18 November 2017

Persebaya tinggal satu langkah

Lega rasanya hati ini setelah Fauzi menceploskan gol ke gawang PSPS Riau. Persebaya pun dipastikan lolos ke semifinal Liga 2. Tinggal selangkah lagi tim berjuluk Green Force itu memastikan naik ke Liga 1.

Di warkop kawasan Rungkut Surabaya, belasan penggemar bola sempat ketar-ketir melihat laga Persebaya vs PSPS di layar kaca. Begitu alot. PSPS ternyata sangat tangguh. Bahkan serangan-serangannya sangat berbahaya.

Andai saja ada celah sedikit, pemain seniornya bisa dengan mudah mencetak gol. Untung saja pemain belakang Persebaya mampu menutup ruang gerak striker gaek itu (lupa namanya).

Persebaya yang kalah fisik masih dengan gayanya bermain pendek. Kaki ke kaki. Andalkan umpan terobosan. Sayang, PSPS sudah antisipasi. Buntu di babak pertama.
Syukurlah, di menit-menit akhir ada peluang emas. Umpan Okto dari sisi kiri bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Fauzi. Goool!!!

Perjuangan Persebaya untuk kembali ke Liga 1 masih berat. Arek-arek Green Force wajib masuk final. Alias harus menang di semifinal. Dua lawan sudah menunggu: PSMS Medan dan Martapura FC.

Dari empat semifinalis, tiga tim berhak promosi ke Liga 1. Masak sih Persebaya gak iso!!!

Ayo... ayo... Persebaya!!!

12 November 2017

Umat Katolik yang terlambat misa

Misa pertama di Gereja Salib Suci, Tropodo, Waru, Sidoarjo, pagi tadi dipimpin Pater Servas Dange SVD. Lebih sejuk karena mulai pukul 05.30 dan lebih cepat karena ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus dst) tidak dinyanyikan.

Namun, misa yang terlalu pagi juga membuat cukup banyak umat yang terlambat. Ada yang telat lima menit... seperti saya, tapi ada juga yang telatnya di atas 15 menit. Repot memang umat yang terlambat misa. Sebab bangku-bangku sudah terisi penuh. Gereja Salib Suci ini memang dari dulu selalu ramai.

Nah, orang-orang yang terlambat itu biasanya malu (atau sungkan) maju untuk mengisi bangku kosong. Di bagian depan memang banyak tempat kosongnya. Saya nekat aja maju dan dapat tempat di posisi agak depan samping kiri. Namun ada pula satu keluarga yang memilih pulang karena tidak kebagian tempat duduk.

Gak nyangka, kasus umat terlambat dan sungkan maju ini jadi bahan khotbah Romo Servas. Saya pun merasa tersindir. Takut dimarahi romo. Ternyata yang dibahas adalah umat yang memilih pulang itu tadi. ''Ini harus jadi pelajaran untuk kita semua. Pengalaman itu guru terbaik,'' kata Romo Servas.

Pastor asal Flores ini menyentil sikap umat Katolik di Gereja Salib Suci yang terlalu fokus pada Tuhan dan cuek dengan jemaat yang terlambat. Mestinya ada reaksi. Diarahkan untuk mengisi tempat kosong (biasanya ada di depan). Petugas tatib (tata tertib) pun seharusnya mengantar umat yang terlambat ke tempat yang kosong.

''Kita perlu belajar untuk peduli sesama,'' ujar pater dengan sentilan khasnya.

Kelihatannya Romo Servas merasa kurang enak melihat ada domba-dombanya yang berniat ikut ekaristi tapi gagal hanya karena persoalan sepele. Buat apa gereja punya balai paroki yang luas jika tidak bisa menampung umat yang telat? Toh, tidak lebih dari 10 orang.

Ihwal disiplin ekaristi ini, sikap romo memang berbeda-beda. Ada yang toleran dan memahami seperti Romo Servas. Tapi ada juga yang keras seperti Romo X (sensor). Romo X ini tidak suka melihat umat yang terlambat. Juga tidak suka dengar anak-anak menangis atau jalan-jalan saat liturgi berlangsung.

Umat yang pernah mendengar sentilan (atau kemarahan) Romo X pasti langsung pulang jika misa sudah dimulai. Nekat masuk bisa-bisa jadi bahan homili. Gak enak blass! Dulu saya pernah disindir karena terlambat sekitar 10 menit.

Di NTT, khususnya kampung-kampung di Flores Timur dan Lembata, setahu saya romo-romo tidak marah meskipun banyak umat yang terlambat. Maklum, orang desa harus mengurusi kebun, ternak dsb. Belum lagi harus jalan kaki ke gereja.

Hanya saja, umat yang terlambat itu biasanya punya kesadaran untuk tidak maju sambut komuni. Jika terlambat hingga homili atau khotbah imam. Kalau masih kyrie atau gloria masih dibolehkan komuni. Prinsip ini masih saya pakai sampai sekarang di Jawa.

Lebih baik terlambat daripada tidak misa sama sekali! Begitu alasan pemaaf di NTT. Rupanya pastor asal NTT yang bertugas di Salib Suci itu, Romo Servas, masih menggunakan kearifan lokal NTT untuk 'memahami' umat yang terlambat. Bisa saja ban bocor di jalan, bukan? Bisa juga umat paroki lain yang belum tahu jadwal misa.

Perseka Waru Mundur dari Liga Askab Sidoarjo

Yang namanya kompetisi sepak bola di Indonesia selalu panas. Mulai dari Liga 1 hingga pertandingan bola kelas tarkam. Kompetisi internal Liga Askab Sidoarjo 2017 pun makin lama makin panas. Padahal tujuan utama liga tertinggi di Kabupaten Sidoarjo ini murni untuk pembinaan pemain muda.

Total ada 30 tim peserta kompetisi. Mereka terbagi dalam kelas utama, kelas satu, dan kelas dua. Yang paling keras tentu kelas utama alias kelas tertinggi. Saya biasa menonton di Lapangan Banjarsari Buduran setiap akhir pekan.

Wuih... saling jegal antarpemain, protes wasit, saling dorong, hingga mutung alias mogok main. Wasit terpaksa merogoh banyak kartu kuning. Ada juga kartu merah meskipun saya lihat wasitnya cenderung membiarkan permainan kasar di lapangan.

Sayang, kompetisi yang seharusnya jadi tontonan akhir pekan itu diwarnai aksi tidak terpuji. Perseka Waru memilih mundur dari kompetisi. Padahal tim asal Desa Kepuhkiriman ini dikenal sebagai salah satu klub terbaik di Sidoarjo. Perseka pun kerap menyumbang pemain-pemain bagus untuk Kabupaten Sidoarjo.

Ada apa dengan Perseka? Pihak Askab PSSI Sidoarjo enggan menyebutkannya. Namun bisa diduga Perseka kecewa dengan keputusan wasit dalam satu laga penting. Ganjalan ini gagal diselesaikan pihak askab dan panitia pelaksana (panpel).

''Perseka sudah mengirim surat menyatakan mundur dari kompetisi internal,'' ujar Ibnu Hambal, sekretaris Askab PSSI Sidoarjo, saat saya hubungi via telepon. Tidak disebut alasan mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo.

Yang pasti, pengurus askab sudah koordinasi dengan pandis (panitia disiplin) untuk membahas kasus ini. Khususnya mencari sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Perseka bakal degradasi?

''Saya tidak tahu. Soal itu (sanksi) jadi kewenangan pandis. Askab hanya meneruskan surat dari Perseka yang menyatakan mundur,'' kata tokoh bola Kota Delta yang juga pemilik PS Bligo Putra Candi itu.

Dengan mundurnya Perseka, maka peserta kelas utama tinggal 9 tim. Bligo Putra, Tiga Putra Agung, Pesawad Waru, Putra Bungurasih, Tunas Jaya Sepande, Sinar Harapan, Cakra Buana, Trisula Tanggulangin, dan New Star Salam Sukodono.

Mundurnya Perseka sekaligus membuat jumlah laga masing-masing-masing klub berkurang satu. Mestinya 9 kali menjadi 8 kali. ''Kami sudah surati semua tim yang isinya pertandingan melawan Perseka dianggap tidak ada. Pengelola lapangan juga sudaj disurati,'' kata Pak Benu, sapaan akrab Ibnu Hambal.

Sedih juga mendengar kabar mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo. Maklum, saya sangat sering ngopi-ngopi di warkop yang berada di kompleks Lapangan Perseka, dekat pintu gerbang Perumahan Rewwin Waru. Saya juga kerap membahas kiprah klub ini yang selalu berhasil membina pemain-pemain muda. Pelatih-pelatihnya pun banyak mantan pemain top Persebaya.

Mudah-mudahan kasus Perseka segera dicarikan jalan keluar terbaik. Demi masa depan anak-anak dan remaja yang sudah lama mengukir mimpi menjadi pemain sepak bola masa depan.

11 November 2017

Ibu dan anak sibuk main HP

Ibu dan anaknya ini asyik dengan ponsel masing-masing. Sambil menunggu cuci motor di kawasan Pagesangan Surabaya. Serius banget. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut si anak dan ibu.

Apa boleh buat. Saya pun mencari kesibukan dengan ponsel. Menulis cerita singkat ini. Sebab paket dataku sudah habis. Tidak bisa untuk internet.

Yah... zaman memang sudah berubah. Teknologi informasi, khususnya ponsel pintar (smartphone) telah mengubah perilaku masyarakat. Budaya tutur, jaringan, ngobrol di warkop dsb sudah diganti dengan media sosial.

Luar biasa!

09 November 2017

Pejalan kaki kok disalahkan

Masalah pejalan kaki sedang ramai di internet. Gara-gara Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno melontarkan pernyataan yang sedikit banyak menyinggung perasaan pejalan kaki. Katanya pejalan kaki justru ikut menyumbang kemacetan.

Wuih... Baru jadi pejabat sudah bikin kontroversi yang tidak perlu. Jelas saja warganet ramai-ramai mengecam bapak wagub ini. Lah, rakyat dianjurkan jalan kaki, naik kendaraan umum, kok malah diserang? Yang pakai mobil pribadi, bikin jalan macet, malah tidak disinggung sama Sandi.

Soe Tjen Marching, teman lama, dosen di London, Inggris, rupanya ikut panas membaca pernyataan Wagub Sandiaga. Wanita Surabaya yang aktivis ini kemudian menulis begini:

''Pengalaman saya selama di Indonesia: kendaraan itu justru tidak menghargai pejalan kaki. Orang mau nyeberang dilanggar saja. Trotoar dipenuhi sepeda motor plus PKL, jadinya saya males jalan. Padahal di negeri2 yg sudah lebih sadar lingkungan, berjalan itu digalakkan & pejalan kakinya dilindungi. Eh, wa-Gabener satu ini malah bilang begini: Pejalan Kaki Penyebab Semrawut Tanah Abang.''

Betul juga Dr. Soe Tjen yang asli Surabaya ini (meskipun Tionghoa). Saya sudah sering curhat soal itu. Pejalan kaki di Indonesia kalah sama kucing. Kalau kucing lewat di jalan, pengemudi mobil dan motor pasti memperlambat kendaraannya. Kasih kesempatan si kucing lewat. Sebab menabrak kucing bisa kualat.

Beda dengan manusia. Jangankan berhenti agar pejalan kaki bisa menyeberang di zebra cross, pengemudi biasanya tambah gas. Mempercepat laju kendaraannya. Maka sering banget terjadi pejalan kaki jadi korban tabrakan. Pemkot dan pemkab juga tidak membuat jembatan penyeberangan orang.

Minggu lalu saya melihat sendiri pejalan kaki ditabrak di Sidoarjo dan Surabaya. Untung tidak mati.

Ganyang Malaysia cuma jargon kosong

Apa saya bilang minggu lalu. Jangan dulu puas timnas sepak bola kita bisa mengalahkan Timor Leste dan Brunei Darussalam dengan skor telak. Pelatih Indra Sjafrie mestinya paham bahwa dua negara itu levelnya jauh di bawah Indonesia.

Indonesia baru dikasih jempol kalau bisa menggasak Malaysia. Sebab sulit mengalahkan Korea Selatan yang langganan Piala Dunia. Kalau bisa mengalahkan Malaysia, apalagi skor besar tiga atau lima gol, baru hebat. Gak juara gak papa... pokoknya tidak boleh kalah sama Malaysia.

Rupanya prinsip pantang kalah sama Malaysia ini dilupakan Indra Sjafrie. Hasilnya babak belur. Kalah telak 1-5. Jelas aja timnas U-19 dimaki-maki di internet. Pelatih Indra dihajar dengan kata-kata kasar kayak brengsek dan sejenisnya. Padahal Indra pernah dipuji setinggi langit ketika membawa timnas U-19 jadi juara Piala AFF di Sidoarjo.

Kemarin dan pagi tadi saya masih membaca kecaman pedas untuk timnas U-19. Alasan Indra sengaja mencoba taktik tidak bisa diterima. Bahkan ada yang menuduh Indra kemungkinan terima suap sehingga mengalah dari Malaysia.

Kalah menang dalam sepak bola itu biasa. Tapi kalah dari Malaysia itu benar-benar menyakitkan. Kita belum lupa di SEA Games Agustus lalu Indonesia disingkirkan Malaysia di semifinal. Padahal pelatihnya Luis Mila asal Spanyol yang terkenal luar biasa.

Beberapa tahun lalu Indonesia juga disingkirkan Malaysia di final Piala AFF. Padahal di laga-laga awal Indonesia main bagus banget. Gocekan coach Alfred Riedl yang berkelas. Kok keok oleh Malaysia di final? Sulit menjelaskannya.

Saya sendiri baru mulai nonton televisi saat duduk di SMP. Di Larantuka NTT. Hitam putih televisinya pakai aki. Ngecas aki di toko kaset paling top di Jalan Niaga milik baba Tionghoa. Sejak itulah saya pelan-pelan tertarik siaran olahraga macam Dari Gelanggang ke Gelanggang, Arena dan Juara, dan siaran langsung sepak bola sesekali di TVRI.

