31 December 2013

Hani Chandra politikus Lembata




Baliho besar di Trans Lembata, NTT, itu mengingatkan masa remaja saya. Wow, Hani Chandra! Putri baba perintis hotel di Lewoleba ini maju caleg bersama Partai Hanura.

Belakangan saya tahu kalau Hani ternyata sudah lima tahun jadi anggota DPRD Lembata. Rupanya enak jadi wakil rakyat sehingga Hani maju lagi bersama partai lain karena partainya sendiri tidak lolos.

Sang waktu memang bisa mengubah siapa saja. Saya yang dulu pendiam, kata orang, kini cenderung cerewet. Hehehe...

Hani Chandra yang saya tahu di Lewoleba dan Larantuka dulu sangat cerdas, sedikit bicara, banyak berdoa, rajin dan ulet layaknya keturunan Tionghoa. Sangat jauh dari watak politisi yang suka bicara berbual-bual.

Kalau tak salah ingat, Hani tinggal di asrama putri susteran. Suka berdoa lama-lama. Siswa lain sudah selesai berdoa, dia masih tutup mata dan mengatup tangan. Cocok jadi suster.

Karena itu, saya agak terkejut melihat sosok Hani yang kini politikus tulen. Balihonya besar, Senyumnya manis di baliho, entah aslinya bagaimana.

Hani itu orang hebat, kata saya. Seorang caleg satu dapil pesaing Hani di Lembata I tertawa ngakak. "Apanya yg hebat?" dia bertanya.

"Otaknya lah. Ulet, tekun, jiwa bisnis, religius."

Si caleg ini bilang Hani cuma kebetulan terpilih karena suaranya hanya 200an. Dia lolos karena sumbangan suara caleg-caleg separtai. "Jujur, elektabilitasnya rendah," katanya.

Apa pun kata orang, saya senang bila orang-orang cerdas macam Hani Chandra duduk di DPRD Lembata. Visi bisnisnya dibutuhkan untuk mengangkat potensi Lembata. Dia juga mungkin lebih kebal godaan korupsi karena sudah mapan ekonominya dan suka berdoa.

Saya belum sempat ngecek apakah Hani Chandra yang politikus pun masih religius dan suka berdoa. Saya harap Hani terpilih lagi.

Caleg di kampung terlalu banyak



Orang-orang Lembata, NTT, khususnya Ileape, rupanya lagi demam caleg. Di setiap kampung ada saja orang yang mengadu nasib menjadi anggota DPRD Kabupaten Lembata. Pintu rumah warga pun dipenuhi poster caleg.

Kemarin saya harus duduk manis untuk mendengar omongan seorang caleg di kampung. Membosankan tapi tak ada peluang untuk memotong obrolan politik itu. Sebagai orang yang hidup lama di Jawa, saya tentu tidak tega meminta si caleg itu pergi. Saya kan tuan rumah. Si caleg yang harus tahu diri.

Saya coba pakai bahasa tubuh. Sebentar-sebentar lihat jam atau ke belakang. Tapi gak mempan. Yah, politisi lokal memang ndableg. Mau bagaimana lagi?

Kampung saya memang lagi panen caleg. Dan semuanya punya hubungan kekerabatan. Pilih yang mana? Susah juga. Caleg A keluarga dekat ayah, B kerabatnya mama, C keturunan tante, dan seterusnya.

Kalau tidak hati-hati hubungan keluarga bisa rusak gara-gara pemilu. Dan itu sudah sering terjadi di Lembata. Ama X beberapa waktu lalu memilih A saat pilkada, padahal dia juga punya hubungan keluarga dengan B. Meskipun pencoblosan di TPS, orang kampung tahu kalau Ama ini tidak memilih B.

Maka mereka NEKELAN atau jotakan (bhs Jawa) alias tidak baku omong dengan keluarga B. Politik sering membuat ikatan keluarga renggang. Padahal hasil dari proses politik itu pun tak dirasakan masyarakat, termasuk keluarga.

Nah, saat misa Natal di Gereja Atawatung kemarin Pastor Blasius Keban secara khusus mengingatkan umat di Ileape, Lembata, akan ekses demam caleg. Sudah ada sinyal buruk di beberapa kampung betapa hubungan antarkeluarga yang tadinya guyub menjadi renggang gara-gara perang caleg.

Terlalu banyak caleg dengan DPT yang kecil juga sebetulnya tidak cerdas. Sebab suara akan terbagi ke mana-mana sehingga peluang menangnya pun kecil. Andai saja satu kecamatan punya sedikit caleg, yang cerdas dan amanah, hampir pasti lolos ke parlemen.

Nasi sudah jadi bubur. Orang kampung sudah telanjur ngiler pada 25 kursi DPRD Lembata. Semoga semuanya terpilih! Amin.

29 December 2013

Bicara terlalu banyak di kampung

Inilah susahnya hidup di masyarakat yang hanya mengenal budaya lisan alias oral society. Semua orang bicara bicara bicara meski tak tahu persis akar permasalahannya.

Hobi bicara berpanjang-panjang, banyak bumbu, ini sangat terasa di Lembata, NTT, khususnya Ileape. Saya heran dengan stamina bicara beberapa orang (tidak semua) yang luar biasa. Sampai lupa makan minum karena bicara tanpa titik koma itu dianggap lebih penting.

Begitulah. Tiba di kampung halaman saya harus siap mental jadi pendengar yang baik. Mau cut susah, dengar terus juga tak jelas poinnya. Sebetulnya banyak topik menarik dan perlu saya ketahui sebagai orang NTT di Jawa. Tapi, karena anak kalimatnya terlalu banyak, poinnya tenggelam. Dan saya pun kehilangan konsentrasi untuk mengikuti alur cerita.

Gunakan kalimat sederhana! Nasihat untuk wartawan ini rupanya berbanding terbalik dengan di kampung. Orang-orang rupanya punya budaya bicara dengan kalimat majemuk bersusun bertingkat-tingkat. Kalimat yang beranak bercucu bercicit membuat saya kelelahan mengikuti cerita kasus yang sebenarnya menarik.

Suatu ketika saya bertanya mengapa si A dan anaknya tinggal di situ, bukan di sana. Amboi, pertanyaan sederhana ini dijawab dengan jelimet. Kalimat majemuk kelas ruwet. Hampir tiap kata ada keterangannya alias aposisi.

Terus, intinya bagaimana? Hehehe... Saya bingung sendiri karena penjelasan yang panjang itu justru lebih banyak kembangannya. Poinnya sederhana: si A tidak cocok dengan mertua!

Melihat banyak orang di kampung yang lidahnya bercabang-cabang, saya teringat iklan rokok produksi Surabaya. TALK LESS DO MORE! Bicara sedikit banyak bekerja!

Mungkin budaya lisan yang ekstrem inilah yang antara lain membuat NTT, khususnya Lembata, sangat sulit maju.

28 December 2013

Rp 4000 Setahun di Keuskupan Larantuka

Rupanya Keuskupan Larantuka punya masalah finansial yang serius. Dana swadaya umat sangat minim, sementara banyak proyek yang harus digarap. Gereja-gereja juga sudah banyak yang rusak.

Saat ikut misa Natal di Gereja Atawatung kemarin, saya terkejut dengan surat gembala Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong Kung. Cukup panjang tapi intinya mengajak umat lebih peduli gereja. Dulu pernah diimbau tapi kurang efektif.

Maka dibuatlah semacam kewajiban. Setiap umat wajib menyumbang Rp 1000 per triwulan. Dus, Rp 4000 setahun. Angka yang sangat kecil, recehan, tapi sering jadi masalah di NTT.

Sudah lama saya gundah dengan masalah finansial di Keuskupan Larantuka. Keuskupan tempat gereja katolik pertama di Indonesia ini sangat kedodoran dalam pendanaan gereja.

Contohnya gereja kecil di Mawa. Sudah belasan tahun direnovasi tapi belum jadi sampai sekarang. Pembangunan mandeg karena tak ada duit. Gereja-gereja lain pun kondisinya sudah tak pantas disebut sebagai rumah ibadah.

Bandingkan dengan di Jawa, khususnya Surabaya. Ada paroki yang biaya pengadaan AC mencapai miliaran rupiah. Altar ratusan juta, bahkan miliaran. Ada juga paroki yang lukisan dan dekorasinya miliaran rupiah.

Juga ada paroki yang habis ratusan juta hanya untuk urusan memecahkan rekor Muri pohon natal terbesar. Telinga saya benar-benar tersiksa mendengar surat gembala yang dibaca Romo Blasius Keban.

Umat di Keuskupan Larantuka sebetulnya punya kemampuan untuk menyumbang paroki atau keuskupan. Cuma kemauan untuk berbagi kasih masih kurang. Anak-anak sering menghabiskan duit untuk pulsa atau rokok tapi enggan mengisi kolekte atau persembahan.

Lebih gila lagi ada juga umat yang doyan membeli arak seharga Rp 25000 per botol, tapi sangat sulit menyisihkan uang untuk gereja. "Gereja kan sudah ada yang urus," kata si pecandu miras itu.

Keuskupan Larantuka rupanya belum berhasil melalui masa transisi dari SVD ke praja. Mengubah mental menerima ke memberi memang tidak gampang.

Natal Sederhana di Atawatung

Remaja dan anak-anak berpose di kandang Natal Gereja Atawatung, Lembata, 25 Desember 2013.


Hujan deras, cuaca tak bersahabat, mewarnai Natal tahun ini di Atawatung. Tapi, bagi saya, sangat berkesan karena misa digelar di gereja masa kecil saya. Sudah bertahun-tahun saya tak ikut misa di gereja ini.
Bangunan gereja masih sama tapi jauh lebih bagus. Bahkan mungkin ia gereja terbagus di Kabupaten Lembata, NTT. Dulu umat duduk jongkok. Sekarang bangkunya seperti di kota di Jawa.

Sebagai tuan rumah, Stasi Atawatung menampung umat dari lima stasi atau delapan desa. Karena itu, umat membeludak sampai ke lapangan bola. Misa Natal pun jadi ajang reuni umat dari Mawa yang dulu bagian dari Stasi Atawatung, termasuk saya.

Misa dipimpin Romo Blasius Keban, pastor paroki asal Solor. Khotbahnya panjang dan bernada muram. Suasana kegembiraan Natal sepertinya hilang oleh isi khotbah yang terlalu banyak mengkritik umat. Sang pastor sepertinya terlalu banyak curhat.

Tak apalah, gaya khotbah romo memang beda-beda. Kita yang biasa misa di Jawa kaget mendengar khotbah yang sangat panjang dan minor itu.

Syukurlah, gaya Natal ala orang kampung masih terasa pada 25 Desember 2013. Umat Atawatung sebagai tuan rumah sudah menyiapkan jamunan istimewa untuk umat dari luar desa. Ada tim khusus yang bertugas mengajak para tamu mampir ke rumah-rumah yang sudah disiapkan.

Sebelumnya sudah ada acara potong kambing, babi, ikan. Silakan menikmati sepuas-puasnya. Tradisi pesta rakyat macam ini sudah berlangsung lama di hampir semua desa di Flores, Lembata, Solor, Adonara. Tahun lalu stasi kami yang menjamu tamu, tahun depan giliran stasi lain, dan seterusnya.

"Baru kali ini saya merasakan Natal yang berbeda. Setelah misa semua umat makan bersama hidangan yang istimewa," kata seorang wanita asal Jawa.

Maklum, di Jawa yang namanya Natal cuma urusan ibadah atau liturgi. Misa panjang, kor bagus, tapi tidak ada makan bersama. Tidak potong sapi atau babi. Kembali ke rumah, acara HODE LIMA atau saling jabat tangan masih mewarnai Natal di kampung halaman.

Suasana yang mengingatkan saya pada lagu Natal lama: Kenangan Natal di Dusun Kecil.

Gereja Atawatung, Lembata, NTT.

