimpan makanan tidak ada. Akibatnya, Cak Priyo tidak bisa makan. Tubuhnya yang dulu gemuk jadi tinggal tulang. Perutnya yang menggelembung. Saya yang dekat Cak Priyo, sering cangkrukan, diskusi, tak tega melihat kondisinya. Meskipun sempat besuk tiga kali ke rumahnya di Jenggolo Sidoarjo.

Akhirnya... Cak Priyo meninggal dunia. Dimakamkan dinihari. Maaf Cak, saya tidak sempat mengantar karena malam itu saya berada di kawasan pegunungan Trawas. Saya hanya bisa berdoa di depan makam Sampean di dekat sungai di Pucang Sidoarjo itu.

Rupanya kanker menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya artis atau selebritis, siapa saja bisa terinfeksi. Karena itu, rencana Ahok untuk membangun hospital khusus kanker di Jakarta patut didukung penuh.

Sayang, Ahok lagi nyantri di ruang tahanan.

10 June 2017

GKJW Sumberpucung Malang Tahun 1980




Sumber: Majalah TEMPO 23 AGUSTUS 1980

SIANG itu hampir semua rumah tertutup. Jalan-jalan pun lengang. "Kalau siang begini hampir semua penduduk ke sawah," ujar Satuadi carik Desa Peniwen. Desa ini, berbeda dengan desa sekitarnya, 100% penduduknya beragama Protestan. Mereka tergabung dalam jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Upacara sembahyang di satu-satunya gereja di sana dilakukan dalam bahasa Jawa. Dan umumnya penduduk memiliki Kitab Injil dalam bahasa dan huruf Jawa. Untuk bisa sampai ke Peniwen harus menempuh jalan desa yang berdebu. Itu pun harus naik-turun sepanjang tak kurang dari tujuh km. Tapi tahun depan jalan masuk ke desa ini sudah akan diaspal dengan biaya Inpres.

Semua penduduknya bertani, hampir tak ada yang berdagang. Desa Peniwen masuk Kecamatan Sumberpucung, 40 km sebelah barat Malang. Kamis 21 Agustus 1980 ada perayaan besar di sana. Yaitu peringatan seabad berdirinya desa.

Ada tiga acara yang dijadikan satu: bersih desa, pemugaran gereja yang sudah berumur 50 tahun dan peringatan ulangtahun ke 100 umur desa itu sendiri. Bersih desa memang biasa dilakukan tiap tahun, sebagaimana halnya di desa lain. Kebiasaan ini dilakukan seusai panen sebagai pemujaan Dewi Sri, dewi padi. Tapi di Peniwen upacara itu tidak pernah pakai tari gambyong atau pesta minuman keras. "Disesuaikan dengan peraturan agama," ujar Satuadi.

Baik Djajus maupun Satuadi tidak bisa memastikan apakah benar desa itu mulai dibangun pada 21 Agustus seabad silam. "Buku sejarahnya dipinjam orang dan tidak kembali," ujar Djajus. Tapi menurut cerita, desa itu terbentuk berkat jasa tiga orang yaitu Sakeus, Surti (anak Sakeus) dan Karsini. Orang-orang ini berasal dari Desa Mojowarno, Jombang.

Sebelum membabat hutan Peniwen, mereka pernah menetap di Swaru, Gondanglegi, sebelah selatan Malang. Di situ mereka berhasil mendapat banyak pengikut. Sampai sekarang masih telihat betapa kuatnya jemaat GKJW di Saru.

Di Peniwen dakwah Kristen juga sukses. Mula-mula hanya ketiga orang pen diri tadi yang menempati Desa Peniwen Lambat-laun, menetap pula para pendatang sebagai buruh tani. Penduduk pendatang banyak yang berasal dari Jawa Tengah. Peniwen yang luasnya 717 ha, kini dihuni oleh 689 KK atau 3.381 jiwa.

Sejak 4 bulan lalu, menurut catatan Satuadi, ada 4 orang Islam. Mereka, semuanya perempuan, karena baru saja pindah ke Peniwen karena akan kawin dengan pemuda desa itu. "Ya nanti kawinnya di Balai Sipil," ujar Satuadi. "Tapi biasanya, mereka mengikuti cara sini juga." Artinya masuk Kristen.

Ada juga pemuda Peniwen yang kawin dengan gadis desa lain, kemudian masuk Islam. "Lalu-lintas" semacam itu hampir seimbang. "Tahun 1979 bahkan ada 4 orang Peniwen kawin dengan orang desa lain lalu masuk Islam. Sebaliknya, dalam tahun itu juga, hanya 3 orang luar yang kawin dengan orang sini dan masuk Kristen," tutur Satuadi lagi.

Menurut Djajus yang pernah jadi kepala desa (1950- 1969), belum pernah terjadi pertentangan antar agama di lingkungan desa ini. Juga belum pernah ada penganut agama lain yang berusaha mengembangkan pengaruh di Peniwen. Tapi ada orang Peniwen pindah ke desa sebelahnya dan tetap Kristen, lantas mendirikan jemaat di tempat baru itu.

Sekarang di tiga desa sekitarnya Kromengarf, Tegalrejo dan Sumberpucung -- sudah berdiri kelompok jemaat GKJW yang dilayani oleh pendeta dari Peniwen. Baik Kromengan, Tegalrejo maupun Sumberpucung sebenarnya justru lebih kuat Islamnya. Di Kromengan misalnya ada 2 madrasah, sementara Sumberpucung sudah lama dikenal basis Muhammadiyah. Tapi di Desa Jambuwer -- juga tetangga Peniwen -- yang paling tipis pemeluk Islamnya, belum ada kelompok GKJW-nya.

Ketaatan beragama di Peniwen diperkuat oleh keputusan rembuk desa. Ketika Djajus baru jadi kepala desa, setiap hari Minggu penduduk tidak diperkenankan bekerja di sawah, ladang atau pekerjaan besar lainnya seperti memperbaiki rumah. Melanggar ketentuan ini dihukum "kerja bakti": memperbaiki jalan atau saluran air. Tapi pelanggaran semacam itu biasanya hanya terjadi setahun sekali. "Itu pun biasanya si pelanggar dari luar desa yang tidak tahu kalau hari itu dilarang kerja. Kalau begini yang kena hukuman bukan buruhnya, tapi pemilik tanahnya," ujar Djajus.

Setelah ke gereja, penduduk Peniwen suka saling kunjung-mengunjungi. "Inilah salah satu sebab desa ini maju," ujar Djajus. Sebagai contoh disehutkan, lebih 10 putra desa ini sekarang bekerja di luar negeri, meskipun mereka anak petani. Penduduk Peniwen semuanya memang petani. Dan tidak seorang anak pun yang tidak bersekolah. Di desa itu ada 3 SD negeri dan sebuah SMP Kristen.

Adat Jawa ternyata juta tetap hidup. "Islam atau Kristen itu kan agama pendatang. Aslinya di sini kebatinan," ujar Djajus. Karena itu, menurut Djajus, masih banyak penduduk Peniwen yang menyimpan keris. "Tidak mustahil keris itu punya kekuatan atas kehendak dan kekuasaan Allah," tambahnya.

Dan penduduk Peniwen ternyata juga masih melakukan upacara seperti halnya kebiasaan orang Jawa. Misalnya mengadakan selamatan untuk keluarga yang meninggal: pada hari ketiga, ketujuh sampai keseribu hari. Tapi Djajus menambah: "tentu saja tanpa tahlil."

Kangen Kampoeng Ilmu Surabaya

Sudah lama banget saya tidak mampir ke Kampoeng Ilmu. Pusat buku-buku lawas (plus) bajakan di Jalan Semarang, Surabaya. Padahal dulu hampir tiap minggu saya singgah untuk memburu buku-buku murah. Harganya lebih murah di bawah 50 persen ketimbang di Gramedia.

Suasana Kampoeng Ilmu tidak seramai 5 atau 6 tahun lalu. Pengunjungnya tidak sampai 20 orang. Itu pun lebih banyak yang nunut internet gratis. Tidak ada yang baca buku. Mungkin inilah tanda-tanda senjaningkala buku di negeri kita. Negeri yang masyarakatnya tidak sempat menjadi reading society, tapi langsung melompat ke media sosial dan internet.

''Turun banyak Bang. Sehari dapat 5 pembeli aja wis apik,'' kata gadis berjilbab di pojok. Dulu bisa 50 pembeli sehari.

Saya perhatikan cukup banyak buku baru, best seller, edisi miring. Alias kopian. Alias bajakan. Saya pun membeli 3 nobel. Satu karya Pramoedya dan 2 karya Eka Kurniawan. Tidak sampai IDR 100 ribu. Kalau di Gramedia bisa IDR 250.

''Titip Arus Balik dan Dunia Sophie,'' pesan Novita novelis asal Sedati Sidoarjo.

''Ada... tapi versi kopian. Gak apa-apa?'' jawab saya. Siapa tahu penulis buku ini benar-benar antibuku bajakan.

Hem... mau juga. Bagaimana kalau bukumu juga dibajak dan dijual di lapak-lapak itu? Gak sempat saya tanyakan. Hehe...

Semoga buku cetak masih diberi umur panjang! Tapi kalo gak ono sing moco yo piye...

Trimoelja Soerjadi gigih membela Ahok

Di usianya yang jelang kepala delapan, tepatnya 78 tahun, Trimoelja Darmasetia Soerjadi masih tahes. Advokat kawakan ini masih sibuk mendampingi kliennya di ruang sidang pengadilan. Tak hanya di Surabaya, tapi juga Jakarta dan kota-kota lain.

Jamunya apa? Hehe... Istirahat cukup, jaga makanan, olahraga ringan, tidak stres. Ibadah jangan lupa. Begitu antara lain yang dikatakan Pak Tri yang asli arek Suroboyo itu. ''Kita tidak boleh membeda-bedakan manusia atas dasar suku agama ras golongan dsb. Itu prinsip kami sebagai advokat,'' ujar lulusan FH Unair tahun 1979 itu.

Trimoelja sangat kondang di masa Orde Baru karena getol membela korban-korban HAM di Jatim. Yang paling fenomenal tentu kasus Marsinah. Buruh pabrik arloji di Porong itu (sekarang ditenggelamkan lumpur Lapindo) dibunuh dan mayatnya dibuang ke hutan.

Pak Tri dan kawan-kawan berjuang untuk mengungkap kasus ini meskipun ditekan rezim orba yang represif. Sejak itulah nama Trimoelja mencorong di dalam dan luar negeri. Trimoelja pun makin dikenal sebagai tokoh pembela hak asasi manusia (HAM).

Belum lama ini Trimoelja dipercaya Ahok untuk mendampinginya dalam sidang kasus dugaan penodaan agama. ''Saya diminta langsung sama Pak Ahok,'' ujarnya.

Meskipun capek, maklum sudah sepuh, Trimoelja senang menangani kasus yang diduga kental dengan muatan politik SARA itu. Coba kalau Ahok tidak maju pilkada, mungkin tidak akan ada unjuk rasa jutaan manusia. Berjilid-jilid. Ahok pun mungkin tak bernasib seperti sekarang.

Sebagai muslim tulen, Trimoelja menegaskan bahwa Ahok tidak melakukan tindak pidana penistaan agama. Ada banyak bukti, saksi ahli, hingga saksi fakta yang kasih keterangan di sidang. Tapi.... hasilnya seperti itu. Ahok divonis 2 tahun penjara.

Cukup ringan dibandingkan hukuman maksimal 5 tahun. Tapi bagi Trimoelja, mestinya vonis bebas. Setidaknya hukuman percobaan seperti tuntunan jaksa. Karena itu, Trimoelja dan tim pembeli menyiapkan memori banding.

