29 April 2006

PPLH Trawas


Kalau ada waktu senggang, saya biasa main-main ke kawasan Trawas. Dan Pusat Pendidikan dan Lingkungan Hidup (PPLH) di Desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, menjadi tempat favorit saya. PPLH ini memang tempat belajar, riset, wisata, bercanda… yang luar biasa.

Hawanya sejuk karena berada di ketinggian 800an meter dari muka laut. Di dekatnya ada sungai, kemudian sumur jolotundo yang terkenal itu. “Yang paling banyak berkunjung ke sini adalah rombongan anak-anak,” cerita Mas Suroso, bos PPLH.

Saya memang akrab dengan para petinggi PPLH seperti Mas Suroso, Mas Arif Eddy Rahmanto, serta para pembimbing lapangan. Kedekatan ini ada guna-ruginya sendiri. Gunanya, setiap saat saya boleh menikmati fasilitas di PPLH, makan minum gratis, jalan-jalan sampai capek. Ruginya, saya jadi sungkan mengingat para tamu lain harus bayar cukup mahal. Tentu tidak mungkin saya menikmati fasilitas gratis di PPLH itu terlalu sering. Malu ah!



FOTO: Salah satu tempat bersantai di PPLH. Sederhana, bersih, dan nyaman.

Akhir 2005, saya diajak Mas Arif untuk memberikan kursus jurnalistik dasar kepada teman-teman di PPLH. Waktu itu saya bersama Mas Henri Nurcahyo, jurnalis dan penggiat budaya ternama dari Surabaya. Saya dapat kenang-kenangan berupa tas, topi, brosur… suvenir yang dikerjakan masyarakat lokal bersama teman-teman di PPLH. PPLH memang berprinsip: menggunakan bahan-bahan alami semaksimal mungkin, pantang pakai pupuk kimia, obat-obatan kimia, dan seterusnya. Organic farming menjadi prinsip utama lembaga ini.

Oh, ya, di PPLH kita bisa bertemu tamu-tamu asing, khususnya orang bule. Ada yang ikut rombongan tur (Interped Tours & Travel), sebagian lagi relawan-relawan yang ingin mencicipi rasanya berada di pedalaman Indonesia. Saya kenal baik Elaine Montegriffo, gadis cantik asal Australia, yang mengaku betah tinggal di pegunungan Trawas.

“Di sini saya bisa menikmati hidup yang sebenarnya,” ujar bekas public relations hotel berbintang di negaranya. “Saya tidak mau bekerja lagi di hotel dan sejenisnya. Lebih enak di tempat seperti ini.”

Beberapa wanita bule bahkan kecantol dengan pria Jawa. Contohnya Mas Gepenk Jumaadi (asal Sidoarjo) yang akhirnya menikah dengan wanita Australia, relawan (volunteer) PPLH Seloliman. Nasrullah alias N Roel, pelukis dan pencinta lingkungan asal Sidoarjo, yang kecantol dengan Christine Rod, wanita Swiss saat jalan-jalan di kawasan PPLH dan Jolotundo.

“Saya benar-benar cinta sama Nasrullah,” kata Christine kepada saya.

“Oh, saya saya sekarang sudah berada di Jenewa, di rumah istri saya (Christine),” tulis Nasrullah kepada saya via email pada awal Juli 2006.

Begitulah. Di tempat sejuk macam Trawas selalu ada cerita-cerita indah tentang hidup dan kehidupan.


FOTO: PPLH punya projek listrik tenaga air untuk warga desa. Ini membuat hubungan PPLH dengan warga sekitar sangat erat.

22 April 2006

Nikah Belis Gading di Flores Timur



Kebarek mion gampang hala, welin bala lema. FOTO: Kompasiana.

“Mas, kamu kawin saja sama cewek atau rondo Jawa aja. Kan sampeyan sudah tinggal di Jawa sejak SMA di Malang. Gampang, nggak pakai maskawin, prosedurnya mudah. Sederhana sekali!”

Begitu kalimat yang saya dengar dari beberapa kawan ketika usia saya menembus 30, tapi belum ada tanda-tanda punya pacar, apalagi menikah.  Hehehe... rondo teles!

Teman-teman Jawa ini memang sedikit banyak tahu rumitnya adat kawin-mawin masyarakat etnis Lamaholot yang meliputi Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor.

Di Pulau Jawa proses pernikahan memang sangat mudah. Asal punya pasangan, restu orang tua, sudah. Jadwal menikah di depan penghulu (KUA) atau pemberkatan di gereja bisa langsung dilakukan.

Teman saya, ASK, wartawan koran terbesar di Indonesia, hanya butuh waktu kurang dari dua bulan untuk berkenalan dengan cewek (dia tidak pacaran dulu), meminta restu calon mertua, penetapan jadwal, dan hari-H menikah di depan penghulu. Kemudian ramah-tamah, pesta sederhana. Jadilah mereka pasangan suami-istri.

Kenapa bisa secepat ini? Orang Jawa, dalam contoh ini, sudah lama tidak terikat lagi pada adat-istiadatnya.

Masuknya agama Islam di akhir kejayaan Kerajaan Majapahit telah merasuk ke sumsum orang Jawa. Islam sudah jadi way of life, segala sesuatu serba dirujuk dari Alquran dan Alhadits alias ajaran Islam. Dan agama Islam memang pada dasarnya sangat memudahkan pernikahan asalkan sama-sama beragama Islam. Tidak pakai kursus persiapan perkawinan, mengecek buku induk, seperti di Gereja Katolik.

Orang Jawa bahkan selalu dimotivasi untuk segera menikah kalau sudah cukup umur dan punya pekerjaan. Pria Jawa disarankan menikah sebelum berusia 25 tahun. Wanita tentu lebih muda lagi.

Di Flores, sayangnya, Gereja Katolik belum menjadi satu-satunya rujukan hidup. Saya mengalami sendiri, adat lama (animisme) jauh lebih kuat ketimbang Gereja Katolik. Lihat saja, begitu banyak orang yang kawin kampung (baca: kawin secara adat), tapi belum menikah secara Katolik atau hukum sipil. Adat lama ini begitu kuatnya sehingga orang tua tak akan pernah mau menikahkan anaknya tanpa mempertimbangkan adat Lamaholot.