Nah, setiap kali lawan Malaysia, acara nonton bareng puluhan orang (maklum TV sangat langka dan barang mewah saat itu) selalu heboh. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Ganyang itu apa? Pokoknya hajar. Setelah pindah ke Jatim baru saya paham arti kata ganyang itu.

Sayang, timnas era TV hitam putih selalu kesulitan lawan Malaysia. Dihajar si penyerang jiran yang namanya Dollah Saleh. Mungkin suatu saat Indonesia akan menang. Kita ganyang Malaysia. Di sepak bola.

Tahun demi tahun berganti. Timnas sudah bolak-balik dirombak. Pemain-pemain timnas era TV hitam putih sudah jadi pelatih senior semua. Sebut saja Herry Kiswanto, Rudi Keltjes, Hermansyah, yang sempat jadi teman saya saat melatih Persebaya. Dulu saya kagum banget sama Hermansyah, kiper timnas yang nyentrik dan jago.

Tapi begitulah hasilnya....

Di tahun 2017 ini timnas Indonesia masih belum bisa mengalahkan Malaysia. Ganyang Malaysia cuma sekadar jargon kosong.

Eh, pelatih Indra Sjafrie malah memilih ngalah dari Malaysia. Brengsek!!!

03 November 2017

Baru disahkan, mau direvisi

Perppu ormas baru saja disahkan menjadi undang-undang. Eh, belum sampai seminggu sudah muncul usulan untuk merevisi UU itu. Waduh... kepriye iki?

Mungkin Indonesia ini negara paling aneh di dunia. Bikin undang-undang, regulasi, atau apa pun namanya yang tidak bisa tahan lama. Bahkan ada undang-undang yang bisa dibongkar di tengah jalan agar Koalisi Merah Putih bisa menguasai parlemen. Masih ingat?

Apa boleh buat. Indonesia memang negara yang krisis negarawan. Surplus politisi picik. Ada politikus tua macam Amien Rais yang akhir-akhir ini suka unjuk rasa. Padahal Pak Amien sempat jadi ketua MPR. Posisi yang mestinya membuat politisi naik derajat sebagai negarawan.

Apa pun kritik terhadap KUHP, saya salut dengan undang-undang hukum pidana yang dibuat kolonial Belanda itu. Sampai sekarang KUHP masih dipakai polisi, jaksa, hakim, pengacara dsb. KUHP mampu bertahan satu abad lebih.

Indonesia sudah lama berusaha membuat KUHP baru. Agar lebih cocok dengan perkembangan zaman. Agar sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Hasilnya? Sampai sekarang gak jelas nasibnya. Saya ragu anggota DPR dan pemerintah mampu membuat undang-undang yang bisa tahan lama.

Saya jadi ingat istilah lawas banana republic. Republik pisang. Bangsa yang lembek. Tidak punya prinsip. Pragmatis. Partai-partai tidak punya ideologi selain pragmatisme kekuasaan.

Maka, perppu yang sejatinya dibuat untuk merevisi undang-undang ormas pun direvisi lagi. Nanti UU hasil revisi itu direvisi lagi. Habis kita punya energi untuk revisi revisi revisi.

Roti Paulus yang legendaris di Surabaya

Pagi ini saya ketemu Roti Paulus di sebuah warkop kawasan Waru Sidoarjo. Ah... jadi ingat almarhum Ibu Riyati di Ngagel Jaya Selatan Surabaya yang biasa sarapan roti ini. Saya juga selalu kebagian tugas membelikan Roti Paulus di Jalan Dinoyo 154 Surabaya.

"Ojo lali... Roti Paulus lho. Jangan roti yang lain," begitu pesan eyang yang saya menganggap saya keluarga sendiri.

Sejak dulu Roti Paulus memang bermarkas di Dinoyo 154. Tidak jauh dari jembatan BAT yang terkenal itu. Sekarang merek yang ditonjolkan adalah Roti Pioneer. Tapi orang lawas macam eyang yang meninggal pada usia 80 tahun itu adalah Paulus.

Ingat Paulus, ingat roti! Kalau di Flores, ingat Paulus ingat Perjanjian Baru. Rokor gefkol testim tifi: roma korintus galatia efesus kolose tesalonika timotius titus filemon. Ingat pelajaran agama Katolik di kampung halaman ketika SD dan SMP.

Mengapa eyang kok doyan banget Roti Paulus? Enak dan awet, katanya. Juga murah. Bu Yati yang pernah mengalami pendidikan Belanda dan Jepang itu sudah pernah mencoba macam-macam merek roti produksi Surabaya dan kota lain. Tapi tidak ada yang seperti Paulus, katanya.

"Mungkin karena selera saya sudah terbentuk selama puluhan tahun. Jadi, sulit pindah ke merek yang lain," katanya.

Saya memang pernah beberapa kali membawa roti merek baru dari minimarket. Kemasan dan tampilannya lebih cerah dan menggoda. Tapi setelah dicicipi, eyang yang seniman lukis ini kurang puas. "Beli Paulus aja," katanya.

Sejak itulah saya selalu mampir ke markas Roti Paulus di Jalan Dinoyo 154. Membeli roti cadet istimewa yang masih hangat untuk eyang. Saya sendiri suka roti tawar gandum karena teksturnya agak kasar dan tebal. Beda dengan roti tawar merek lain-lain.

Setelah mencoba roti tawar gandum Paulus barulah saya percaya bahwa makan roti itu bisa kenyang. Buang air besar lancar. Karena seratnya masih utuh. Beda dengan roti yang bukan gandum.

Dua minggu lalu saya ngobrol dengan Liauw alias Koh Jiang di kawasan Trawas Mojokerto. Lelaki Tionghoa ini rumahnya di Buduran Sidoarjo. Aha... ternyata Liauw masih famili dengan pemilik Roti Paulus itu.

"Itu sih roti yang berjaya di masa lalu. Sekarang ini masih bertahan tapi kalah bersaing dengan merek baru," ujarnya diplomatis.

Koh Jiang ini rupanya tidak tertarik membahas Roti Paulus. Padahal saya sangat tertarik karena sering makan. "Gak enak dibicarakan karena menyangkut keluarga sendiri," katanya. "Mending kita bahas Prabu Airlangga aja," ujarnya.

Yo wis.

31 October 2017

Orang Jerman tidak main HP

Andri Hakim, mahasiswa Indonesia di Jerman, belum lama ini menulis begini:

"Yang saya perhatikan dari rekan-rekan sejawat peneliti dan aktivis di Jerman. Mereka tidak pernah main HP untuk sosial media sepanjang waktu kerja.

"Mereka tidak bermain HP juga pada saat makan siang. Mereka tidak bermain HP saat mengobrol langsung. Mereka tidak bermain HP juga pada saat rehat sore."

Telepon seluler atau HP memang seperti candu. Magnetnya luar biasa. Orang Indonesia, khususnya di kota-kota, seperti sulit lepas dari HP. Begitu duduk di warkop atau kafe, langsung main HP. Tal ada lagi obrolan basa-basi dengan sesama pengunjung.

Siang tadi, empat murid SMA yang bolos ke kawasan Jolotundo Trawas uring-uringan gara-gara tidak ada sinyal untuk data internet. Komentarnya gak enak didengar. Kelihatan seperti stres hanya karena kehilangan koneksi di WA, Facebook dsb.

Aneh juga orang kota ini. Jauh-jauh ke Jolotundo bukannya untuk rekreasi, wisata alam, menikmati bangunan cagar budaya era Raja Airlangga tapi cari sinyal internet.
Saya jadi ingat obrolan saya dengan Pratiwi, alumnus Pesantren Gontor. Gadis asal Tulangan Sidoarjo ini bercerita di ponpes terkenal itu semua santri dilarang membawa HP. Entah HP lawas yang cuma untuk menelepon dan SMS hingga ponsel pintar atau gawai model apa pun. Jangankan HP, radio, tape recorder.. pun haram hukumnya.

Bagaimana kalau ada santri yang nekat menyelundupkan HP ke dalam pesantren?

"Tidak mungkin bisa," Pratiwi menegaskan. Sebab pemeriksaan barang-barang elektronik di lingkungan pesantren sangat ketat. Bahkan mungkin lebih ketat daripada di penjara. Belum lagi pondok pesantren biasanya punya mekanisme khusus untuk saling memantau sesama santri.

Begitulah. Ponsel, gadget, dsb yang sejatinya punya banyak manfaat kini jadi masalah di mana-mana. Kuncinya kembali ke masing-masing individu. Apakah kita bisa mengendalikan smartphone itu atau justru kita yang dikendalikan oleh HP?

Yang pasti, sudah enam tahun ini saya mengetik (hampir) semua naskah untuk blog ini pakai HP. Sejak ada promo ponsel Huawei dari Tiongkok, kemudian ganti Blackberry, dan sekarang Samsung.

30 October 2017

Sulit membaca novel O sampai tamat

Tidak lama sebelum meninggal dunia, komponis Slamet Abdul Sjukur meminta saya membaca novel O karya Eka Kurniawan. Bagus sekali, katanya. Baca juga Bilangan Fu... kalau belum baca.

Saya pun mampir ke lapak buku bekas di Jalan Semarang Surabaya. Wow, novel kopian (bahasa halus untuk bajakan) banyak banget. Termasuk O karangan Eka Kurniawan. Saya pun membeli bersama Bilangan Fu dan beberapa novel Pramoedya.

Sampai di rumah buku-buku itu tidak langsung dibaca. Beda banget dengan masa ketika belum ada ponsel yang terhubung internet dengan media sosial yang heboh. Saya usahakan nyicil membaca tapi tidak ada yang tamat.

Novel O ini yang paling susah. Tidak sampai 30 menit... buyar. Buku kopian itu kemudian disimpan begitu saja. Berbulan-bulan. Tahunan. Pak Slamet yang doyan buku-buku berat pun meninggal dunia. Saya tak punya semangat untuk menyelesaikan O yang berat itu.

Entah mengapa, pagi tadi saya berniat membaca novel O. Kalau bisa sih sampai tamat. Apalagi sedang libur di kawasan Seloliman, Trawas, yang adem. Di tengah hutan menghijau segar karena baru disiram air hujan beberapa hari lalu.

Ternyata tidak mudah mengembalikan konsentrasi di era digital dan internet ini. Ada saja godaan untuk mengecek ponsel meskipun sinyal lemah. Tapi saya usahakan membaca buku kertas (bukan e-book), majalah, koran, untuk terapi. Meskipun old school, media cetak punya banyak kelebihan dibandingkan media digital. Begitu kata banyak pakar yang selalu dikutip Bre Redana di kolom-kolomnya.

Deo gratias! Di dekat air sumber Kili Suci itu saya bisa melahap banyak halaman. Sekitar 50 persen isi buku yang lebih 400 halaman itu. Terapi baca buku terpaksa distop karena datang mas Sembodo, teman lama, yang kini ikut mengasuh sebuah pesantren baru di Trawas.

Sembodo antusias bercerita tentang kesibukannya ke Jawa Barat untuk melakukan terapi korban narkoba. "Mereka jangan dibilang pasien tapi santri. Kita angkat derajat mereka biar punya kepercayaan diri," ujar orang Mojokerto ini.

Sembodo ini tipikal tukang cerita. Kalau sudah bicara sulit dihentikan. Bisa berjam-jam dia cerita apa saja yang dianggap menarik. Meskipun belum tentu lawan bicaranya suka dengar.

Apa boleh buat.... Novel O yang rada nyeleneh dan surealis ini belum bisa saya selesaikan. Semoga bisa tamat paling lama tiga hari.

29 October 2017

Dengar Ndherek Dewi Maria, Ingat Rosario

Ndherek Dewi Maria jadi lagu penutup misa di Gereja Katolik Salib Suci, Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Minggu (29 Oktober 2017) pagi. Merdu. Kor bapak ibu lansia menyanyikan dengan baik. Organ pengiringnya juga bagus.

Sayang, sebagian besar jemaat sedang berangsur pulang karena Romo Servas Dange SVD sudah kasih berkat penutup dan pengutusan. Maka lagu yang justru paling bagus ini (ketimbang lagu-lagu lain) tidak bisa dinikmati umat. Hanya untuk mengantar umat pulang ke rumah. Mestinya lagu Ndherek Dewi Maria ini dibawakan selepas komuni.

Bukankah sekarang masih Oktober? Bulan Rosario? Kok lagu Maria cuma satu ini? Di ujung ekaristi pula.

Saya pun duduk menikmati lagu devosi berbahasa Jawa itu. Lagu favorit imam-imam senior asli Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jogjakarta. Salah satunya mendiang Monsinyur Hadiwikarta mantan Uskup Surabaya.

Mendengar lagu ini, saya seperti ditegur oleh Bunda Maria. Karena selama Oktober ini, Bulan Rosario, saya sangat jarang berdoa rosario. Mungkin tidak sampai lima kali. Itu pun tidak lengkap 50 Salam Maria.

Ada saja alasan untuk tidak mendaraskan doa paling dasar di lingkungan Katolik itu. Lupa, ngantuk, capek, sibuk, dsb. Padahal rosario lengkap tidak sampai 20 menit. Saya justru kuat menonton sepak bola di TV yang durasinya hampir dua jam.

Mea culpa... mea culpa... mea maxima culpa!

Hidup di Jatim yang katoliknya sangat minoritas ini memang butuh disiplin pribadi ekstra. Sebab tidak akan ada orang yang mengingatkan kita untuk berdoa rosario, ekaristi, doa angelus, novena, aksi puasa dsb dsb.

Beda dengan di NTT, khususnya Flores. Ada saja orang yang ajak kita untuk ikut Kontas Gabungan (doa rosario bersama) plus menyanyikan lagu-lagu devosi sejenis Ndherek Dewi Maria itu.

Romo Thobi Kraeng SVD sudah tiada

Terlalu sering berakhir pekan di luar Surabaya dan Sidoarjo membuat saya kehilangan informasi penting dari Keuskupan Surabaya. Maklum, belakangan saya lebih sering misa di paroki-paroki yang masuk Keuskupan Malang. Sengaja ngadem karena Surabaya sedang panas-panasnya.