Tapi.... kerja keras siang malam itu sia-sia. Ahok lewat istri dan adiknya mencabut banding. Pasrah bongkokan. Menerima vonis 2 tahun. Trimoelja dkk pun tak bisa apa-apa. Kalau kliennya pasrah, rela dibui.. ya piye maneh?

Trimoelja pun hanya bisa mengikuti keinginan Ahok dan keluarganya. Meskipun gara-gara membela Ahok, dia dibuli di media sosial. Dianggap membela seorang penista agama. Dan tuduhan-tuduhan tidak enak lainnya.

''Ini sudah risiko profesi (pengacara),'' kata ayah tiga anak itu.

02 June 2017

Grup WA tanpa permisi

Aplikasi WA sudah lama menggantikan SMS yang dulu sangat terkenal itu. Saat ini belum tentu dalam seminggu ada SMS yang saya terima. Kalau WA mah sangat sering.

WA memang luar biasa. Bisa dipakai untuk kirim foto, musik, video, dan apa saja kecuali uang. WA juga sudah lama menggantikan grup BBM di berbagai komunitas dan tempat kerja. Ponsel BB saya sudah lama jadi besi tua. Nganggur.

Tapi ya itu... WA juga terlalu berisik. Apalagi kalau ikut grup yang anggotanya hiperaktif. Kalau dituruti bisa habis waktu kita memelototi layar HP. Kapan bisa diskusi yang sedikit serius atau baca buku? Bisa gila kita orang!

Selama dua minggu ini saya harus menghapus 4 grup WA. Bukan apa-apa. Sang teman yang jadi admin(istrator) memasukkan begitu saja nomor saya di grup WA yang baru dia buat. Ada grup seniman, tempo dulu, komunitas dsb. Tahu-tahu saya sudah masuk grup.

Berbeda dengan grup BBM atau Facebook, grup WA ini tidak punya mekanisme unfollow. Tidak pakai invite atau restu dari calon anggota. Siapa saja dicemplungkan ke grup A B C D dst. Memangnya semua orang senang ngerumpi di media sosial?

Kalau di FB, yang juga laris di Sidoarjo, kita bisa tetap anggota grup tanpa perlu membaca status-status yang ditulis anggota. Tidak ada notifikasi karena memang sudah dimatikan. Maka saya masih anggota 3 grup FB Sidoarjo tapi tidak pernah membaca isinya.

Nah, di grup WA kita hanya bisa membisukan (mute) saja. Tapi tetap ada notifikasi. Orang seakan dipaksa untuk membuka pesan-pesan yang sudah puluhan atau ratusan itu. Lebih gila lagi kalau semua anggota rajin bikin status, nyebar meme, komen ini itu dsb.

Maka, satu-satunya cara agar tidak diganggu notofikasi WA ya... tidak ikut grup. Kecuali grup khusus untuk pekerjaan atau topik yang benar-benar penting.

Semoga pembuat aplikasi WA mau menambah opsi unfollow kayak di FB itu. Iseng-iseng saya lihat di Google, ternyata sudah ada ribuan orang yang komplain karena tiba-tiba dimasukkan dalam grup WA.

28 May 2017

Tak ada Ahok di pilgub Jatim

Jawa Timur beda dengan Jakarta. Pilkada Jatim insyaallah aman dan kondusif. Ini disampaikan Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin di Surabaya.

Betul banget. Jatim memang bukan Jakarta. Dinamika politik yang luar biasa yang bikin gonjang ganjing republik ini dengan politik identitas, SARA, kami vs mereka, tidak akan terjadi di pilkada Jatim 2018. Sebab mustahil ada Ahok yang jadi calon gubernur Jatim.

Ahok di Jakarta benar-benar anomali. Sulit dibayangkan ada orang Tionghoa, Kristen, asal Belitung Timur, dijadikan cagub Jakarta. Bahkan sempat menang di putaran pertama. Dari sosiologi politik, kemunculan Ahok benar-benar kejutan di NKRI yang makin islamis itu.

Mungkinkah ada orang Nasrani atau nonmuslim yang jadi cagub Jatim? Rasanya hil yang mustahal.. meminjam istilah pelawak Asmuni Srimulat. Jangankan jadi cabup, berpikir ke sana aja gak pernah. Gak usah jauh-jauh ke pilgub, jadi anggota DPRD di Jatim saja sulitnya bukan main. Contoh: 100 persen anggota DPRD Sidoarjo beragama Islam.

Politik pilgub di Jatim identik dengan NU alias nahdliyin. Karena itu, yang paling sibuk dan banyak bicara tentang pilgub adalah kiai-kiai dan politisi nahdliyin. Sama-sama muslim tapi bukan nahdliyin ya sulit bersaing di pilgub. Biasanya politisi atau tokoh muslim yang bukan NU hanya bisa berharap jadi wakil gubernur. Itu kalau digandeng cabup yang nahdliyin.

Begitulah. Maka nama-nama yang mengerucut jelang pilgub Jatim hanya berputar-putar di lingkaran NU. Gus Ipul. Khofifah. Halim Iskandar. Ketiganya sama-sama santri dan politisi NU tulen.

Sampai saat ini tidak ada nama lain di luar NU yang muncul. PDI Perjuangan yang kursinya banyak pun kelihatannya tidak berani memunculkan nama. Mungkin trauma karena kalah telak di dua pilkada sebelumnya. Kita masih ingat Sutjipto (almarhum) dan Bambang DH tidak laku di pilkada yang lalu.

Kabar terakhir: kiai-kiai NU merekomendasikan Gus Ipul sebagai cagub dari PKB. Pak Halim ketua PKB Jatim yang sudah sosialisasi selama satu tahun pun pasrah. Bagaimana dengan Khofifah? Apakah akan maju lagi? Wong sudah kalah dua kali berturut-turut?

Bisa saja Khofifah maju lagi. Bersama partai-partai yang lain. Tapi ya itu tadi, kalau fatwa kiai-kiai sepuh sudah turun ya menteri sosial ini harus mikir panjang. ''Bu Khofifah itu cocoknya jadi menteri. Takdirnya bukan di gubernur,'' ujar warga yang biasa cangkrukan di warkop.

Bisa-bisa Gus Ipul bakal maju sendiri. Jadi calon tunggal.

23 May 2017

Mourinho merusak irama MU

Akankah MU memenangi Liga Eropa (Europa League)? Saya kok ragu. Sangat ragu. Bukan apa-apa. Penampilan MU jauh dari standar MU versi Alex Ferguson yang selama dua dekade kita nikmati. Sepeninggal Sir Alex, MU berubah menjadi klub yang biasa-biasa saja.

Lebih parah lagi ketika MU dilatih Jose Mourinho. Pelatih asal Portugis yang gaya permainannya sangat tidak menarik, menurut saya. Operan-operan bola sering meleset, pemain mudah kehilangan bola, dan sulit merebutnya kembali.

Karena itu, dulu saya pernah menulis di blog ini agar Mou dipecat dari Chelsea. Dan... betul Mou akhirnya dipecat. Setelah dipegang Conte, Chelsea langsung berubah menjadi tim yang dahsyat. Juara Liga Inggris musim ini. Dengan materi pemain yang sama versi Mourinho kecuali Kante di lini tengah.

Mou yang dipecat Chelsea kok malah direkrut untuk melatih MU? Yang filosofi bermainnya beda dengan Mou? Tentu manajemen United lebih paham. Mereka rupanya terpukau dengan rekor trofi yang dikoleksi Mou. Apalagi dia pernah pegang tim raksasa Real Madrid.

Tapi seperti dugaan saya, Mou is Mou. Gayanya yang bertahan, minim ball possession ditularkan di MU. Maka laga-laga MU tidak enak ditonton... menurut saya. MU juga sulit menang meskipun sulit kalah juga.

Mou membuat MU jadi raja seri di Liga Inggris. Ya sulit jadi juara. Jangankan juara, masuk empat besar saja susah. Musim ini MU cuma finish di posisi 6. Jelas jelek untuk tim sebesar MU.

Masih untung Mou berhasil membawa MU ke final Liga Eropa. Lawannya Ajax Amsterdam. Setahu saya, tim-tim Belanda jago passing dan bermain atraktif. Tidak melulu bertahan dan sesekali counter attack ala Mourinho.

Saya membayangkan di final nanti Ajax bisa mendikte MU dengan operan-operan pendek cepat untuk mengancam gawang De Gea. Sebaiknya pelatih-pelatih yang membuat sepak bola jadi menjemukan macam Mou ini tak lagi mendampingi tim-tim besar.

Ahok memilih jadi lilin

Kalau banding, kemungkinan besar hukuman Ahok diperberat. Bisa 5 tahun, bisa 10 tahun, bisa lebih. Terserah hakim yang dianggap wakil Tuhan. Karena itu, bisa dipahami mengapa Ahok dan keluarganya memilih untuk menerima vonis 2 tahun itu.

''Kami ingin masalah ini selesai sampai di sini,'' ujar Bu Tan istri Ahok kalau gak salah ingat.

Ahok rupanya seorang negarawan sejati. Dia memilih menjalani hukuman dua tahun meskipun para pendukungnya tidak terima dengan vonis yang tidak adil ini. Ahok memikirkan nasib rakyat Jakarta (dan Indonesia) yang butuh suasana kondusif untuk bekerja dan membangun.

Seandainya proses banding tetap berlaku, maka aksi ribuan orang untuk mendukung Ahok akan terus terjadi. Lilin-lilin akan dinyalakan di mana-mana. Bagus untuk pedagang lilin tapi masyarakat akan menuai kemacetan lalu lintas.

Sebaliknya, aksi pro Ahok bakal dibalas dengan demonstrasi sejuta umat setiap Jumat siang. Perang kata-kata kasar pasti tidak akan berhenti. Caci maki, ujaran kebencian, saling hujat... jalan terus. Sampai keluar putusan final dari MA yang makan waktu satu sampai dua tahun.

Maka, kasihan gubernur Anies dan wakilnya yang baru menjabat. Polarisasi pilkada tetap ada, bahkan makin memanas. Situasi itu tidak bagus bagi Anies dan Sandi untuk membangun Jakarta Raya.

Kita yang tinggal di luar Jakarta pun jengah dengan situasi ini. Isu SARA bisa menjalar ke mana-mana.

Nah, Ahok rupanya sengaja memilih menjadi lilin. Yang sengaja membakar dirinya sendiri agar ada secercah terang di tengah kegelapan. Pelan-pelan lilin itu akan hilang di belantara politik nasional yang tidak asyik ini.

Dua tahun bukan waktu yang singkat. Tapi juga tidak terlalu lama... dibandingkan terpidana 20 tahun atau seumur hidup. Selama menjalani masa pemurnian di penjara, lama-lama orang Jakarta jadi lupa sama Ahok.

Apalagi kalau Gubernur Anies ternyata memang lebih hebat ketimbang Ahok. Ini menjadi tantangan berat bagi Anies-Sandi untuk mewujudkan janji-janji manis kampanye kemarin.

22 May 2017

Ahok ngalah tapi ora kalah



Basuki Tjahaja Purnama jelas bukan orang Jawa. Tapi kelihatannya gubernur DKI Jakarta (nonaktif) ini mulai melakoni coro Jowo. Yakni dengan mencabut bandingnya. Alias menerima vonis 2 tahun penjara. Alias putusan PN Jakarta Utara beberapa lalu berkekuatan hukum tetap (in kracht).

Mengapa Ahok yang biasanya ngotot, menggebu-gebu, kini melunak? Rasanya tak ada yang membayangkan Ahok sepasrah ini. "Pertimbangan keluarga. Istri Pak Ahok dan keluarga besarnya sudah punya pertimbangan matang," kata pengacara Ahok.

Wow... Ahok kelihatannya sudah patah arang. Mungkin juga dia sudah punya firasat kalau hukumannya bakal ditambah (jadi 5 tahun) di pengadilan tinggi. Bisa diperbanyak tahunnya di MA.