Hidup tanpa sinyal di Lembata

Hidup tanpa sinyal lebih susah ketimbang sayur tanpa garam. Sayur tanpa garam justru lebih sehat untuk mereka yang darah tinggi. Tapi kita yang tiap hari biasa pegang ponsel atau laptop, berkelana di internet?

Itulah yang saya alami di Lembata. Kabupaten baru di NTT ini hanya dilayani satu operator: Telkomsel. Tapi BTS-nya tak banyak. Warga di sekitar 20 km dari Lewoleba, ibukota kabupaten, sudah sulit mendapat sinyal.

Orang kampung biasanya lari ke bukit atau pantai agar dapat sedikit sinyal telkomsel. Tapi lemah bukan main. Masuk ke internet sudah sulit. Bagus juga untuk belajar menjauhkan internet dari kehidupan. Kembali ke masa lalu ketika ponsel belum ada, listrik pun masih mimpi.

Ponsel tanpa sinyal ini mengingatkan saya pada masa ketika jaringan listrik PLN belum masuk kampung saya. PLN baru tembus kampung sepuluh tahun lalu.

Waktu itu banyak TKI yang kirim kulkas ke kampung. Bisa dibayangkan kulkas tanpa listrik. Maka kulkas pun berubah fungsi jadi lemari penyimpan makanan. Bahkan lemari pakaian.

HP tanpa sinyal pun tetap ada gunanya. Paling tidak bisa buat memutar lagu atau memotret sana-sini. Anggap saja dokumentasi perjalanan mudik ke kampung halaman.

23 December 2013

Bupati Ngada Blokir Bandara

Apa pun alasannya, blokade lapangan terbang atau bandar udara tidak bisa dibenarkan. Jangankan bupati, gubernur, menteri sekalipun tak berhak melakukannya. Saya kurang tahu apakah presiden boleh melakukannya.

Karena itu, tindakan Bupati Ngada Marianus Sae memerintahkan Satpol PP untuk memblokade bandara di wilayahnya tak bisa dibenarkan. Konyol dan melawan akal sehat. Guyonan yang tidak lucu.

Itulah akibatnya jika seorang bupati mengambil keputusan dengan emosional. Rasio tak dipakai karena emosi sedang mendidih. Hanya karena tidak dapat tiket Merpati, bandaranya ditutup.

Hehehe.... Kita yang berasal dari NTT ikut tertawa, tapi juga sedih dan malu. Flores jadi makin terkenal di media massa, khususnya televisi, bukan karena kehebatan orangnya atau alam yang indah tapi ulah bupati Ngada.

Kalau mau sedikit cerdas, bupati bisa dengan mudah membuat kebijakan yang mempersulit operasional Merpati. Kalau Merpati tidak kooperatif, tidak mau memberi seat, meskipun ada tiga seat kosong (versi bupati), cabut saja izinnya. Gantilah dengan maskapai lain yang masih banyak itu.

Menutup bandara tak akan merugikan Merpati. Toh masih banyak bandara lain di luar Jawa yang belum dilayani. Yang rugi justru penduduk Ngada yang butuh angkutan udara ke Kupang secara berjadwal. Orang NTT yang tinggal di Jawa atau Malaysia akan sulit untuk mudik Natal ke kampung halaman.

Ulah Bupati Marianus ini juga sangat berbahaya karena bisa menjadi preseden bagi maskapai-maskapai lain. Kalau sekarang Merpati yang diblokade, bukan tidak mungkin ke depan maskapai lain diperlakukan seperti ini kalau bupatinya marah. Lalu muncul solidaritas airline. Lalu bandara di Ngada tak diterbangi lagi.

Penjelasan bupati bahwa dia harus ke Kupang untuk urusan DIPA, dan tidak bisa diwakili, cukup masuk akal. Tapi tidak bisa dijadikan alasan untuk memblokade bandara.

Bukankah acara dinas itu sudah lama diagendakan? Bukankah bupati punya staf, ajudan, kepala dinas... yang bisa mengurus tiket Merpati beberapa hari sebelumnya? Mengapa baru pesan tiket pesawat mendadak begitu? Memangnya pesawat itu bus kota atau taksi pribadi?

Mudah-mudahan bapak bupati kita ini mau merenung, mumpung mau Natal, agar lain kali tidak membuat keputusan yang emosional. Terkait Natal ini, ada baiknya pak bupati belajar dari Yosef dan Maria yang tak mendapat kamar di penginapan Bethlehem. Ketika semua kamar penuh, meskipun kondisi Maria hamil tua dan segera melahirkan, Yosef tidak lantas marah-marah kepada pemilik penginapan.

Selamat Natal untuk Bupati Ngada! Salam damai, semoga Merpati dan maskapai lain tetap membuka penerbangan ke Ngada dan kota-kota lain di Flores!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

21 December 2013

Misa Requiem di Rumah Romo Damar di Sidoarjo



Menjelang Natal ini, Paroki Hati Kudus Yesus, Katedral, Surabaya, dikejutkan oleh berita dukacita. Bapak Christoforus Maridjo meninggal dunia dalam usia 71 tahun di RSAL Surabaya. Almarhum Maridjo ayah kandung Romo Damar Cahyadi, Pastor Paroki HKY Katedral Surabaya.

Informasi langsung beredar cepat via SMS. Dan, siang tadi (21/12/2013), digelar misa requiem di rumah duka Jl Kombes M Duryat I/1 Sidoarjo. Umat Katolik dari Surabaya, khususnya HKY, dan umat Katolik di Sidoarjo ramai-ramai datang ke rumah duka untuk mengikuti upacara penghormatan terakhir untuk almarhum Pak Maridjo.

Misa requiem dipimpin Uskup Surabaya Monsinyur Sutikno Wisaksono. Cukup banyak romo dan suster yang hadir. Di antaranya Romo Senti Fernandez dan Romo Agus Sujatmiko. Ada pula caleg asal Flores yang nyaleg di Sidoarjo, Silvester Ratu Lodo.

"Almarhum Pak Maridjo ini meninggal sebagai orang Katolik yang baik. Beliau berhasil mendidik anaknya menjadi seorang pastor. Dan itu tidak banyak orang tua yang bisa melakukannya," kata Silvester yang juga politikus Partai Golkar.

Misa requiem berlangsung cukup lama meskipun sebagian lagu ordinarium ditiadakan. Cuma lagu antar bacaan, bapa kami, komuni. Bapa Uskup berkhotbah dengan singkat tapi padat. Menekankan bahwa orang beriman yang setia mengikuti Kristus pasti akan mendapat tempat yang bahagia di sisi Tuhan.

Saya yang berdiri di luar kebagian jatah menjadi penerima tamu ibu-ibu muslimah, para tetangga almarhum. Mereka datang ketika misa baru sampai pada bacaan Injil disusul khotbah. Artinya, misa masih panjang karena dipimpin langsung Bapa Uskup.

"Mohon bersabar kira-kira 30 menit lagi," kata saya meyakinkan ibu-ibu itu yang ingin buru-buru mengucapkan belasungkawa kepada Ny Maridjo.

Ketika sudah 30 menit, misa baru sampai Bapa Kami. Dus, masih lama. Ibu-ibu itu rupanya sudah tidak sabar. "Berapa menit lagi Mas?" tanya salah satu ibu muslimah.

Hehehe.... Susah juga menjelaskan liturgi Katolik kepada ibu-ibu pengajian muslimah Sidoarjo ini. Saya kemudian bilang bahwa misa requiem ini seperti salat jenazah dalam Islam. Hanya saja, misa requiem ini lebih lama karena dipimpin langsung Bapa Uskup.

"Sabar aja Bu, paling setengah jam lagi. Sekarang belum bisa takziah sama Bu Maridjo. Misanya kan belum selesai," kata saya dengan tenang.

Rupanya ada ibu-ibu yang ingin segera pulang karena punya kesibukan lain. Sementara ibu-ibu yang lain bertahan hingga misa selesai.

Yah, saya akui upacara kematian atau misa requiem Katolik memang jauh lebih lama ketimbang salat jenazah muslim. Karena itu, perlu ada saling pemahaman agar para pelayat yang non-Katolik tidak kecewa.

"Kalau sudah selesai misa, ibu-ibu silakan takziah," kata saya.

Jenazah almarhum Pak Maridjo dimakamkan di tempat pemakaman Delta Praloyo, Lingkar Timur Sidoarjo.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

20 December 2013

Budaya Makan Sirih di NTT



Membaca liputan SEA Games di Jawa Pos membuat saya tersenyum sendiri. Bukan soal olahraga, melainkan budaya makan sirih warga Myanmar. Orang Myanmar tidak suka merokok, tapi sangat doyan makan sirih.

Wow, kok budaya Myanmar mirip NTT (Nusa Tenggara Timur), daerah saya? Hari gini, di kota pula, masyarakat Myanmar masih makan sirih + pinang + kapur lalu membuang ludah yang sudah berwarna merah di mana-mana. Kok kayak orang di kampung saya zaman dulu?

Sirih + pinang itu selain budaya, juga ada unsur kecanduannya. Macam orang kecanduan rokok. Macam orang Yaman kecanduan ghat. Tapi tentu saja unsur adiksinya jauh lebih ringan ketimbang narkoba.

Nenek-nenek di NTT tidak akan bisa kerja, uring-uringan melulu, kalau tidak makan sirih pinang. Maka, jangan kaget ketika Anda berada di Kupang dan melihat begitu banyak orang menjual sirih + pinang di mana-mana.

Jangan kaget ketika berada di Pelabuhan Tenau dan Anda melihat begitu banyak orang (laki + perempuan) menunggu kapal laut sambil makan sirih. Bibir mereka begitu merahnya. Jangankan orang Jawa, saya yang asli NTT pun terkejut melihat laki-laki makan sirih pinang.

Bukan apa-apa. Di Flores Timur atau budaya Lamaholot hanya wanita saja yang makan sirih pinang. Laki-laki memang ada tapi kurang dari 5 persen. Kaum wanita pun sudah lama meninggalkan budaya makan sirih seiring kemajuan pendidikan dan kondisi rumah yang lebih baik.

Budaya makan sirih pinang hanya cocok untuk rumah-rumah etnis Lamaholot tempo doeloe yang berlantai tanah. Rumah sangat sangat sangat sederhana yang disebut ORING. Karena lantainya tanah, air ludah merah itu bisa langsung dibuang ke tanah itu.

Pada 1980an rumah-rumah jenis oring ini makin sedikit. Bekat kucuran ringgit dari keluarga yang merantau di Malaysia, khususnya Sabah di Malaysia Timur. Lantai mulai pakai semen cor-coran, kemudian tegel atau keramik. Ibu-ibu pun dipaksa untuk tidak membuang ludah merah ke lantai semen atau tegel.

Nah, para wanita yang sudah kecanduan makan sirih pinang biasanya masih melanjutkan kebiasaannya dengan duduk di halaman. Atau gubuk sederhana, semacam dapur kecil, yang terpisah dari rumah. Itu pun hanya orang-orang lama.

Sesuai pengamatan saya, wanita-wanita yang lahir di atas tahun 1975 di Flores Timur dan Lembata tak lagi doyan sirih pinang. Tapi sesekali masih makan juga di acara-acara adat. Sebab, tradisi Lamaholot tak bisa lepas dari sirih pinang.

Jika ada bupati atau uskup atau imam baru (pastor yang baru ditahbiskan) berkunjung ke desa, maka dia disambut dengan upacara adat. Si tamu agung itu pertama kali disuguhi WUA MALU atau sirih pinang di perbatasan desa. Sang tamu mencicipi sedikit, makan, bibirnya kemerahan. Lalu diarak secara meriah masuk ke kampung.

Ungkapan WUA MALU dan GOLO BAKO sangat populer dalam budaya Lamaholot.

Wua : pinang, malu : sirih, golo : melinting, bako : tembakau.

Ketika ada wanita lewat di depan rumah, kita mengajak dia untuk mencicipi wua malu.

"Ina, mo pai gon wua malu ki!" Artinya, Ibu, mampir makan sirih dulu!