Minggu pagi tadi, 29 Oktober 2017, saya ikut ekaristi di Gereja Salib Suci, Wisma Tropodo, Sidoarjo. Yang pimpin misa Romo Servas Dange SVD asal Flores. Pastor ini membacakan intensi misa. Salah satunya untuk ketenteraman jiwa Romo Thobi Kraeng SVD yang meninggal dunia 40 hari lalu.

Oh... Tuhan Allah! Pater Thobi ternyata sudah selesai tugasnya di dunia. Kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Saya pun terpekur mengenang romo asal Lembata NTT ini. Romo murah senyum yang sempat saya kira berasal dari Manggarai karena namanya ada Kraeng. Pater Thobi Muda Kraeng SVD. Sampai ada beberapa pembaca blog ini yang kasih koreksi bahwa Romo Thobi itu asli Lembata. Sama dengan saya.

Meskipun sama-sama asal Lembata, dan tinggal di Surabaya, kita sulit ngobrol lama dengan Pater Thobi. Juga pater-pater lain. Maklum, Pater Thobi ini konsultan keluarga di Keuskupan Surabaya yang tamunya sangat banyak. Tamu-tamu antre di kantornya di belakang Gereja Katedral HKY Surabaya.

Malu kalau kita ngobrol lama dengan Pater Thobi yang sudah jadi milik umat Katolik. Bukan lagi milik orang Lembata, Flores, atau NTT. Ini pula yang menyebabkan hubungan orang NTT, yang bukan romo, dengan para romo atau suster asal NTT tidak bisa terlalu dekat.

"Romo Thobi itu konsultan keluarga yang luar biasa. Jarang ada pastor yang punya kebijaksaan dan pemahaman seperti beliau," ujar Ibu Joice yang juga staf di Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya.

Namanya juga masalah keluarga, ada beragam keluhan yang disampaikan umat. Ada orang muda yang mau menikah tapi pasangannya beda agama (disparitas cultus). Ada yang beda gereja kayak Katolik dengan Protestan (Pentakosta, Karismatik dsb). Ada yang telanjur hamil di luar nikah. Macam-macam.

Saya perhatikan, saat ngobrol santai di ruangnya Bu Joice, tetangganya Romo Thobi, satu per satu keluar dengan senyum. Enteng. Ibarat domba yang dituntun gembala baik ke padang rumput hijau.

Saya pun tidak pernah dengar kata-kata negatif tentang Romo Thobi. Juga tidak pernah dengar kalau Romo Thobi sakit berat atau dirawat di rumah sakit.

Maka, saya kaget nian ketika Romo Servas menyebut intensi misa untuk 40 hari meninggalnya Romo Thobi Kraeng SVD. Saya hanya bisa berdoa semoga pater yang ramah ini berbahagia bersama Bapa di surga. Amin!

Requiem... aeternam.

23 October 2017

Negara ateis kok lebih maju

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan selalu bikin kejutan dengan joke yang menggelitik. Seperti dimuat Jawa Pos pagi ini. Dalam sebuah acara peluncuran buku di Surabaya, Pak Bos mengungkap tantangan Indonesia (mayoritas Islam, semua penduduk wajib beragama) untuk menjadi negara yang makmur.

Dahlan Iskan:

"Indonesia yang bertuhan satu sedang mendapat tantangan dari bangsa yang tidak bertuhan (Tiongkok) dan yang bertuhan banyak (India). Tiongkok yang tidak bertuhan maju sekali.... Ekonomi India sangat maju sejak menghapus swadeshi alias berdikari. Pertumbuhan ekonomi India mencapai 7 persen.

Lantas, kita harus bagaimana? Apakah negara yang bertuhan hanya satu bisa berkompetisi dengan negara yang bertuhan banyak atau tidak bertuhan?"

Hadirin tepuk tangan dan tertawa.

Di forum hari santri ini Pak Dahlan tentu tidak membahas masalah teologi. Monoteisme. Ateisme. Politeisme. Pak Dahlan yang baru kembali dari Tiongkok hanya ingin mengajak peserta seminar (orang Indonesia) untuk kerja kerja kerja.... Agar bisa maju seperti Tiongkok atau India.

Indonesia yang rakyatnya beragama, mayoritas Islam, mestinya bisa lebih maju ketimbang India yang tuhannya banyak atau Tiongkok yang tidak bertuhan. Sebab agama punya daya dorong yang luar biasa bagi pemeluknya. Kok kita kalah sama Tiongkok yang ateis dan komunis?

Ironisnya lagi, di negara bertuhan ini, tingkat korupsi begitu tinggi. Pejabat-pejabat pusat dan daerah bolak-balik dicokok KPK karena nyolong duit rakyat. Bahkan anggaran untuk pengadaan kitab suci hingga urusan ibadah seperti haji pun ditilep. Sekarang lagi heboh uangnya jamaah umrah First Travel diembat si pengusaha yang penampilannya sangat alim.

Lalu, apa yang salah di Indonesia? Bangsa yang selalu bangga dengan agama dan ketuhanannya itu? Saya khawatir lama-lama agama jadi bahan tertawaan di negeri panda.

20 October 2017

Pelukis Sidoarjo Ikut PSLI 2017

Sedikitnya 10 pelukis asal Kabupaten Sidoarjo berpartisipasi dalam Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2017. Mereka menyertakan karya-karya terbaru yang ramah pasar di ajang tahunan untuk memeriahkan hari jadi Provinsi Jawa Timur itu.
Para pelukis Kota Delta yang ambil bagian di PSLI 2017 antara lain M Nasrudin, M Cholis, Bambang Tri, Wiji Sayid, Andris, Daniel De Quelyu, Bangun Asmoro, dan Wadji Iwak.

"PSLI ini jadi ajang silaturahmi dengan para pelukis dari berbagai kota di Indonesia. Kita juga bisa diskusi dan berbagi informasi tentang perkembangan seni lukis di tanah air," ujar Wadji Iwak kepada saya, Jumat 20 Oktober 2017 di Gedung JX International Jalan Ahmad Yani 99 Surabaya.

Pelukis senior asal Desa Bangsri, Sukodono, ini boleh dikata melupakan pelanggan tetap pasar seni lukis. Wadji Iwak seperti biasa menampilkan lukisan-lukisan-lukisan dengan tema ikan. Mulai ikan koi, arwana, hingga ikan bakar yang siap disajikan di meja makan.

"Sudah puluhan tahun saya melukis. Makanya, saya sudah dikenal dengan lukisan ikan. Bukan berarti saya tidak membuat lukisan-lukisan lain yang objeknya bukan ikan," ujar pelukis bernama asli Wadji Martha Saputra ini.

Sesuai nama event, pasar seni lukis, menurut Wadji, para pelukis yang datang dari Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi, Gresik, Jombang, Kediri, Jakarta, Bandung, Bali, Magelang, dan kota-kota lain ini mengusung lukisan yang ramah pasar. Lukisan yang mudah diapresiasi oleh masyarakat. Khususnya kolektor lukisan. "Makanya, lukisan ikan yang saya tampilkan di sini kelihatan indah dan realis. Itu yang disukai orang banyak," tuturnya.

Meski begitu, Wadji tetap menyisipkan beberapa lukisan ikan yang cenderung abstrak dan rumit di stannya. Lukisan seperti ini dianggap mencerminkan isi hati dan idealismenya sebagai seniman. "Seorang pelukis harus bisa pandai-pandai menyiasati situasi ini agar bisa hidup dari kesenian. Kalau cuma menuruti idealisme saja, ya lukisannya sulit laku. Mau makan apa kita?" tuturnya.

Di ajang pasar seni lukis yang berlangsung selama 10 hari ini, Wadji mengaku senang karena beberapa lukisan ikannya sudah diserap pasar. Harganya? "Wah, kalau itu masih dalam proses negosiasi," ujar seniman yang juga kolektor benda-benda pusakan seperti keris bertuah itu.

Kisruh angkutan online vs konvensional

Sejak ojek dan taksi online beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar lain, saya sudah duga bakal terjadi gejolak. Taksi-taksi lama, angkot, dan kendaraan umum lain pasti ngamuk. Sebab pasar mereka dikeruk habis.

Benar saja. Masyarakat rame-rame lari ke daring (online) karena mudah diakses. Lewat ponsel. Ojek atau taksi online itu datang jemput di mana saja. Tepat waktu. Sebab angkutan online ini tersedia di berbagai titik. Beda dengan taksi biasa yang hanya mangkal di beberapa titik terbatas.

Jauh sebelum ada taksi atau ojek online, sistem transportasi macam ini sudah jamak di luar Jawa. Khususnya Indonesia bagian timur seperti NTT. Di kampung halaman saya itu (hampir) semua mobil pribadi atau sepeda motor dijadikan angkutan umum. Kita cukup menelepon atau kirim SMS ke nomor tukang ojek atau pemilik mobil pribadi.

Biasanya setiap rumah di Kupang ada nomor-nomor ojek dan pemilik kendaraan pribadi yang bisa dikontak setiap saat. Langganan saya namanya Bapa Anton. Kalau mau ke Bandara Eltari Kupang pukul 05.00 ya pakai jasa bapak ini. Atau pakai ojek seorang nyong asal Timor.

Tidak pakai aplikasi atau internet karena (saat itu) belum ada. Cukup telepon rumah atau HP. Mengapa tidak pakai taksi resmi? Tidak ada. Di ibu kota NTT itu hanya ada beberapa unit taksi milik koperasi TNI AU. Tapi sulit diajak mengantar penumpang ke tempat yang jauh. Saya malah pernah diturunkan di jalan oleh sopir brengsek. Bukti bahwa budaya tolong-menolong dan empati orang NTT (sama-sama pribumi) sudah luntur.

Kembali ke Surabaya atau Jakarta. Di Jawa taksi dan angkutan umum banyak. Mereka punya armada yang cukup. Harus izin macam-macam. Modal raksasa. Karena itu, menggunakan kendaraan pribadi untuk angkut penumpang jelas pelanggaran. Yang boleh angkut penumpang ya plat kuning. Plat hitam haram bawa penumpang... kecuali di NTT.

Ketika angkutan aplikasi booming, maka hancurkan undang-undang dan peraturan lainnya. Ugal-ugalan. Sepeda motor angkut penumpang. Mobil pribadi plat hitam bawa penumpang. Padahal pemerintah daerah dari dulu aktif kampanye agar rakyatnya naik angkot atau bus kota.

Taksi dan ojek aplikasi datang membawa paradigma yang jauh berbeda. Yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Go-Jek atau Uber bukan perusahaan transportasi tapi seakan-akan punya jutaan unit kendaraan. Tidak sampai dua tahun kekayaan Go-Go-Jek atau Uber melebihi bos-bos taksi yang sudah berusaha selama 30 tahun atau 50 tahun.

Masyarakat sendiri (mayoritas) justru senang dengan angkutan online. Gak mau tau aturan plat hitam, kuning, dsb. Pokoknya cepat, nyaman, murah pula. Maka pelanggaran undang-undang yang dilakukan pihak online dapat pembenaran. Aturan apa pun kalau dilanggar bareng-bareng, pemerintahnya yang bingung. Beda kalau Anda sendiri yang menerobos lampu merah di jalan.

Begitu banyak argumentasi untuk membenarkan angkutan online. Ada yang menyamakan angkutan online dengan koran atau situs berita online. Dua-duanya bisa tetap jalan. Meskipun berita online sudah menggerus pembaca koran cetak.

Argumentasi ini kelihatan logis tapi ngawur. Koran atau situs berita online memang dibuat untuk dibaca di komputer, ponsel atau gawai yang lain. Sebaliknya, orang tetap harus naik mobil atau motor biasa untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mustahil orang duduk di kamar, masuk situs taksi online... lalu sampai ke tujuan.

Karena itu, pemerintah sebagai regulator kudu membuat aturan yang pas untuk melindungi taksi, angkot, atau bus kota yang sudah ada. Ojek juga diatur? Ojek ini sebenarnya tidak termasuk angkutan umum. Ojek boleh beroperasi karena tidak ada kendaraan umum roda empat atau lebih... kayak di NTT.

Di sisi lain, revolusi digital, internet, telah menjungkirbalikkan tatanan lama. Di segala bidang. Mau tidak mau... suka tidak suka... harus dihadapi.

17 October 2017

Retorika Pribumi Anies Baswedan

Anies Baswedan baru saja dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta. Bekas menteri pendidikan ini langsung menohok dalam pidato pertamanya. Dengan retorika khas politisi, Anies mengangkat isu pribumi vs nonpribumi.

Anies: "Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari."

"Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ucapnya.

Pribumi itu siapa? Orang Betawi asli? Penduduk yang leluhurnya sudah tinggal di Jakarta sebelum Indonesia merdeka?

Isu pribumi vs pendatang ini sangat sensitif di Indonesia. Sebab rezim Orde Baru mengartikan nonpribumi sebagai warga keturunan Tionghoa. Meskipun sudah enam tujuh generasi di nusantara, orba masih menganggap orang Tionghoa sebagai nonpri. Karena itu, mereka perlu membuktikan kewarganegaraan dengan SBKRI.

Warga keturunan Arab, seperti Anies Baswedan, tidak dianggap nonpribumi. Tidak dianggap pendatang. Padahal pemerintah Hindia Belanda memasukan keturunan Arab sebagai Timur Asing. Bukan pribumi. Anies yang doktor pasti paham banget klasifikasi ala kolonial itu.

Bicara pribumi vs nonpribumi (pendatang) saat ini pasti tidak sesederhana di era 1930an. Batasannya jelas. Mengikuti pembagian masyarakat ala Hindia Belanda.

Lah, sekarang bisakah Anies membuat kriteria warga pribumi itu? Siapakah yang berhak disebut pribumi di Jakarta? Asli Betawi? Yang leluhurnya sudah tinggal di Jakarta sebelum NKRI lahir? Bagaimana dengan orang Tionghoa yang leluhurnya lahir di Jakarta tapi baru resmi jadi WNI tahun 1960an?