Yah, mendingan terima saja dua tahun. Toh, biasanya masa hukuman tidak dijalani full dua tahun. Biasanya cuma dua pertiga setelah dapat remisi macam-macam. Bisa jadi hanya satu tahun di penjara.

Orang Jawa bilang "Wani Ngalah Luhur Wekasane" atau "Andhap Asor, Wani Ngalah Luhur Wekasane". Artinya, siapa yang mau ngalah bakal menang pada akhirnya. Apalagi kalau Ahok dipenjara karena direkayasa oleh lawan-lawan politik agar jagonya menang pilkada DKI Jakarta.

"Ngalah itu bukan berarti kalah," kata Pak Bambang, budayawan senior Sidoarjo.

Mudah-mudahan Ahok bisa memanfaatkan waktu dua tahunnya di dalam penjara untuk refleksi. Baca buku. Menimba banyak ilmu sesama warga binaan (nama resmi penghuni lembaga pemasyarakatan).

Selamat Jalan Cak Leo Kristi




Mas tau Leo Kristi? Tidak.
Pernah lihat rekaman konser Leo Kristi di YouTube? Tidak.

Begitulah jawaban seorang pemusik muda, 20 tahun, saat ditanya Cak Amdo pelukis senior di Pondok Mutiara Sidoarjo kemarin. Berita kematian Leo Kristi seniman musik kelahiran Surabaya 8 Agustus 1949 baru tersebar di media massa dan media sosial. Orang-orang lama macam Amdo, Yunus, Bello, Heri kaget bukan kepalang.

''Gak nyangka Leo Kristi meninggal. Lah, bulan lalu dia baru mampir ke sini sama seorang wanita cantik,'' tutur Amdo dengan gaya yang humoris. ''Orangnya sehat dan kekar seperti olahragawan. Beda dengan saya yang ceking hehehe....''

Di tempat jujukan seniman itu kami berbagi cerita tentang Leo Kristi. Seniman musik yang punya gaya lain dari lain. Bikin Konser Rakyat dengan tema-tema khas petani, nelayan, wong cilik. Salah satu komposisinya yang terkenal adalah Salam dari Desa.

Musik Leo Kristi berbeda total dengan musik pop industri. Karena itu, sulit masuk televisi dan radio. Karena itu, tidak heran anak-anak muda di bawah 30 tahun mengenal seniman yang suka memakai topi, kaos hitam ketat, itu. Jangankan yang muda, orang-orang tua di atas 50 pun tak banyak yang punya apresiasi terhadap Leo Kristi.

''Musiknya sangat unik. Dia memposisikan diri sebagai corong wong cilik seperti nelayan dan petani,'' ujar Amdo Brada yang asli Surabaya dan punya kedekatan dengan almarhum.

Saya sendiri beberapa kali menyaksikan Konser Rakyat. Leo Kristi benar-benar bintang. Bermodal gitar bolong, vokal dengan tekstur yang tebal, Leo terus gelisah dalam syair dan melodi yang rancak. Teman-temannya musisi lain, penyanyi latar, hanya sekadar pendukung. Wanita-wanita muda itu cuma pemanis di panggung.

Karena itu, Leo Kristi sebetulnya tidak perlu siapa-siapa untuk Konser Rakyat. Cukup dia sendiri di atas panggung. Itu yang diperlihatkan saat pembukaan pasar seni lukis di Surabaya tahun lalu. Suaranya masih garang di usia jelang kepala tujuh. ''Leo itu seniman di luar mainstream. Bahkan anti mainstream,'' ujar Amdo teman akrab almarhum.

Suatu ketika hujan deras di kawasan Ngagel Surabaya. Saya menepi untuk berteduh. Eh... gak nyangka ada seorang laki-laki berkaos hitam dengan topi yang khas. Mas Leo Kristi? Apa kabar? Lho, kok di sini?

Benar-benar kejutan dan berkah. Saya bisa bertemu dan ngobrol santai dengan seniman pengelana itu. Ternyata Bung Leo ini biasa menggunakan kendaraan umum ke mana saja. Gak beda dengan rakyat jelata. Cocok dengan konser-konsernya yang selalu ia sebut konser rakyat.

''Naik angkot atau mobil mewah itu sama saja. Sama-sama sampai ke tempat tujuan,'' ujarnya seraya tersenyum ramah.

Kesempatan lain saya bertemu Leo Kristi di Taman Surya Surabaya. Kebetulan ada tiga seniman besar yang menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Leo Kristi, Slamet Abdul Sjukur, dan Tedja Suminar. Kami ngobrol santai, bahasa Suroboyoan, plus guyonan khas arek-arek yang lepas bebas.

Kini tiga seniman besar itu sudah sama-sama paripurna. Tugas mereka sudah rampung.

Selamat jalan Cak Leo Kristi!

Koran cuma jadi bungkus kacang

Akhir-akhir ini saya sering membawa koran dan majalah bekas (tidak tua
amat) ke kawasan Jolotundo di Trawas Mojokerto. Untuk bahan bacaan
anak-anak SD sampai SMA dan masyarakat desa yang biasa cangkrupan di
warung-warung kopi. Apalagi sinyal seluler nyaris tidak ada.

Saya titipkan bahan-bahan bacaan ini di dua warung langganan saya.
Sekadar mencontoh gerakan mendiang Bambang Haryaji pelukis senior
Sidoarjo sekitar tahun 2005 dan 2006. Gerakan literasi ini gagal
total. Siapa tahu saya agak berhasil.

Betapa kagetnya saya, pekan lalu, melihat koran-koran titipan saya itu
tersebar ke mana-mana. Dibaca orang? Dikliping anak-anak? Bukan.
Justru jadi tutup makanan di warung.

''Korannya sampean memang bagus untuk nutupi makanan biar gak
dihinggapi lalat. Warungnya kelihatan lebih bersih,'' ujar Mbak
Hasanah seraya tersenyum.

Mbak yang gemuk ini cerita kalau sebagian koran diambil si Liauw,
orang Tionghoa Sidoarjo yang minggat ke pegunungan Penanggungan di
Trawas. Sang mbak kelihatan tidak suka koran jatahnya dibawa Liauw.

Ngapain Koh Liauw bawa koran? ''Katanya buat dibaca,'' ujar Hasanah.

Wow, syukurlah, masih ada orang yang serius membaca berita-berita di
koran dan majalah. Justru di tengah era media sosial dan digital yang
kian menepikan surat kabar. ''Kalau naik lagi tolong bawa koran-koran
bekas ya. Di sini saya kehilangan informasi banyak,'' ujar Koh Liauw
serius.

''Jangan dikasihkan mbak Hasanah itu. Nanti cuma dibuat bungkus kacang
dan makanan,'' ujar si Tionghoa yang cerdas tapi agak stres itu. Stres
karena tekanan ekonomi dan keluarga di Sidoarjo.

''Percuma sampean bawa koran ke sini kalau tidak dibaca. Kalau cuma
untuk bungkus makanan kan bisa pakai daun pisang atau daun-daun yang
lain,'' ujar kenalan lama itu.

Benar juga si Liauw. Sebagai orang koran, saya tidak suka koran-koran
bekas dikilokan di pasar loak. Harganya terlalu murah. Bahkan tak
berharga sama sekali. Sebab yang dilihat cuma kertasnya. Bukan huruf,
kata, dan gambar yang tercetak di kertas putih pucat itu.

Karena itu, saya lebih suka menyumbangkan koran-koran bekas kepada
kenalan. Syukur-syukur dibaca. Bukan dikilokan atau dibuat bungkus
kacang rebus. Tapi... begitu sulitnya menemukan orang-orang yang mau
membaca koran gratisan.

Zaman memang berubah total. Dulu, ketika masih SD di pelosok NTT, kami
berebut membaca koran dua mingguan Dian dan majalah bulanan anak-anak
Kunang-Kunang terbitan SVD Ende Flores. Satu koran dikeroyok rame-rame
5 sampai 10 orang. Padahal berita-beritanya sudah basi satu dua bulan
lalu.

Majalah, koran, buku atau apa saja dilahap anak-anak desa yang belum
kenal peradaban listrik atau televisi. Majalah Katolik Hidup yang
bekas pun jadi rebutan. Koran-koran bekas dari Malaysia pun dibaca
rame-rame.

Rupanya era digital yang bermula awal 2000 mengubah kebiasaan membaca
rakyat kita. Koran-koran cuma dijadikan bungkus makanan di
warung-warung. Masih untung ada Liauw, 30an tahun, yang lapar
informasi dari koran.

Koran koran koraaaan....

Dahlan Iskan gemar Dangdut Academy

''Ada pelajaran penting yang saya peroleh dari DA4: menyanyi itu ternyata sulit. Lebih sulit dari yang saya bayangkan. Cengkok. Nada. Vibra. Dan banyak lagi. Ada suara perut segala. Di samping ada suara diafragma. Menjadi menteri rasanya tidak sesulit itu.''

Ini kutipan catatan Dahlan Iskan pagi ini di Jawa Pos. Catatan setiap Senin yang ngangeni. Bikin orang senyam-senyum atau ketawa sendiri. Sentilan dan guyonan khas mantan menteri BUMN itu memang cocok dengan judulnya: Pelajaran Menikmati Diri Sendiri.

Syukurlah, catatan yang dulu rutin setiap Senin di halaman 1 Jawa Pos itu muncul lagi. Setelah sempat absen lama gara-gara Pak Bos harus bolak-balik melayani aparat hukum. Kejaksaan, pengadilan, tahanan kota dsb.

Selama 4 bulan diperkarakan Kejati Jatim, Dahlan Iskan jadi kecanduan nonton Dangdut Academy 4 di Indosiar. Hampir tiap malam. Sampai hafal nama-nama peserta, juri, host, iklan-iklannya.

''Kalau sudah nonton DA4, saya lupa jaksa-jaksa yang menuntut saya,'' tulis Dahlan Iskan.

Hahaha (bukan hehehe)....

Saya ketawa sendiri di warkop dekat Juanda. Ngakak. Mas-mas lain yang sibuk main ponsel, nunut internet, pun memandang ke arah saya. Ada apa? Kok tertawa sendiri?

Begitulah. Kolom-kolom Dahlan Iskan memang sejak dulu selalu menggelitik, enak dibaca, dan bikin kangen penggemarnya. Saking khasnya, sangat sulit menemukan kolom sejenis. Sudah begitu banyak kolumnis yang coba-coba meniru Pak Dahlan tapi ya tetap saja gak asyik.

Karena itu, begitu banyak orang yang mendoakan Pak Dahlan agar selalu sehat dan terus menulis. Mereka juga tidak percaya dengan dakwaan jaksa yang macam-macam itu. ''Tuhan pasti akan melindungi orang baik seperti Pak Dahlan. Saya gak ngerti hukum, tapi feeling saya mengatakan Pak Dahlan tidak bersalah,'' ujar beberapa ibu Tionghoa di Surabaya.

Mereka ini sejak 90an tidak pernah melewatkan tulisan-tulisan Dahlan Iskan. Surabaya yang panas akan terasa sejuk kalau baca tulisan Pak Dahlan. Wow...

17 May 2017

Nyadran di Balongdowo

Menjelang bulan puasa, nelayan di Balongdowo Candi, Kabupaten Sidoarjo, mengadakan ritual nyandran. Atau ruwat desa. Nyadran tahun ini digelar pada Ahad pagi kemarin.

Saya pun datang ke lokasi karena kangen suasana nyadran yang (biasanya) sangat meriah. Biasanya ada puluhan perahu (di atas 50an) yang beriringan ke pantai Kepetingan di muara sungai perairan Selat Madura.