Belis atau mas kawin merupakan persoalan paling prinsip sebelum sebuah pernikahan diresmikan di gereja. Di Jawa, mas kawin atau belis ini hanya sekadar simbolis, misalnya perangkat alat salat, uang tunai sekadarnya. Pihak perempuan tidak akan menolak meskipun mas kawin hanya Rp 100 ribu atau Rp 50 ribu.

Berkali-kali saya dengar ada pengantin pria yang hanya bisa memberi maskawin alat-alat salat dan uang receh yang disesuaikan dengan tanggal pernikahan mereka. Misalnya, nikah tanggal 25 Juni 2006, maka mas kawinnya 25.606, dua puluh lima ribu enam ratus enam rupiah.

Di Flores Timur,  dan NTT umumnya, maskawin simbolis alias iseng-iseng macam ini tidak akan pernah terjadi. Belis merupakan urusan yang benar-benar serius, dibahas secara intensif oleh dua keluarga besar, sampai ada deal di antaranya kedua belah pihak.

Belis di Flores Timur adalah gading gajah atau bahasa daerahnya BALA. [Di Flores lain juga belis sangat ditekankan, hanya wujudnya berbeda.] Aneh bin ajaib, Flores Timur yang tak punya seekor pun gajah sejak tempo doeloe mensyarakatkan gading (bala) sebagai belis. Mungkin, karena superlangka inilah, nenek moyang menjadikannya sebagai mahar atau mas kawin.

Jauh sebelum pernikahan, digelar KODA KIRING alias pertemuan adat di antara keluarga besar wanita dan pria. Yang terlibat adalah keluarga besar (fam/suku/marga), bukan orang tua kandung saja seperti di Jawa dan tempat-tempat maju lain di Tanah Air. Biasanya, KODA KIRING ini digelar sepanjang malam, beberapa hari, sampai ada kesepakatan.

Waktu kecil saya kerap nguping pembicaraan mereka sambil menikmati makanan enak. Suasana rata-rata tegang, menjurus panas, karena pihak perempuan (OPU LAKE) meminta call yang tinggi. Gebrak meja adalah hal biasa, apalagi para pemuka adat menenggak tuak selama rapat berlangsung.

OPU LAKE menginginkan BALA alias gading kualitas terbaik, setidaknya setara dengan gading yang dulu diterima ibu calon mempelai wanita. Tak boleh lebih rendah. Mereka yang derajatnya tinggi, umumnya menuntut belis mahal. Panjangnya sekian, diameter sekian, mulus, jumlahnya sekian.

Pihak keluarga pria (ANA OPO) dalam posisi tertekan. Mengalah. Kata-katanya halus. Cenderung merayu. Minta agar call dari OPU LAKE tadi diturunkan. Rapat hari pertama lazimnya deadlock, karena OPU LAKE ngotot jaga gengsi. Lalu, disepakati rapat adat kedua, ketiga, keempat… dan seterusnya.

Jika kedua belah pihak tetap tidak mau mengalah, bukan tak mungkin pembicaraan soal belis (BALA) ini berlangsung beberapa bulan. Sering terjadi rapat adat terus-menerus buntu sehingga calon mempelai patah semangat: putus hubungan atau melarikan diri ke Malaysia. Tragis!

Kalau belis BALA ini sudah disepakati, barulah persoalan tetek-bengek lain dirancang. Misalnya, kewajiban-kewajiban kedua belah pihak, bentuk pesta seperti apa, PENANG atau antaran, kambing-babi (atau sapi), hingga jadwal pernikahan. Pihak gereja baru diberi tahu ihwal rencana pernikahan setelah persoalan adat-istiadat ini beres.

“Jangan sampai setelah menerima sakramen pernikahan di gereja masih ada utang masalah adat. Kasihan keluarga mereka,” ujar almarhum Pater Petrus M Geurtz, SVD, yang dulu pastor paroki di kampung saya, Ileape, Kabupaten Lembata.

Dalam kenyataan, persoalan gading ini tetap menyisakan masalah bagi pasangan pengantin tertentu. Keluarga wanita yang tadinya mengalah, bisa memahami kemampuan laki-laki, tiba-tiba terprovokasi untuk meminta belis yang lebih berkualitas. Secara adat memang dibenarkan.

Bagaimana kalau tidak bisa membayar belis?

Wah, si pria itu bakal terus menjadi ‘tawanan’ keluarga wanita selama utangnya tidak dibayar. Dia harus mengabdi kepada OPU LAKE yang telah merelakan anaknya untuk dinikahi. Seumur hidup!

Soal belis atau mahar  BALA (gading) ini terlalu njelimet untuk dipahami orang-orang di luar Flores Timur. Sejarahnya begitu panjang. Begitu banyak misionaris, pastor lokal, pemerintah, meminta agar persoalan ini disederhanakan. Boleh ada belis, tapi jangan terlalu kaku ala orang-orang zaman 1950-an hingga 1970-an awal. Toh, tradisi yang sudah berurat berakar ini tidak bisa dihapus begitu saja.

Sejak tahun 1980-an anak-anak muda Lembata atau Flores Timur banyak yang hijrah ke tempat lain untuk sekolah, kuliah, atau bekerja. Tak sedikit yang tinggal di Jawa seperti saya. Di tempat baru ini lingkungannya berbeda, adat lain, tradisi lama di kampung halaman tak bisa dilaksanakan begitu saja. Beberapa teman saya mengaku sangat menikmati pernikahannya dengan gadis-gadis Jawa: prosedur mudah, tidak pakai BALA, semua serba efisien.

Di Jakarta, ibukota Republik Indonesia, beberapa tahun lalu saya dipercaya memikul gading (BALA) ke rumah mempelai perempuan. Kami dari pihak laki-laki melakukan prosesi panjang. Ribuan warga Jakarta menyaksikan prosesi adat kami yang langka itu. Saya pun jadi objek tontonan.

Tiba di rumah calon mempelai wanita, kami disambut dengan hormat. Hantaran kami berupa bahan makanan, hewan, perlengkapan pesta, diturunkan. Lalu, salah satu wakil keluarga perempuan mengambil BALA dari bahu kanan saya. Upacara selesai.

Saya hanya ingin mengatakan, di Jakarta yang begitu modern sekalipun keluarga besar Flores tidak ingin melupakan tradisi adatnya begitu saja. Semua prosedur dilaksanakan meskipun tidak seheboh kalau pesta pernikahan itu digelar di LEWOTANAH, kampung halaman.