Penduduk Jakarta tahun ini tentu sudah berbeda komposisinya dengan tahun 1945. Mungkin yang asli tidak sampai 30 persen. Sebagian besar justru pendatang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jogja, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua... seluruh Indonesia.

Jakarta itu ibarat melting pot. Semuanya kumpul di situ. Maka membicarakan isu pribumi vs pendatang di Jakarta di era globalisasi ini jelas kontraproduktif. Definisinya tidak jelas. Anies lupa bahwa dirinya juga bukan pribumi karena keturunan Arab.

Yang ingin ditekankan Gubernur Anies di hari pertamanya (mungkin) keberpihakannya pada rakyat. Dia ingin mengingatkan para investor, korporasi (asing atau tempatan), untuk tidak coba-coba mendikte pemerintah Jakarta. Kapitalisme harus dihentikan.

Maka reklamasi laut ditolak Anies sejak kampanye lalu karena dianggap membuat nelayan sengsara. Rakyat menderita. Yang makmur tetap saja investor alias kapitalis properti raksasa.

Rupanya Anies ingin mewujudkan program populisnya seperti saat kampanye lalu. Sekaligus pemanasan jelang 2019.

Taiso dan Senam Pagi Indonesia

Belum lama ini saya melihat orang Jepang (plus belasan orang Indonesia) melakukan senam pagi bersama. Senamnya ringan saja. Beda dengan senam-senam aerobik di arena car free day Minggu pagi.

Aha... ini yang dinamakan taiso. Jadi ingat pelajaran orkes (olahraga dan kesehatan) zaman SMP dulu di Larantuka. Kita hafal taiso tapi tidak pernah lihat gerakan-gerakan senam masal ala Nippon. "Dulu senam taiso dilakukan tiap pagi," ujar Mbah Siti (alm) yang sangat suka taiso.

Gerakan-gerakan taiso sangat sederhana. Tidak berat. Siapa pun bisa mengikuti meskipun belum pernah belajar sebelumnya. Beda dengan senam poco-poco olahraga versi 2016 yang sangat sulit itu.

Syukurlah, sekarang ada Youtube. Saya pun mencari taiso di internet. Banyak banget videonya. Tapi gerakan-gerakannya sama. Ada dua versi taiso. Versi 1 yang gampang dan lebih populer. Cuma tiga menit saja.

Hebatnya, taiso ini dipraktikkan di Jepang sejak 1928. Radio NHK tiap pagi dan sore putar musik pengiringnya, pakai piano, kemudian orang Jepang ramai-ramai melakukan senam ringan ini. Di sekolah, kantor, pabrik... di mana saja. Sampai sekarang!

Melihat taiso di Youtube beberapa kali, saya jadi teringat senam pagi Indonesia (SPI) dan senam kesegaran jasmani (SKJ). Kedua macam senam ini diwajibkan di zaman orde baru. Senam hafalan anak-anak sekolah seperti saya.

SPI punya empat versi: seri A, B, C, D. SKJ yang mengganti SPI juga ada tiga versi. Saya cuma hafal SPI seri D dan SKJ versi paling awal. Sebab kedua versi itu selalu kami lakukan di halaman sekolah dekat pantai itu. Baik dengan iringan musik maupun kosongan.

Dari enam versi senam masal ala Indonesia, menurut saya, SPI seri D yang paling dekat taiso. Musiknya pakai piano. Gerakan-gerakannya sederhana. Teratur. Mudah diikuti. Saya yakin pencipta SPI mengadopsi senam taiso ala Jepang itu.

Sayang, senam masal ala Indonesia tidak pernah bertahan lama. Orang Indonesia sepertinya cepat bosan. Selalu berusaha untuk mencari yang baru. Meskipun senam-senam baru itu tidak lebih bagus ketimbang senam lama.

''Bosan kalau cuma itu-itu aja gerakannya," kata Mbak Rida instruktur senam aerobik di arena CFD Sidoarjo. "Saya sudah buat beberapa versi senam Nusantara. Senam Maumere perlu ada pengganti biar tidak bosan," kata Pak Rusman instruktur senam Maumere di Sidoarjo.

Itulah bedanya taiso dengan senam-senam lain di Indonesia. Orang Jepang sudah tidak bisa dilepaskan dari taiso. Dari generasi ke generasi. Taiso ibarat ritual rutin setiap pagi untuk menjaga kebugaran tubuh masyarakat. Bahkan, para ekspatriat Jepang tetap memainkan taiso di negara mana pun.

Saya pun mencoba mengingat-ingat senam pagi seri D yang dulu diajarkan Bapa Gaspar, penilik olahraga di kecamatanku. Ternyata masih bisa meskipun tidak sempurna. Untung orang Indonesia ini baik hati. Mereka menayangkan rekaman senam lawas dari TVRI itu ke Youtube. Senam pagi sebelum nonton bareng Si Unyil.

16 October 2017

Ampun! Panaaas! 41 Celcius!

Panas? Ampun!

Begitu antara lain judul berita di Jawa Pos edisi Minggu 15 Oktober 2017. Tentang balap sepeda GFJP Suramadu 2017 dengan peserta terbanyak di Indonesia. Medannya rata, tapi panasnya yang luar biasa.

Koran itu menulis cuaca di Madura saat balapan itu di kisaran 39,7 derajat celcius. Suhu sempat menembus 41 derajat celcius saat memasuki kawasan wisata tambang kapur Bukit Jaddih di Kecamatan Socah Bangkalan.

Wow... 41 derajat celcius! Itu panas yang sangat terik. Membakar di tengah hari. Kalau tubuh tidak kuat, kurang minum, bisa semaput.

Suhu di Madura sebetulnya tak jauh berbeda dengan Surabaya. Kalaupun ada selisih, sangat tipis. Beda satu derajat lah.

Tidak heran masyarakat Surabaya dan Sidoarjo sejak tiga pekan ini mengeluhkan suhu yang menyengat. Siang panas ekstrem, malam pun gerah nian.

Saya sendiri sulit tidur sejak 10 hari terakhir. Selalu terbangun pukul 01.00 lebih sedikit. Lalu langsung mengguyur tubuh dengan air yang tidak sejuk. Badan tetap saja tidak bisa didinginkan.

Musim kemarau sedang di puncak teriknya. Sebab posisi matahari di atas Surabaya dan wilayah lain yang koordinatnya sama. Sang Surya lagi bergerak ke selatan. Untuk memanggil sang hujan.

Maka, saya pun minggat ke kawasan Trawas. Tepatnya Desa Seloliman yang dekat situs pemandian Jolotundo itu. Membunuh panas terik dari Sidoarjo.

Benar saja. Tidak sampai tujuh menit saya bisa tidur pulas. Makin lama makin dingin. Sekitar 20 derajat celcius. Di tengah udara segar yang dihasilkan pohon-pohon di tanah milik Perhutani itu. Nikmat banget!

Ternyata bukan cuma saya yang ngalih ke kaki Gunung Penanggungan. Mas Hari, Mas Samsul, dan beberapa orang Surabaya yang lain bahkan sudah lama memilih ngadem di Trawas.

Pak Gatot yang pensiunan panitera PN Sidoarjo malah sudah punya vila khusus di daerah Biting. Heri Biola, seniman musik dan guru, yang dulu punya sanggar di Sawotratap Gedangan Sidoarjo juga tinggal di Trawas yang sejuk. "Saya tetap kerja di Sidoarjo. Tapi tinggal saya istri di sini," ujar Heri yang asli Krembung.

Pantesan... jalan raya dari arah Ngoro ke Trawas didominasi kendaraan bermotor plat L (Surabaya) dan W (Sidoarjo).

Semoga hujan segera turun.

Satlak Prima Layak Dibubarkan

Indonesia gagal total di SEA Games 2017 di Malaysia Agustus lalu. Cuma peringkat kelima dari 11 negara. Perolehan medali emas Indonesia jauh di bawah Malaysia yang juara umum. Indonesia pun kalah jauh dengan Singapura yang penduduknya tidak lebih banyak dari Kabupaten Sidoarjo.

Hasil SEA Games ini terburuk dalam sejarah. Saya pun langsung mengirim pesan WA ke kemenpora. Kecewa berat. Sekaligus kritik soal birokrasi olahraga yang panjang. Bagaimana bisa dapat emas kalau peralatan sejumlah cabang olahraga terlambat dikirim? Dana belum cair? Koordinasi tidak jalan?

Semua ini tentu tanggung jawab pemerintah. Kemenpora. Di bawahnya lagi ya satlak prima. Sejak awal satlak tidak jalan. Bahkan sekadar menganalisis kekuatan lawan pun gagal. Target medali meleset jauh. Buat apa ada satlak prima? Begitu antara lain curhat saya ke kemenpora.

Saya sebetulnya berharap pengurus satlak prima mundur setelah SEA Games. Lah, gagal total kok masih bertahan! Saya tunggu-tunggu kok tidak ada yang mundur. Achmad Sucipto ketua satlak prima cuma kasih penjelasan yang normatif. Padahal saya sih ingin pensiunan tentara ini mundur.

Di olahraga itu ukuran keberhasilan atlet sangat jelas. Tidak abu-abu kayak di politik atau pemerintahan. Bayern gagal ya pelatih Ancelotti dipecat... karena tidak mundur sendiri. Mourinho dulu juga dipecat Chelsea. Banyak banget pelatih yang diputus kontraknya karena gagal mempersembahkan kemenangan.

Daripada dipecat lebih baik mundur sendiri. Itu yang ditunjukkan pelatih timnas USA dan Cile pekan lalu. Kasih kesempatan pelatih lain. Ciptakan suasana baru.

Nah, rupanya Achmad Sucipto belum paham tradisi itu. Gagal total di SEA Games tapi tidak mundur. Malah banyak bicara di koran dan televisi.

Syukurlah, kemenpora ternyata membuat gebrakan di luar bayangan saya. Bukannya memecat Sucipto, kemenpora justru membubarkan satlak prima. Luar biasa! Langkah yang sangat tepat. Memotong jalur birokrasi olahraga yang kontraproduktif.

Sucipto akhirnya bicara. "Silakan ganti saya. Tapi jangan bubarkan satlak prima," katanya. Alasannya blablabla....

Syukurlah, banyak pengurus besar olahraga yang mendukung gebrakan pemerintah. Salah satunya Brigjen Pol Johny Asadoma, ketua PB Pertina, yang tak lain mantan petinju amatir terbaik Indonesia asal NTT. Dulu Bung Johny tampil di Olimpiade 1984 di Los Angeles. Gagal dapat medali tapi penampilan Johny saat itu sangat meyakinkan.

"Dulu tidak ada satlak prima, tapi petinju-petinju Indonesia berjaya di Asian Games,'' ujar Bung Johny sembari menyebut nama-nama petinju top masa lalu. Namanya sendiri tidak disebut. Hehe....

Apakah pembubaran satlak prima bisa menyelesaikan masalah? Bisa membuat Indonesia berprestasi di Asia? Setidaknya juara atau nomor dua di SEA Games? Tidak bisa instan begitu. Tapi setidaknya rantai birokrasi jadi lebih sederhana.

Pemerintah pusat cukup koordinasi dengan KONI dan pengurus besar (PB) semua cabang olahraga. Tidak perlu lewat satlak atau lembaga sejenis yang terbukti tidak efektif.

Di masa Orde Baru hanya KONI yang menjadi satu-satunya induk semua olahraga. KONI yang mengatur semuanya. Termasuk koordinasi dengan semua PB. Dan hasilnya luar biasa. Indonesia selalu juara umum SEA Games. Indonesia jauh di atas negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina. Apalagi dengan negara-negara-negara yang dulu bergolak kayak Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar.

Anies dilantik, Ahok dipenjara

Anies dan Sandi resmi jadi gubernur DKI Jakarta beberapa menit lalu. Para pendukungnya tentu saja gembira ria. Mereka larut dalam joget Maumere. Begitu yang ditulis media daring seperti kompas.com.

Melihat senyuman Anies dan Sandiaga di televisi, saya jadi ingat Ahok. Mantan gubernur ini sedang menjalani hukuman penjara selama dua tahun. Buah dari geger politisasi agama yang masif di Jakarta.

Gara-gara politik SARA itulah, dengan unjuk rasa berjilid-jilid, mulai 212 dan seterusnya... Ahok akhirnya kalah di pilgub. Sudah kalah, masuk penjara pula. Maka reputasi Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang tegas dalam menata ibukota pun seakan tergerus.

Karena itu, wajarlah jika warga Jakarta penduduk Ahok tidak mudah melupakan Tamasya Almaidah dan berbagai jargon politisasi agama yang mengantar Ahok ke pintu penjara. Sulit move on. Sulit melupakan kekalahan politik di pilkada kemarin.

Djarot, gubernur pengganti Ahok, pun memilih berwisata ke NTT. Tepatnya di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores. Melepaskan beban berat setelah melayani warga Jakarta hingga 15 Oktober 2015. "Saya sekarang warga biasa," kata mantan wali kota Blitar itu.

Saya kenal Djarot ketika masih menjadi anggota DPRD Jawa Timur di Surabaya. Orangnya demokratis. Berjiwa besar. Punya pemikiran yang konseptual. Beda dengan kebanyakan anggota dewan yang mirip karyawan perusahaan. Djarot punya pengalaman panjang di pemerintahan sejak awal reformasi.

Lantas, mengapa Djarot tidak mau menghadiri pelantikan Anies dan Sandiaga? Ya... itu tadi, proses pilkada Jakarta memang terlalu panas dengan politisasi agama. Yang membuat seorang Ahok harus masuk penjara.

Kondisi ini membuat start awal Anies dan Sandi menjadi tidak asyik. Gubernur Anies sepertinya tidak punya masa bulan madu seperti pejabat-pejabat baru lainnya.

Bagaimana bisa bulan madu kalau gubernur lama lagi disekap di ruang tahanan brimob? Bagaimana bisa bulan madu kalau pendukungnya masih menulis komentar-komentar SARA di media sosial?