Sayang, kali ini cuma 25 perahu. Mungkin kurang sedikit. ''Dulu memang banyak perahu. Tapi beberapa tahun ini sebagian perahu dijual. Lah, anak-anak muda sekarang lebih suka kerja di pabrik ketimbang jadi nelayan,'' kata Bu Sanipah.

Ibu yang rumahnya dekat sungai ini dulu juga punya perahu. Tapi, karena itu tadi, suaminya sudah tua dan anaknya tak mau melanjutkan, ya dijuallah perahu itu. ''Padahal hasil kupang itu lumayan lho. Bisa mbangun omah,'' katanya.

Asyik juga ngobrol sama ibu-ibu nelayan Balongdowo. Kampung yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil kupang dan petis di Sidoarjo. Kita jadi tahu banyak tentang dunia nelayan hingga pergeseran pilihan kerja anak-anak nelayan. Boleh dikata, sangat jarang ada anak cucu nelayan yang mau nyemplung ke laut setiap hari untuk mengambil kupang atau ikan.

Doa pelepasan rombongan ke makam Dewi Sekardadu di Kepetingan pun dibacakan seorang kiai. Lalu berangkatlah para nelayan untuk unjuk syukur sekaligus pengajian di makam ibunda Sunan Giri itu. Ada pula polisi air yang ikut mengawal peserta nyadran.

''Biasanya kalau mau coblosan atau pilkada ada pejabat yang ke sini. Sekarang kan nggak ada hajatan politik. Makanya nggak ada pejabat yang nongol,'' ujar seorang bapak seraya tersenyum.

12 May 2017

Vonis Ahok yang overdosis


Vonis 2 tahun penjara untuk Gubernur Ahok memang terlalu berat. Ini kalau dibandingkan tuntutan jaksa yang cuma hukuman percobaan.

Sebaliknya, dari sudut lawan-lawan Ahok yang rajin unjuk rasa itu, hukuman 2 tahun terlalu ringan. Sebab mereka maunya minimal 5 tahun. Saat orasi bahkan ada tokoh yang meneriakkan hukuman yang sangat sangat berat.... digantung!

Berat ringan memang relatif. Tergantung kepentingan. Maka majelis hakim sebagai wakil Tuhan yang mestinya jadi penengah. Membuat ultra petita alias memutuskan jauh lebih tinggi ketimbang tuntutan tidak bisa dibilang bijaksana.

Yang lebih ganas lagi: hakim malah meminta Ahok ditahan saat itu juga. Wow... putusan yang rasanya membuat para lawan politik Ahok pun geleng kepala. Mereka memang meminta Ahok dipenjara tapi sesuai prosedur.

Artinya, Ahok dijebloskan ke penjara setelah putusan itu inkracht. Alias sudah banding sampai MA. Alias sudah mentok.

Lah, terdakwa Ahok banding kok langsung eksekusi? Ditahan? Ada apa dengan majelis hakim? Memangnya Ahok itu tersangka teroris atau penjahat berbahaya sehingga perlu dikurung di penjara?

Tentu majelis hakim yang mulia, yang punya pengalaman membuat vonis, punya pertimbangan tertentu. Tapi rakyat, setidaknya yang bersimpati pada Ahok, merasa vonis ini berlebihan.

''Overdoing! Overkill!'' kata ahli hukum Todung Mulya Lubis.

Ahok sudah kalah telak di pilkada DKI Jakarta. Dia bersama wagub Djarot tinggal menyelesaikan tugas untuk melayani rakyat Jakarta sampai Oktober 2017. Tinggal 4 bulan lebih sedikit.

Mengapa majelis hakim tidak memberi kesempatan kepada Gubernur Ahok untuk menyelesaikan tugasnya sampai Oktober? Toh dia pasti diganti
Anies. Toh, kalaupun tidak ditahan sekarang (karena belum inkracht), Ahok pasti dipenjara juga ketika sudah ada putusan final dari MA.

Sayang, majelis hakim rupanya sangat gregetan. Tidak sabar melihat Ahok menyelesaikan sisa masa baktinya. Apa pun protes orang, kecaman luar negeri, hakim sudah ketok palu. Ahok divonis sebagai penoda agama.

Yang jelas, ketika ribuan orang melakukan aksi simpati untuk Ahok, majelis Ahok naik pangkat. Dapat promosi. Katanya jubir MA sih cuma kebetulan. Hem....

Selamat untuk majelis hakim!

Waisak - Semua Makhluk Bahagia

Hari Waisak kemarin menjadi saat yang tepat untuk mengambil jarak dengan gonjang ganjing sosial politik ekonomi di tanah air. Mas Nico Tri Sulistyo Budi, yang memimpin upacara di Wihara Dharma Bakti Sidoarjo, mengajak umat Buddha untuk melakukan meditasi dan puja bakti untuk Yang Kuasa.

Saya yang bukan Buddhis ikut merasakan ketenangan saat meditasi sekitar 20 menit. Anak-anak hingga lansia macam Tante Tok memejamkan mata, menata pernapasan, konsentrasi, dan membersihkan pikiran. Suasana damai begitu terasa.

Saat khotbah, Pandita Nico menyampaikan pesan perdamaian dan cinta kasih. Bukan cuma antarmanusia tapi semua makhluk di alam raya ini. Maka tidak heran umat Buddha selalu menyampaikan salam: Semoga semua makhluk berbahagia!

Melihat umat Buddha yang larut dalam meditasi, menata hati dan pikiran, saya merasa begitu damai. Serasa berada di lingkungan keluarga sendiri. ''Jangan pulang dulu sebelum makan ya,'' ujar Bu Nugroho, mamanya mas Nico sang pandita muda.

Selamat Hari Waisak.
Semoga semua makhluk berbahagia.

09 May 2017

Mulut Ahok jadi harimau

Sudah jatuh diimpit tangga pula. Itulah yang dialami Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sudah kalah telak di pilkada Jakarta... eh divonis 2 tahun penjara. Majelis hakim bahkan memerintahkan agar Ahok ditahan.

Sudah berbulan-bulan kita berdiskusi, debat, tentang ucapan Ahok di Pulau Seribu yang dianggap menodai agama Islam. Sudah banyak saksi ahli yang memberi keterangan di persidangan. Baik yang memberatkan dan meringankan. Sidangnya juga sangat lama dan panjang.

Akhirnya... palu hakim dijatuhkan. Ahok harus masuk penjara. Di tingkat banding hukumannya bisa ditambah, bisa kurang, bisa tetap. Yang pasti, Ahok punya banyak waktu untuk meditasi atau introspeksi di dalam penjara.

Jauh sebelum rame-rame unjuk rasa ribuan umat, saya sudah menulis bahwa Ahok telah melakukan blunder besar. Mulutnya jadi harimaunya. Gara-gara mulut besar yang tak terkontrol itulah, lawan-lawan politik beroleh peluang untuk melakukan serangan masif jelang pilkada.

Strategi serangan berbasis SARA itu sangat efektif. Masyarakat Jakarta boleh puas dengan kinerja Ahok tapi di bilik suara mereka justru memilih Anies. Suara Ahok cuma 40 persen. Sangat jauh dari tingkat kepuasan yang mencapai 70 persen.

Nasi sudah jadi bubur. Ahok kalah total. Masuk bui pula. Peluang untuk maju lagi di pilkada lain pun rasanya berat. Jokowi pun mungkin berpikir panjaaang jika harus mengangkat Ahok sebagai menteri dsb. Bisa-bisa didemo sejuta umat karena dianggap melindungi penista agama.

Puaskah para demonstran itu? Saya rasa belum. Mereka baru puas kalau Ahok dipenjara 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun. Tapi mungkin mereka bisa menerima karena toh Ahok sudah kalah di pemilihan gubernur DKI Jakarta. Bukankah itu motif utama gerakan mereka selama ini?

Terlalu banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kasus Ahok. Khususnya bagi kaum minoritas di Indonesia. Jangan ngawur kalau bicara tentang agama mayoritas. Diam itu emas. Lebih baik bicara tentang musik, kuliner, kesenian, pemandangan yang indah, wanita cantik, atau angin sepoi basa.

06 May 2017

Mengapa naskah makin sedikit

Bulan April 2017 kemarin total naskah yang diposkan di blog ini anjlok drastis. Tidak sampai 10. Padahal biasanya di atas 15 (asumsinya posting dua hari sekali). Bahkan dulu dalam sehari bisa 5 naskah sekaligus.

Ada apa gerangan? Kehilangan ide? Blog sudah memasuki masa senja? Tidak juga.

Ide-ide sih banyak. Bahkan makin banyak kesumpekan sosial politik budaya yang bisa jadi lumayan panjang, kadang 2000 karakter, tiba-tiba disapu bersih oleh si back space. Srrretttt.... habis. Saya coba menulis ulang tapi kasusnya kambuh lagi.

Maka, apa boleh buat, blog ini belum bisa seramai dulu. Yang menggembirakan saya, pengunjung yang kesasar di sini (biasanya diajak mbah Google) masih stabil.

Sekian dulu. Naskah yang pendek ini pun barusan disapu bersih. Ya... harus ngetik lagi. Korban keyboard virtual yang sejak dulu tidak saya suka.

Jadi rindu dengan ponsel Blackberry lawas yang bisa dipakai untuk mengetik naskah sepanjang apa pun tanpa masalah seperti di Samsung ini.

05 May 2017

Cak Priyo Ingin Wayang Goro-Goro



Pelawak sekaligus presenter senior Priyono, yang akrab disapa Cak Priyo, saat ini terbaring lemah di rumahnya kawasan Jenggolo, Kelurahan Pucang, Kecamatan Sidoarjo. Mantan host Cangkrukan JTV itu baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor ganas di dalam perutnya.

Cak Priyo menjelaskan, operasi dilakukan di RSUD dr Soetomo Surabaya tepat pada Hari Kartini, 21 April 2017. Tindakan medis ini dilakukan sekitar tujuh jam. Tepatnya, mulai pukul 06.31 dan keluar kamar operasi pukul 13.14.

"Katanya dokter operasi biopsi. Yaitu pengambilan contoh tumor untuk dievaluasi. Lain hari harus dilaser atau kemo atau operasi pengangkatan. Menurut dokter, tumor itu tergolong jenis baru, yaitu lemak yang bisa menjadi tumor ganas," tutur pria yang masih senang bercanda usai menjalani operasi besar itu.

Puluhan rekannya pun datang membesuk Cak Priyo di rumahnya. Meski begitu, dia sering berpesan melalui media sosial agar diberi kesempatan untuk istirahat di 'ruang inspirasi'. "Yang paling penting itu, saya mohon doa dari teman-teman untuk kesembuhan. Nggak perlu bertanya nama penyakitku itu apa," ujarnya.

Seniman yang sehari-hari bekerja di Dinas Sosial Jatim, Jalan Pahlawan Sidoarjo, ini kemarin dikunjungi Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Meski sakit berat, Cak Priyo masih senang bercanda dengan Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Saifullah Yusuf. Jika sembuh, Cak Priyo ingin menggelar wayang goro-goro bersama Djadi Galajabo di THR Surabaya. Ada Petruk, Gareng, Kresno dan Semar yang nanti dimainkan.

"Nanti Semar tetap bijak, Petruk dan Gareng penuh polemik berdebat, apakah Kresno apik opo ino. Dan begitulah hidup: ono seng podo, ono seng gak podo, biarkan tidak perlu dirisaukan," kata Cak Priyo.

Bagaimana ending dari kisah wayang itu? Cak Priyo menjawab, "Akhir cerita diserahkan ke penonton. Hidup itu tidak ada kesimpulan, biarkan
penonton yang menyimpulkan sendiri," ujarnya.

Sebelum meninggalkan rumah Cak Priyo, Gus Ipul sempat menelepon direktur RSUD Dr Soetomo agar segera mengirimkan tim dokter guna memeriksa Cak Priyo.