Kalau laki-laki yang melintas, Ama, mo pai golo bako ki! Bapak, mampir dulu untuk melinting tembakau (merokok).

Yah, ungkapan ini menunjukkan dengan jelas betapa budaya makan sirih sudah sangat menyatu dalam adat Lamaholot dan NTT umumnya. Tapi rupanya ada pergeseran yang signifikan karena budaya makan sirih sering dianggap primitif. Juga nggilani kata orang Jawa!

Yang menarik, justru di ibukota NTT, Kupang, budaya makan sirih ini malah tidak hilang. Pria dan wanita sama-sama makan sirih. Begitu juga anak-anak muda 20an tahun pun saya lihat asyik melestarikan kebudayaan lama yang ternyata kuat pula di Myanmar.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Goyang Dangdut di Candi Tawangalun



Candi Tawangalun di Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Jumat pagi (20/12/2013), lebih ramai dari biasanya. Ratusan orang mulai anak-anak, remaja, lansia, PNS, rimbawan berbaur jadi satu. Mereka bersama-sama mengadakan penghijauan di lahan kosong kawasan Candi Tawangalun.

Kompleks candi peninggalan Majapahit ini sebenarnya tidak menarik. Meski dekat Bandara Juanda, tak banyak orang yang kenal karena candinya sendiri hanya berupa tumpukan batu bata yang tidak berbentuk. Beda dengan Candi Pari dan Candi Sumur di Kecamatan Porong.

Tanahnya pun bergaram sehingga tanaman-tanaman sulit tumbuh. Selama 14 tahun Ahmad Syaiful Munir, penjaga candi, sudah berusaha menanam pohon tapi selalu gagal. "Saya nanam 100 pohon, yang hidup cuma dua," kata Syaiful dalam beberapa kesempatan.

Tapi, syukurlah, saya melihat ada pohon beringin yang selamat di dekat candi. Jika terus hidup, insyaallah, lima tahun lagi suasananya jadi lain. Sepuluh tahun lagi sudah besar. "Di sini tidak ada sumur. Airnya asin. Saluran air PDAM juga tidak ada," tutur Syaiful yang sudah tiga tahun ini diangkat sebagai PNS khusus untuk mengurus Candi Tawangalun.

Nah, penghijauan untuk proyek hari menanam pohon Indonesia itu berlangsung meriah. Lubang-lubang sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Kita tinggal menanam bibit yang sudah disediakan. Semoga musim hujan ini membuat ratusan tanaman itu selamat.

Sambil menanam pohon, warga Buncitan dan sekitarnya dihibur penyanyi dangdut Fifi Soraya dari Surabaya. Fifi sempat kesasar sehingga terlambat sampai ke Candi Tawangalun. Untung penampilannya tidak mengecewakan.

Mengenakan rok mini, busana cukup sopan, Fifi mengajak penonton bergoyang bersama. Lagu-lagunya dangdut koplo yang memang sangat disukai warga Sidoarjo. Seperti Tutupen Botolmu, Kereta Malam, Goyang Wedhus (Tuku Sate Opo Tuku Wedhus), Buka Titik Joss...

Seakan berlomba, peserta penghijauan bergoyang di Bukit Tawangalun yang basah oleh hujan sehari sebelumnya. Bocah-bocah di samping saya pun joget otomatis seperti mamanya. Bocah hitam manis, arek SD Buncitan, itu bahkan terpilih sebagai salah satu dari tiga pemenang. Hadiahnya Rp 50 ribu!

Penonton bertahan, selain ingin berjoget dan menyaksikan goyangan Fifi, juga menunggu penarikan undian berhadiah sepeda gunung dan sepeda motor.

Mudah-mudahan setelah penghijauan ini Candi Tawangalun makin dikenal masyarakat Sidoarjo. Bahkan bila perlu menjadi salah satu jujukan wisata di Jawa Timur.

Jangan lupa, Candi Tawangalun tak hanya situs lawas, tapi juga punya areal wisata geologi yang cukup luas. Di sini sudah ada mud volcalo atau semacam semburan gunung lumpur jauh sebelum ada semburan lumpur Lapindo di Porong pada 29 Mei 2006.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

19 December 2013

Pak Sutaji di Pasar Seni Sidoarjo



Pak Sutaji dan Bu Nurhayati, istrinya, masih tinggal di pasar seni, Pondok Mutiara Sidoarjo. Sementara pentolan-pentolan lama macam Pak Totok, Hesti, Henry, Sugeng... sudah tak ada di situ.

Bangunan yang sejak 2005 diharapkan jadi pusat kegiatan seni, sekaligus pasar seni, itu pun tampak muram. Cuma namanya saja pasar seni. Cita-cita Pak Noengky dkk dari Dewan Kesenian Sidoarjo rupanya belum kesampaian.

"Nggak gampang memang mengurus seniman, khususnya pelukis. Visi dan misinya tidak selalu sama dan sulit disatukan," kata Pak Sutaji yang tinggal di pasar seni sejak 2005.

Pasutri ini tetap sederhana tapi asyik. Jadi jujukan siapa saja yang ingin mampir, ngopi, ngobrol ngalor ngidul. Pak Taji memang suka bicara dan cenderung ke kejawen + kristiani. Ayat-ayat Alkitab dikaitkan dengan ajaran budaya Jawa. Kitab suci yang dibacanya pun berbahasa Jawa.

Ngopi bersama Pak Taji, mau tidak mau, harus ngobrol soal budaya + kristiani + seni musik + lukisan + lingkungan. Pak Taji merangkum itu semua. Dia juga cerita tentang kebaktian kebangunan rohani (KKR) di hotel mewah. Bagaimana dia didamprat oleh seorang pendeta dengan kata-kata kasar.

"Globalisasi ini juga sudah merambat ke gereja-gereja. Sudah banyak gereja yang cara kerjanya mirip industri," katanya.

Hehehe.... Pancingan Pak Taji ini sengaja saya redam karena urusannya bisa panjang. Tema yang sebetulnya sangat relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini.

Saya justru tertarik dengan beberapa lukisan Yesus di stan Pak Taji. Siapa yang melukis itu?

"Saya sendiri," kata pria 73 tahun ini.

Oh, saya tak menyangka kalau Sutaji Puspo Pinardi bisa melukis. Hasilnya pun tak mengecewakan. Selama ini saya tahu dia menekuni seni tradisi, tembang Jawa, menemani istrinya yang penyanyi campursari.

Makin tua membuat Pak Taji makin mendalami hal-hal rohani. Dia seorang jemaat GKJW, gereja pribumi pertama di Jawa Timur, yang sangat concern pada budaya Jawa. "Anak-anak GKJW sekarang malah nggak bisa bahasa Jawa lho. Lama-lama GKJW tidak ada bedanya dengan GKI atau GPIB," katanya.

Bu Nur sendiri sibuk memasak, bikin kopi untuk saya. Ibu ini baru saja merilis album campursari. Minggu lalu dia diundang ke Jember untuk menyanyi di sebuah gereja, khusus lagu rohani berbahasa Jawa.

"Puji Tuhan, berkat itu selalu ada saja. Saya dan suami hidup seperti ini tapi tetap gembira dalam Tuhan," kata Bu Nur.

"Saya request lagu Pamarta Kula Agesang!" kata saya merujuk album pertama Bu Nur, Pamarta Kula Agesang.

Bu Nur tertawa kecil, lalu menyanyikan kidung rohani Protestan Jawa itu sembari memasak di depan stannya. Nyanyian rohani yang mengingatkan saya pada orang-orang Kristen sederhana di desa-desa yang masih polos, sederhana, dan takut akan Tuhan.

Matur nuwun Bu Nur!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Pelukis Lekra menyanyi seriosa



Siang kemarin, 18 Desember 2013, saya mampir ke rumah Pak Greg di Beringin Indah, Taman, Sidoarjo. Perumahan di dekat flyover itu terendam air setinggi 20-30 cm. Katanya, sudah seminggu lebih.

Pak Greg, 77 tahun, pelukis yang pernah dibuang ke Pulau Buru oleh rezim Orde Baru karena ikut Lekra di Surabaya. Pria bernama lengkap Gregorius Soeharsojo Goenito ini bersyukur bisa kembali ke Jawa dengan selamat. Disambut sang pacar, kemudian menikah, dan sehat sampai sekarang.

Saat ini dia masih melukis. Lebih banyak menggambar Buru, Waiapo, dan barak-barak tapol. Rupanya ingatan akan masa pembuangan itu begitu membekas sampai usia lanjut. "Saya ini salah satu dari ribuan korban 3B Soeharto: buang, bunuh, bui. Saya cuma dibui dan dibunuh," katanya sambil tertawa kecil.

Menertawakan kepedihan dan penderitaan rupanya membuat Pak Greg selalu ceria. Dan tetap semangat ketika sebagian besar temannya sudah kembali ke pangkuan sang Pencipta. Pak Greg juga bangga karena baru saja menjadi narasumber utama liputan panjang majalah Tempo tentang Lekra: Lembaga Kebudayaan Rakyat.

"Mau minum kopi atau teh?" Pak Greg bertanya.

Saya bilang air putih saja. Di sela tumpukan bukunya memang banyak aqua gelasan.

Sambil bicara ngalor-ngidul tentang Lekra, sosialisme, komunisme, Pulau Buru, lukisan-lukisannya, rencana bikin buku sketsa Buru, kaitan antara Lekra dan PKI... tiba-tiba Pak Greg bersenandung. "Duhai malam, alangkah cepat berlalu...."

Wow, lagu seriosa!

Saya ingat betul judulnya: Kisah Mawar di Malam Hari. Komposisi semiklasik ala Indonesia yang dulu sering jadi lagu wajib bintang radio dan televisi. Percakapan pun terhenti karena fokus saya beralih ke seriosa.

Tak perlu bahas Lekra dan Buru karena memang sudah ditulis panjang lebar di Tempo. Juga di novel Pramoedya.

Pak Greg kemudian melanjutkan dengan lagu Bintang Sejuta. "Sejuta bintang cemerlang menerangi mayapada...," demikian petikan syair seriosa lawas karya Ismail Marzuki itu.

Kok sampeyan bisa nyanyi seriosa dan hafal liriknya?

"Lho, kamu ini bagaimana sih? Saya ini kan seniman sejak masih sangat muda. Dulu itu kami kumpul dengan seniman musik, teater, wayang kulit, perupa, dan sebagainya. Kami biasa nyanyi seperti ini. Di taman siswa bahkan kami diajari seni suara. Lagu-lagunya ya seriosa, semiklasik, bukan lagu-lagu pop kacangan itu."

Saya kemudian mengetes Pak Greg dengan beberapa lagu seriosa lain. Dan ternyata semuanya dilalap dengan mudah. Suaranya masih bagus meskipun power vokalnya tak bisa sekencang orang muda.

Di Pulau Buru, Pak Greg bilang banyak sekali seniman-seniman top Indonesia era 1960-an yang ikut menjalani isolasi khas Orde Baru. Pak Greg menyebut nama beberapa seniman musik yang menciptakan lagu-lagu terkenal. Salah satunya Subronto Kusumo Atmodjo, komponis yang beberapa lagunya dimuat di buku nyanyian gerejawi seperti Kidung Jemaat dan Puji Syukur.

Para seniman ini, juga selain dipaksa bekerja membuka sawah, tetap berkesenian di waktu senggang. Bikin lagu, paduan suara, sandiwara, puisi, wayang, ludruk, dan sebagainya. Karena itu, seniman-seniman muda macam Pak Greg justru makin terasah kepekaan artistiknya di pulau terpencil itu.

"Tahanan politik itu juga manusia yang membutuhkan kesenian. Dan lagu-lagu seriosa adalah lagu seni yang sangat bagus," katanya.

Tiba-tiba hujan deras. Wilayah Beringinbendo, Taman, pasti akan lebih parah lagi genangannya karena drainase benar-benar tidak jalan. Saya pun cepat-cepat pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Krian, Wonoayu, Sidoarjo, dan finish di kantor baru di kawasan flyover Buduran.