Kode Etik Wartawan

RABU (12/4/2006) lalu, para redaktur di lingkungan Grup Jawa Pos mengikuti sosialisasi Kode Etik Jurnalistik 2006. KEJ itu menggantikan KEWI (Kode Etik Wartawan Indonesia), yang dianggap tidak memadai lagi. Apa yang baru di KEJ 2006?

“Tidak ada. Apanya yang baru? Dari dulu, yang namanya kode etik wartawan, ya, sama di mana-mana,” ujar seorang redaktur koran di luar Surabaya.

Memang, kalau kita membolak-balik buku-buku jurnalistik lama, maka kita dengan mudah menemukan filosofi dari 11 pasal KEJ 2006. Baca saja buku jurnalistik karya Djamaluddin Adinegoro (tokoh pers), Djawoto (ketua PWI tahun 1960-an), Muchtar Lubis (pentolan wartawan investigasi), Auwjong Peng Koen (pendiri koran Ken Po dan Kompas),
Basuki Soedjatmoko (wartawan senior Jawa Pos, almarhum), dan seterusnya.

Prinsip-prinsip kode etik itu sudah ada, bahkan dijlentrehkan secara gamblang.
Kalau mau lebih ‘akademis’, kita bisa membaca karya Walter Lippman, misalnya Public Opinion, atau buku yang akhir-akhir ini selalu dirujuk Media Watch, yakni The Elements of Journalism (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel). Andreas Harsono dari PANTAU tak jemu-jemu membahas ini. Lantas, untuk apa KEWI di-KEJ-kan, disosialisasi ke mana-mana?

Saya rasa, sosialisasi KEJ ini penting untuk refreshing, menyegarkan ingatan, di era pers bebas sekarang. Pasca-Reformasi, kita seakan tidak tahu bagaimana mengisi kebebasan itu. ‘Freedom from’ ternyata belum diikuti freedom for. Bebas untuk apa?

Seperti diduga, diskusi formal (dan informal) di Graha Pena akhirnya mengerucut pada tiga poin penting: independensi, suap-menyuap alias budaya amplop, serta kloning berita alias plagiatisme. Indepensi itu mutlak penting (mengutip Kovach dan Rosenstiel) kalau media-media ingin benar-benar menyampaikan kebenaran dan berloyalitas pada warga (civic journalism).

Di sinilah, kata Henry Subiakto (anggota ombudsman Grup Jawa Pos), pentingnya apa yang disebut dinding api (firewall). “Iklan ya iklan, berita ya berita. Jangan dicampur aduk,” kata Henry Subiakto.

Bagaimana dengan suap?

Jauh sebelum ada KEJ 2006, pengelola media mainstream di tanah air sudah berupaya memerangi penyakit suap alias amplop dengan menulis ‘Wartawan Kami Dilarang Menerima Uang atau Barang dari Sumber Berita’. Apakah larangan ini sudah dilaksanakan? Atau, hanya sekadar deklarasi belaka? “Wah, kalau soal itu kembali ke hati nurani,” kata teman redaktur.

Gebrakan Nurmahmudi Ismail, mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera, tampaknya harus diikuti pejabat-pejabat pusat dan daerah lain. Usai dilantik menjadi wali kota Depok, Nur melarang semua kepala dinas untuk memberikan amplop dan berbagai ‘tunjangan’ untuk wartawan. Cocok dengan KEJ!

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi Minggu, 16 April 2006

Christine Rod



Musibah tabrakan antara Kereta Api (KA) Kertajaya dan KA Sembrani di Stasiun Gubug, Grobogan, Sabtu (15/4/2006) dini hari, menyebabkan 14 penumpang tewas dan sedikitnya 30 luka-luka. Christine Rod (51), warga negara Swiss, merupakan satu-satunya orang asing yang ikut menjadi korban tragedi itu.


“ALHAMDULILLAH, saya masih hidup. Terima kasih, Tuhan, juga terima kasih untuk kamu!” Begitu ucapan spontan Christine Rod saat menyambut kunjungan saya bersama beberapa pelukis Sidoarjo, Minggu (16/4/2006), di Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Wanita yang sudah lama menjalin ‘silaturahmi budaya’ dengan komunitas seniman Sidoarjo ini tersenyum, menyalami kami dengan ramah. Langkahnya sempoyongan.

“Ini masih sakit,” ujar Christine menunjuk lutut kirinya yang memar. “Ini juga sakit,” tambah Christine, kali ini menunjuk telinga kirinya. Dia baru belajar bahasa Indonesia, sehingga kalimat-kalimatnya masih kaku dan kerap bercampur ‘bahasa tazan’.

“Sekarang kondisinya sudah lumayan. Sabtu kemarin bengkaknya seperti ini,” tambah Nasrullah seraya memperlihatkan genggaman tangan orang dewasa. Christine sejak Sabtu (15/4) malam dirawat di rumah Nasrullah, pelukis asli Tanggulangin, yang lebih dikenal dengan N. Roel.

Sosok Christine Rod--sehari-hari bekerja sebagai guru matematika sekaligus pekerja budaya di Swiss--tak asing lagi di kalangan seniman Sidoarjo, Surabaya, Trawas (Mojokerto), hingga Solo.

Pada peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2005, Christine ikut pameran lukisan bersama perempuan-perempuan pelukis se-Jawa dan Bali di Balai Pemuda Surabaya. “Saya bisa melukis, tapi kurang pandai,” katanya, merendah.

Kamis (13/4), Christine kembali ke Indonesia untuk mengurus berbagai dokumen administrasi terkait dengan rencana pernikahannya dengan Nasrullah. Kedua seniman ini berkenalan di Jolotundo, Trawas, sekitar dua tahun lalu, kemudian sibuk berbagi rasa lewat SMS. “Saya bisa bahasa Indonesia karena sering SMS dengan Roel,” ujar Christine seraya tertawa kecil.

Nah, Nasrullah pun menemani calon istrinya di Jakarta mengingat keduanya sama-sama ingin segera menikah secara resmi. “Kebelet kawin,” begitu celetukan teman-teman dekat Nasrullah. Setelah urusan di Kedubes Swiss beres, mereka pun kembali ke Sidoarjo. “Kita naik kereta api biar lebih santai,” tutur Nasrullah.