"Ngapain Djarot ke NTT yang mayoritas kafir?" begitu salah satu komentar yang saya baca di kompas.com beberapa menit lalu.

09 October 2017

Makin NGINGGRIS di Bulan Bahasa

''Berbicara tentang bahasa, may be I am the one who love learning language so much. For me, language is amazing and have its uniqueness which differentiates from one to another. Padahal aku lulusan Industrial Engineering yang banyak bicara masalah bagaimana pemecahan suatu problem dalam dunia industri....''

Itulah kutipan tulisan Abdul Basyir yang membahas bahasa Osing khas Banyuwangi. Itu baru alinea pertama. Kalau anda ikuti sampai selesai, amboi... gado-gado English-English-nya luar biasa.

Membaca tulisan ini, ketika iseng cari Osing di google, saya pun teringat bulan bahasa. Setiap Oktober adalah Bulan Bahasa Indonesia. Kebetulan hampir tiap hari saya lewat di depan kantor Balai Bahasa Surabaya yang terletak di Siwalanpanji Buduran Sidoarjo.

Saya juga ingat Pak Amir Mahmud, kepala Balai Bahasa, yang baru pensiun. Ia selalu menekankan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. ''Wartawan seharusnya ikut membantu sosialisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar,'' katanya.

Bahasa Inggris tidak penting? Pasti sangat penting. Sebab English sudah lama jadi bahasa internasional yang paling luas penggunaannya. Bukan Mandarin, Arab, Spanyol, atau Prancis. Tapi gunakanlah English sesuai dengan konteksnya.

Alangkah bagusnya jika Abdul Basyir menulis artikel Osing itu dalam bahasa Inggris yang utuh. Seratus persen English. Jangan setengah-setengah! Jangan English 30 persen seperti di artikel itu. Toh, pembaca artikel itu orang Indonesia juga.

Bahasa gado-gado seperti itu namanya NGINGGRIS. Begitu kritik Remy Sylado, sastrawan dan musisi yang menguasai belasan bahasa asing. Remy sendiri tidak main oplos bahasa kayak Basyir itu. Nginggris ini penyakit rendah diri khas bangsa yang terlalu lama dijajah.

Dengan NGINGGRIS, campur-campur bahasa Indonesia, orang itu merasa hebat nian. Pamer kemampuan bahasa Inggris. Kelihatan seperti orang kota metropolitan ala London atau New York.

Bulan Bahasa 2017 ini belum bergema di Sidoarjo dan Surabaya. Di sekitar Balai Bahasa juga tidak ada greget kalau bulan ini bulan khusus untuk memuliakan bahasa Indonesia. Beberapa mahasiswa yang saya tanya bahkan tidak tahu ada bulan bahasa. Tahunya malah bulan Suro.

Sementara itu, NGINGGRIS saat ini dirayakan di media sosial. Juga iklan-iklan di ruang publik. Orang Indonesia tidak merasa bahwa NGINGGRIS itu sejenis penyakit jiwa. Semakin NGINGGRIS semakin hebat. Kayak si Vicky Prasetyo itu.

08 October 2017

Melihat wanita yang kesurupan

Semalam suntuk ada seorang wanita muda kerasukan di kawasan Jolotundo Trawas. Berkali-kali orang itu histeris. Meronta-ronta. Bicara ngalor ngidul gak karuan.

''Saya ini Putri Cempo,'' ujarnya dalam bahasa Jawa ngoko.

Dua pria berbadan besar memegang tubuh wanita kurus seksi itu. Yang pakai baju merah merapalkan ayat-ayat suci. Mbak Khasanah menaburkan garam dapur ke tubuh sang wanita. Biar cepat keluar, katanya.

Karuan saja banyak wisatawan di Jolotundo - kebetulan purnama dan bulan Suro - ramai-ramai menonton pemandangan langka itu. Mas yang dari Surabaya, dengan logat Madura, terus berusaha menjinakkan si pengganggu itu.

''Wong ayu... mohon keluar. Jangan ganggu anak ini. Kasihan dia masih punya anak kecil di rumah,'' pinta mas berbadan subur itu.

''Nggak mau... nggak mau... nggak mauuuuu....'' teriak wanita itu dengan suara nyaring. Suara orang lain alias dhemit itu.

Saya yang sempat tidur pulas pun terbangun. Kaget tapi juga takjub dengan kenyataan itu. Maklum, sudah lamaaa banget tidak melihat sendiri orang kesurupan alias kerasukan setan.

Setelah dirayu cukup lama, wanita dua anak itu akhirnya siuman. Tidak lagi jerit-jerit. Suami (atau pacarnya?) dan beberapa teman mengajak pulang. Naik sepeda motor.

Eh... ketika hendak duduk di jok, wanita itu langsung berlari kencang. Cepat sekali kayak sprinter profesional. Turunan. Kontan saja sang suami dan teman-temannya kalang kabut. Lalu berusaha mengejar. Ada yang menyusul pakai motor.

Akhirnya si perempuan itu ambruk. Dibopong ke tempat semula di dekat gazebo tempat tidur saya. Mas Madura itu kembali bertugas menangani sang pasien. ''Serangannya hebat. Tunggu saja setelah subuh insyaallah akan hilang,'' katanya.

Wong ayu itu masih menjerit dan ngomong ngaco tapi tidak seheboh sebelumnya. Apa boleh buat, rombongan dari Mojokerto itu pun harus sabar menunggu sampai subuh. ''Rupanya wanita itu ingin punya ilmu tapi gak kuat. Dia kurang pasrah kepada Allah,'' kata mas yang telaten itu.

Orang beriman, apa pun agamanya, menurut mas itu, hendaknya tidak neko-neko. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Tidak usah pakai dukun, klenik, pesugihan, penglaris dsb. Sebab efeknya akan panjang.

Akhirnya... subuh pun tiba. Benar saja. Wanita itu siuman kembali. Biasa-biasa saja. Dia tidak tahu bahwa selama hampir empat jam dia kerasukan dhemit dan jadi tontonan orang banyak.

''Orang kalau punya pegangan sebaiknya tidak tidur di atas jam 12 sampai subuh. Bahaya kalau ada serangan,'' kata mas yang tinggal di kawasan Ampel Surabaya itu.

Mata saya makin berat. Giliran saya tertidur pulas di kawasan hutan yang sejuk segar itu.

06 October 2017

Ricker Winsor Bule USA Betah di Surabaya



Biasanya orang Indonesia yang kerasan di Amerika Serikat (USA). Tapi Ricker Winsor ini sebaliknya. Bapak tua ini justru betah tinggal di Indonesia. Termasuk di Surabaya yang panas itu.

Hampir setiap hari Ricker, 72 tahun, mendatangi lokasi tertentu untuk menggambar pemandangan. On the spot. Tak peduli panas, seniman ini asyik membuat sketsa. Pekan lalu suami Jovita Maryana, asal Surabaya, ini melukis di kawasan Kenjeran. Tidak jauh dari pagoda kompleks Pantai Ria.

Di tempat yang ditumbuhi tanaman liar itu Ricker dengan tekun menggambar. Cuek dengan panas terik di atas 35 celcius. Jarang sekali pelukis-pelukis lokal yang berburu di tengah panas macam ini. Biasanya melukis bareng untuk event tertentu saja.

Nah, Ricker ini selalu bermain seorang diri. Biasanya ditemani istri atau kenalannya sebagai pemandu. ''Saya bikin sketsa dulu baru dilanjutkan di rumah,'' kata pria yang sudah 45 tahun menggeluti seni rupa itu.

Garis-garis sketsa Ricker terlihat tebal dan tegas. Sekilas mirip gambar yang dibuat anak-anak sekolah di Indonesia tempo dulu. Sederhana. Tidak banyak polesan. Justru di situlah kekhasan pria yang sudah cukup fasih berbahasa Indonesia ini.

Akhir Agustus 2016, Ricker Winsor menggelar pameran lukisan bertajuk Retrospective 45 Years di Surabaya. Ada 23 karya Ricker hasil berburu di berbagai negara. Lukisan-lukisan itu ibarat jurnal atau catatan harian sang seniman yang senang berkelana di berbagai belahan dunia.

Di usianya yang kian senja, Rick rupanya makin kerasan saja di Indonesia. Tempat-tempat yang bagi kita biasa-biasa saja, bahkan kita anggap jelek, di mata Rick justru sangat eksotis. Seperti semak belukar yang liar di Kenjeran itu. Rick tambah semangat karena teman-temannya di media sosial juga terkagum-terkagum-kagum dengan pemandangan di Kenjeran.

Karen Eldred-Stephan menulis :

''Umm, I MUST ask, is that the oriental Disney World on the horizon?

But seriously Ricker, the photo is beautiful. And it shows just how exactly you've nailed it in your drawings of this kind of landscape. Van Gogh at Arles. indeed! Great work.''

Bapak Rick pun seperti dapat doping untuk terus melukis pemandangan di NKRI. Melukis ibarat terapi jiwa dan raga.

Via Vallen Syukuran HUT 26 di Sidoarjo



Via Vallen baru saja pulang kampung. Merayakan ulang tahun ke-26 di Kalitengah Tanggulangin Sidoarjo. Kali ini penyanyi dangdut koplo yang sedang ngetop ini mengundang anak yatim dari beberapa pesantren.

''Alhamdulillah, jadwal manggung lebih longgar sehingga saya bisa pulang,'' ujar artis yang punya ribuan penggemar setia itu.

Terinspirasi Presiden Jokowi yang suka bagi-bagi sepeda, Via Vallen juga bikin kuis untuk anak yatim. Yang jawab benar dapat hadiah sepeda. Pertanyaan mulai pancasila hingga surat-surat pendek. Ada tujuh sepeda yang dibagikan artis bernama asli Maulidia Octavia ini.

Via layak bersyukur kepada Tuhan di usia 26 ini. Betapa tidak. Via yang awalnya merintis karir dari kampung ke kampung, ngamen sana sini, akhirnya dikenal di seluruh Indonesia. Dulu sulit sekali menembus televisi nasional. Tampil di televisi lokal pun tidak gampang.

Namun, berkat perjuangan keras, gadis yang juga korban lumpur Lapindo ini perlahan-lahan terangkat ke pentas nasional. Dengan karakter dan gaya sendiri. Tampil elegan, tidak sensual, nyaris tanpa goyangan berlebihan.
Via Vallen menjadi antitesis dari artis-artis koplo sebelumnya yang benar-benar menjual goyang erotis. Sebut saja Inul Daratista, Trio Macan, Dewi Perssik hingga Putri Vinata. ''Saya ingin selalu tampil apa adanya. Jadi diri sendiri,'' katanya.

Semoga Via Vallen bisa mengubah image dangdut koplo yang kadung rusak di mata pendekar dangdut lawas macam Rhoma Irama. Bang Haji dan kawan-kawan sudah lama kampanye antikoplo. ''Koplo itu bukan dangdut,'' kata pimpinan PAMMI seumur hidup itu.

05 October 2017

KA sudah kalahkan pesawat

Sudah lama banget saya tidak naik kereta api. Tepatnya sebelumnya Ignasius Jonan jadi dirut PT KAI. Sekitar 10 tahun. Jangankan kereta jarak jauh, kereta jarak dekat seperti Surabaya-Sidoarjo pun tak pernah.

Bukan apa-apa. Dulu saya sangat menderita ketika naik KA ekonomi dari Surabaya ke Jakarta dan sebaliknya. Luar biasa menderita. Penumpang berjubel. Dempet-dempetan. Tidur di bawah kursi. Belum lagi puluhan pedagang asongan yang bolak-balik lewat untuk jualan.

''KA sudah berubah. Sejak Jonan jadi dirut. Sudah gak parah kayak dulu,'' kata teman yang langganan sepur.

Baguslah. Saya juga baca di koran dan media online. Bahkan, dulu saya paling sering menelepon Pak Darsono, humas KAI Daop 8 Surabaya, untuk wawancara dan bahas masalah kereta api. Banyak ilmu yang saya dapat dari Pak Darsono yang sudah pensiun itu.

Tapi ya itu... saya tidak pernah naik kereta api. Pun tidak ingin. Padahal saya beberapa kali menghadiri peresmian jalur KA baru. Nonton doang!

Hingga akhirnya... saya terpaksa naik kereta api. Dari Pasar Turi. Kelas ekonomi. Dibayarin panitia Rp 49 ribu. Ikut rombongan sekitar 20 wartawan untuk lokakarya minyak dan gas di Blora, Cepu, dan Bojonegoro. Termasuk meninjau ladang minyak Banyuurip milik Exxon yang lagi berjaya di Indonesia itu.

Wow... kereta api tahun 2017 memang beda dengan zaman sengsara dulu. Sistem boarding ala pesawat. Ruang tunggu bagus. On time pula. Semua penumpang punya nomor kursi. Tidak akan lebih.

Yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah ketepatan waktu. On time schedule. Cuma molor 7 menit saja! Padahal ini KA ekonomi. Kelas paling murah.

Saya pun langsung bandingkan dengan pesawat LA yang sering saya naiki ke NTT. Kalah jauh untuk ketepatan waktunya. Di Juanda pesawat-pesawat ke Indonesia memang hobi delayed. Molornya pesawat itu bisa sampai 2 jam. Bahkan saya pernah alami molor 3 jam. Para penumpang sempat ngamuk di ruang tunggu.

Kok bisa KA ekonomi hanya molor 7 menit?

Itulah kehebatan direksi PT KAI. Gebrakan Jonan sejak awal 2000 bisa kita petik hasilnya sekarang. Kualitas layanan KA (sekali lagi, kelas ekonomi) sudah setara pesawat terbang. Jauh melebihi apa yang saya bayangkan.

Perkiraan waktu tempuh 2 jam juga nyaris persis. Cuma molor 10 menitan. Lagu lama Iwan Fals sudah tidak cocok. ''Biasanya kereta terlambat... dua jam sudah biasa.....''

Syair lagu Iwan Fals ini hanya cocok di tahun 80an hingga pertengahan 2000an. Ada baiknya Iwan Fals sesekali mencoba naik kereta api. Sebaiknya incognito alias menyamar. Untuk merasakan perubahan radikal di tubuh kereta api kita.