Saya berjanji akan datang kembali mendengarkan lagu-lagu seriosa dari Pak Greg. Musik lawas yang hanya diiringi piano tapi sangat berkelas.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

18 December 2013

Rumah tetangga pun dijual



Kaget juga ketika saya bersepeda pagi ini. Ada tulisan di depan salah satu rumah: DIJUAL, HUBUNGI 081xxxx. Sekitar enam bulan lalu juga ada rumah di RT 04 ini, kawasan lumayan elite di Pucangsewu, Surabaya, yang dijual.

Di jalan saya berpikir kok begitu mudahnya orang kota menjual rumah? Pindah alamat dan tempat tinggal.
Beli rumah atau kontrak di tempat lain, kemudian pindah lagi, dan seterusnya. Tak ada lagi tempat tinggal yang menetap ala orang-orang kampung di pedesaan.

Sudah lama saya survei lingkungan perumahan yang mayoritas warga Tionghoa itu. Hanya lima rumah yang bukan Tionghoa, yakni tiga Jawa, satu Batak, satu keturunan Padang. Sebagian besar belum menetap 20 tahun di sini. Yang benar-benar "penduduk asli" dalam arti orang tua atau kakek-neneknya tinggal di situ sejak perumahan itu dibangun akhir 1960-an hanya EMPAT rumah.

Artinya, 30 rumah dihuni oleh penduduk baru. Dua rumah dirombak menjadi satu gereja aliran pentakosta. Satu rumah lagi jadi kantor perusahaan kontraktor bangunan. Maka, tidak heran hubungan antarwarga di sini kurang erat. Hanya tahu sedikit-sedikit tapi tak ada komunikasi.

"Surabaya sudah berubah sangat banyak. Bukan saja kotanya makin maju, ramai di jalan, tapi karakter masyarakatnya lain sama sekali," ujar almarhumah Eyang, salah satu penduduk asli angkatan pertama perumahan itu.

Eyang Jito pun sudah meninggal lebih dulu. Eyang Warji kini stroke di tempat tidur. Hanya beliaulah angkatan pertama yang tersisa. Komposisi penduduknya berubah, pola pergaulan pun lain. Pagar-pagar dibuat tinggi, rapat, demi keamanan sehingga sosialisasi tak ada lagi.

"Dulu sebelum tahun 1990-an sangat guyub. Kami sering dolan ke rumah tetangga, ngopi, cerita-cerita. Tahun 2013 ini yang datang arisan RT paling banyak 5 orang," kata Eyang suatu ketika.

Yah, kota-kota memang berubah, apalagi Surabaya yang makin modern dan fungsional. Tradisi jagongan ala wong kampung makin berkurang, bahkan sudah lama hilang di perumahan menengah atas. Tahu-tahu kita melihat bendera putih dipasang di depan rumah + karangan bunga dukacita. Ibu X telah meninggal dunia.

Tak lama kemudian rumah itu pun jatuh ke orang baru. Tidak kerasan atau ada peluang besar di tempat lain, pindahlah keluarga itu. Maka, ketika seorang bapak menanyakan alamat rumah Pak X di rumah nomor sekian, saya tak bisa menjawab karena tidak tahu. Saya tahu rumah yang punya taman indah itu milik orang Tionghoa, bukan haji asli Jawa.

"Maaf, saya 20 tahun tidak ke Surabaya. Dulu saya sering main ke rumah Pak X ini waktu masih kuliah di ITS," kata bapak yang memakai mobil kelas atas itu.

Inilah hebatnya dinamika orang kota yang luar biasa. Orang-orang kampung kadang sulit membayangkan bagaimana tanah warisan nenek moyang, bangunan di atasnya, makam-makam di sekitarnya, bisa beralih tangan begitu cepat semudah mengubah nomor HP.

Bahkan, saya kenal banyak seniman di Surabaya dan Sidoarjo yang nomor HP-nya masih sama dengan delapan tahun lalu, sementara tempat tinggalnya sudah ganti tiga kali. Rupanya zaman sekarang ini lebih mudah menemui orang di jagat maya, karena alamat e-mail tetap sama, ketimbang tatap muka di dunia nyata.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

17 December 2013

Malbiaz Lanjutkan Musik Malik Bz

Amru Malik, leader Malbiaz.
Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Setelah ditinggal mati Abdul Malik Buzaid, dua putra musisi legendaris itu meneruskan jejak ayahnya. Malbiaz Group bahkan baru saja merilis album gambus modern bertajuk El Kebeer Kebeer.

"Kami ingin melanjutkan jejak Abah (Malik Bz)  yang konsisten menekuni dunia musik hingga akhir hayatnya," ujar Amru Malik di kediamannya, Kureksari, Waru, kepada saya.

Malbiaz Group juga bermarkas dan berlatih di rumah peninggalan Malik Bz ini. Jauh sebelum pentolan Orkes Melayu Sinar Kemala itu meninggal dunia, tepatnya 2003, Malbiaz sudah eksis. Grup ini bahkan langsung diarahkan oleh Malik Bz.

Karena itu, warna musik grup beranggotakan lima personel ini (Azhar, Variz, Anas, Farhat, dan Amru) masih kental dengan warna Malik Bz. Lirik yang dipakai pun sangat puitis dan religius.

"Tapi, yang jelas, Malbiaz ini jauh lebih modern karena diarahkan untuk menjangkau anak-anak muda," katanya.

Meski begitu, instrumen klasik seperti oud atau gitar gambus tetap dipakai. Begitu juga akordeon, alat musik yang sejak tahun 1960-an ditekuni almarhum Malik Bz. Dalam album pertama yang baru dirilis itu, Amru dan kawan-kawan menampilkan delapan lagu gambus khas Timur Tengah. Lagu-lagu seperti itu dulu juga dimainkan OM Sinar Kemala di beberapa albumnya.

Ke depan, Amru berencana merilis ulang lagu-lagu ciptaan Malik Bz baik yang sudah pernah direkam maupun yang belum. Amru memperkirakan Malik Bz menciptakan sedikitnya 300 lagu semasa hidupnya. Termasuk Keagungan Tuhan yang dipopulerkan Ida Laila serta Titiek Sandhora itu.

Pria kelahiran Sidoarjo, 5 Agustus 1985, ini mengaku sudah membongkar file-file lama milik ayahnya, piringan hitam, kaset, CD/VCD OM Sinar Kemala maupun penyanyi-penyanyi lain yang pernah membawakan karya Malik Bz. Begitu juga partitur lagu-lagu yang ditulis komposer berdarah Timur Tengah itu.

Malbiaz Group akan mempelajari untuk kemudian dibuatkan aransemen baru yang cocok dengan tren musik sekarang. "Tapi roh lagu yang ditanamkan Abah akan kita pertahankan," ucapnya. Dia berharap grup musik ini bisa menjembatani penggemar musik tempo doeloe dan modern.

"Lucu kalau kami membuat musik yang sama dengan era abah dulu," kata pemuda yang akan menikah Februari 2014 itu.

Sembari mempersiapkan album kedua, saat ini Malbiaz rutin mengisi berbagai event di Surabaya, Sidoarjo, dan kota-kota lain. Paling banyak tampil di pesta pernikahan alias wedding party. "Kami punya penggemar khusus meskipun tidak sempat promosi di televisi," katanya.

16 December 2013

Nadjib Martak ketua Nasdem Sidoarjo



Akhmad Nadjib Martak ini Gusdurian sejati. Dia sering mendampingi Ibu Shinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Gus Dur, di berbagai acara di Jawa Timur. Termasuk menemani Bu Shinta ketika mengunjungi komunitas kristiani atau Tionghoa di Jatim.

Karena itu, tak heran Nadjib Martak aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Gus Dur. Ketika PKB pecah dua, Nadjib memilih PKB Gus Dur yang dipimpin Yenny Wahid, putri Gus Dur. Hingga partai ini dinyatakan tak lolos pemilihan umum 2014.

Ketika Nasional Demokrat alias Nasdem dirintis di Sidoarjo, Nadjib Martak pun terpilih sebagai ketua umumnya. Sejak itu pria yang suka bicara ceplas-ceplos itu sering dimuat media massa. Kreatif sekali dia bikin acara untuk sosialisasi Nasdem.

Hingga Partai Nasdem pun lolos verifikasi. Partai pimpinan Surya Paloh ini merupakan satu-satunya partai baru yang ikut Pemilu 2014. Dapat undian nomor 1 pula.

Menjelang pemilu, Nadjib Martak dan kawan-kawan makin intens melakukan sosialisasi atau soft campaign. Nadjib sendiri jadi caleg nomor 1 di dapil 5 wilayah Sidoarjo kota.

"Setiap hari saya dan teman-teman menemui masyarakat. Makanya, saya opimistis Nasdem dapat banyak kursi di DPRD Sidoarjo," katanya.

Partai Nasdem mengontrak kantor bagus di Jalan Gajah Mada, kawasan strategis pusat oleh-oleh di Sidoarjo. Bangunan itu dulunya kantor BRI. Kepada saya, Nadjib pun bergurau seperti biasanya.

"BRI itu kan tempat untuk menyalurkan uang rakyat. Nah, sekarang Nasdem di sini untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Silakan masyarakat mampir ke sini karena kantor kami selalu terbuka," ujarnya seraya tersenyum.

Meski berstatus partai baru, Nadjib menegaskan bahwa para caleg yang didaftarkan ke KPU Sidoarjo sejatinya bukan orang kemarin sore di jagat politik. Mereka umumnya memilih cabut dari partai lama karena perbedaan visi dan idealisme. "Caleg-caleg kami bukan orang pecatan," dia menegaskan.

Kabupaten Sidoarjo punya enam daerah pemilihan. Nadjib Martak menyetor 50 nama ke KPU untuk mengisi enam dapil itu. Berapa target kursi untuk Sidoarjo?

"Minimal semua dapil dapat kursi atau delapan kursi. Kami malah yakin bisa menang di Sidoarjo," katanya.
Bukankah Sidoarjo ini kantongnya nahdliyin yang punya PKB? Nadjib Martak rupanya tak gentar dengan PKB yang katanya berbeda dengan PKB Gus Dur.

"Jangan lupa sebagian besar kader Nasdem Sidoarjo juga nahdliyin. Siapa yang bilang ana ini bukan nahdliyin?" ucapnya dengan retorika khas politisi.

Di kantor DPC Nasdem Sidoarjo ini terpampang foto besar Surya Paloh bersama Nadjib Martak dan pengurus Nasdem Sidoarjo. Nadjib tampak lebih ganteng dan muda di spanduk besar di ruang tengah itu.
Apakah Surya Paloh bakal jadi calon presiden?

Nadjib Martak menegaskan, seluruh kader Nasdem tak akan bicara soal capres jika partai yang mengusung slogan "restorasi Indonesia" itu belum menjadi tiga besar dalam pemilu 9 April 2014. Tugas utama Nadjib Martak dan kawan-kawan adalah membuat partai ini menjadi the best three.

"Kalau sudah ketahuan hasil pemilu, dan Nasdem jadi tiga besar, baru kita bicara calon presiden. Ente jangan buru-buru bahas capres. Oke?" ujar mantan anggota Panwascam Sidoarjo yang ditemani Eko (bendahara DPC + caleg) dan Alim (sekretaris + caleg).

Matahari merambat siang, cuaca Sidoarjo mendung. Perut mulai lapar karena pagi tadi cuma sarapan buah pepaya. Saya pun minta pamit pulang. Matur nuwun Mas Nadjib Martak! Ketua DPC Nasdem Sidoarjo ini kemudian mengantar saya sampai ke halaman parkir.