Wanita Swiss yang senang jalan-jalan ke kawasan pegunungan itu pun sepakat. Mereka kemudian membeli tiket KA Sembrani seharga Rp 440 ribu untuk dua orang. “Kami dapat seat 7C dan 7D,” cerita Nasrullah, yang juga ikut jadi korban kendati hanya tergores sedikit.

Menurut Nasrullah, gerbong nomor satu (paling dekat lokomotif) itu terisi kurang dari separuhnya. Karena banyak seat kosong, tengah malam, Nasrullah pindah ke seat nomor 3 agar bisa tidur dengan leluasa. Istirahat sejenak, Roel pindah lagi ke seat nomor 11. Lalu, terjadilah peristiwa tragis itu. “Kami di dalam nggak tahu apa-apa. Tahunya sudah di tengah sawah. Gelap,” cerita Roel.

Sadar kalau telah terjadi kecelakaan, Roel segera mencari Christine Rod di tengah hiruk-pikuk penonton yang berteriak minta tolong. “Saya pakai sinar di HP karena gelap. Semua penumpang panik.”

Sekitar setengah jam kemudian, Christine ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri. Wanita asal Swiss ini praktis tidak bergerak. Roel lantas ‘mengamankan’ Christine di dekat rel dengan harap-harap cemas. “Saya bisikan pelan-pelan, tanya keadaannya. Alhamdulillah, akhirnya sadar,” kata Roel.

“Saya sendiri tidak ingat apa-apa sampai sekarang. Saya hanya ingat di rumah sakit,” ujar Christine.

Saat dirawat di PKU Muhammadiyah, perawat khawatir Christine mengalami gegar otak atau patah tulang, sementara peralatan medis di sana tidak menunjang. Karena itu, Christine segera dirujuk ke RS Tlogorejo, Semarang. “Saya baru lega karena ternyata tidak ada patah tulang. Hanya (daun) telinga kirinya yang robek sehingga dirawat secara khusus,” papar Nasrullah.

Baik Christine maupun Nasrullah mengaku tak punya firasat atau mimpi aneh sebelum musibah terjadi. “Saya pikir, kejadian ini sudah jadi takdir Yang Maha Kuasa. Yang penting, saya masih hidup,” ujar Christine yang menekuni agama Islam sejak beberapa bulan terakhir.

[Di waktu senggangnya, Christine banyak membaca buku-buku tentang Islam dalam bahasa Prancis.]

Berbeda dengan Christine yang pasrah, tenang, Nasrullah mengaku dihantui perasaan bersalah. Kenapa?

“Saya yang ajak dia pakai kereta api. Padahal, selama ini selalu pakai pesawat,” ujarnya. Pelukis yang gemar mengabadikan pemandangan alam di Sidoarjo ini pun berkali-kali minta maaf kepada pacarnya. “Saya jawab, bukan salah Roel, tapi sudah takdir,” tukas Christine.

Sebelum datang ke Indonesia, Christine Rod seperti biasa mengemudikan mobil pribadinya di jalan raya kota Jenewa, Swiss. Di jalan yang halus-mulus itu Christine mendapat firasat bakal ada kecelakaan.


KEJADIANNYA sekitar dua pekan lalu. Dalam perjalanan menuju sekolah, tempat kerjanya, tiba-tiba Christine mendapat bisikan halus, “Awas, kecelakaan! Awas, kecelakaan.”

Wanita kelahiran Jenewa, 24 November 1953 ini, ini pun heran dengan apa yang ia sebut ‘intuisi’ di jalan raya tersebut. “Saya ambil hikmahnya, bahwa saya harus hati-hati di perjalanan,” batinnya. Ternyata, firasat ini terealisasi di gerbong Kereta Api (KA) Sembari jurusan Jakarta-Surabaya, Sabtu (15/4) dini hari lalu.

Christine Rod tercatat sebagai satu-satunya warga negara asing yang ikut menjadi korban dalam peristiwa tabrakan dua kereta api. Sebanyak 14 penumpang meninggal dunia.

“Hari Minggu ketika Anda tanya apakah saya punya firasat atau mimpi, saya bilang tidak ada. Tapi sekarang saya baru ingat kalau isyarat itu sudah saya terima waktu mengendarai mobil pribadi di Jenewa,” ujar Christine Rod yang didampingi Nasrullah, calon suaminya.

Apakah peristiwa ini sudah disampaikan kepada pihak keluarga di Swiss? Christine tersenyum. Mula-mula guru matematika serta pembimbing siswa bermasalah di sebuah sekolah di Jenewa ini mengaku ingin merahasiakannya. Khawatir membuat shock ibundanya, Rose-Marie Rod, yang berusia 71 tahun. Namun, semakin Christine ingin ‘menyembunyikan’ tragedi ini, semakin kuat desakan dalam hatinya untuk segera menelepon keluarga di Swiss.

“Kamu harus segera telepon, harus telepon. Tidak bisa diam,” ujar wanita yang belakangan selalu menggunakan kerudung (busana muslim) dalam acara-acara resmi itu. (Christine sangat tekun mempelajari agama Islam menjelang pernikahannya dengan Nasrullah, pelukis asli Sidoarjo.)

Akhirnya, setelah siuman di RS Tlogorejo, Semarang, Christine pun menelepon keluarga dekat di Swiss, tapi bukan sang ibu. “Saya kaget karena mereka di Swiss sudah tahu ada kecelakaan kereta api di Indonesia, termasuk saya yang jadi korban,” ujar pekerja seni-budaya ini seraya tersenyum lebar.

Bukan itu saja. Kerabat dekat lain yang tinggal di Brasil pun mendapat informasi ini dari televisi. “Saya bilang saya masih shock, luka-luka, tapi masih hidup. Saya hanya perlu istirahat beberapa hari,” ujar Christine.

Kabar buruk dari Indonesia ini akhirnya bocor juga ke telinga sang ibunda, Rose-Marie Rod. Dengan bijak Rose-Marie mengatakan bahwa apa yang sekarang menimpa Christine sudah merupakan takdir dari Tuhan yang Mahakuasa. Kasusnya sama dengan Christine yang jatuh cinta pada Nasrullah, berbagai rasa, kemudian berencana meresmikan pernikahan mereka di Swiss tahun 2006 ini.