04 May 2017

Mengenang Romo Janssen CM (1922-2017)



Romo Prof. Dr. Paulus Henricus Janssen, CM, yang akrab disapa Romo Janssen, lahir di sebuah kota kecil di Belanda, Venlo, pada 29 Januari 1922. Beliau adalah putra dari pasangan Hubertus Janssen dan Maria Helena Fillot. Sejak awal tak ada cita-cita lain kecuali menjadi misionaris.

Tahun 1940 masuk biara CM (Kongregasi Misi) dan ditahbiskan menjadi imam pada 13 Juli 1947. Moto imamatnya adalah “Kamu adalah alat pilihan untuk-Ku, untuk membawa nama-Ku ke bangsa-bangsa. Dan Aku akan menunjukkan kepadamu betapa banyak engkau akan bersusah-payah demi nama-Ku”.
Romo Paulus Henricus Janssen CM adalah adik dari Romo Willem Paul Janssen yang telah dipanggil Tuhan.


Tepat satu bulan ditahbiskan, cita-citanya terpenuhi. Berlayar menuju China. Dua bulan ada di kapal dagang sampai akhirnya tiba di Shanghai. Tugas pertamanya bukan di Shanghai tapi di Nan Chang yang terletak di tengah-tengah China. Baru setengah tahun di Nan Chang beliau ditarik ke Kasim, kota di sebelah selatan Shanghai, untuk mengajar di Seminari. Kesan romo selama tugas di China adalah tersentuh oleh penderitaan dan kemelaratan manusia akibat perang, lebih-lebih selama musim dingin.

Saat itulah beliau melihat dari dekat, penderitaan yang dialami oleh anak-anak yang sakit, cacat, telantar di jalan, dibuang oleh keluarganya sendiri karena kesulitan ekonomi, dan tidak sedikit yang yatim piatu, karena perang.

Hal yang paling berat dialami Romo Janssen dalam tugasnya di lain benua namun dijalankan dengan tabah dan setia sebagai misionaris, adalah saat mendapat kabar ibunya wafat. Kesetiaan atas panggilan misinya, ditunjukkan dengan tidak sering pulang ke negara asal kelahirannya. Baru setelah 17 tahun di luar negeri, romo mengambil cuti dan melihat tanah air yang telah lama ditinggalkan.

Malapetaka karena perang belum berakhir, muncul prahara baru, serbuan komunis dari Utara. Kota Nan Chang pun mereka rebut. Terjadilah pertempuran antara pengikut Mao Zhedong dan Chiang Khai Sek. Keadaan hidup serba tidak menentu. Dan yang paling tragis adalah serbuan komunis membuat misionaris terjepit.

Tak ada pilihan lain, Internuntius memutuskan agar semua frater dan profesor (sebutan untuk para dosen) dipidahkan ke luar negeri. Maka seminari dipecah menjadi dua bagian, yang CM pindah ke Manila dan yang Projo pindah ke Italia. Akhir 1948, Romo Janssen bersama kira-kira 20 frater menuju ke Manila, Filipina.

Di Manila kongregasi CM memiliki 5 seminari, salah satunya adalah seminari Projo yang dipercayakan ke CM. Kesibukannya membina calon imam projo, tidak menyurutkan romo untuk melanjutkan studi. Romo Janssen melanjutkan studinya di Universitas Santo Thomas dan memperoleh gelar doktor dalam bidang theologi dengan disertasinya berjudul: "Katolisitas Gereja dalam Karya Santo Agustinus". Di universitas yang sama romo memperdalam bidang pendidikan, khususnya guidance, counseling dan psikologi.


Tahun 1950 Romo meninggalkan Filipina. Mau ke China tak mungkin karena dominasi politik komunis yang merajalela. Pilihannya untuk melanjutkan karya misinya di Chili, Amerika Latin ditolak oleh Provinsial. Tempat baru Romo Janssen adalah Indonesia.

Pada 1 Mei 1950 Romo Janssen tiba di Surabaya dan bertemu dengan Uskup. Terus terang kedatangannya ke Indonesia tak terlalu membuatnya gembira. Mengapa? Karena amat khawatir akan ditempatkan dibagian pendidikan, padahal kerinduannya adalah untuk menjadi misionaris. Uskup sempat bertanya: "Mau menjadi misionaris? Kalau begitu silakan ke Kediri."


Pada 5 Mei 1951 Romo sudah berada di Kediri. Ketika bertugas di Puhsarang, Romo sangat senang. Inilah tempat yang selama ini dicari. Stasi-stasi kecil dikunjunginya dengan naik sepeda. Pastor kepala waktu itu, Pastor E Mensvoort yang amat fasih berbahasa Jawa, menawarkan nasihat kepada Romo Jannsen, bagaimana mulai mengenal budaya Jawa. "Jangan mulai belajar bahasa Indonesia, mulailah belajar bahasa Jawa," demikian tawaran Romo E Mensvoort CM.

Kebahagiaan Romo dalam tugas semakin bertambah ketika menemukan suasana yang penuh dengan kelembutan, keramahan, keterbukaan, yang konon menjadi ciri khas orang Jawa. Tugas utama Romo Janssen adalah mencari orang-orang yang dulu sudah menjadi Katolik namun kemudian kurang mendapat perhatian. Bersama dengan Romo Wolters CM, Romo Janssen membangun daerah Puhsarang dan Gereja Puhsarang. Salah satu kegiatan rohani yang patut dicatat di Kediri ialah berdirinya Legio Maria pertama di Indonesia. Pendirinya tak lain adalah Romo Janssen.

Dalam melakukan pelayanan pastoralnya berkeliling ke daerah Gringging, Kalinanas, dan Kalibago, Romo Janssen menemui banyak sekali orang yang sakit TBC dan frambosia. Beliau juga banyak berjumpa dengan anak-anak cacat, miskin dan telantar. Hati Romo Janssen mulai tersentuh untuk menangani anak-anak cacat dan miskin itu. Menghadapi umatnya yang banyak mengidap penyakit TBC, Romo kadang juga harus bertindak sebagai "dokter". Obat-obatan beliau usahakan dengan mencari bantuan ke Surabaya.

Selain menjalankan tugas pastoralnya, Romo Janssen mulai giat mendirikan sekolah baik Taman Kanak Kanak Montesori, SD maupun SMP Don Bosco. Dasar pemikirannya adalah orang dapat terbantu melalui pendidikan yang diperolehnya. Untuk merekrut tenaga guru, beliau datang ke Jogjakarta. Selain itu beliau juga mendirikan kursus B1 Pendidikan (sebagai cikal bakal Perguruan Tinggi Pendidikan Guru, yang kemudian menjadi FKIP). Aktivitasnya mendirikan dan mengelola/menyelenggarakan lembaga pendidikan, tidak mengurangi perhatiannya pada anak-anak cacat, terlantar dan miskin.


Juli 1959, Romo Janssen hijrah ke Madiun. Di kota inilah Romo Janssen mendirikan ALMA (Akademi Lembaga Misionaris Awam), tepat pada peringatan 300 tahun wafatnya Vincensius a Paulo, yang jatuh pada 27 September 1960.

Pada 8 September 1963, di Jalan Wilis No 21 Madiun, 7 orang secara resmi mengikat diri seumur hidup untuk menjalankan karya dan pelayanan yang sesuai dengan nasihat Injil. Mereka adalah Ibu C Pariys D, Ismilah, Yustine Sumringah, Cecilia Suliyah, Modesta, Robutine dan Maria. Lembaga ini terus berkembang, sampai tahun 1997 tercatat 200 orang tergabung di komunitas ini.

Dalam perkembangannya, berdasarkan renungan pendiri ALMA, Romo Janssen, yang dijiwai oleh pandangan dasar Konsili Vatikan II (Romo Janssen sendiri hadir dan mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II di Roma), bahwa tugas Gereja dalam dunia adalah tugas seluruh umat. Timbul gagasan pendiri untuk menjalankan tugas Kristiani dari dan dalam situasi yang konkret dunia.

Kader awam yang dimaksud adalah awam yang menyerahkan hidupnya untuk membawa umat kepada Kristus dalam situasi awam melalui karisma yang diberikan dan dikembangkan oleh mereka menurut panggilan masing-masing. Maka ALMA yang kita kenal sekarang adalah Asosiasi Lembaga Misionaris Awam (ALMA) yang tanggal lahirnya 8 September 1968.

Karya besar romo yang paling tak boleh kita lupakan adalah mendirikan Yayasan Bhakti Luhur di Madiun pada 5 Agustus 1959.

Perjalanan karya Romo Janssen berikutnya:

(1) Pada 26 Agustus 1967, Mgr. AEJ Albert OCarm secara resmi menerima ALMA sebagai Institut Sekulir dibawah yuridiksi Uskup Malang.
(2) Perkembangan selanjutnya adalah berdirinya ALMA Putra, yang banyak berkecimpung pada karya evangelisasi, pelayanan anak-anak cacat dan CBR (Community Based Rehabiltion). Romo Janssen tetap hadir sebagai pelindung sekaligus bapak rohani.

(3) 1973, Institut Pembangunan Masyarakat didirikan oleh Romo Janssen tahun 1969, menempati gedung di Galunggung, Malang.
(4) Menjadi guru besar di IKIP Malang.
(5) Mendirikan SMPS (Sekolah Menengah Pekerja Sosial) di Malang.
(6) 29 Juni 1968 mendirikan IPI (Institut Pastoral Indonesia), di Malang.
(7) Mendirikan Sekolah Evangelisasi Katolik di Malang.


Bahan: Buku Kenangan 50 Tahun Pesta Imamat Romo Paul Janssen

18 April 2017

Akhirnya dapat lagu-lagu seriosa di YouTube

Luar biasa era digital ini. Beberapa menit lalu saya mengunduh 20 lagu seriosa Indonesia di warkop perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Gratis. Cukup bayar kopi segelas plus pisang goreng dua biji. Internet free.

Ada 15 lagu seriosa lama yang dibawakan Christopher Abimanyu, tenor terbaik yang dipunyai Indonesia. Cintaku Jauh di Pulau, Wanita, Bintang Sejuta, Embun.... Sebagian nomor seriosa ini saya hafal karena memang sangat populer di tanah air.

Sekitar 10 tahun saya mencari album seriosa bung Abimanyu ini di Surabaya, Malang, Sidoarjo, tapi tidak ketemu. Saya juga sempat kontak langsung Abimanyu yang beberapa kali saya tulis kiprahnya di surat kabar dan blog.

'Coba hubungi manajemen saya karena CD-nya terbatas,' kata penyanyi yang beberapa kali juara bintang radio dan televisi jenis seriosa itu. Saking seringnya juara, Abimanyu dilarang ikut lomba nyanyi yang pernah sangat populer di Indonesia itu. Belakangan Abimanyu sering jadi juri atau kasih master class teknik vokal klasik di berbagai kota.

Nah, ternyata manajemen pun tidak bisa membantu. Saya pun melupakan album itu. Cari di YouTube cuma ada 4 lagu Abimanyu yang diunggah (upload). Maklum, tidak banyak peminat seriosa di Indonesia.

Baru pagi tadi saya iseng mengetik seriosa Indonesia di YouTube. Wow... lagu-lagu Christopher Abimanyu yang saya inginkan itu muncul semua. Lengkap dengan foto Inne Lopulisa pianis yang mengiringi Abimanyu. Eureka.....

YouTube memang menjawab hampir semua pertanyaan saya tentang musik. Asal ada orang yang mengunggah lagu atau video ke YouTube maka seisi dunia bisa menikmatinya. Tidak perlu capek-capek ke toko CD/VCD yang hampir pasti tidak punya stok lagu-lagu seriosa ala Christopher Abimanyu.