DPC Partai Nasdem Sidoarjo

Jalan Mojopahit 11 Sidoarjo
Telepon : (031) 8076405
Email : nasdemsidoarjo@ymail.com

15 December 2013

dr Ananto Sidohutomo Gigih Melawan Kanker



Salah satu tokoh yang konsisten berkampanye untuk memerangi kanker di Jawa Timur adalah Dokter Ananto Sidohutomo MARS. Belum lama ini Ananto me-launching Museum Kanker Indonesia di Jalan Kayoon 16-18, Surabaya. Museum ini bekerja sama dengan Yayasan Kanker Wisnuwardhana.

Berikut petikan wawancara dengan dr Ananto:

Bisa dijelaskan latar belakang pendirian museum kanker?

Begini. Berdasarkan data WHO tahun 2013, satu dari empat orang terkena kanker. Ini sangat mengerikan, Dan, menurut prediksi, pada 2030 penderita kanker akan meningkat tujuh kali lipat. Sebagain besar penderita kanker itu berada di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Lantas, mengapa perlu ada museum?

Kita ingin semakin fokus untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya penyakit kanker. Museum ini juga kita jadikan sebagai rumah perlawanan terhadap kanker sekaligus museum pendidikan. Jadi, masyarakat luas bisa datang ke sini untuk mendapatkan informasi tentang berbagai hal mengenai kanker. Ada referensi tentang sejarah perlawanan manusia terhadap kanker, budaya, serta koleksi benda-benda fisik. Dan, ini merupakan museum kanker pertama di Indonesia. Bahkan, setahu saya di negara-negara lain pun belum ada museum khusus tentang kanker.

Bagaimana dengan koleksi-koleksinya?

Yah, macam-macam dan tentu semuanya berkaitan erat dengan kanker. Saat ini kami baru memajang sekitar 30 koleksi jaringan tubuh manusia yang terkena kanker. Mulai dari kanker payudara, kanker indung telur, kanker leher rahim, kanker paru-paru, dan sebagainya. Koleksi-koleksi itu bisa memberi gambaran kepada masyarakat bahwa kanker itu bisa menyerang berbagai bagian tubuh manusia.

Ke depan, kita akan terus menambah koleksi di museum ini agar masyarakat bisa mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kanker. Sebagian koleksi itu berkat hasil jerih payah dr Etty Ananto, yang juga aktivis Bidadari. Kami hanya memilih koleksi yang benar-benar informatif agar pengunjung makin aware dengan kesehatannya.

Bagaimana Anda menilai pemahaman masyarakat kita tentang kanker?

Masyarakat sih sebenarnya paham dengan kanker, bahkan ada juga yang keluarganya terkena kanker. Sehingga, selama ini kanker dipandang sebagai penyakit yang sangat berbahaya. Namun, keganasannya tidak tampak nyata di mata masyarakat. Padahal, di Indonesia sendiri, pembunuh nomor satu wanita adalah kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks).
Orang cenderung bicara kanker secara umum saja, tapi tidak tahu kanker itu riilnya seperti apa. Maka, di sinilah pentingnya museum ini sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.

Museum Anda juga menampilkan sejarah perlawanan manusia terhadap kanker. Termasuk metode pengobatan Barat dan Timur?

Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa sejak dulu manusia, khususnya para dokter, terus berjuang untuk mengatasi kanker. Ada metode pengobatan modern dari Barat, ada juga pengobatan Timur ala Tiongkok. Kedua metode ini memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Tapi, intinya, keduanya bisa saling melengkapi. Ini juga kita informasikan di museum.


Bagaimana ceritanya Anda mendirikan Bidadari, pusat deteksi dini kanker di Surabaya?

Saya ikut sedih melihat banyak anak-anak menderita karena kehilangan ibunya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika ibunya meninggal, terutama karena kanker serviks dan payudara. Saya tergerak menyumbang pikiran untuk mencegah itu terjadi. Akhirnya, saya buat sebuah gerakan moral yang saya namakan Bidadari. Kita tidak ingin seorang pun perempuan meninggal karena kanker serviks dan payudara.

Oh ya, selain dokter, Anda juga mulai dikenal sebagai sastrawan?

Saya ini pendekar, bertarung dengan baik di zaman saya muda. Saya sering duel di mana-mana sehingga saya dijuluki pendekar. Hehehe.... Saya kecil suka main bola. Di sela-sela itu saya juga diikutkan les gitar dan piano oleh orang tua. Nah, tiba-tiba saat mahasiswa saya mulai tertarik pada alat musik drum. Bahkan, saya pernah terpilih sebagai the best drummer lho. Nah, pengalaman-pengalaman saya itu semuanya sudah saya tulis. Yang saya tuliskan adalah semua apa yang saya rasakan. Bukan menuliskan peristiwanya. Tetapi saat itu saya belum mengerti apa itu puisi atau sastra. Guru di sekolah sebenarnya pernah mengajari saya soal sastra, tapi saya lewatkan saja. Hehehe....

Lantas, bagaimana Anda bisa produktif menulis, sementara Anda sangat sibuk? 

Nah, ketika membuat website Bidadari, saya mau tidak mau dipaksa untuk terus menulis. Karena dalam situs itu ada tiga topik besar yang selalu saya tulis, yaitu soal kanker serviks, kanker payudara, dan kanker secara umum. Saya menghabiskan ribuan malam untuk menulis yang berkaitan dengan kesehatan. Maka, di saat saya mengalami kejenuhan, saya menuliskan juga yang berkaitan dengan perasaan.
Suatu ketika saya bertemu mendiang Lan Fang, sastrawan terkenal di Surabaya. Lan Fang bilang, zaman sekarang sudah tak ada lagi dokter-dokter yang mau menulis. Lalu, saya bilang, ya, bolehlah saya menulis. Menurut Lan Fang ketika itu, tulisan saya cuma butuh sentuhan atau diperhalus lagi bahasanya dengan bahasa perasaan, sehingga menjadi bahasa sastra. (*)


CV SINGKAT

Nama : Dr Ananto Sidohutomo, MARS
Lahir : Surabaya, 28 Nopember 1963
Istri : Dr Etty HK, SpPA (Kons)
Anak : Deanandya Ananto, Muhammad Alim Ananto, Muhammad Arif
Ananto, Muhammad Ariq Ananto
Pekerjaan : Dokter, konsultan
Hobi : Membaca, menulis, musik

Pendidikan :
- Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga
- Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS), FK Unair

Aktivitas Lain :

- Penasihat Yayasan Kanker Wisnuwardhana.
- Penggagas dan Pendiri Museum Kanker Indonesia




Bikin SOP Deteksi Kanker Sendiri

Kanker payudara dan kanker serviks merupakan penyebab tertinggi kematian  wanita di Indonesia. Padahal dibandingkan 130-an jenis kanker, dua jenis  kanker ini sebenarnya lebih mudah dideteksi secara dini. Sayang, sampai  saat ini belum banyak wanita yang paham akan pencegahan kanker secara dini  ini.

Nah, dr Ananto Sidohutomo MARS melalui gerakan moral Bidadari mencoba  mengampanyekan deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks. Bidadari,  menurut Ananto, adalah gerakan moral yang tak mengizinkan seorang perempuan  pun meninggal akibat kanker serviks dan kanker payudara. Bidadari sendiri  diambil dari bahasa sansekerta, vidhyadharya, yang berarti seseorang yang  memiliki ilmu pengetahuan penanggulangan kanker serviks dan kanker  payudara.

Lewat Bidadari, Ananto aktif mengenalkan sejumlah cara pencegahan dini  kanker payudara dan kanker serviks yang bisa dilakukan sendiri tanpa  dokter. Caranya? Pria yang suka sastra ini memperkenalkan Kartu Skor Ananto  Sidohutomo. Para perempuan bisa mengisi kuesioner, lalu menjumlahkan  skornya. Jika sudah diketahui skornya, bisa dilihat tingkat risiko terkena  kanker payudara dan kanker serviks.

Ada pula Vagina Toilet Sendiri yang disingkat Valeri Ananto. Ini merupakan  standard operating procedure (SOP) untuk melakukan pembersihan organ intim  perempuan. Kemudian, Standing Pee Ananto, yaitu teknik buang air kecil   berdiri bagi kaum wanita. Sebab, munculnya kanker serviks berkaitan dengan  kebersihan organ intim.

"Misalnya, dalam kondisi darurat harus buang air  kecil di tempat umum yang tak jelas kebersihan toiletnya, menurut saya, tak ada salahnya melakukan standing pee," tuturnya.

Ananto juga menekankan agar suami pun dilibatkan dalam penecegahan dini  kanker payudara sang istri. Berdasar pengalamannya, banyak suami yang  menggeret istrinya ke klinik dan memberi tahu dokter bahwa ada benjolan di  payudara istri.  Sang istri ternyata ngotot kalau dirinya baik-baik saja.  Nah, setelah diperiksa, memang ditemukan ada kanker.

"Dari situ saya menyimpulkan, jika suaminya juga bisa menemukan kelainan  pada istrinya, pemeriksaan payudara juga bisa dilakukan oleh si suami.  Makanya saya buat Sarami. Dalam setahun saya menemukan sembilan kasus  (kanker), dan yang menemukan justru suami yang bukan dokter," katanya.  (*)

13 December 2013

Resital Seriosa Effie Tjoa di Surabaya 1960


Olah vokal klasik atau seriosa rupanya sudah sangat maju di Surabaya pada era 1960-an. Saat itu sebagian besar orang Indonesia di luar Jawa, khususnya NTT, masih buta huruf dan cenderung primitif. Ini saya tahu dari program konser seriosa di Surabaya pada era 1960-an.

Tak sengaja saya menemukan kertas yang sudah kumal itu. Konser digelar di Balai Pertemuan Mahasiswa, Jalan Tegalsari 4 Surabaya, 29 Agustus 1960. Penyanyinya EFFIE TJOA (soprano) diiringi pianis JENNY TJOA. Penyelenggaranya: JPAB (mungkin Yayasan Pendidikan Anak Buta, yang kini jadi YPAB) dan Petra.

Wow, rupanya orang Tionghoa sejak zaman dulu di Surabaya sudah menekuni musik klasik. Karena itu, tak heran sampai sekarang pun anak-anak Tionghoa sejak balita sudah ikut kursus piano klasik, vokal, ikut lomba atau resital hingga ke luar negeri. Yah, punya uang, kesempatan, dan kecerdasan di atas rata-rata orang Indonesia!

Effie Tjoa membawakan 25 lagu yang dibagi dua sesi. Sesi pertama 14 lagu, istirahat, kemudian dilanjutkan sisanya. Pola seperti ini juga masih dipakai dalam resital-resital di Kota Surabaya sampai sekarang. Ada peringatan buat penonton yang dicetak tebal:

"Para penonton jang datang terlambat diminta dengan hormat menunggu di luar ruangan selama njanjian berlangsung. Diminta dengan hormat tidak merokok di dalam ruangan."

Wow, aturan yang masih sama dengan sekarang. Bedanya, saat ini selalu dibacakan peringatan keras: Dilarang menghidupkan HP dan alat elektronik lainnya selama konser berlangsung! Toh, setahu saya, larangan ini selalu dilanggar penonton zaman sekarang yang hidupnya tak bisa lepas dari ponsel dan sejenisnya.

Yang menarik bagi saya adalah lagu-lagu seriosa Indonesia. Miss Effie (waktu itu tentu masih gadis) membawakan tujuh lagu seriosa sebagai opening konsernya. Terima Salamku (karya Binsar Sitompul), Tempat Bahagia (Binsar Sitompul), Karam (Iskandar), Dewi Anggraini (Iskandar), Kenangan (C Simandjuntak), Oh Angin (C Simandjuntak), Widjaja Kusuma (C Simandjuntak).

Dari sini juga terlihat bahwa orang-orang Batak, Sumatera Utara, itu sudah sangat musikal. Bisa menciptakan komposisi musik berkualitas yang sangat berpengaruh di Indonesia. Makan apa sih orang-orang Batak ini sehingga bisa pintar musik meskipun kekayaannya tidak sehebat orang Tionghoa?

Binsar Sitompul dan Cornel Simandjuntak merupakan dua komponis lagu-lagu seriosa terkemuka di Indonesia yang masih sulit dicari gantinya.