“Saya diminta tenang, pasrah,” kata Christine yang mulai mengenal Indonesia pada 1983 itu.

Swiss merupakan negara kecil di daratan Eropa yang sangat makmur (welfare state), juga sangat peduli pada hak asasi manusia. Jangankan warga negara sendiri, warga negara lain yang minta perlindungan akan dilindungi secara penuh.

Di Jenewa, Christine Rod ini juga banyak berperan mendampingi orang-orang asing yang terpaksa mengais rezeki di Swiss karena berbagai alasan. Tak heran, Kedutaan Besar Swiss di Jakarta kalang-kabut tatkala mendengar informasi bahwa ada warga negara Swiss yang jadi korban kecelakan di Grobogan, Jawa Tengah.

“Kedubes Swiss berkali-kali menelepon, cari informasi tentang saya di hospital. Mereka baru lega setelah tahu saya hanya luka-luka dan bisa selamat,” tutur Christine. Kemarin, giliran Christine yang menelepon Kedubes Swiss dari Sidoarjo untuk menceritakan keadaannya, termasuk rencana perjalanan selanjutnya.

Kini, kondisi Christine sudah jauh lebih baik ketimbang Ahad (16/4) lalu. Selain mengonsumsi obat-obatan dari RS Tlogorejo, Christine dirawat secara khusus oleh Fransisca Endang Waliati, pelukis asal Porong, yang dikenal sebagai tukang urut jempolan. “Christine hanya perlu istirahat untuk memulihkan kondisinya,” ujar Endang.

Christine pun tersenyum lega. Menurut rencana, ia kembali ke Swiss pada 22 April mendatang dari Bandara Juanda menuju Singapura langsung ke Zurich. Dari Zurich ia menempuh beberapa menit perjalanan darat ke Jenewa. “Total sekitar 20 jam perjalanan,” paparnya.

Ia mengaku puas dengan pelayanan pihak rumah sakit serta perhatian para sahabatnya di Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, dan sekitarnya.

Kapok naik kereta api di Indonesia?

“Oh, tidak. Selama kita masih hidup, maka risiko itu selalu ada. Tidak hanya kereta api, naik pesawat, bus, kapal laut... selalu ada risiko,” kata Christine yang vegetarian itu.

Ervinna Penyanyi Legendaris



Hangat, ramah, murah senyum! Kesan ini selalu muncul manakala kita bertemu dengan Theodora Monica Ervin yang lebih dikenal sebagai Ervinna. Siapa pun tahu bahwa Ervinna adalah sosok penyanyi legendaris yang pernah berjaya di belantika musik Indonesia, bahkan luar negeri.

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

Catatan prestasinya segudang. Jumlah rekaman albumnya, kalau dihitung sejak ia menitipi karier pada awal 1970-an, rasanya sulit ditandingi penyanyi atau band zaman sekarang.

“Kalau album pop, sudah 200 lebih,” ujar Ervinna yang saya temui di rumahnya, Jalan Kertajaya Indah Surabaya, Senin (27/03/2006). Ini belum termasuk album rohani yang dirilis dalam beberapa tahun terakhir.

“Sekarang ini saya sedang mempersiapkan album rohani dalam bahasa Mandarin. Prosesnya hampir selesai,” ujar Ervinna seraya tersenyum manis.

Dibantu Romo Yandi Boentoro CD, pastor yang fasih berbahasa Mandarin karena pernah bertugas lama di Taiwan, album anyar ini menampilkan kombinasi lagu-lagu rohani Indonesia, yang di-Mandarin-kan, serta lagu-lagu rohani ‘asli’ dari bumi Tiongkok sana.

Begitulah. Ervinna tetap saja sibuk kendati tidak lagi seekstrem ketika ia masih remaja pada 1970-an hingga 1980-an. Dulu, istri Robert Soesanto ini bisa mendekam tiap hari di studio untuk membuat rekaman lagu di piringan hitam atau kaset, belum lagi jadwal show yang sangat padat di dalam dan luar negeri.

“Saya dulu sering mengeluarkan dua atau tiga album dalam satu bulan,” cerita Ervinna.

Sebagai perbandingan, artis/band paling produktif masa kini seperti Slank atau Dewa belum tentu bisa merilis album setahun sekali.

Popularitas, nama besar, segudang prestasi, bagi Ervinna, merupakan berkat Tuhan yang luar biasa baginya. Dan, itu membuat Ervinna tak henti-hentinya mengucap syukur di usia matangnya sekarang. Salah satu wujud ucapakan syukur itu adalah dengan aktif di kegiatan rohani, mengisi acara pujian rohani, penggalangan dana (fund rising) untuk gereja, hingga bakti sosial.

Aktivitasnya di bidang rohani semakin teratur sejak ia bergabung dalam Komunitas Pertumbuhan Iman Wanita BUNDA KUDUS, Surabaya, sejak 1994 lalu. Ervinna bahkan sekadar aktif, tapi juga salah satu motor Bunda Kudus sampai sekarang. Kini, Mbak Ervin, sapaan akrabnya, malah dipercaya sebagai ketua Bunda Kudus.

“Mungkin kami baru dikukuhkan bulan Mei yang akan datang,” ujar Ervinna. Tapi, ia buru-buru menambahkan bahwa di Bunda Kudus berlaku kepemimpinan kolektif, sehingga posisi ketua sama sekali bukan penentu semua kebijakan. Semua keputusan dibuat bersama-sama secara kekeluargaan dan, tentu saja, selalu dibawa dalam doa bersama.

“Selain saya, ada Ibu Sonny Vincent dan Ibu Gin,” jelas Ervinna yang melihat posisi di Bunda Kudus lebih sebagai ajang pelayanan kepada Tuhan dan Gereja.



Pertumbuhan iman dalam diri Ervinna hingga mencapai kematangan sebetulnya melalui proses panjang. Proses itu tak akan pernah berhenti selama kita masih hidup di dunia. Dan, sebagai anak Tuhan, kita akan selalu dibentuk menjadi ‘manusia baru’ dari hari ke hari.

Tak banyak yang tahu kalau Ervinna ini tidak lahir dari sebuah keluarga Katolik. Di masa kecilnya, kekatolikan atau kristianitas masih menjadi barang asing di keluarganya. Namun, Ervin kecil punya kebiasaan mengoleksi boneka atau patung mainan sebagai sarana bermain-main di rumahnya, waktu itu di Jalan Basuki Rachmat Surabaya.

