20 September 2007

Kurma ajaib di Mojokerto


Oleh: Radar Mojokerto

Pohon kurma yang tumbuh di halaman Masjid Al-Mubarok, lingkungan Prajurit Kulon, Kota Mojokokerto, Jawa Timur, terus tumbuh besar. Kurma yang ditanam pada tahun 1990 ini memiliki tinggi lebih dari lima meter.

Salah satu pengurus Masjid Al-Mubarok, Kuswari, mengatakan, pada Ramadan biasanya pohon kurma tersebut sudah memasuki masa berbuah. Namun, hingga memasuki pertengahan Ramadan ini belum menujukkan tanda akan berbuah. Tak pelak, para tamu yang berdatangan dari luar kota macam Cirebon, Semarang, Gresik dan Surabaya harus kembali dengan tangan kosong.

“Kami tidak dapat memastikan bulan apa kurma itu berbuah,” ungkap Kuswari yang sehari-harinya juga bertugas merawat kurma.

Dikatakannya, pohon kurma tersebut cukup dikenal di Indonesia. Karena telah berbuah dalam beberapa musim terakhir ini. “Ya, mungkin saat ini belum waktunya berbuah. Nanti jika sudah berbuah, siapa saja boleh memetiknya. Banyak yang menggunakannya sebagai obat,” ungkap Kuswari.

Lalu, dia menjelaskan, cara makan kurma yang bertujuan sebagi obat pun tergolong unik. Sebelum dimakan, lebih dulu kurma yang dipetik langsung dari pohonnya itu harus dikunyah sampai halus.

Setelah dipastikan halus, baru kemudian kurma boleh ditelan dengan menggunakan air putih. Cara seperti itu, menurut Kuswari, merupakan salah satu cara makan kurma yang baik sesuai anjuran H Nur, warga Betek Mojoagung Jombang, yang sudah lama di Kota Makkah sebagai sopir jamaah haji.

Namun, tingkat kemujaraban kurma untuk menyembuhkan penyakit, semuanya bergantung niat dari hati masing-masing orang. “Semua bergantung niatnya ketika berangkat dari rumah. Buah kurma ini hanya sebagai perantara,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Affandi, warga asal Gresik yang biasa datang ke Masjid Al-Mubarok mengaku, kedatangannya ke masjid tersebut sengaja untuk memetik buah kurma yang akan dijadikan obat oleh beberapa kerabatnya.

“Awalnya dulu saya sendiri yang membuktikan. Setelah itu, banyak kerabat saya yang penasaran,” kata Affandi yang pernah mengalami lemah syahwat.

Belakangan diketahui, pohon kurma tersebut merupakan milik H Mat Asnawi yang dibawanya dari Makkah pada musim haji tahun 1990. Waktu itu Asnawi membawa dua bibit kurma berusia sekitar dua bulan. Oleh Asnawi, satu bibit ditanam di halaman rumahnya di Magersari, satu lainnya sengaja disumbangkan untuk Masjid Al-Mubarok. Namun, anehnya, dari dua bibit pohon kurma tersebut, hanya pohon yang ditanam di halaman Masjid Al-Mubarok yang bisa berbuah. (ris)

No comments:

Post a Comment