Setelah seriosa Indonesia, Effie Tjoa membawakan lieder, semacam art song dari Jerman. Bagian ketiga lagu-lagu Spanyol yang ngepop.

Rehat sejenak, minum kopi, si penyanyi ambil napas baru, konser dibuka lagi dengan dua aria. Ini bagian yang berat dan menuntut kemampuan prima sang vokalis. Bagian kelima diisi lagu-lagu populer. Penonton yang sudah capek perlu dikasih asupan yang tidak terlalu berat. Ada lagu Irlandia, Tiongkok, Uni sovyet, Italia.

Sebagai penutup, Miss Effie membawakan empat lagu Indonesia. Dua lagu Batak: Butet dan Dago Inang Sarge, diakhiri dengan Nyiur Hijau dan Potong Padi. Lagi-lagi kita bisa membaca bahwa pada tahun 1960 itu lagu daerah Tapanuli alias Batak sudah sangat populer di Indonesia. Inilah kehebatan budaya musikal lapo tuak yang membuat saudara-saudara kita dari kawasan Danau Toba itu mampu membuat komposisi menarik.

Saya kurang tahu penyanyi-penyanyi seriosa lain di Surabaya yang juga rajin bikin konser atau resital pada era 1980-an dan 1990-an. Saya hanya kenal Pauline Poegoeh, soprano Tionghoa Surabaya, yang luar biasa di era 2000-an. Saya menyaksikan dua kali resital soprano yang suaranya tinggi, menggelegar, dan powerful ini.

Mungkin sayalah satu-satunya orang yang menulis profil sang soprano binaan Mr Solomon Tong, pendiri dan dirigen Surabaya Symphony Orchestra itu, satu halaman penuh di surat kabar. Saya pun jadi akrab dengan Pauline, yang kini jadi guru vokal di Surabaya. Dia sudah mencetak banyak vokalis baru dengan prestasi yang bagus pula.

Membaca program konser Effie Tjoa pada 29 Agustus 1960 ini, saya makin sadar dengan ungkapan "tak ada yang baru di kolong langit" ini. Atau, sejarah itu selalu berulang.

Susunan program konser Pauline Poegoeh di Hotel Shangri-La, Surabaya, ternyata sama dengan Effie Tjoa tempo doeloe. Ada lagu seriosa Indonesia, lieder, aria, lagu rakyat Tiongkok, Italia, Spanyol, dan ditutup dengan lagu-lagu populer. Kesamaan lain: resital vokal klasik ini sama-sama punya komunitas penggemar yang sangat terbatas, tapi sangat loyal dan apresiatif.

Kliping koran The Straits Times, Singapura, 17 Juni 1959.

Mencoba nonton TVRI saja



Bayangkan Anda hanya punya satu channel televisi. Dan televisi itu adalah TVRI. Wow, rasanya aneh di era puluhan, bahkan ratusan televisi saat ini. Ketika TV-TV berlomba menyajikan acara yang menarik meski tak semuanya mendidik dan bermanfaat.

Begitulah. Seminggu ini saya mencoba hanya menonton TVRI karena kebetulan ada gangguan serius di televisi saya. Channel lain kabur, hanya TVRI yang jelas. Padahal, sudah lama sekali saya tak nonton TVRI, kecuali siaran langsung Liga Italia yang cukup menarik itu.

Menonton TVRI thok hari gini ibarat memutar balik jarum sejarah. Kembali ke masa lalu ketika Indonesia hanya punya satu televisi, ya TVRI itu. Nuansa jadul ini memang masih terasa meski sudah ada beberapa acara yang kemasannya mirip TV swasta yang heboh itu.

Saat memencet kibod ponsel ini di TVRI lagi ditayangkan tarian Bugis Makassar. Wanita-wanita menari sembari memegang kipas di hutan pinus. Sementara yang laki-laki memperagakan kemampuan bermain sepak raga. Melodi musiknya mirip reog ponorogo.

TVRI memang sedang membahas wisata di Malino, Sulawesi Selatan. Presenternya manis, narasinya pun apik.
Berbeda dengan presenter acara sebelumnya, Shinta, yang membahas pekan nasional petani di Malang. Kata-kata Shinta penuh jargon khas birokrasi alias bahasa pejabat ala Orde Baru. Mengingatkan saya pada Ussy Karundeng, presenter TVRI jadul yang bahasanya sangat birokratis dan ruwet.

Diskusi politik di TVRI pun lebih mendalam karena durasinya panjang. Ada iklan tak tak seekstrem di TV swasta. Apalagi talkshow di tvOne yang sering dipotong seenaknya oleh host demi iklan. Padahal si narasumber belum sampai ke point of view-nya.

Menurut saya, TVRI sangat kedodoran di acara hiburan, khususnya live music. Artis-artisnya bukan top class, diiringi band yang juga bukan aslinya. Ini membuat penonton dipaksa untuk segera mematikan televisinya atau pindah saluran.

Hebatnya, TVRI punya program musik jazz, keroncong, dan wayang kulit. Program yang tak ada di televisi swasta. Sayang, apresiasi musik berkualitas ini ditayangkan larut malam. Sebagian besar orang Indonesia, khususnya di wilayah waktu Indonesia tengah dan timur, sudah tidur lelap.

Saya juga jadi tahu kalau Mas Koko Tole ternyata seorang arranger musik keroncong yang kreatif. Dia berani membongkar pakem khas keroncong tanpa menghilangkan esensi keroncong yang mengalir dengan cengkok yang khas. Mas Koko ini dulu beberapa kali menulis komentar di blog ini tentang musik.

Singkat cerita, menonton TVRI rasanya lebih ayem tentrem. Waktu kita untuk membaca buku, koran, atau majalah pun jadi lebih banyak. Sebab kita tidak akan kecanduan seperti gosip artis di televisi swasta. Kita pun lebih relaks dan fokus dalam berpikir.

Menonton TVRI thok pun bagus untuk berlatih slow living dan deep thinking di era yang makin bergegas ini.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

12 December 2013

Bhima Aries Diyanto ketua KPU Sidoarjo

Sudah sangat lama saya tak bertemu BHIMA ARIES DIYANTO. Tapi saya sering mengikuti kinerja dia di Komisi Pemilihan Umum Sidoarjo. Dulu saya kenal Bhima sebagai komisiner biasa, anggota, tapi sekarang jadi ketua. 

Ketua lama, Mas Anshori, sudah mundur karena jadi hakim pengadilan tipikor. Anshori bertugas di Gorontalo, kalau tak salah. Bhima, Anshori, Zaenal, Nanang... merupakan anggota KPU Sidoarjo yang sering diskusi bareng tentang pemilu legislatif, aturan main kampanye, dan sebagainya.

Cangkrukan, ngobrol santai di warung sederhana di Cemengkalang, dekat kantor KPU. Dulu, warung itu milik seorang ibu yang cakep keturunan Arab. Putrinya gadis remaja yang lebih cakep lagi. Mungkin itu yang bikin warung tenda hijau itu sangat laris meski makanannya biasa-biasa saja.

Warung dengan nona manis itu tak ada lagi. Begitu pula Bhima Aries Diyanto sudah naik pangkat sebagai ketua KPU Sidoarjo. Saya tidak tahu apakah Bhima masih suka makan di warung sederhana atau sudah naik pangkat ke restoran menengah atas.

Yang pasti, saya lihat gaya Bhima masih sama seperti yang dulu. Masih informal, suka humor, tapi sangat menguasai pasal-pasal undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan pemilu. Jelas saja karena selama bertahun-tahun, setiap hari, orang-orang KPU membaca perangkat hukum itu.

Sebagai ketua, rupanya Bhima cukup tegas. Dia baru saja mencoret Al Irsyad, caleg dari Gerindra, karena terbukti menjabat kepala desa Janti, Waru. Ini satu-satunya pencoretan DCT di Sidoarjo. Dulu KPU Kota Delta ini juga mencoret empat kepala desa ketika DCT belum ditetapkan.

Tidak takut digugat? 

"Mengapa takut? Kami selalu mengacu pada aturan perundang-undangan yang ada. Caleg yang bersangkutan juga sudah tahu kalau kepala desa itu tidak boleh jadi caleg. Dia harus pilih salah satu: jadi caleg atau kades," katanya.

Di ruang kerjanya di pojok bawah, dulu KPU berkantor di lantai dua yang luas dan terbuka, Bhima rupanya masih setia dengan rokok. Sedotan rokok ini rupanya membuat dia lebih semangat bicara dengan bumbu-bumbu humor yang enak. Suasana tambah gayeng tapi tetap serius. Maklum, yang dibicarakan ini adalah soal politik, aturan main pemilu, caleg, hingga ketegasan KPU Sidoarjo.

Bahan obrolan soal pemilu ini memang tak akan habis-habisnya. Atribut kampanye di pohon dan tempat umum. Keberanian dan kenetralan KPU. Relawan demokrasi yang baru direkrut, jumlahnya 15 orang. Pemantau independen yang cuma dua. Sosialisasi pemilu legislati. Dan sebagainya.

Bagi saya, yang paling menarik adalah terpilihnya Bhima sebagai wakil Indonesia dalam konferensi tentang pemilihan umum di Spanyol. Tepatnya Barcelona. "Sempat beli kaos Barcelona?" saya bertanya.

Bhima tertawa kecil. Rupanya dia juga penggemar Xavi Hernandes dan kawan-kawan yang fenomenal itu. Tapi rupanya konferensi ini terlalu serius sehingga peserta dari berbagai negara enggan bersantai ke markas Barca.

"Peserta konferensi itu ketua-ketua atau komisioner KPU pusat di negaranya masing-masing. Satu-satunya ketua KPU tingkat kabupaten ya saya sendiri," tutur Bhima lantas tertawa kecil.

Cukup ajaib memang Bhima yang terpilih ke Barcelona. Mengapa bukan ketua KPU RI di Jakarta? Mengapa bukan komisioner KPU pusat? Mengapa Bhima? Karena sempitnya waktu, siang itu Bhima kembali lagi ke kampusnya Unair Surabaya untuk kuliah S2, topik ini belum dibahas.


Di akhir percakapan yang lebih banyak informalnya, bukan wawancara resmi ala wartawan, secara halus saya mengingatkan Bhima agar selalu berhati-hati. Komisioner KPU itu, apalagi ketua, banyak temannya tapi juga banyak musuhnya.

Di luar Jawa, saya mengingatkan Mas Bhima, banyak anggota KPU yang merasa tidak aman karena diancam caleg, tim sukses calon kepala daerah, bahkan kepala daerah yang punya kepentingan untuk mempertahankan jabatannya selama mungkin. Bhima yang ke Barcelona untuk membahas persoalan ini ternyata sangat sadar akan risiko-risiko macam ini. 

Selama ini dia mengaku banyak melakukan pendekatan dialogis, rembuk dari hati ke hati, mengundang 12 partai untuk membahas persoalan pemilu. Khususnya baliho-baliho dan poster yang berjejeran dari Waru hingga Porong, Bungurasih hingga Krian, Balongbendo, Tarik.

Rupanya pola pendekatan ala Bhima selaku ketua KPU Sidoarjo cukup efektif. Wayan Dendra memimpin langsung anak buahnya menurunkan atribus-atribut Gerindra dan calegnya. Demokrat juga ramai-ramai membersihkan atribut di tempat yang dilarang. Bhima sudah lama mengeluarkan daftar 16 titik larangan pemasangat atribut kampanye di Sidoarjo.

"Saya ingatkan bahwa sosialisasi caleg itu tidak hanya lewat baliho. Bisa lewat media massa seperti surat kabar," kata pria jangkung yang kelihatan lebih gemuk ini.

Hehehe.... Pasang iklan di koran tentu lebih efektif, tidak merusak pohon, bisa menembus audiens ke berbagai segmen. Bayangkan betapa semrawutnya Sidoarjo jika 459 caleg ramai-ramai memasang baliho di jalan-jalan. Belum caleg-caleg DPRD Jawa Timur dan DPR RI.