Secara kebetulan, salah satu patung mainan koleksi si kecil Ervinna adalah patung Yesus. “Saya waktu kecil tidak tahu itu patung siapa. Yang jelas, saya suka,” tutur Ervinna seraya tersenyum.

Saking asyiknya bermain-main dengan patung koleksinya, pada suatu hari, patung Yesus ini jatuh dan pecah berkeping-keping. Ervin kecil sangat sedih, kehilangan, meskipun orang tuanya--yang bukan Kristiani--bisa saja membeli yang baru di toko-toko.

Malamnya, Ervinna bermimpi melihat sosok di patung itu, yang belakangan diketahui sebagai Yesus Kristus. Ervin kecil kemudian dengan polos menceritakan pengalaman mimpinya yang ‘aneh’ itu. Orang tuanya, meski bukan Katolik, bukan Protestan, tidak pernah memaksakan doktrin agama tertentu kepada anak-anaknya. Nah, kebetulan ada kerabat orang tuanya ikut mendengarkan cerita mimpi si Ervin.

“Bagaimana kalau kamu ikut Sekolah Minggu,” ajak tamu tadi. Orang tuanya tidak keberatan, dan Ervin mulai ikut Sekolah Minggu di Paroki Kristus Raja Surabaya.

“Saya ikut Sekolah Minggu diantar sama pembantu,” kenangnya. Ervin akhirnya menerima Sakramen Pembaptisan di Gereja Kristus Raja pada 1968.

Karena sekolah di Santa Agnes, Surabaya, suasana Katolik praktis selalu ia temukan di lingkungan pendidikan serta teman-temannya. Ikut misa, berdoa... layaknya orang Katolik umumnya. Tapi, di sisi lain, kariernya di dunia hiburan (entertainment) sedang berkembang.

Show di mana-mana, rekaman, tur ke luar negeri... praktis membuat Ervinna (ini nama panggung) mengaku sering absen ke gereja pada hari Minggu karena tidak sempat.

Kita tahu, acara-acara show atau hiburan selalu diadakan pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga ‘wajar’ saja kalau Ervinna yang tengah naik daun sulit membagi waktu untuk ke misa mingguan di gereja. “Ke gereja hanya saat Natal dan Paskah. Tapi, ya, saya tetap Katolik,” kata Ervinna.

Tahun berganti tahun... akhirnya terjadi perubahan besar dalam diri Ervinna pada 1994. Waktu itu ada kenalannya yang mengajak ikut retret di Pertapaan Ngadireso, Tumpang, Kabupaten Malang, yang dibina oleh Romo Yohanes Indrakusuma OCarm.

“Saya ikut karena iseng-iseng saja. Ingin tahu retret itu kayak apa,” tuturnya.

Tak dinyana, di Tumpang itulah Ervinna merasakan jamahan Tuhan. Saat didoakan oleh para pembimbing, ia merasakan jamahan Tuhan yang luar biasa. Ervinna disadarkan bahwa selama bertahun-tahun ia menerima berkat Tuhan melalui karier yang cemerlang, perilaku yang jauh dari narkoba, tidak merokok, tidak mengonsumsi minuman keras, dan seterusnya. Untuk seorang entertainer sekelas Ervinna, perilaku hidup sehat dan bersih ini jelas merupakan anugerah yang harus disyukuri.

Malam hari, masih di Tumpang, dibantu cahaya lampu yang temaran Ervinna membaca kitab suci (Alkitab), kebiasaan yang jarang dilakukan Ervinna sebelumnya. “Saya menemukan Mazmur 40,” kenang Ervinna.

Di ayat 4 Mazmur itu disebutkan, Tuhan mengajarkan aku menyanyikan nyanyian baru, lagu pujian untuk Allah kita.

Pengalaman di Tumpang ini, dengan Mazmur 40, sungguh dahsyat. Ervinna yang tadinya hanya iseng-iseng belaka, kini dengan sepenuh hati bergiat di Bunda Kudus. Pada 1994 itu kegiatan Bunda Kudus masih sepi, paling hanya diikuti 20-30 orang.

“Nggak apa-apa. Yang penting jalan terus,” ujar Ervinna seraya menyebut nama Ibu Henny Kuncoro (alm) dan Ibu Magda Nangoy, dua tokoh Bunda Kudus yang berjasa menarik dirinya ke komunitas pertumbuhan iman, Bunda Kudus.

Mulailah Ervinna mengikuti pendalaman Alkitab selama 16 pekan. Makin lama makin kecantol di Bunda Kudus, sehingga Ervinna kemudian memperdalam wawasan rohani dengan ikut Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) Angkatan XIII. Aktif di acara-acara ini membuat Ervinna bukan saja rajin baca Alkitab, tapi menjadikan Alkitab sebagai panduan hidupnya sehari-hari.

“Kalau kita rutin baca Alkitab, maka misa di gereja itu tidak sekadar rutinitas. Kita bisa lebih meresap,” kata pemilik hits ‘Lari Pagi’ ini.

Pengalaman panjang di dunia entertainment, kemudian aktif di Bunda Kudus, bertemu kekasih lama, Robert Soesanto, menikah, dapat ‘bonus’ dua anak, semakin menyadarkan Ervinna bahwa rencana Tuhan itu selalu indah pada waktunya. Kalaupun kita sudah berdoa terus-menerus, tapi belum dijawab, itu hanya soal waktu saja.

Menurut Ervinna, Tuhan hendak mendidik kita, anak-anak-Nya, untuk lebih sabar dan sabar. Jangan sampai kita berhenti berdoa hanya karena (merasa) doa-doa kita belum dikabulkan. “Kita wajib lapor kepada Tuhan,” kata Ervinna.


MENIKAH DENGAN FIRST LOVE

Segala sesuatu ada waktunya. Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk kita, umat-Nya. Ungkapan Alkitabiah ini sangat dipercaya Ervinna, bahkan ia membuktikan sendiri dalam hidupnya. Contoh paling konkret, pernikahannya dengan Vincent de Paul Robert Soesanto pada 8 September 2003 silam.