Namun, saya juga prihatin dengan para musisi macam Christopher Abimanyu ini. Sebab kerja kerasnya tidak mendapat insentif alias uang. Beda kalau kita membeli kaset atau CD di toko yang resmi.

Mudah-mudahan ke depan ada solusi yang menguntungkan para musisi di era digital yang serba bebas dan mudah ini.

15 April 2017

Wartawan tua menulis sampek matek

Minggu lalu saya bertemu beberapa wartawan emeritus di sebuah warkop di Surabaya. Badan boleh tua tapi semangat masih muda. Mereka juga tetap mengikuti isu-isu mutakhir di Indonesia: sosial politik ekonomi budaya olahraga digital dsb.

Topik Persebaya yang kembali berlaga di kompetisi resmi setelah dimatikan oleh PSSI selama lima tahun juga dibahas. Bapak-bapak pensiunan wartawan ini juga masih konsisten ngebul asap rokok.

"Wartawan itu tidak kenal pensiun. Tidak ada yang namanya wartawan emeritus," ujar seorang mantan redaktur mengoreksi istilah wartawan emeritus karangan saya.

"Pensiun kalau sudah mati," tambah yang lain.

Lalu, para emeritus ini memperlihatkan tulisan-tulisan mereka di internet. Wow... rupanya mereka punya laman khusus (website) untuk menulis opini, analisis, hingga reportase. Tulisan-tulisan mereka terasa gurih dan enak karena tidak dikejar deadline.

"Menulis sampek matek...," ujar wartawan lawas lantas tertawa.

Semua orang di warkop ikut tertawa ngakak. "Kalau saya mati, insyaallah teman-teman yang masih hidup menulis obituari untuk mengenang saya. Begitu seterusnya."

Hehe... iso ae Cak!

13 April 2017

Ketika pedagang warkop lupa ingatan

Pagi ini ada sedikit ganjalan di warkop. Masalahnya boleh dibilang sepele tapi bisa juga serius. Sangat serius malah. Pemuda 20an tahun penjaga warkop itu rupanya punya penyakit lupa yang serius.

Setelah ngopi, baca koran Jawa Pos (hampir semua warkop di Surabaya dan Sidoarjo langganan Jawa Pos), nunut internet gratis, saya mau melanjutkan perjalanan. Sudah bayar kopi plus dua roti goreng. Total tak sampai Rp 10 ribu.

Eh, adik kurus itu ngotot bilang saya belum bayar. Aneh. Duit yang tadi dia terima itu memangnya daun? Malah kembaliannya saya masukkan ke kotak amal. Sia-sia saya meyakinkan anak itu. Dia telanjur menuduh saya belum bayar.

Hehe... Saya hanya geleng-geleng lalu membayar lagi. Pemuda itu masih belum ingat kalau tadi menerima duit recehan dari tangan saya. Apa boleh buat, saya bayar lagi.

Masalahnya sih bukan rupiah yang tidak seberapa itu. Tapi memori di kepalanya yang rusak itu bisa menimpa pengunjung yang lain. Sebab warkop-warkop embongan tentu tidak pakai kuitansi, struk dsb. Cukup saling percaya.

Di jalan, sambil nggowes sepeda tua, saya berpikir betapa gawatnya manusia yang memorinya rusak. Apalagi manusia itu pedagang, pemberi utangan dan sejenisnya. Akan banyak masalah kalau duitnya bukan recehan tapi jutaan.

Syukurlah, di Sidoarjo ini masih ada banyak orang yang memorinya sangat sehat. Contohnya Fu Xiansheng, pengusaha di kawasan Juanda Sidoarjo. Saking percayanya dengan orang media, yang sudah lama kenal, Pak Fu tidak mau pakai kuitansi meskipun transaksi iklannya jutaan rupiah.

'Gak usah kuitansi-kuitansian... yang penting kita saling percaya,' ujar Pak Fu.

Mengingat ucapan Pak Fu, saya jadi lupa dengan anak muda di warkop tadi.

Andrew Weintraub teliti musik pop lawas



Andrew Weintraub datang lagi ke tanah air. Kemarin profesor musik dari University of Pittsburg USA ini menghubungi saya. Minta diajak nonton pertunjukan dangdut koplo?

Aha, rupanya tahun 2017 sang professor plontos ini sudah pindah jalur ke pop lawas. 'Apa kamu punya kontak dengan penyanyi-penyanyi-penyanyi 60an dan 70an?' tanya orang Amrik yang lebih fasih bahasa Indonesia ketimbang sebagian orang Indonesia itu.

Hem... jelas beliau mau bikin riset musik pop lama. Pertanyaan-pertanyaan Andrew (dia tidak suka embel-embel prof, doktor, mister, bapak dsb) memang selalu ada maunya. Bukan pertanyaan orang pinggir jalan. Dan dia pasti sudah punya data dan menyimak musik-musik yang akan dia bedah tuntas.

Cukup sulit menyebut nama-nama penyanyi dan pemusik tempo dulu di Surabaya yang masih hidup. Kalau yang era 60an pasti sudah sangat tua. Mungkin di atas 70 tahun. Contohnya Hari Noerdy yang pensiunan hakim. Ida Laila juga artis 60an tapi aliran dangdut.

Oh, ada bu Susy drummer Dara Puspita tinggal di Gedangan Sidoarjo. 'Tapi Dara Puspita sudah banyak yang teliti,' kata Andrew yang punya band Dangdut Cowboy di USA itu.

Lalu saya sebut beberapa nama artis 70an. Ervinna yang sejak 90an lebih sibuk di gereja. Pemilik ratusan album itu bahkan ketua Bunda Kudus Keuskupan Surabaya. Kemudian Sunatha Tanjung gitaris AKA yang juga menghabiskan masa tuanya di gereja aliran karismatik.

Ada juga Ira Puspita yang populer dengan lagu Mama, aku ada tanya... Ada pula Surabaya All Stars kelompok jazz sang maestro mendiang Bubi Chen. 'Ada lagi?' tanya Andrew. Ya, saya sebut beberapa lagi artis sepuh itu.

Dugaan saya memang tidak keliru. Setelah menerbitkan buku Dangdut Stories, kemudian koplo, saat ini Andrew sibuk menggali pop Indonesia di bawah 1970. Masa ketika industri musik masih sederhana. Bahkan belum bisa disebut industri. Kaset masih awal-awal, musik direkam di piringan hitam atau LP.

Andrew juga sempat diundang ke UGM Jogja untuk membahas musik pop Indonesia. Perserta seminar tentu bertanya juga tentang dangdut dan koplo yang sangat ia kuasai. Maklum, Andrew mendalami musik Indonesia sejak 1985 di Bandung. Dia punya data yang lengkap tentang dangdut... dan sulit dilawan peneliti dalam negeri. 

Mana ada profesor doktor kita yang bahas dangdut?

'Saya belum baca kajian Anda tentang koplo,' kata saya. 

Besoknya Prof Andrew Weintraub sudah mengirim buku kajian koplo versi pdf. Detail banget. Sejak dulu saya puji Andrew karena selalu blusukan langsung untuk wawancara dengan sumber pertama di lokasi. Nonton pertunjukan dangdut, ikut joget, nyawer dsb. Beda dengan peneliti-peneliti kita yang bahan-bahan lapangannya sangat mentah karena kurang fulus.

Sayang, Andrew tidak bisa berlama-lama di Surabaya. Sang profesor sudah punya banyak agenda untuk keliling menemui para seniman pop Indonesia tempo doeloe untuk kepentingan risetnya. Kita tunggu buku terbarunya.

 Buku yang benar-benar buku. Bukan kumpulan artikel pendek seperti buku-buku di Indonesia sejak era reformasi.

11 April 2017

Pekan Suci Tahun Ini Lebih Longgar

Tak terasa umat Katolik sudah masuk pekan suci. Ada 3 hari penting yang tidak boleh dilewatkan: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci.

Misa atau ekaristi selalu diadakan sore atau malam hari. Bagaimana kalau kita kerja malam? Tidak bisa libur atau cuti? Ini memang masalah di Jawa. Sebab orang Jawa, kecuali yang Katolik, tidak kenal pekan suci, kamis putih, jumat agung, paskah dsb.

Beda dengan di NTT, khususnya Flores dan Lembata, yang pekan suci dinyatakan sebagai hari libur. Maka saya selama bertahun-tahun tidak bisa ikut Kamis Putih. Maklum, setiap kali pulang kerja malam hari misa sudah selesai. Tidak bisa menikmati Ubi Caritas est Amor atau Pange Lingua Gloriosi - pengalaman masa kecil yang sulit dilupakan.

Puji Tuhan, rupanya tahun ini jadwal pekan suci di Sidoarjo lebih ramah untuk orang-orang yang kerjanya malam hari. Barusan saya mampir di Gereja Katolik Maria Annuntiata Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo.

Wow, misa Kamis Putih sesi kedua pukul 21.30. Rasanya pas lah. Jarak kantor dengan gereja hanya sekitar 7 menitan. Selama ini semua pekerjaan beres di bawah 21.00. Beda dengan di Surabaya dulu yang pukul 22.00 belum tuntas.

Jadwal Sabtu Suci lebih longgar lagi: pukul 22.00. Pasti lebih aman. Jumat Agung juga sangat aman (untuk kita yang tidak kenal tanggal merah) karena sesi pertama jam 12.00.

Rupanya baru tahun ini Jumat Agung di Kota Sidoarjo dibuat tiga sesi. Sejak dulu biasanya dua sesi, yakni jam 15.00 dan 18.00.

Melihat jadwal pekan suci di halaman gereja, saya pun senyam-senyum sendiri. Wow, saya bisa mengikuti Triduum atau trihari suci secara penuh. Selama bertahun-tahun saya hanya bisa ikut Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Selamat pekan suci!
Selamat menyambut Paskah untuk umat kristiani di mana saja!

Kampung Pecinan tertua sebelum Majapahit

Salah satu bangunan cagar budaya yang selalu menarik perhatian saya adalah Raos Pecinan. Ada juga yang bilang Pecinan Raos. Lokasinya dekat Kejapanan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Tepatnya di Desa Carat, Kecamatan Gempol. Tidak jauh dari Sungai Porong yang memisahkan Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo.

Saya beberapa kali mampir ke situs sejarah ini. Sayang, kondisinya kurang terpelihara - sama dengan situs-situs lain di Jawa Timur. Lebih parah lagi, akses ke Raos Pecinan pun susahnya bukan main. Harus menyusuri jalan setapak di kebun tebu yang luas.

Hampir semua pemerintah daerah memang kurang memperhatikan cagar budaya di daerahnya. Padahal Raos Pecinan dan situs-situs lain macam candi peninggalan Majapahit bisa dikembangkan sebagai objek wisata. Sayang, kita orang masih menelantarkan begitu banyak situs atau petilasan yang bernilai sejarah itu.

Nah, setiap kali ke Raos Pecinan, saya selalu bertanya apakah situs ini ada kaitan dengan pecinan? Semacam kampung Tionghoa (China Town) atau punya jejak dengan Tiongkok di masa lalu? Apakah penduduknya ada yang keturunan Tionghoa?

Sayang, pertanyaan ini tidak berjawab di Raos Pecinan. Sebab kita sulit menemukan warga setempat untuk dimintai informasi meskipun cuma sepotong. Juru peliharanya pun kebetulan tidak ada di tempat saat tiga kali saya datang ke sana.

'Di kampung ini tidak ada keturunan Cinanya. Semua penduduk di Raos Pecinan ini pribumi (orang Jawa),' kata seorang bapak.

Kok namanya Raos Pecinan? 'Mungkin cuma nama aja. Bisa juga karena tempo doeloe pernah jadi tempat pertempuran tentara Mongol yang dikirik dari China,' kata bapak itu mengutip pendapat umum yang berkembang selama ini.