Omong-omong pemilu 9 April 2014 nanti pakai coblos atau contreng? "Coblos," jawab Bhima. Begitulah ketentuan undang-undang yang dibuat para wakil rakyat di Senayan, Jakarta.

Bhima sendiri sih inginnya metode yang lebih modern. Sebab mencoblos tanda gambar partai dan nama caleg itu sejatinya juga mengandung kekerasan. Bukankah kita berkomitmen mewujudkan pemilu tanpa kekerasan?

"Filipina sudah lama pakai e-voting dan pemilihan lewat internet. Jadi, pemilih tidak perlu datang ke TPS untuk mencoblos. Cukup memilih lewat laptop atau HP di rumah atau tempat kerja. Kita di Indonesia pun sebenarnya bisa seperti itu asalkan ada political will dari pembuat undang-undang. Posisi kami di KPU ini hanya sebagai pelaksana undang-undang, katanya lantas menyedot rokok kretek kesayangannya.

Obrolan pun selesai. Mas Bhima harus sekolah di kampus Unair Surabaya.

Di perjalanan pulang, saya pun ingat pemilu pertama di Indonesia pada 1955. Sudah 58 tahun berlalu tapi teknik mencoblos, karena waktu itu sebagian besar rakyat Indonesia buta huruf, masih dipertahakan sampai hari ini. Cara contreng yang pernah dipakai pada Pemilu 2009 dimentahkan lagi.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

11 December 2013

Twinkles Harmony Choir Sidoarjo Menang di Thailand



Twinkles Harmony Choir, Sidoarjo, baru pertama kali mengikuti festival paduan suara di luar negeri. Namun, rupanya penampilan paduan suara remaja Kota Delta ini langsung memukau para juri. Twinkles Harmony Choir pun mengukir prestasi luar biasa di Bangkok.
Twinkles Harmony Choir baru saja mengikuti ajang 10th A Voyage of Songs International Choir Festival yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand, 6-9 Desember 2013. Hasilnya, kor para siswa Purwa Caraka Musik Shool (PCMS) Sidoarjo ini meraih Silver Diploma B  menjadi juara pada kategori Junior Youth Choir (Equal Voice Choir). Kemudian Gold Diploma C sekaligus winner untuk kategori Folklore.
"Adik-adik juga mendapat penghargaan khusus dari dewan juri sebagai The Most Promising Choir. Ini benar-benar prestasi yang sangat membanggakan," ujar Wilis, staf PCMS Sidoarjo, yang saya hubungi via telepon kemarin.
Sebelum menang di Bangkok, menurut Wilis, paduan suara yang dilatih Bayu Widjaja ini juga meraih prestasi membanggakan dalam festival paduan suara nasional yang diadakan Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat itu Twinkles medapat dua medali emas.
"Hasil positif di Bandung itulah yang membuat adik-adik makin percaya diri untuk tampil di Bangkok. Syukurlah, mereka akhirnya menang," katanya.
Paduan suara ini aktif berlatih setiap Sabtu siang di kompleks The Sun City Mall, Jalan Pahlawan Sidoarjo. Latihan makin intensif jika akan mengikuti festival atau pergelaran. Mereka juga kerap unjuk kebolehan dalam konser-konser di Sidoarjo.
Rupanya kerja keras anak-anak muda Sidoarjo ini berhasil mengangkat kiprah paduan suara yang awalnya hanya sebagai ajang mempraktikkan seni suara (vokal) yang sudah dipelajari di PCMS. Mereka pun memberanikan diri mengikuti lomba paduan suara tingkat nasional di ITB.
Wow, paduan suara ini pun langsung melejit. Tak ada yang menyangka kalau Twinkles melaju hingga babak final dan kemudian menjadi champion. Luar biasa!
Anak-anak muda di bawah 17 tahun ini telah mengangkat nama Sidoarjo ke forum internasional. Bahwa Sidoarjo bukan hanya terkenal karena semburan lumpur di Porong dan sekitarnya sejak akhir Mei 2006, tapi juga mampu berprestasi di bidang paduan suara.

10 December 2013

Buku Nyanyian Liturgi SKB yang Fenomenal

 Kaget juga saya membaca e-mail Mbak Retno dari Jakarta. Soalnya dia bicara SKB, buku nyanyian liturgi Katolik lama terbitan Nusa Indah, Ende, Flores. Buku itu dulu sangat populer di kampung saya, pelosok Lembata, Flores Timur, yang waktu itu belum ada jaringan listrik PLN.

Mbak Retno Paat menulis begini:

Salam kenal. Saya Retno dari Paroki Bahtera Kasih Jakarta. Dalam tulisan anda ada mengenai buku nyanyian, salah satunya buku Syukur Kepada Bapa (SKB).

Saya ingin menanyakan mengenai buku SKB, karena ada lagu Hati Yesus Hati Tuhan Kami (SKB 300). Kira2 dimana saya bisa dapatkan buku tersebut ya pak? Karena saya tertarik dengan lagu tersebut. Sepertinya semasa saya kecil dulu pernah dengar lagu tersebut.

Apakah anda punya partitur lagu tersebut, syukur2 bahkan SATBnya? Mohon informasinya karena saya ingin membawakan lagu tersebut bersama kelompok koor saya apabila memungkinkan. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.

Tuhan memberkati.

Best regards,
Retno

Waduh, ternyata Mbak Retno ini punya pengalaman masa kecil yang sama dengan saya (atau kami) dari pelosok Flores. Lagu-lagu lama SKB begitu membekasnya sehingga terbawa-bawa sampai dewasa. Padahal, buku SKB ini sudah pensiun sejak pertengahan 1980-an.

SKB digantikan Madah Bakti terbitan Pusat Musik Liturgi (PML), Jogjakarta, yang lebih menekankan nyanyian liturgi inkulturasi. Ada juga lagu-lagu SKB yang dimuat di Madah Bakti, tapi tidak banyak. Yang paling banyak ordinarium misa gaya Flores, Timor, Batak, Manado, Jawa, Sunda, Papua, Dayak, dan sebagainya. Madah Bakti ini juga luar biasa!

Madah Bakti kemudian pensiun, diganti Puji Syukur sampai sekarang. Puji Syukur, menurut saya, cenderung lebih dekat ke SKB dan Kidung Jemaat, buku nyanyian jemaat Kristen Protestan arus utama macam GPIB, GMIT, atau GKI. Lagu-lagu Protestan banyak dimuat di Puji Syukur yang sekarang.

Karena itu, ketika melihat upacara pemberkatan pernikahan Pangeran William dan Catherine di televisi, saya pun jadi familier dengan lagu-lagu liturgi di Gereja Anglikan, salah satu denominasi Protestan arus utama. Lagunya nempel di otak saya. Versi Indonesianya di Puji Syukur: Tuntun Aku Tuhan Allah!

Kembali ke SKB yang diminta Mbak Retno. Lagu nomor 300, Hati Yesus Hati Tuhan Kami, tempo doeloe memang sangat disukai ibu-ibu di kampung. Ibu-ibu yang aktif di kongregasi macam Legio Maria atau Santa Ana. Mereka paling rajin ke gereja untuk ibadat adorasi dan penghormatan terhadap hati Yesus yang mahakudus.

SKB memang punya banyak lagu-lagu devosional seperti itu. Dan kebetulan melodi lagu-lagu tersebut memang bagus-bagus. Kalau dinyanyikan pelan-pelan, dihayati, akan meresap dalam hati dan otak. Itulah yang membuat lagu-lagu liturgi lama selalu dikenang orang sepanjang masa. Itulah yang rupanya dialami Mbak Retno di Jakarta.

Buku SKB diterbitkan pertama kali pada 1971. Saya kebetulan menyimpan versi cetakan ke-22 tahun 2007. Dilihat dari sekian kali dicetak ulang, rasanya SKB ini sudah menyebar luas ke seluruh Indonesia pada masa jayanya. Pada 2007 masih dicetak meski secara resmi KWI sudah lama merekomendasikan Puji Syukur sebagai buku nyanyian liturgi rujukan di seluruh Indonesia.

Buku SKB ini disusun oleh Pastor A. van der Heijden SVD dan Marcel Beding, keduanya sudah almarhum, dan awalnya terbatas untuk umat Katolik di Flores dan NTT umumnya. Tak dinyana SKB menyebar ke seluruh Indonesia dan membawa berkat bagi jutaan orang Katolik di tanah air.

Yang paling menarik, buat saya, salah satu penyusun buku ini, Marcel Beding, adalah orang Lembata. Tepatnya Lamalera, kampung yang terkenal dengan tradisi memburu ikan paus itu. Artinya, sejak dulu rupanya sudah ada orang Lembata yang hebat dan punya pengaruh d lingkungan Gereja Katolik di Indonesia.

Sebagai orang Lembata, saya ikut bangga.

Endang Murtiningsih Bisnis Nasi Punel di Pondok Candra



Capek menjadi politisi dan caleg yang gagal, Endang Murtiningsih memilih berjualan nasi punel. Kebetulan wanita yang berdomisi di Pondok Candra, Kecamatan Waru, Sidoarjo, ini suka memasak sejak kecil. Rupanya, upaya banting setir Endang dari dunia politik ke kuliner ini tidak keliru.

Usahanya terus meningkat dari waktu ke waktu.  "Saya malah sudah lupa dengan dunia politik. Siapa saja yang akan maju dalam pemilu tahun depan pun saya enggak tahu," kata Endang Murtiningsih saat ditemui di rumah sekaligus depotnya kemarin.

Sudah sembilan tahun Endang menggeluti bisnis kuliner di rumahnya. Andalannya nasi punel ayam. Dibantu tiga pekerja dan menantunya, setiap hari Endang berbelanja bahan-bahan di pasar dan memasak sendiri.

"Rata-rata setiap hari saya menghabiskan 20 kilogram beras. Yah, sekitar 400 sampai 500 porsi," tutur mantan caleg dari sebuah partai besar ini.

Pergaulannya yang luas ditambah relasinya yang banyak membuat Endang tak kesulitan memasarkan nasi ayam olahannya. Sejumlah kantor pemerintah dan swasta sudah menjadi langganan tetapnya.

Pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 dia mengirim makanan ke pelanggan-pelanggannya. Begitu juga siang hari. Ada juga pelanggan yang makan langsung di depot di teras rumahnya yang dipenuhi tanaman obat keluarga (toga).

Yang menarik, pelanggan Endang bahkan meluas hingga ke luar Jawa Timur seperti Semarang dan Malaysia. Yang di Malaysia itu sebetulnya orang Indonesia yang sempat mencicipi nasi punel masakan wanita yang pernah menjadi bintang film iklan layanan masyarakat di televisi itu.

Nah, ketika datang lagi di Bandara Juanda, orang itu mengajak temannya untuk mencicipi nasi punel di Pondok Candra. Akhirnya, setiap kali berlibur ke Jawa Timur, nasi buatan Endang pun dipesan dalam jumlah banyak untuk dibawa ke Malaysia.

"Bisnis makanan itu lebih asyik daripada akti di partai politik. Di politik itu kita sulit membedakan mana teman dan mana lawan," ujarnya seraya tersenyum.

Sebelum beralih ke binis makanan, Endang sering melayani pengerjaan sablon kaos kampanye caleg, partai politik, atau pilkada. Saking percayanya pada teman satu partai, Endang pun menggarap kaos dalam jumlah besar tanpa uang muka. Celakanya, setelah pesanan kaos selesai dikerjakan, sang teman tidak mau membayar.

"Ada juga yang cuma bayar DP Rp 10 juta, padahal saya habis Rp 70 juta. Saya benar-benar kapok berbisnis dengan politisi. Bisa-bisa saya tambah legrek," katanya.