Pulangnya, saya dan teman-teman pakai mobil. Sopirnya tipe pengebut. Waktu tempuh 4 jam kurang 7 menit. Alias dua kali lebih lama ketimbang naik sepur.

Ayo... ayo....naik kereta api!

Puasa menonton timnas sepak bola

Semalam tim nasional bermain lawan Kamboja di Bekasi. Dua pertandingan sekaligus. Timnas U19 disusul senior. Keduanya disiarkan langsung di televisi.

Berbeda dari biasanya, kali ini saya sengaja tidak nonton. Cuma uji coba. Friendly game. Apa pun hasilnya tidak akan ada medali emas atau trofi. Buat apa menang di uji coba kalau di SEA Games atau Piala AFF tidak bisa juara?

Saya sudah lama kecewa berat dengan timnas sepak bola Indonesia. Sering kalah di laga krusial karena kesalahan yang tidak perlu. Ada pemain bikin kesalahan konyol. Kena kartu merah. Maka timnas kalah.

Betapa kecewanya saya saat menyaksikan laga Indonesia vs Malaysia di SEA Games lalu. Hasilnya? Lagi-lagi disikat Malaysia. Gol tunggal dari sundulan pemain hitam keturunan India itu. Indonesia seperti kalah kelas.

Sebelumnya juga kalah dari Malaysia. Justru di final Piala AFF. Kok bisa kalah terus dari Malaysia? Memangnya pemain Malaysia makan roti tiap hari? Kalah dari Thailand masih bisa saya terima. Sebab standar sepak bola di Thailand sejak dulu sudah bagus.

Kok iso kalah maneh... karo Malaysia!

Maka, saya pun membuat keputusan pribadi: tidak akan menonton pertandingan timnas (semua jenjang usia) sampai kesebelasan Indonesia mampu meraih juara SEA Games atau Piala AFF. Tidak perlu Piala Asia atau Asian Games lah... karena itu hil yang mustahal.

Semoga timnas bisa juara!
Atau setidaknya bisa mengalahkan Malaysia!

26 September 2017

Banyak mahasiswa buta EYD

Masalahnya sama dari tahun ke tahun. Para mahasiswa semester akhir, tinggal skripsi, belum menguasai ejaan yang disempurnakan alias EYD. Sebagian besar calon sarjana (bahkan dosen) belum bisa membedakan awal di- (prefiks) dan kata depan di.

Sepanjang tahun 2017 ini saya menjadi pengampu magang beberapa mahasiswa universitas negeri dan swasta di Surabaya. Hampir semuanya gagal di EYD. Khususnya penulisan di- awalan vs di sebagai kata depan.

Si X selalu menulis di terpisah. Misalnya: di cium. Padahal yang benar: dicium.

Si Y sebaliknya. Dia selalu menulis di terpisah - meskipun awalan. Disini disana disitu diatas dibawah disamping.... Yang benar : di sini, di sana, di situ, di atas, di bawah, di samping....

Mengapa generasi yang sangat muda ini, milenial, sangat lemah EYD? Salah siapa? Bukankah di internet sudah ada ribuan artikel tentang EYD, bahasa yang baik dan benar? Buku-buku juga jauh lebih banyak?

Apakah salah dosen di universitas? Saya kira tidak. Dosen-dosen terlalu sibuk untuk memelototi tulisan mahasiswa yang jumlahnya ratusan itu. Apalagi sampai titik koma, EYD dan tetek bengek itu.

Saya cenderung menyalahkan guru-guru di tingkat SD, SMP, dan SMA. Tapi kuncinya di sembilan tahun pertama pendidikan. Kelas 1 sampai kelas 9.

Kalau di sembilan level ini guru-gurunya apatis, tidak mau mengoreksi EYD... ya wassalam. Di SMA dan universitas si pelajar pasti sulit berubah. Jangan harap seorang calon sarjana bisa membedakan kata depan dan awalan di-.

''Guru-guru sekarang itu orientasinya bukan kualitas pengajaran. Idealisme sudah lama luntur,'' ujar GK, guru sebuah sekolah negeri terkenal di Sidoarjo.

Saking hilangnya idealisme, nilai-nilai siswa bisa disulap menjadi sangat kinclong. Maka, jangan heran dalam penerimaan siswa baru beberapa waktu lalu, siswa yang nilai rata-ratanya 90 tidak diterima. Sebab nilai terendah justru 95. Mendekati sempurna.

Wow... pinter-pinter anak sekarang! Tapi kok gak iso EYD???

Indonesia tuan rumah Piala Dunia???

Indonesia mau jadi tuan rumah Piala Dunia 2034? Sebaiknya jangan. Melihat prestasi olahraga NKRI, khususnya sepak bola, Indonesia belum memenuhi syarat untuk jadi tuan rumah pesta sepak bola sejagat itu.

Jangankan Piala Dunia FIFA, jadi tuan rumah Piala Asia pun masih jauh lah. Kualitas sepak bola kita belum ada apa-apanya dibandingkan Jepang atau Korea Selatan. Belum lagi negara-negara Timur Tengah.

Jangankan di Asia, sekadar berkompetisi di Asia Tenggara saja belum sanggup. Padahal 11 negara Asean ini paling lemah di Asia.

Masih jelas dalam ingatan kita, Agustus 2017, timnas Indonesia gagal di SEA Games. Untuk kesekian kalinya dihentikan Malaysia. Timmas seperti tidak berkutik saat menghadapi Malaysia.

Di Piala AFF beberapa tahun lalu juga sama. NKRI keok di kaki Malaysia. Padahal kita pakai pelatih Eropa sekelas Alfred Riedl atau Luis Milla. Sebaliknya Malaysia hanya mengandalkan pelatih tempatan keturunan Tionghoa, Datuk Ong Kim Swee.

Indonesia belum bisa meraih emas SEA Games sepak bola sejak 1991. Sudah 26 tahun. Kapan bisa dapat emas? Saya bertanya ke kemenpora. Tapi tidak ada jawaban tegas. Insya Allah, kata pihak kemenpora via WA.

Karena itu, sebaiknya kita fokus dulu untuk mengangkat sepak bola NKRI di level Asia Tenggara. Jadi juara SEA Games dulu. Tidak usah ngoyo jadi tuan rumah Piala Asia. Apalagi Piala Dunia yang bisa habis Rp 200 triliun.

Saya bahkan menolak Indonesia jadi tuan rumah Asian Games 2018. Tapi pemerintah sudah kadung senang. Seakan-akan event tingkat Asia ini punya manfaat luar biasa.

Lah... di Asia Tenggara saja kita hanya bisa peringkat 5, bagaimana bisa bersaing di Asian Games? Celakanya lagi, selisih medali emas Malaysia (juara umum SEA Games) dengan Indonesia ibarat langit dan sumur.

Celakanya lagi, banyak atlet kita yang keleleran di Malaysia karena manajemen olahraganya kacau. Kok mau jadi tuan rumah Piala Dunia?

24 September 2017

Zow Min Pengungsi Myanmar yang Buddha di Sidoarjo

Ratusan ribu warga Rohingya terpaksa mengungsi gara-gara kebijakan pemerintah Myanmar. Gara-gara isu itu, teman-teman wartawan rajin mendatangi Rusunawa Puspa Agro di Jemundo, Taman, Sidoarjo. Beberapa televisi menurunkan pasukan lengkap dengan mobilnya. Siaran langsung dari Jemundo.

Rumah susun di Puspa Agro memang menampung sekitar 140 pengungsi dari berbagai negara. Pakistan, Afghanistan, Iran, Somalia, termasuk Myanmar. Pencari suaka asal Myanmar ada 13 orang. Dua belas orang beragama Islam, etnis Rohingya, dan satu orang beragama Buddha.

Nah, yang Buddha ini namanya Zow Min. Saking seringnya bertemu, ngopi di warkopnya mbak Sri di Puspa Agro, saya jadi akrab dengan dia. Zow Min pun paling luwes ketimbang pengungsi-pengungsi lain. Potongannya kayak wong Jowo, tinggi 160an cm. Suka senyum dan lancar bahasa Indonesia meskipun ucapannya sering gak jelas. Khususnya huruf R.

''Saya ingin kerja di sini saja. Indonesia ini aman dan tenang. Nggak seperti di negara saya,'' ujarnya seraya tersenyum.

Zow Min tiap hari membantu beberapa tukang warung. Dulu kalau gak salah dia cawe-cawe di warungnya bu Ida. Belakangan di warung pojok. Biasa disuruh-suruh memikul air galonan atau barang-barang berat. Hasilnya bisa untuk beli rokok atau tambahan uang saku.

''Jatah kami sebulan cuma Rp 1.250.000 dari IOM. Cuma untuk bertahan hidup saja,'' ujarnya. IOM dan UNHCR yang selama ini mengurusi kebutuhan para pengungsi mancanegara itu. Termasuk yang membayar sewa rumah susun kepada Pemprov Jatim.

Mengapa Zow Min yang Buddha ikut meninggalkan negaranya bersama orang Rohingya? Sudah pernah saya tulis di sini. Dia jadi sebatang kara karena istri dan anaknya hilang. Tak jelas rimbanya.

Meskipun bukan muslim, Zow Min mengaku tidak punya masalah dengan teman-temannya yang Rohingya. Maklum, nasib mereka sama saja. Sama-sama menunggu negara ketiga yang bersedia menerima mereka. ''Kalau bisa sih saya tinggal di Indonesia saja,'' katanya.

''Lho, orang Indonesia itu juga banyak yang miskin. Jutaan orang jadi TKI di Malaysia, Hongkong, Timur Tengah. Nggak mungkin lah bisa menampung ribuan pengungsi,'' kata saya. Menirukan omongan mbak Sri yang ingin agar pengungsi-pengungsi ini segera pergi ke negara lain. Sebab masih banyak orang Jatim yang lebih membutuhkan rumah susun itu.

Sambil asyik ngobrol, wartawan Kompas TV masuk ke pos keamanan. Minta dipanggil koordinator pengungsi Rohingya. ''Zow Min ini juga dari Myanmar tapi Buddha,'' ujar saya. Teman dari Kompas TV itu pun tampak tertarik dengan Mas Paijo, sapaan akrab Zow Min.

Kemudian Paijo alias Zow Min beranjak ke rusunawa untuk memanggil temannya, Muhammad Suaib, ketuanya Rohingya. Dialah yang selama ini jadi narasumber para wartawan. ''Kami sudah bosan di sini. Cuma makan tidur aja. Keluar juga harus izin. Tidak boleh kerja,'' katanya.

Yah... namanya aja pengungsi, pencari suaka, ya begitu. Masih untung dapat jatah bulanan, tinggal di rusun yang bagus di Sidoarjo. Ketimbang ratusan ribu pengungsi Rohingya yang tinggal di tenda-tenda di Bangladesh dsb.

Suab dkk dari Myanmar tinggal di Sidoarjo sejak 2013. Mereka sudah di-screening oleh IOM dan UNHCR agar bisa dikirim ke negara ketiga. Tapi tidak ada kepastian berangkat. Ironisnya, kondisi di Rakhine daerah asal mereka makin tidak karuan. Mata dunia pun tertuju ke sana.

Suaeb, Zow Min... dan kawan-kawan hanya bisa menanti dan menanti. Sampai kapan?

September memang bulan yang super panas

September memang bulan yang panas. Dari dulu juga begitu. Tapi sebagian besar orang Indonesia, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, lupa dengan fenomena alam ini. Begitu banyak orang yang menggerutu. Bak orang Eropa dekat kutub utara yang setiap hari menikmati suhu ekstrem dingin.

Syukurlah, beberapa media di Surabaya selalu berinisiatif untuk menjelaskan siklus alam yang disebut EQUINOX ini. BMKG Juanda juga berusaha menjelaskan peristiwa setiap bulan September ini secara seserhana. Bahwa tiap 23 September posisi matahari berada di garis katulistiwa. Di atas daratan Indonesia.

Ya... terang saja cuaca begitu teriaknya. Menyengat. Apalagi di musim kemarau yang kering seperti tahun 2017 ini. Beda dengan tahun lalu yang masih banyak hujan di musim kemarau.

''Suhu di Surabaya meningkat hingga 34-35 derajat celcius,'' ujar Agatha dari BMKG Juanda di Sedati Sidoarjo.

Tapi rupanya banyak warga Surabaya yang termakan isu di media sosial. Katanya suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Super panas. Betul begitu? ''Hoax itu,'' kata Agatha.

Temperatur 37 celcius pun hanya pernah terjadi di NTT. Surabaya memang panas, apalagi September, tapi belum sampai 40. Gerakan penanaman pohon sejak wali kota Bambang DH hingga Risma lumayan membantu meredam suhu tinggi.

''Tapi di aplikasiku kok suhunya 43 derajat celcius?'' ujar Kris, warga Gedangan Sidoarjo.

Di papan digital Wonokromo pun sering tertera angka 38, 39, hingga di atas 40 celcius. Kok berbeda dengan versi BMKG? Jelas lah. Termometer dan alat-alat lain di BMKG pasti jauh lebih akurat.

Rupanya mata pelajaran lama, Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA), perlu diajarkan lagi di sekolah-sekolah. Agar rakyat tidak kaget dengan gerakan semu matahari, equinox, rotasi bumi, revolusi dsb.

Bahwa matahari seolah bergerak ke selatan menuju titik 23,5 lintang selatan. Nanti kembali ke katulistiwa pada 23 Maret sehingga terjadi equinox lagi menjelang kemarau. September ini equinox untuk mempersiapkan musim hujan. Siklus alam yang sudah berjalan selama jutaan tahun silam.

Khusus di Indonesia, fenomena alam equinox yang ekstrem panas setiap September ini menjadi lebih panas lagi gara-gara selalu muncul isu PKI, komunis, ekstrem kiri, ateisme dan sejenisnya. Polemik nonton bareng film Pengkhianatan G30S PKI lagi ramai di Indonesia.