Saya kemudian mencari informasi di internet tentang Raos Pecinan. Tapi tidak banyak menolong. Bongkar beberapa buku pun tidak dapat jawaban. Malah mbah Google merujuk ke sebuah artikel yang sudah lama saya tulis di blog saya sendiri. Hehe... asem tenan! Sejak itu saya hanya membatin setiap kali melintas di papan penunjuk ke Raos Pecinan ketika turun dari Trawas atau Jolotundo.

Akhirnya, seperti kata pepatah barat lama, waktu jugalah yang menjawab. Pertanyaan saya 10 tahun lalu baru terjawab 10 April 2017 di rumah Bapak Gatot Hartoyo, peminat sejarah yang baru dua pekan lalu merilis 4 buku tentang peradaban Gunung Pemanggungan, petirtaan Jolotundo, hingga sejarah Kabupaten Sidoarjo dan Kerajaan Jenggolo (cikal bakal Sidoarjo sekarang).

Pak Gatot sempat membahas Raos Pecinan di Dusun Pecinan Raos, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Situs itu punya sepasang Dwarapala atau dua patung raksasa sebagai pintu gerbang. Kira-kira di situlah bibir Sungai Porong jaman biyen yang konon lebarnya satu sampai tiga kilometer. Tahun 2017 ini lebar Sungai Porong kurang dari 100 meter.

Mengutip Negara Kertagama, Gatot Hartoyo menulis: '... bangsa Cina Mongol pada 1 Maret 1293 mendirikan perkampungan di tepi Sungai Brantas (Kali Porong). Tepatnya di Dusun Pecinan Raos, sekarang masuk Desa Carat wilayah Kecamatan Gempol, berbatasan (berseberangan sungai) dengan Dusun Macanmati, Desa Kebonagung, Kecamatan Porong Sidoarjo. Perkampungan pecinan ini melebar hingga Jembatan Porong-Gempol sekarang.'

Gatot menambahkan: 'Kelompok masyarakat Cina Mongol ini berasal dari kesatuan pasukan Tartar di bawah komandan Sih Pi, Kau Tsing, dan Ike Masse atas perintah Kaisar Khublai Khan.

Yang juga menarik, seperti ditulis Mpu Prapanca dalam buku Negara Kertagama, perkampungan China di tepi Sungai Brantas itu sudah ada sebelum pasukan Tartar datang. 'Jadi, perkampungan Cina di Dusun Pecinan Raos itu sudah terbentuk sejak zaman Kerajaan Kahuripan pada awal-awal bandar Hujung Galuh dibangun,' tulis Gatot Hartoyo dalam bukunya yang berjudul Lembah Hilir Delta Sungai Brantas Kahuripan - Sejarah Sidoarjo.

Masih mengutip Negara Kertagama, Gatot mengungkapkan fakta sejarah yang sangat menarik: 'Kunjungan masyarakat Cina dari perkampungan Cina di Raos Pecinan ke Terik pada saat Sanggrama Wijaya mendirikan Desa Majapahit.'

Disebutkan pula dalam sejarah Dinasti Yuan bahwa pada bulan April 1293 Raden Wijaya mengirim utusan ke masyarakat Cina di perkampungan Cina di tepi Kali Porong itu.

Jarak antara Terik (Majapahit) dengan perkampungan Tionghoa itu relatif dekat. Sekitar 5 sampai 7 kilometer. 'Dari Pecinan Raos ke Desa Majapahit itulah bandar dagang sungai Hujung Galuh,' tegas Gatot dalam percakapan dengan saya di rumah panggungnya di Dusun Biting, Desa Seloliman, Trawas, Mojokerto.

Catatan sejarah ini kian membuktikan bahwa kehadiran orang Tionghoa di Nusantara sebenarnya jauh lebih tua ketimbang Kerajaan Majapahit yang berdiri pada 1293. Komunitas Tionghoa di tepi Sungai Porong ini jelas berbeda dengan para pendatang baru dari negeri Tiongkok pada zaman penjajahan Belanda.

Kalau Belanda sengaja membuat pecinan untuk memisahkan (segregasi) komunitas Tionghoa dengan pribumi, menurut Gatot, komunitas Tionghoa di Pecinan Raos ini justru memilih hidup sebagai pribumi. 'Artinya, hidup dengan kebiasaan, tradisi, adat istiadat masyarakat Jawa di sekitarnya,' ujar Gatot.

'Mereka tidak ada kontak apa pun dengan warga etnis Cina yang datang berikutnya. Mereka merasa sebagai pribumi asli.... Warga Pecinan Raos (sekarang) memang hampir 100 persen persis tipe Jawa pada umumnya. Namun samar-samar masih terpancar (Tionghoa) walau hanya 5 persen,' tulis Gatot Hartoyo di bukunya yang lain, Gunung Penanggungan Awal Peradaban dan Menyimpan Teknologi Leluhur.

09 April 2017

Perarakan Minggu Palem di Salib Suci Sidoarjo

Tidak terasa hari ini sudah masuk pekan suci. Pagi buta saya sudah meluncur ke Gereja Salib Suci, Tropodo Waru Sidoarjo. Niat misa minggu palem sesi pertama. Pukul 05.00 sudah sampai di gereja.

Kok sepi? Cuma ada empat lima orang di halaman. Parkiran masih kosong. Misanya jam berapa? Biasanya misa pertama jam 5.30. Hem... pasti ada perubahan jadwal misa untuk pekan suci. Saya yang tidak tahu karena selama ini lebih sering misa di Wonokromo atau Sidoarjo.

''Nggak tau Mas jadwalnya,'' ujar seorang bapak di warkop dekat Gereja Katolik Salib Suci. Dia memang bukan Katolik sehingga tidak punya urusan dengan jadwal misa, pekan suci, kamis putih, jumat agung dsb. Urusannya cuma jualan kopi, nasi bungkus, cemilan dsb.

Maka saya pun berjalan ke halaman gereja. Ketemu seorang ibu yang ramah. ''Misa Minggu Palem mulai jam 7.00. Kumpulnya di sekolahan Santo Yosef,'' ujar ibu asal Jakarta yang tunggal di sini sejak 1972.

Saya dikasih lihat jadwal pekan suci. ''Kamu motret aja biar gak lupa.'' Kami pun ngobrol ngalor ngidul untuk membunuh waktu. Sebab masih ada waktu hampir dua jam.

Lalu saya pamit ke warkop untuk cangkrukan sambil ngopi bersama beberapa polisi yang bertugas menjaga keamanan gereja. Ada juga tiga pria muslim warga perumahan yang sering kebanjiran itu. Temanya sepak bola. Mas yang gemuk itu pinter banget menganalisis sepak bola Spanyol, khususnya Barcelona.

Ngobrol di warkop itu memang membuat menit demi menit berlalu begitu cepat. Umat makin banyak membawa daun palem. Rupanya sudah diumumkan jauh hari. Saya tidak bawa karena biasa minta di halaman gereja. Siapa tahu kali ini ada tersisa daun yang bagus.

Jam 06.00 lebih sedikit saya cabut dari warkop. Jalan kaki ke sekolahan yang jaraknya lumayan jauh. Sekitar 600an meter atau hampir satu kilometer. Melewati jalan perumahan yang kiri kanannya ramai pedagang kaki lima.

Wow, luar biasa Paroki Salib Suci! Selama bertahun-tahun tinggal di Surabaya dan Sidoarjo baru kali ini saya mengikuti prosesi minggu palem yang jauh dari gereja. Biasanya cuma di halaman thok. Bahkan lebih sering tidak ada perarakan melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi Hosanna, Anak-Anak Ibrani, dan sebagainya.

Beda dengan di kampung saya di NTT, waktu saya kecil, perarakan jalan kaki ini bisa tujuh sampai delapan km dari kampung A ke kampung B. Maka saya bersyukur bisa ikut perayaan ekaristi minggu palem di Salib Suci Waru. ''Kami dari dulu memang biasa perarakan dari sekolahan ke gereja,'' ujar Pak Heri salah satu tokoh umat Katolik kepada saya.

Saya pun kagum dengan tata liturgi paroki ini, khususnya minggu palem (orang kampung di Flores menyebut minggu daun-daun), yang mirip di NTT yang mayoritas kristiani. Di tengah mayoritas muslim, umat Katolik di Wisma Tropodo ini 'berani' tampil berliturgi di luar kompleks gereja.
''Paroki Salib Suci ini parokinya romo-romo SVD. Jadi, liturginya sangat diperhatikan,'' kata Pak Heri yang Tionghoa itu. Asal tahu saja, Paroki Salib Suci Sidoarjo (hampir) selalu juara lomba paduan suara di Keuskupan Surabaya. Mereka juga paling jago membawakan lagu-lagu gregorian yang mengalir lembut itu.

Misa dipimpin Pater Servas Dange SVD, pastor asal Flores, yang dua tahun lalu merayakan pesta perak imamat. Beliau didampingi romo asal Flores juga. Saya lupa namanya. Ada juga frater asal Batak yang ikut membantu. Plus banyak suster karena di Wisma Tropodo ini memang ada biara susteran.

Setelah homili tentang Yesus masuk Kota Yerusalem: mengalami keledai, mengapa betina... perarakan pun dimulai. Umat mengangkat daun palma sambil berjalan ke gereja. Menyanyi Terpuji Raja Kristus (PS 552) selama perarakan. Lagunya cuma satu ini. Beda dengan di Flores yang lagunya banyak, ditambah doa Bapa Kami dan Salam Maria, karena jaraknya sangat jauh.

Bagaikan karnaval, perarakan minggu palem ini jadi tontonan warga setempat. Mungkin mereka heran ada apa kok orang Katolik jalan kaki sambil mengangkat daun-daun palma. Sayang, tidak ada atraksi yang ciamik seperti sandiwara Yesus naik keledai (bisa diganti kuda) atau visualisasi kitab suci.

Polos-polos aja tapi sangat berkesan bagi saya yang sudah sangat lama tidak mengikuti adegan ini di Jatim. Oh ya, saya juga berterima kasih kepada seorang suster kongregasi ALMA yang memberi saya sehelai daun palem yang bagus.

25 March 2017

Ogoh-ogoh sensual jelang Nyepi 2017 di Sidoarjo

Menjelang hari Nyepi, umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo juga melakukan persiapan. Kemarin saya mampir ke Pura Jala Siddi Amerta di Jalan Raya Gedangan untuk melihat suasana pura. Awalnya sih dari Gereja Katolik St Paulus, ngobrol dengan suster asal Sumatera Utara.

Gusti Putra pengurus pura menyambut saya dengan ramah. Senyum hangat khas orang Bali yang sadar pariwisata. Beberapa tukang sedang menyelesaikan Candi Bentar yang jadi pintu masuk pura yang bersama Gereja Katolik berdiri di atas tanah milik TNI AL ini.

Melasti atau upacara penyucian di sumber air (bisa laut, sungai, danau dsb) dilakukan Minggu pagi. Umat Hindu di Juanda ini bergabung dengan Surabaya. ''Melasti di Bumimoro Surabaya ke pantai,'' katanya. Sedangkan pura satunya di Krembung mengadakan melasti di Jolotundo Trawas Mojokerto.

Ogoh-ogohnya mana? Pak Putra kemudian mengajak saya ke balai yang luas. Wow, ada dua ogoh-ogoh yang sensual dengan buah dada buesaar banget. Menggantung kayak kates alias pepaya. Simbol hawa nafsu manusia akan hal-hal duniawi. Angkara murka. Ketamakan. 

Itulah yang akan dibakar hari Senin atau sehari menjelang tapa brata Nyepi hari Selasa. ''Anak-anak muda yang bikin ogoh-ogoh itu. Kalau beli sih mahal, sekitar tiga jutaan,'' katanya.