Berbisnis kuliner di rumah sendiri juga membuat Endang merasa lebih bahagia dan tenang. Betapa tidak. Dia bisa berkumpul setiap hari dengan keluarga, khususnya cucu kesayangannya. (*)

Pengungsi Afghanistan di Sidoarjo



Noor Muhammad tampak sumringah ketika menikmati jus jeruk di salah satu kantin di Puspa Agro Jemundo, Taman, Senin (9/12/2013) siang. Berkali-kali dia meminta Astuti, temannya, mengulang kata-kata bahasa Inggris yang dirasa kurang jelas. "Maaf, saya tidak bisa bahasa Inggris," ujarnya.

Pria asal Afghanistan ini memang tak bisa berbicara lancar baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Karena itu, Astuti pun lebih banyak berbahasa Tarzan sembari mengajarkan bahasa Indonesia kepada pria berkumis itu.

"Saya kasihan karena dia tidak punya kepastian kapan akan berangkat ke negara yang bersedia menmpung mereka," ujar Astuti.

Wanita asal Sukodono ini berkenalan dengan Noor Muhammad saat senam pagi di kompleks Puspa Agro. Sejak itu Noor sering curhat mengenai masa depan para pengungsi Afghanistan yang tidak jelas.

"Pulang ke negaranya tidak mungkin karena ada risiko politik dan sebagainya. Tinggal di sini pun statusnya cuma pengungsi sementara," kata wanita berjilbab ini.

Sudah tujuh bulan ini Noor Muhamad bersama para pengungsi Afghanistan, Iran, dan Iraq dititipkan pihak Imigrasi Jawa Timur di Rusun Puspa Agro Jemundo. Noor merupakan salah satu dari 95 pengungsi Afghanistan yang mendapat sertifikat dari UNHCR.

Dengan sertifikat itu, mereka berhak mendapat perhatian pemerintah Indonesia sebelum dikirim ke negara ketiga. "Saya dan teman-teman ingin ke Australia untuk tinggal dan bekerja di sana," tutur Noor.

Dia  enggan menceritakan persoalan politik seperti apa yang memaksa dia menjadi pengungsi di Jemundo. Namun, rupanya dia membawa bekal yang cukup sehingga tidak kesulitan membeli makanan dan minuman. Termasuk untuk mentraktir teman-teman wanitanya di Sidoarjo.

"Saya suka wanita di sini. Manis-manis dan baik hati," ujarnya sembari melirik Astuti di depannya.

Tinggal di Sidoarjo dengan menyandang status pengungsi, apalagi warga negara asing, tentu saja membuat Noor Muhammad dan kawan-kawan tidak bisa leluasa bepergian ke mana-mana. Mereka hanya boleh jalan-jalan di kompleks Puspa Agro Jemundo. Sebab, petugas Imigrasi mengawasi mereka selama 24 jam.

Hanya saja, karena sudah lama tinggal di pengungsian, Noor dan kawan-kawan terlihat kerasan dan makin beradaptasi dengan lingkungan setempat. Selain makin lancar berbahasa Indonesia, mereka pun senang makanan Indonesia.

"Saya suka nasi goreng," kata Noor. (rek)

UKM Wedoro Fokus ke Grosir



Sentra industri sepatu dan sandal di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, kini tak seramai awal 2000-an. Banyak toko yang tutup atau berubah fungsi. Rombongan pengunjung yang datang dengan bus-bus besar pun tak terlihat lagi. Bagaimana sebetulnya kondisi UKM di kawasan Wedoro?

Berikut petikan wawancara Lambertus Hurek dengan HM Baidarus YR alias Haji Ubed, Senin (10/12/2013). Pria kelahiran Wedoro, 14 Agustus 1973, itu merupakan ketua Asosiasi Perajin Sepatu dan Sandal Wedoro.

Toko-toko dan showroom di Wedoro kok sepi banget?

Kondisinya memang sudah lama begitu, sangat sepi. Boleh dikatakan toko-toko yang ada di Wedoro dan sekitarnya sudah setengah mati. Sangat memprihatinkan. Kita bisa hitung berapa banyak toko yang masih buka dan yang sudah tutup.

Kira-kira berapa persen yang masih jalan?

Wah, payah sekali. Hanya sekitar 10 persen saja yang masih bertahan. Karena itu, saat ini Wedoro tidak bisa lagi dijadikan jujukan bagi wisatawan atau masyarakat yang ingin jalan-jalan atau wisata belanja. Wong toko-tokonya lebih banyak yang tutup.

Dulu, sekitar tahun 2000 dan beberapa tahun sesudahnya setiap hari Wedoro ini sangat ramai. Mulai pagi sampai tengah malam begitu banyak orang yang datang belanja. Suasana seperti itu yang tidak terasa lagi sekarang ini.

Mengapa bisa terjadi penurunan yang sangat tajam?

Ada banyak faktor penyebabnya. Tapi, yang paling utama, para pedagang di toko-toko itu tidak punya strategi yang bagus. Karena itu, mereka jelas kalah bersaing dengan produk-produk sejenis. Kebanyakan pedagang juga hanya sekadar latah atau ikut-ikutan saja. Apalagi banyak pedagang yang justru datang dari luar, bukan orang Wedoro. Jadi, mereka tidak mau susah-susah cari strategi untuk tetap mengangkat produk sandal dan sepatu di sini.

Sayang juga ya karena nama Wedoro pernah sangat kondang di tingkat nasional.

Ya, mau bagaimana lagi? Persaingan di dunia bisnis memang luar biasa keras. Kalau kita tidak punya strategi, ya, nggak akan bisa bersaing baik di dalam maupun di pasar internasional.

Lantas, apa strategi Anda dan kawan-kawan yang di asosiasi?

Begini. Meskipun toko-toko dan showroom-nya sudah setengah mati, yang menggembirakan, produksi sandal dan sepatu justru tetap berjalan dan bahkan meningkat. Hanya saja, sekarang ini UKM Wedoro lebih fokus ke grosir atau partai besar. Kalau grosiran ini malah terus meningkat dan pasarnya sudah menjangkau ke mana-mana.

Apa sih keunggulan produk-produk Wedoro?

Yang jelas, kita sudah punya nama. Di Indonesia ini kalau kita bicara sepatu eva, orang pasti ingat Wedoro. Kita juga bikin sendiri, produksinya pun makin bagus dengan kualitas yang terjaga. Beda dengan grosir di Pasar Turi, Surabaya, yang mengambil barang dari luar, termasuk dari Wedoro.

Pasarnya ke mana saja?

Surabaya dan kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogja, bahkan sampai ke luar pulau. Sampai sekarang para perajin tetap memproduksi karena permintaan dari luar sangat banyak. Kalau dilihat dari luar, Wedoro sepertinya mati karena banyak toko yang tutup. Tapi dari segi produksi justru meningkat dari waktu ke waktu.

Berapa banyak rumah produksi sandal dan sepatu di Wedoro saat ini?

Sekitar 70 unit rumah. Ada yang perajin lama, ada yang baru, ada yang meneruskan usaha orang tua, dan sebagainya. Puluhan perajin Wedoro ini setiap hari bekerja keras untuk melayani order dari berbagai kota. Insya Allah, industri kecil dan menengah di Wedoro ini tetap bertahan meskipun harus menghadapi gempuran dari luar.

Anda kelihatan sangat optimitis dengan masa depan industri alas kaki di sini?

Harus optimis dong. Soalnya, sekarang ini  saya lihat makin banyak anak-anak muda yang ikut terjun langsung ke industri ini. Mereka membuat inovasi-inovasi baru dengan desain yang lebih menarik dan modern. Anak-anak muda ini kan punya akses ke internet sehingga mereka bisa dengan cepat mengikuti tren yang ada di pasar internasional. Jadi, produk-produk Wedoro tidak akan ketinggalan zaman. (*)

08 December 2013

dr Harso Populerkan Pengobatan Herbal



Rumah tua di Jalan Ngagel Jaya Selatan I, Surabaya, itu mestinya nomor 13. Tapi yang dipakai nomor 15. Jadi, rumah nomor 11 langsung loncat ke 15. Percaya atau tidak 13 sebagai "angka sial", yang pasti rumah yang jadi tempat praktik dokter ini selalu ramai pasien dan keluarganya.

Tiga kali seminggu -- Senin, Selasa, Kamis -- para calon pasien antre di terasa rumah milik keturunan bangsawan Jawa yang punya hubungan famili dengan R Tjondronegoro, bupati Sidoarjo pertama itu. Bahkan, hingga pukul 23.00 sampai 24.00 pun sering kali masih ada pasien yang harus dilayani.

Yah, di Ngagel Jaya Selatan I/13 itulah Dokter RP Soeharsohadi Tjondronegoro SpJP praktik rutin melayani masyarakat. Spesialis jantung dan pembuluh darah dari RSUD dr Soetomo ini pun tampak selalu tersenyum ramah meski berhadapan dengan pasien dan keluarganya yang sering tak sabar.

"Prinsip hidup saya itu bukan mencari untung. Saya ingin bisa menolong orang sebanyak mungkin," kata pria kelahiran 5 Februari 1952 ini suatu ketika.

Tak berlebihan pernyataan dr Harso, sapaan akrab kakek tiga cucu ini. Saya melihat sendiri ada pasien yang dilayani setiap Selasa selama bertahun-tahun secara cuma-cuma. Dokter Harso melayani pasien yang terkenal sangat rewel itu hingga tutup usia.

"Hidup itu ya begitu. Kita perlu memberi perhatian kepada sesama yang membutuhkan," kata pria yang sangat religius itu.

Dokter yang juga praktik di Jombang ini selalu memberikan air jamu yang sudah didoakan secara Islam, surat al-Fatihah, kepada pasien-pasiennya. Dia juga memberikan bimbingan spiritual karena banyak pasien yang tak hanya mengalami persoalan fisik, tapi juga spiritual.

Semula dokter lulusan FK Universitas Airlangga ini menangani pasien dengan metode pengobatan modern seperti dokter-dokter lain. Tapi sejak 1992 dia memulai pendekatan yang holistik. Kombinasi medis modern, herbal dengan aneka jamu, dan pendekatan spiritual.

Pengetahuannya yang mendalam soal herbal dan jamu-jamu tradisional membuat dr Harso sering dianggap dokter alternatif. Bahkan ada yang bilang TERKUN, dokter dukun.

Tak heran, di teras rumah tempat praktiknya, rumah peninggalan almarhum orang tuanya, terdapat banyak sekali buah kelapa muda. Air kelapa itu antara lain dipakai untuk campuran obat-obatan herbal. Dia punya beberapa pekerja yang khusus membuat ramuan herbal.

Keluhan pasien yang datang sangat bervariasi. Mulai sakit ringan sampai berat. Tapi umumnya sebagian besar pasien sudah divonis sulit sembuh secara medis. Ada yang kanker otak, tumor, HIV/AIDS, diabetes, tumor.

"Saya sudah ke mana-mana kok gak bisa sembuh. Makanya, saya diminta beberapa teman untuk berobat ke dr Harso," kata seorang laki-laki 50an tahun pekan lalu kepada saya. Dia sangat yakin bahwa dr Harso mampu mengatasi penyakitnya.

Setiap pasien tentu saja mendapat ramuan obat herbal (jamu) plus doa-doa islami. Bahan-bahan tumbuhan yang digunakan sekitar 40-60 jenis. Daun-daun tersebut bisa diracik menjadi 300 macam obat-obatan. Berbagai bagian tanaman itu mulai daun, buah, tangkai, atau akar diracik dr Harso menjadi obat-obatan herbal yang bermanfaat bagi pasien.

Tentu saja, obat-obatan modern tetap dia resepkan sesuai kebutuhan pasien. Rupanya pendekatan holistik yang dikembangkan dr Harso ini ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat. Lihat saja tempat praktiknya yang selalu ramai hingga larut malam.

Dokter Harso sendiri sepertinya tak pernah kelihatan capek karena sering minum jamu. Dia pun tampak awet muda.


Dr SOEHARSOHADI TJONDRONEGORO SpJP
Praktik : Jalan Ngagel Jaya Selatan I/15 Surabaya
Hari : Senin, Selasa, Kamis