Karena itu, lagu lama September Ceria ciptaan James F. Sundah (vokal Vina Panduwinata) sebetulnya tidak cocok dengan suasana di Indonesia. Panas suhunya... panas politiknya. Apanya yang ceria kalau konflik ideologis tahun 1965 ini tidak ada ujungnya?

Semoga September cepat berlalu!

22 September 2017

Nonton film Pengkhianatan G30S PKI

Semalam saya nonton film Pengkhianatan G30S PKI yang sangat terkenal itu. Bukan nonton bareng tapi nonton sendiri. Di Youtube. Sudah lama film propaganda ini diunggah di Youtube.

Karena itu, acara nobar sebetulnya tidak relevan. Apalagi kalau nobar itu pakai instruksi seperti zaman saya sekolah dulu. Pasti ada agenda politiknya.

Lebih baik biarkan saja rakyat nonton film yang durasinya 3,5 jam itu. Bisa disaksikan kapan saja.... tidak harus September. Khususnya 30 September. Mau nonton sehari tiga kali atau 10 kali silakan. Tidak ada yang larang.

Apa yang menarik dari film bikinan sutradara Arifin C. Noer, atas pesanan orde baru, itu? Tidak ada. Maklum sudah sering kita nonton di masa orba dulu. Pakai layar tancap. Isinya sama dengan pelajaran sejarah versi orba, PSPB, buku putih dan berbagai dokumen versi orba lainnya.

Yang jadi masalah adalah narasi tentang G30S itu tidak lagi tunggal seperti di zaman Soeharto. Sejak reformasi muncul banyak kajian dan publikasi tentang kejadian yang mengubah wajah Indonesia itu. Sekaligus menjadikan Pak Harto sebagai presiden selama 32 tahun.

Lantas, mengapa panglima TNI getol meminta masyarakat untuk nonton bareng G30S PKI? Selain alasan sejarah seperti dikutip di televisi, panglima yang berasal dari TNI AD (di film ini pakai istilah Adri) jadi lakon protagonis. Aidit dkk dari PKI jadi antagonis yang jahatnya seperti setan.

Situasi politik global sudah jauh berubah. Perang dingin sudah lama berakhir. Komunisme sebagai ideologi bangkrut di mana-mana. Tapi sebagian besar orang Indonesia, khususnya pimpinannya, masih berpikir seakan-akan kita masih di tahun 1965 atau awal 1970an.

18 September 2017

Sayur kelor mulai disukai di Jatim

Tak jauh dari Stadion Jenggolo Sidoarjo, belakang ruko lama, ada taman yang luas. Selain mangga, terong, aneka bunga, ada juga kelor. Cukup banyak tanaman kelor yang batangnya lumayan besar. Masih hijau di musim kering ini.

''Kok tidak dibuat sayur? Enak banget lho!'' pancing saya.

Pak Yanto, pengurus taman dan tokoh perumahan, tertawa kecil. Saya pun maklum. Di Jawa memang orang tidak biasa makan jangan kelor. Tabu. Sebab tanaman yang biasa tumbuh di daerah kering itu biasa dipakai untuk menangkal ilmu sihir, ilmu hitam, jimat, dan sebangsanya.

Mayat-mayat orang yang dianggap punya banyak ilmu (hitam) pun biasanya dibersihkan dengan kelor. Orang-orang yang pakai susuk juga begitu alergi dengan kelor. Susuknya bisa hilang tuahnya.

Lain di Jawa, lain di NTT. Khususnya di Flores Timur dan Lembata. Kelor atau merungge (marunggai) atau motong (bahasa Lamaholot) justru sangat populer. Hampir tiap hari orang makan sayur kelor. Tanaman yang tumbuh liar di halaman, ladang, hutan... tanpa perawatan.

Cara memasaknya pun semudah mi instan. Cukup dimasukkan ke air mendidih, diaduk, dikasih sedikit garam dan bumbu. Beres. Rasanya enak dan segar menurut lidah NTT. Sayur kelor ini juga sering disiramkan ke jagung titi (semacam emping jagung khas Flores Timur dan Lembata).

Bisa menghilangkan ilmu sihir? Di NTT tidak ada kepercayaan itu. Dukun-dukun kampung yang dianggap sakti di NTT pun saya lihat doyan merungge. Toh ilmunya tidak hilang.

Di internet dan koran di Surabaya akhir-akhir ini sering diberitakan khasiat tanaman kelor. Banyak banget. Katanya mencegah jantung koroner, kanker, diabetes, sakit mata, dsb dsb. Buku-buku tentang kelor juga mudah dijumpai di toko buku.

Karena itu, sudah mulai ada inisiatif dari ibu-ibu PKK untuk mengolah kelor menjadi aneka makanan. Yang paling ramai di Sukorejo, Bungah, Gresik. ''Bisa dibuat cemilan, sayuran, minuman dsb,'' kata Sri Ludiana, pengurus PKK Sukorejo.

Awalnya tidak mudah meyakinkan masyarakat untuk mengonsumsi kelor. Apalagi yang sudah telanjur percaya dengan sihir, klenik, dan sebagainya. Namun perlahan-lahan cemilan dari kelor itu mulai disukai. Apalagi setelah beredar informasi tentang khasiat daun kelor di internet.

''Kalau saya sih gak akan makan kelor. Kelor di halaman rumah saya ini hanya untuk hijau-hujauan,'' kata Gunawan, warga Ngagel, Surabaya.

16 September 2017

Pelukis Dharganden tutup usia



Satu lagi seniman Kota Delta berpulang ke pangkuan Sang Khalik. Dharganden, pelukis senior asal Tanggulangin, Sidoarjo, meninggal di kediamannya Perumtas II karena sakit hati dan ginjal. Komplikasi penyakit di tubuhnya ternyata sudah lama.

Kepergian pelukis yang aktif berkarya di Kampung Seni Pondok Mutiara itu tak ayal mengagetkan kalangan seniman di Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota lain di tanah air. Maklum, selama ini Dharganden selalu terlihat ceria, semangat, murah senyum, dan jarang sakit.

''Saya sendiri terkejut banget karena Mas Dar tidak pernah mengeluh sakit. Energi dan staminanya luar biasa untuk berkarya,'' ujar Amdo Brada, pelukis senior yang juga sahabat akrab almarhum Dharganden.

Lahir di Tanggulangin, 56 tahun silam, Dharganden dikenal luwes dan mudah bergaul dengan siapa saja. Meski sudah malang melintang di jagat seni rupa nasional, pria bernama asli Darsono itu oke-oke saja diajak melakukan pameran bersama dengan pelukis-pelukis yang jauh lebih muda.

''Almarhum tidak senang diajak diskusi dan mau membagi ilmunya,'' ujar Muhammad Bella Bello, pelukis muda asal Desa Siring, Porong, yang kini hijrah ke Desa Penambangan, Balongbendo.

Dharganden juga selalu menekankan kepada anak-anak muda untuk berkarya dengan media apa saja. Seni rupa tidak harus mahal. Melukis bisa di mana saja. Itulah yang terlihat saat pameran bersama bertema daur ulang di Pondok Mutiara. Saat itu Darganden menggunakan papan-papan bekas untuk melukis berbagai objek menarik.

Lukisan karya Dharganden dan kawan-kawan itu dipamerkan di alam terbuka. Tepat di jalan masuk ke kompleks ruko lawas di Pondok Mutiara. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan beberapa pejabat pemkab sempat mengapresiasi karyanya.
''Jadi, pameran lukisan itu tidak harus di hotel atau gedung yang mahal. Di mana saja bisa,'' ujar seniman yang gemar merokok itu.

Dharganden berencana menggelar pameran lukisan pada Oktober 2017. Maka, dia pun bekerja keras, lembur untuk menghasilkan lukisan-lukisan baru. Tapi rupanya Allah berkehendak lain....

Jenazah almarhum Dharganden dibumikan di makam umum Desa Kalisampurno, Tanggulangin. Tak jauh dari tanggul lumpur Lapindo. Selamat jalan Cak Dar! (*)

KRIS MARIYONO, pengamat seni rupa Jawa Timur, menulis:

Seniman lukis Dharsono yang memiliki nama populer Dharganden tidak hanya mampu mewujudkan kreasi karya yang unik dan naif. Dia juga pelukis yang fenomenal. Nilai fenomenal Dharganden yang paling tinggi ketika pelukis kelahiran Surabaya 17 Agustus 1957 ini menggelar Pameran Tunggal kedua bertajuk Lingkungan Terkoyak di Galaeri Surabaya 29 Mei hingga 5 Juni 2009.

Saat itu Dharganden menampilkan salah satu lukisan dari kurang 15 lukisan yang dipamerkan berukuran panjang 13 meter lebar 120 sentimeter. Lukisan terpanjang itu menggambarkan tentang kepanikan masyarakat yang mengalami musibah bencana Lumpur Lapindo.

Memang sangat detail dan tematis pelukis yang juga dikenal sebagai ahli taman ini mengangkat persoalan lumpur Lapindo karena keluarganya merupakan salah satu korban Lumpur Lapindo di kawasan Ketapang Keres, Porong, Sidoarjo.

Pengamat seni rupa Henri Nurcahyo memberikan apresiasi bahwa bencana Lumpur Lapindo sebagai sumber inspirasi yang luar biasa bagi Dharganden yang terlibat langsung secara fisik kemudian diwujudkan dalam karyanya. Karyanya itu pun bukan sebuah eksploitasi atau dramatisasi bencana, melainkan menjadi semacam jeritan yang artistik.

Mengenali karya-karya Dharganden tidak terasa nuansa yang mendayu-dayu. Goresan-goresan karyanya tidak sedang berteriak-teriak dengan nada protes. Dharganden telah menemukan caranya sendiri bagaimana menyuarakan substansi bencana dengan tampilan yang artistik tanpa terjebak dalam karya yang semarak.

Dharganden kini tidak akan lagi melukis dari realitas yang hendak diungkapkan. Kenapa? Karena pria yang akrab dan senang berdiskusi mengenai persoalan seni rupa itu telah kembali ke hadirat Ilahi Robbi pada 16 Sepetmber 2017. Ia meninggalkan sejuta kenangan tentang berbagai karyanya yang sarat persoalan sosial.

Selamat jalan Dharganden! Semoga Allah Maha Pemurah memberikan tempat yang lapang dan ampunan dosa!

06 September 2017

Wajah bopeng orang Indonesia di media sosial

Gara-gara Rohingya, orang Indonesia sibuk perang kata di media sosial. Isu SARA pun menguat lagi. Ada yang ingin mengepung Candi Borobudur segala.

Lah.. kok Borobudur? Salah apa candi yang jadi salah satu keajaiban dunia itu? 

Betul Borobudur candi yang dulu jadi tempat puja bakti umat Buddha di nusantara. Tapi sudah lama banget, jauh sebelum NKRI merdeka, Candi Borobudur jadi cagar budaya milik bangsa Indonesia. Bukan milik orang Buddha aja.

Tadinya saya pikir setelah Ahok dipenjara dua tahun, obrolan dan diskusi di medsos lebih positif. Lebih produktif. Nyatanya tidak. Medsos tetap aja rame. Selalu ada isu baru yang digoreng dengan bumbu SARA yang sangat pedas. 

Ternyata banyak sekali teman yang resah dengan situasi ini. Salah satunya Mas Hendro jurnalis senior Surabaya. Saya baca sekilas catatannya di fesbuk. 

Hendro D. Laksono:
''Lha yo. Biyen aku sempat mikir. Ahok dipenjara trus sosmed iso anteng, adem. Nang dunia nyata kene iso guyon mesra ambek jambak-jambakan maneh. Ternyata enggak. Bendino jek dipekso moco wong gegeraaaan ae...''

Ada lagi orang Surabaya yang gumun. Ke mana ciri khas bangsa kita yang welas asih, toleran, gotong royong dsb itu? 

Hehehe... 

Memangnya bangsa Indonesia itu welas asih dan toleran? Di medsos wajah penghuni NKRI ini tampak beda dengan citra yang dikembangkan selama ini. Muka kita ternyata sangar, bopeng... menghalalkan segala cara untuk kepentingan politik ekonomi ideologi dsb.

Termasuk jualan berita palsu untuk dapat duit. Alamak....

02 September 2017

Surabaya kota nomor 10

Ada baiknya juga berada di daerah yang tidak punya sinyal internet. Bisa fokus membaca koran atau buku. Berita-berita kecil yang biasanya dilewatkan di Surabaya akhirnya bisa dipelototi. Termasuk iklan-iklan yang banyak itu.

Salah satu berita ringan di koran lama, Jawa Pos 28 Agustus 2017, membuat saya senyum sendiri di kawasan perhutani Trawas Mojokerto. Berita tentang seminar motivasi di kampus Universitas NU Surabaya. Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN, seperti biasa jadi bintang di seminar itu.

Pak Bos, sapaan Dahlan Iskan di kalangan karyawan JP Group, mengatakan gap ekonomi Jakarta dan Surabaya semakin jauuuh. Surabaya bukan kota terbesar kedua. "Surabaya itu peringkat ke-10," kata mahagurunya sebagian besar wartawan di Indonesia itu.

Lalu, kota nomor 2 sampai 9? Jawabannya: Jakarta Jakarta Jakarta.... "Jakarta dan Surabaya bukan lagi langit dan bumi, tapi langit dan sumur," kata ayah dua anak yang sempat ganti hati di Tianjin Tiongkok itu.

Gap ekonomi, bisa juga perputaran uang ini, sudah lama terjadi di Indonesia. Uang menumpuk di ibukota NKRI. Alih-alih menyebar ke luar Pulau Jawa, di kota-kota besar Jawa saja cuma kecipratan sedikit. Dulu, awal 2000-an, Pak Dahlan selalu bilang Surabaya itu kota nomor 6 di NKRI. Nomor 1 sampai 5 Jakarta.
Artinya, gapnya makin lebar? Rupanya begitu yang ditangkap Pak Dahlan. Dan... ini bukan sekadar guyon suroboyoan karena diucapkan Pak Dahlan yang sempat jadi dirut PLN, kemudian menteri BUMN. Beda dengan pernyataan 'Surabaya kota nomor 6' ketika Pak Bos belum jadi pejabat di pusat.