Robert Soesanto, yang kini jadi suaminya, sebetulnya sahabat lama Ervinna. Sebagai remaja, mereka sempat pacaran pada 1980-an, tapi kemudian putus. Ervinna lantas berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar stage acting, vocal, dan seni pertunjukan. “Saya ke AS tanggal 6 Januari 1984. Dan dia itu memang cinta pertama saya,” cerita Ervinna seraya tersenyum manis.

Lima belas tahun kemudian, tepatnya 6 Januari 1999, Ervinna bertemu lagi dengan Robert di Singapura. Perhatikan tanggal dan bulannya.... Persis 15 tahun berselang. “Semua ini karena kuasa dan rencana Tuhan. Sangat ajaib,” ujar Ervinna.

Singkat cerita, kedua sahabat lama itu menjalin hubungan secara serius selama lima tahun.

Pada 8 September 2003, Ervinna dan Robert Soesanto menerima Sakramen Pernikahan di Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral) Surabaya, dipimpin langsung Uskup Surabaya Monsinyur Johanes Hadiwikarta (kini almarhum). “Tanggal pemberkatan kami tak akan saya lupakan. Ceritanya panjang, berliku-liku,” kata Ervinna lalu tertawa kecil.

Seharusnya, tutur penyanyi serba bisa ini, pemberkatan pernikahan dilakukan pada 6 September 2003 oleh Mgr Hadiwikarta. Tapi, tiba-tiba Mgr Hadiwikarta harus berangkat ke Papua untuk menghadiri tahbisan uskup di sana. Kalang-kabutlah Ervinna, karena dia tak pernah mengantisipasi sebelumnya.

Pastor ‘cadangan’ untuk pemberkatan tak pernah ia siapkan. Syukurlah, Ervinna tidak kalut, apalagi putus asa. “Saya langsung berdoa rosario,” ujar wanita kelahiran Surabaya pada 4 Mei (tahun...) ini.

Sebagai orang beriman, Ervinna percaya bahwa Tuhan pasti buka jalan--meminjam syair lagu yang dibawakan Ervinna di salah satu albumnya.

Benar saja. Beberapa saat kemudian Mgr Hadiwikarta menelepon Ervinna. Intinya, Uskup Surabaya itu bersedia memberikan Sakramen Pernikahan di Gereja HKY Surabaya pada 8 September 2003. Upacara berlangsung syahdu, megah, dan dihadiri 800 lebih jemaat.

Padahal, Ervinna dan Robert sejak awal menginginkan agar upacara suci ini cukup dihadiri kerabat dekat... sekitar 200 orang. Snack yang disiapkan panitia pun terbatas. “Wah, saya kaget sekali karena yang datang begitu banyak,” cerita Ervinna lalu tertawa.

Yang jelas, setelah menikah dengan Robert Soesanto, Ervinna mengaku kehidupannya berubah sama sekali. Kalau biasanya dia melakukan sesuatu atas keputusan sendiri, single fighter, sekarang ia harus selalu membicarakannya bersama suami tercinta. Kalau show di luar kota, Ervinna selalu berusaha cepat-cepat balik ke Surabaya.

“Tapi dua anak itu sungguh menjadi berkat bagi saya,” tegas Ervinna.

Johan Silas

Johan Silas tak asing di Surabaya. Akan tidak afdal kalau nama guru besar tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini luput dari wacana seputar tata kota, perencanaan kota, pembenahan permukiman, perbaikan kampung, dan semacamnya. Yah, Johan Silas memang merupakan salah satu dedengkot program perbaikan kampung, atau lebih dikenal dengan Kampung Improvement Program (KIP).

Ingat KIP, di Kota Surabaya, pasti orang berpaling ke sosok pria kelahiran Samarinda, 24 Mei 1936 ini. Sejak 1968/1969, ketika usianya masih sangat belia, Johan Silas mengaku sudah aktif di KIP.

“Sampai sekarang juga masih aktif. Sebab, selama masih ada kampung, masih ada orang kecil, ya, akademisi seperti saya tidak mungkin diam,” ujar Johan Silas ketika ditemui di kampus ITS Surabaya, awal Januari 2006.

Bagi orang lain, ‘kampung’, apalagi di kota sebesar Surabaya, sering diasosiasikan dengan sejumlah citra miring. Kumuh. Kotor. Semrawut. Fasilitas minim. Kriminalitas. Tapi, bagi Johan Silas, yang namanya kampung tidaklah seburuk itu. Menurut pendiri jurusan arsitektur ITS ini, justru kampung itulah ciri khas Kota Surabaya. Dus, jika kampung itu tidak ada lagi, digusur untuk real estat atau tempat bisnis, maka hilanglah karakter Surabaya.

Johan Silas mengaku masih bisa bersyukur karena kondisi kampung di Surabaya masih relatif utuh ketimbang kota besar lain, khususnya Jakarta.

“Kalau mau tahu kehidupan orang Surabaya, karakter masyarakatnya, ya, Anda harus masuk ke kampung-kampung. Di real estate Anda tidak akan menemukan budaya, karakter, serta kehidupan khas masyarakat Surabaya,” begitu penegasan Prof Johan Silas dalam berbagai kesempatan.

Jangan heran, Johan Silas begitu gelisah, dan marah, menyaksikan begitu banyak perumahan baru (real estat) tumbuh begitu pesat di Surabaya tanpa ada konsep yang jelas. Real estat berdiri begitu saja tanpa mempertimbangkan karakter masyarakat Surabaya dan budayanya. Ironisnya lagi, ada real estat yang sengaja menjiplak mentah-mentah luar negeri tanpa modifikasi sedikit pun.

“Sudah meniru, hasilnya malah lebih jelek. Apa yang bisa dibanggakan dari sini,” kata penulis beberapa buku seputar permukiman dan tata kota yang diterbitkan penerbit luar negeri itu.

“APA yang istimewa dari saya? Nggak ada. Apa yang saya lakukan itu, ya, biasa saja. Akademisi, ya, harus begitu itu. Melakukan penelitian, analisis, mempertimbangkan sebuah persoalan dari berbagai aspek,” tegas Johan Silas.