Persiapan Nyepi, khususnya bikin ogoh-ogoh, membuat muda-mudi Hindu di Sidoarjo jadi lebih sering berkumpul. Gotong royong untuk membuat dua patung itu. Meskipun kualitasnya tentu tidak sebagus buatan seniman di Bali yang mahal itu. Begitu penjelasan Pak Putra.

Semoga Nyepi ini membawa kedamaian bagi alam semesta. 

Raja pelet pasang reklame

Saat nggowes pagi ini, saya melihat banyak banget reklame aneh yang ditempel di tiang-tiang jalan tol dan tiang listrik di kawasan Tambaksumur Waru Sidoarjo. Iklan raja pelet nomor HP... 

Dukun pelet alias tukang sihir pasang iklan? Itu sih sudah biasa di koran-koran atau majalah yang punya rubrik misteri, klenik, pesugihan dsb macam Posmo atau Liberty di Surabaya. Tapi raja pelet pasang iklan di pinggir jalan raya, wah... baru kali ini saya lihat.

Saya sempat coba menghubungi nomor telepon si raja pelet itu. Tapi tidak aktif. Mungkin karena masih terlalu pagi. Dukun santet juga perlu tidur... iya toh!  

Saya cuma ingin bertanya alasan pasang iklan di tiang tol, rekam jejak, hasil kerjanya selama ini, tarifnya berapa, belajar nyantet di mana dsb. Kalau bisa sih saya minta dia menyantet politisi dan pejabat-pejabat yang raja korupsi itu.

Seandainya raja pelet ini bisa melet koruptor, saya kira tidak perlu ada KPK. Tidak perlu operasi tangkap tangan segala. 

Ah, rupanya santet atau pelet tidak hanya ada di masyarakat pelosok di luar Jawa yang buta buruf, tapi masih gentayangan di kota sebesar Surabaya.

23 March 2017

Aqyu Chintha Syama Qhamu: Pop Indonesia Kebule-bulean

Minggu lalu saya sempat tengok lomba menyanyi pop di kawasan utara Sidoarjo, dekat perbatasan Surabaya. Hampir semua peserta berusia di bawah 25 tahun. Suara peserta bagus-bagus. Juga sulit menemukan cewek yang wajahnya jelek.

Boleh dikata semua peserta (laki perempuan) punya pengucapan kata seperti penyanyi-penyanyi terkenal di televisi itu. Artikulasi macam bule-bule yang baru belajar bahasa Indonesia. Yah... kayak gaya Ahmad Dhani pentolan Dewa serta artis-artis binaannya.

HANCHUL HATHIKHU
MENGENANG DHIKHAU
MENJADHI KHEPHING KHEPHING

Bagi kita yang biasa menikmati lagu-lagu pop Indonesia sebelum 2005-an, pengucapan kata-kata ala penyanyi-penyanyi pop (kemudian ditiru anak-anak sampai mahasiswa), rasanya janggal. Kuping jadi gatal. Apalagi bagi orang-orang yang pernah aktif di paduan suara yang baik dan benar.

Di paduan suara, latihan artikulasi, vokalisasi, melafalkan syair mendapat porsi yang sangat besar. Sebagian besar waktu latihan dihabiskan untuk membiasakan diri mengucapkan a i u e o.. la li lu le lo.. tra.. tri.. tru.. tre.. tro...

Anak-anak paduan suara biasanya mengucapkan:

HANN... CURR... HAA.. TII.. KU

Mengapa jadi begini ya? Kok orang Indonesia jadi kebule-bulean? Padahal orang bulenya sendiri berusaha keras untuk berlatih berbicara dengan aksen Indonesia.

Kok jadi mirip Cinta Laura semua: ''Kenapa gitchu dunkz .... which is which is ... so far dan .... aqyu chintha syama qhamu...''

Saya sendiri sudah lama tidak mengikuti perkembangan industri musik Indonesia. Sebab saya merasa tidak menarik lagi. Magnet musik pop Indonesia sudah tak berdaya untuk menarik perhatian saya. Padahal dulu saya hampir tidak pernah absen menonton konser band-band Indonesia di Surabaya, Sidoarjo, dan kadang-kadang Malang.

Saya bahkan sampai kenal baik Pak Jo Karundeng yang jadi koordinator pengamanan sebagian besar artis top. Ini membuat saya punya akses untuk ngobrol dengan bintang-bintang itu di belakang panggung. Bisa bersalaman dengan artis-artis yang sebetulnya tidak secantik di televisi atau media sosial. Ada penyanyi cewek terkenal yang jerawatnya banyak dan besar-besar-besar.

Ada apa dengan musik pop Indonesia?

Dalam beberapa kali diskusi di medsos dengan Yockie Suryo Prayogo, komposer, arranger dan pemain keyboard senior, topik ini juga jadi rasan-rasan orang-orang lawas. Musik pop Indonesia semakin ke sini semakin kehilangan rasa indonesianya. Tak hanya syair (lirik) dan pronunsiasi, tata musik dan sebagainya pun berubah.

JSOP menulis: ''.... setelah era gaya r & b (baca: er dan be) .... nyaris semuanya berubah jadi ngeselin.''

22 March 2017

Timnas U22 Masih Memble

Tim nasional Indonesia bermain bagus kayak Spanyol? Tiki taka, umpan2 pendek cepat dan akurat, banyak menguasai bola... umpan terobosan.. dan gol? Itulah impian banyak orang Indonesia ketika Luis Milla dikontrak sebagai pelatih timnas. Maklum, Luis Milla berasal dari Spanyol dan punya prestasi hebat di negaranya.

Sayang, di laga melawan Myanmar kemarin Indonesia kalah 1-3. Kalah fisik, teknik, dan segalanya. Padahal pemain2 Myanmar juga doyan makan nasi. Hehe... opo hubungane? Gak ono.

Gak popo. Ini cuma uji coba. Bukan pertandingan resmi. Kalah berapa pun gak masalah, kata saya menghibur anak-anak muda di warkop Gedangan Sidoarjo. Kita lihat saja perkembangan anak-anak muda U22 ini. Sebab mereka disiapkan untuk SEA Games. Masih ada waktu.

Tapi ya begitulah... kesan pertama Luis Milla kok tidak meyakinkan! Lupakan tika taka, penguasaan bola, mendikte lawan dsb. Yang saya lihat di babak pertama (babak kedua tidak lihat karena kecewa) adalah team work yang buruk. Kerja sama belum jalan. Pemain-pemain kurang visi bermain.

Ketika ada pemain di kiri yang bebas, si pemain tengah malah ngotot bawa bola sendiri. Sudah pasti dicegat oleh dua bek. Ketika wilayah kiri pertahanan lawan kosong, bola malah diumpan ke tengah. Kacau!

Saya bukan pengamat sepak bola. Cuma penggemar sepak bola yang biasa menonton latihan dan pertandingan bola kelas usia 12 tahun di Stadion Jenggolo Sidoarjo hingga tim nasional di Gelora Delta Sidoarjo juga. Belum lagi siaran langsung di televisi. Meskipun sudah sangat berkurang sejak Pep Guardiola tidak lagi melatih Barcelona.

Maka, kita beri kesempatan kepada Luis Milla untuk kerja kerja kerja untuk membenahi sepak bola Indonesia. Jelas butuh waktu sangat lama. Spanyol bisa begitu hebat karena punya pembinaan sepak bola yang luar biasa sejak usia SD hingga senior. Tidak ada jalan pintas untuk meraih prestasi.

''Jangankan Luis Milla, pelatih sekaliber Jose Mourinho pun tidak akan bisa membuat timnas kita bagus dan menangan,'' kata temanku wartawan senior yang juga kecewa berat menyaksikan laga Indonesia vs Myanmar.

Pelukis Itu Harus Gila Dulu

Buku terbaru karya Henri Nurcahyo berjudul SENI RUPA PANTANG MENYERAH dibahas di Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo. Sejumlah perupa antusias mendiskusikan isi buku tentang kegigihan para perupa dalam berkarya dan berpameran.

Dibandingkan seniman-seniman lain, menurut Henri Nurcahyo pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, para pelukislah yang paling banyak mengadakan pameran. Baik pameran tunggal maupun pameran bersama. Di mana sana, termasuk di bawah pohon seperti di Pondok Mutiara Sidoarjo. ''Mereka tidak memikirkan soal laku apa tidak laku,'' ujar Henri.

Penulis 35 buku yang tinggal di Bungurasih Timur itu membahas kiprah sejumlah pelukis di Jawa Timur yang gigih dalam berkarya. Baik yang sudah meninggal maupun yang masih seger waras. Di antaranya, Jansen Jasien asal Krian yang juga dikenal sebagai aktivis pelestari bangunan cagar budaya, M Thalib Prasodjo (almarhum), Hardono (almarhum), hingga maestro sketsa Lim Keng (almarhum) yang lahir di Desa Kalitengah, Tanggulangin.

Menurut Henri, yang sudah puluhan tahun menjadi pemerhati seni rupa di Jatim, pameran-pameran lukisan yang sangat banyak itu tidak selalu jadi ajang pasar atau jual beli lukisan. Meskipun banyak pelukis yang diam-diam berharap lukisannya laku saat pameran. ''Tapi ada juga pelukis yang sedemikian idealisnya sampai-sampai dia menolak lukisannya laku,'' tutur pria kelahiran 22 Januari 1959 itu.

''Pelukis jenis ini sengaja tidak mau menjual lukisannya. Dia bisa mencari penghasilan dari usaha lain, bukan lukisan,'' tambahnya.

Ada tiga kutipan menggelitik dari maestro Affandi yang memancing diskusi hangat di kalangan para perupa. Pertama, ngelukis iku sing asik sing cepet. Kedua, pelukis itu harus pernah gendheng. Nek durung tau gendheng ojo dadi pelukis. Ketiga, nek dodol lukisan ojo didol dhewe, ora apik. Ngongkono wong liya!

Benarkah seorang pelukis itu harus pernah gila (gendheng)? Amdo Brada, pelukis senior yang juga kepala suku Kampung Seni, tertawa ngakak. Tapi ada pula beberapa pelukis yang tidak setuju omongan Affandi yang memang nyentrik itu.

''Gendheng di sini jangan diartikan secara harfiah. Intinya, pelukis atau seniman apa pun harus total dalam berkarya. Tidak boleh setengah-setengah,'' kata Amdo.

Gendheng juga bisa diartikan sebagai menciptakan karya-karya yang unik, eksperimental, tidak klise. Para pelukis tidak boleh terjebak dalam tuntutan pasar atau pesanan pedagang-pedagang seni rupa. ''Di dunia seni lukis itu selalu ada orang yang suka goreng-menggoreng lukisan untuk menaikkan harga,'' katanya.

Muhammad Adnan, pelukis senior, tidak setuju ucapan Affandi tentang kegilaan pelukis itu tadi. Selama 30-an tahun menekuni seni lukis, dia merasa selalu sehat jasmani dan rohani. ''Kalau gendheng tentu saya nggak bisa berkarya,'' ujarnya lalu tertawa kecil.

Amdo Brada tergolong pelukis yang pantang menyerah. Selain jam terbangnya yang panjang di seni rupa, dia masih tetap mempertahankan Kampung Seni di Pondok Mutiara yang dibuka pada 2015. Ruko yang disulap jadi studio dan tempat tinggal seniman itu sepi pengunjung dan berkali-kali ditinggal penghuninya. Namun, Amdo tetap saja berkarya dan menggelar pameran bersama di halaman.

Amdo juga mewajibkan peserta untuk membuat karya-karya terbaru yang out of the box dengan tema daur ulang. ''Alhamdulillah, bupati, kapolresta, ketua DPRD, beberapa pejabat dan tokoh masyarakat datang untuk memberikan apresiasi. Ada juga beberapa lukisan yang laku meskipun kami tidak jualan. Hehehe...,'' ujarnya.