Presiden Jokowi pasti sadar akan gap ekonomi yang luar biasa ini. Pun sudah banyak program untuk memajukan daerah-daerah. Tapi rupanya kabinet kerja belum berhasil mengurangi ketimpangan itu. Jakarta justru makin meleset jauh meninggalkan kota-kota lain.

Mungkinkah pemindahan ibukota NKRI dari Jakarta ke Kalimantan (atau kota lain di luar Jawa) bisa sedikit demi sedikit mengurangi gap ini? Kita tunggu.

27 August 2017

Malaysia masih terlalu tangguh

Pelatih sekaliber Luis Milla pun tidak mampu membuat tim nasional sepak bola kita berjaya di Asia Tenggara. Beberapa menit lalu Evan Dimas dkk dihentikan Malaysia di semifinal. Medali emas SEA Games pun masih tetap jadi impian panjang.

Terakhir kali kita meraih emas sepak bola di SEA Games 1991. Dua puluh enam tahun silam. Entah kapan timnas mampu jadi juara di ASEAN. Kumpulan 11 negara yang sama-sama sepak bolanya kurang maju.

Lah, di Asia Tenggara saja tidak bisa juara... bagaimana mau melejit ke Asia? Ikut Piala Dunia? 

Kita memang pantas kalah dari Malaysia. Meskipun Malaysia sebetulnya tidak bagus-bagus amat. Kita pantas kalah karena tidak mampu memanfaatkan peluang. Mandul di depan gawang. Sebaliknya, Malaysia mampu memanfaatkan bola lambung dari sepak pojok.

Apa yang salah dari sepak bola Indonesia? Kok selalu gagal di tangan Malaysia? Luis Milla, pelatih timnas kita, jelas bukan coach ecek-ecek. Milla bekas pelatih timnas Spanyol junior yang hebat. Milla juga mantan pemain Real Madrid. 

Tapi Luis Milla bukanlah tukang sihir yang bisa menyulap timnas jadi juara ASEAN atau Asia. Pembinaan sepak bola harus ditangani serius sejak usia sekolah dasar. Fondasinya harus kuat. Jangan harap timnas kuat jika pembinaan usia dini, remaja, dsb belum ditata dengan baik.

Luis Milla jelas gagal... kalau merujuk ke target medali emas dari Pak Eddy ketua PSSI. Tapi apakah dipecat seperti pelatih-pelatih-pelatih sebelumnya? Bisa saja. Sudah terbukti bahwa pelatih sekaliber Milla pun tidak mampu membawa Indonesia jadi juara SEA Games alias ASEAN. 

Lupakan dulu Piala Dunia atau Piala Asia. Asian Games. Level Indonesia masih jauh di bawah negara-negara kuat Asia macam Arab Saudi, Iran, Irak, Jepang, Korea Selatan, apalagi Australia. Bahkan dengan Malaysia pun kita masih kedodoran. 

Indonesia hanya sedikit di atas Timor Leste. Cuma bisa menang 1-0. Itu pun dengan susah payah.

24 August 2017

Musik Siter Bu Warsini di Ambang Punah

Bu Warsini namanya. Sudah 10 tahun lebih saya menikmati permainan musiknya yang bikin hati tenang. Alat musik siter atau kecapi dipetik wanita asal Wonoayu Sidoarjo ini dengan skill tingkat tinggi. Lalu kadang ditingkahi dengan tembang Jawa.

Dulu, sekitar 2005, pelukis senior Bambang Thelo dan Thalib Prasodjo (keduanya sudah almarhum) sering nganggap Bu Warsini untuk menghibur sesama seniman di Akar Jati Cafe, dekat Gelora Delta. Dikasih Rp 50 ribu aja pemusik siter ini matur nuwun. Apalagi 100 ribu atau lebih.

''Kalau kita tidak ikut menghidupi... tidak lama lagi musik siter jowo ini akan hilang. Coba anda cari di seluruh Sidoarjo, berapa orang yang masih main siter? Mungkin gak sampai lima orang,'' ujar Bambang Thelo pelukis yang doyan menggambar tekek alias tokek. Makanya disapa Eyang Tekek.

Ketika kafe plus galeri itu masih ada, Bu Warsini dapat slot tampil reguler. Honornya sedikit tapi selalu ada saweran dari pengunjung kafe. Lumayan kalau dikumpulkan dari hari ke hari. ''Alhamdulillah, ada saja rezeki dari Tuhan. Saya bisanya hanya main siter,'' ujar Bu Warsini.

Sayang, umur Akar Jati ternyata tidak panjang. Eyang Thalib dan Eyang Tekek pun sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Maka saya pun tak lagi menikmati instrumentalia tunggal ala Bu Warsini. Katanya sih ngamen dari warung ke warung di Sidoarjo. Dalam kota.

''Biasanya Bu Warsini main di dekat kantor pos,'' kata Pak Totok, pengasuh Napak Tilas JTV, yang juga pimpinan Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa. ''Beliau masih mau nguri uri budaya dengan melakukan pertunjukan musik keliling dari depot ke depot.''

Pak Totok sendiri korban lumpur Lapindo. Dua rumah warisan di Siring, tak jauh dari pusat semburan lumpur, sudah lama tenggelam. Kehidupan rumah tangganya dengan Mbak Hesti pun tidak mulus lagi. Maka perhatiannya terhadap seni budaya jauh berkurang.

''Sekarang ini seniman tradisi seperti Bu Warsini harus berjuang sendiri untuk bisa bertahan. Berat banget... tapi lumayan banyak orang yang mau nyumbang,'' kata Pak Totok.

Bagaimana dengan pemerintah daerah? Dinas pariwisata dan kebudayaan? Dewan kesenian? Rupanya tak banyak harapan. Seni budaya sepertinya diserahkan ke pasar. Tentu saja seni tradisi seperti musik siter ini tinggal menunggu ajal karena pemainnya sudah lanjut usia.

Itu pula yang terjadi dengan wayang wong atau ketoprak yang sudah lama hilang di Sidoarjo. Ludruk masih ada tapi sekarat. ''Mestinya ada pemihakan dari pemerintah. Sayang kalau sampai hilang,'' ujar Alfian mantan duta wisata.

Mas Nonot, pengurus Dewan Kesenian Jatim, yang tinggal di Taman Sidoarjo, menjawab pertanyaan saya tentang musik siternya Bu Warsini yang terancam punah. Begini isinya:

''Karena tidak ada regenerasi, di samping itu pengembangan seni tradisi tidak ditangani dengan benar. Seni tradisi hanya dianggap kelangenan bukan sebagai bagian dari jati diri budaya bangsa, maka jangan berharap akan lestari.''

Waduh....

Orang dewan kesenian pun pesimistis melihat seni tradisi yang kian meranggas. Bagaimana pula dengan masyakarat yang kian menjadi penikmat musik pop modern dan aneka hiburan di era digital? Sulit membayangkan seniman tradisi kayak Bu Warsini harus bersaing dengan Raisa, Rossa, Ayu Ting Ting, Agnes Monica....

Indonesia makin terpuruk di SEA Games

Indonesia kelihatannya terseok-seok di SEA Games. Masih ada harapan untuk menambah medali tapi sudah pasti tidak akan bisa jadi juara. Posisi kedua pun sulit.

Betapa jauhnya perolehan medali Malaysia (peringkat 1) dengan Indonesia. Dengan Singapura saja jauh. Kok Indonesia tidak berdaya di Asia Tenggara? Padahal 11 negara yang ikut SEA Games ini sebenarnya sangat rendah levelnya di Asia. Gak usah ngomong olimpiade lah!

Di sepak bola tim nasional kita juga kelihatan susah banget mengalahkan Timor Leste. Cuma menang 1-0. Padahal, dulu, ketika masih ikut NKRI, anak-anak Timtim tidak bisa main bola. Lawan NTT, yang sepak bolanya sangat lemah, pun selalu kalah.

Tapi Timor Leste perlahan-lahan mulai maju. Skill, taktik, goreng bola... sudah bagus. Kalau tidak hati-hati, suatu ketika Indonesia jadi bulan-bulanan bekas provinsi ke-27 itu.

Saya jadi teringat masa kecil ketika menyaksikan SEA Games di TVRI. Hitam putih. Milik seorang pejabat Kabupaten Flores Timur di Larantuka. Wuih... atlet-atlet-atlet Indonesia sepertinya gampang banget dapat emas. Emas emas emas... perak... perunggu.

Indonesia pun jadi juara umum dengan mudah. Perolehan medali emas Indonesia saat itu jauh dibandingkan negara-negara lain. Malaysia? Tidak masuk hitungan.

Lah, Indonesia sekarang kok mirip negara kecil? Jadi figuran di pesta olahraga Asia Tenggara? Kalah jauh dari Malaysia dan Singapura?

Pasti ada banyak yang salah dalam pembinaan olahraga kita. Selain itu, lawan-lawan kita sudah belajar dari kegagalan masa lalu.. dan berbenah. Kita ibarat raksasa limbung yang tertidur pulas.

Saat menyaksikan timnas Indonesia vs Vietnam, saya melihat pemain-pemain kita dalam tekanan berat. Pola permainan tidak jalan. Untung seri 0-0. Indonesia seperti kalah kelas dari Vietnam.

Sangat miris. Bukan apa-apa. Vietnam (juga Laos, Kamboja, Myanmar) adalah negara-negara yang tercabik perang saudara selama puluhan tahun. Indonesia dulu bahkan menyiapkan pulau khusus untuk menampung ribuan pengungsi dari negara-negara ini.

Hebatnya, setelah perang berlalu, Vietnam Laos Kamboja Myanmar mulai menata diri. Gencar membangun. Termasuk bidang olahraga. Hasilnya dahsyat. Indonesia yang dulu raksasa ASEAN sekarang justru jadi kerdil di bidang olahraga. Dan bidang-bidang lain.

Cak Imam, menpora, target sampean Indonesia peringkat berapa? Pak Menteri yang dulu tinggal di Jabon Sidoarjo ini kelihatan cuma ngomong ngalor ngidul di televisi. Gak jelas. Karena memang dia tahu betul peluang Indonesia untuk finis tiga besar pun sulit.

Masih lumayan ada insiden bendera terbalik yang dibuat panitia SEA Games. Kita bisa maki-maki Malaysia yang panen medali emas.

16 August 2017

Prabowo Muda Sering Digoda Cewek di London

Oleh THREES NIO



Kriiiiingg.....
Can I speak with Bowo, please?
Who's speaking here?
Jane.

Demikianlah telepon di rumah keluarga Dr Sumitro di London setiap saat berdering. Kebanyakan telepon-telepon itu berasal dari gadis-gadis Inggris cilik yang ingin bicara dengan Bowo.

Nama lengkapnya Prabowo Subiyanto, anak ketiga Dr Sumitro, yang sering dikejar-kejar oleh gadis-gadis cilik karena parasnya yang cakep. Kali ini Jane yang ingin bicara. Lima menit kemudian Margareth. Lain kali Rose. Akan tetapi, gadis-gadis cilik ini kerap kali dibuat kecewa. B

Prabowo yang baru berusia 15 tahun dan belum suka cewek-cewekan sering kali membentak mereka agar jangan mengganggunya di rumah. ''I've told you many times not to call me at home!''

Prabowo sudah beberapa tahun menetap di London bersama ibunya Ny Dora Sumitro, kakaknya Maryani Ekowati, dan adiknya Hashim Suyono. Kakaknya yang sulung Biantiningsih yang berusia 19 tahun telah setahun lebih meninggalkan mereka untuk belajar pada Universitas Wisconsin, Amerika Serikat. Sedangkan ayahnya, Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo, dalam enam bulan hanya satu minggu tinggal bersama mereka.

Di sini nampaklah betapa beratnya kehidupan Ibu Dora Sumitro, seorang wanita Manado, sebagai seorang ibu dari 4 orang anak yang selalu harus berpisah dengan suaminya di tempat asing. Problem-problem rumah tangga kerap kali harus dipecahkannya seorang diri.

Salah satu problem misalnya Hasyim, yang ketika meninggalkan Indonesia baru berusia tiga tahun, kini sama sekali tidak dapat berbahasa Indonesia. Untunglah anak-anak tersebut dalam bidang pendidikan tidak banyak menimbulkan kesulitan bagi ibunya. Mereka semua pada umumnya mewarisi kepandaian ayahnya.

Prabowo sangat menonjol sekali kecerdasannya di sekolah sehingga ia meloncat satu kelas. Kini duduk bersama dengan kakaknya Maryani di kelas dari sebuah sekolah menengah di London. Menurut rencana, keluarga Sumitro akan kembali ke tanah air setelah kedua anak ini lulus.

Kehidupan di London ini jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya jauh lebih bahagia. Pada saat permulaan hidup pengembaraan mereka, 1957-1958, mereka jauh lebih banyak mengalami kesengsaraan.

Ketika meninggalkan Indonesia pada 10 Mei 1957, mereka mengungsi ke Singapura. Di sini mereka tidak tinggal lama. Kemudian Dr Sumitro kembali ke Manado untuk mondar mandir di daerah-daerah, khususnya di Padang dan Palembang.

Tahun 1958 untuk kedua kalinya mereka meninggalkan tanah air untuk mengembara di Singapura, Kuala Lumpur, Zurich, dan akhirnya London. Di Singapura dan KL mereka hanya tinggal kira-kira satu setengah tahun karena tidak dikehendaki oleh pemerintah negara-negara tersebut. Demikian pula di Zurich permintaan perpanjangan izin mereka tidak dikabulkan.

Dr Sumitro sendiri mondar mandir dari satu negara ke negara lain. Hanya kadang-kadang saja singgah ke rumah mengunjungi anak istrinya. Terutama di Bangkok, Singapura dan Kuala Lumpur Dr Sumitro sering tinggal karena ia membuka kantor penasihat ekonomi yang diberi nama Economic Consultant for South East Asia sekadar untuk mencari nafkah bagi hidupnya.

Sumber: Kompas 11 Juli 1967