Begitulah. Kepeduliannya Johan Silas yang luar biasa untuk Kota Surabaya, kata Johan Silas di beberapa kesempatan, tidak lebih dari perannya sebagai orang kampus, akademisi. Kalangan perguruan tinggi ‘dari sononya’ memang banyak diharapkan untuk memberikan ‘sesuatu’ bagi masyarakat di lingkungan sekitar. ‘Sesuatu’ itu, tentu saja, bukan uang, harta, atau fasilitas, melainkan kajian-kajian ilmiah demi perbaikan kualitas hidup masyarakat. Orang kampus harus punya kontribusi bagi orang kampung! Jangan sampai, meminjam ungkapan Prof Nugroho Notosusanto, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, kampus menjadi menara gading di tengah-tengah masyarakat.

Lalu, kenapa Prof Johan Silas memilih menjadi pakar tata kota (planolog) yang sangat concern pada wong cilik, orang-orang kampung? Pria yang pindah dari Samarinda ke Surabaya pada 1950 itu mengaku agak sulit menjawab. Alasannya, ya, itu tadi, kebetulan dia merasa pas dengan dunia orang kampung. Tidak ada alasan yang terlalu khusus.

“Sama saja dengan bertanya kenapa si A jadi wartawan, si B jadi dokter, dan seterusnya. Saya kebetulan berkecimpung di sini. Jadi orang perguruan tinggi, ya, itu yang bisa saya berikan kepada masyarakat.”

Karena itu, sejak 1968 hingga sekarang Johan Silas tetap konsisten menekuni dunia ini--program perbaikan kampung--kendati di lapangan selalu ada kendala. Bagi Johan Silas, KIP sama sekali bukan proyek yang langsung selesai ketika masa ‘kontraknya’ habis. Boleh jadi, KIP alias pembenahan ‘kampung besar’ Surabaya (Kota Surabaya pada hakikatnya merupakan kumpulan kampung-kampung) telah menjadi panggilan hidup seorang Johan Silas.

Wali kota boleh saja gonta-ganti, begitu juga politisi di parlemen, serta kepala-kepala dinas, dan stafnya. Tapi Johan Silas jalan terus dengan program perbaikan kampung, KIP. “Saya tidak akan capek. Hidup ini menjadi lebih berwarna kalau ada yang bergiat di kampung, perguruan tinggi, dan sebagainya,” kata profesor yang paling tidak suka ditanya hal-hal pribadi seperti nama istri, anak-anak, dan seterusnya. [“Relevansinya apa? Kita fokus saja pada inti persoalan.”]

INGENIERO, si nos habian dado las ayudas y orientaciones cuando las necessitabamos..

.. Insinyur, kalau saja Anda membantu saat kami sangat membutuhkan keahlianmu!

Kata-kata ini, seperti ditulis Johan Silas di harian Surabaya Pos edisi 13 Mei 1990, merupakan keluhan warga kampung kumuh di Lima, ibukota Peru, menanggapi timbulnya kemelut perumahan buruk akibat perencanaan dan pembangunan kota yang dilakukan seenaknya saja.

Ungkapan ini, rupanya, sangat menantang Johan Silas, sebagai insinyur-arsitek-profesor, untuk memberikan sumbangsih nyata bagi Surabaya, kota yang didiaminya sejak usia 14. Dan, sebagai arsitek, tidak sulit bagi Johan Silas untuk melecak jejak KIP di Surabaya yang ternyata sudah ada sejak 1923. “Ini KIP pertama di Indonesia,” kata pria bertubuh langsing itu.

Menurut dia, KIP pada zaman Belanda ini sangat berbeda dengan KIP yang ikut digarapnya sejak Orde Baru sampai sekarang. KIP versi Belanda dibuat sebagai wujud politik etis yang dilancarkan kaum oposisi di parlemen Negeri Belanda. KIP ini untuk melindungi warga di dekat kampung yang umumnya warga Eropa dari bahaya epidemi.

“Orientasi KIP ketika itu hanya menangani aspek sanitasi kampung saja, amat bersahaja,” jelas konsultan beberapa pemda serta lembaga-lembaga internasioinal, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia itu.

Sedangkan ‘KIP baru’ (1968/69 sampai sekarang), urai Johan Silas, “membawa pembangunan sampai ke depan pintu penduduk yang paling miskin sekalipun”.

Pembangunan di sini tidak hanya fisik, tapi jauh lebih urgen adalah pembangunan manusianya. Mengapa demikian? Johan Silas selalu mengingatkan apa yang dikenal sebagai ‘sindrom Pareto’. Artinya, 80 persen hasil pembangunan terbaik hanya dinikmati 20 persen penduduk lapisan atas. Kesenjangan sosial ini sangat berbahaya karena bisa memicu kerawanan sosial.

Ditegaskan Johan Silas, prinsip dasar KIP tidak pernah berubah. Yakni, melayani penduduk di kampung agar terjadi proses ‘pengadaan’ perumahan yang memenuhi syarat. Mula-mula prioritasnya adalah lingkungan yang baik. Kemudian perumahan yang memenuhi syarat. Prasarana lingkungan yang baik. Dan, sejak 1990-an dilanjutkan dengan pembentukan lembaga masyarakat yang andal dan mandiri.

“Sama sekali salah anggapan bahwa KIP di Surabaya sudah rampung. Selama masih ada wong cilik di kota, selama itu pula KIP diperlukan,” tegas Johan Silas.

KERJA keras Johan Silas bersama tim serta Pemkot Surabaya (ini paling penting! Katanya) tidak sia-sia. Kota Surabaya beberapa kali meraih penghargaan nasional maupun internasional di bidang tata kota. Setelah berjalan 10 tahun lebih, pada 1980-an hingga 1990-an, Kota Surabaya memang panen penghargaan. Dan itu tak lepas dari peranan Prof Johan Silas.

Di tingkat nasional, Kota Surabaya menggondol penghargaan Adipura jadi langganan, 1988, 1989, 1990, 1991, 1992, serta beberapa lagi. Adipura Kencana! Pemkot mempekerjakan petugas kebersihan, diberi seragam warna kuning, dan dikenal dengan sebutan populer ‘pasukan kuning’. Istilah ‘pasukan kuning’ yang bermula di Surabaya ini kemudian menjadi semacam nama generik untuk petugas kebersihan di seluruh Indonesia.

Penghargaan untuk KIP pun cukup banyak. The Aga Khan Award for Architecture (1986). The Unep Award (1990). The World Habitat Award (1992) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Johan Silas mencatat beberapa lagi. Kampung Pandegiling ikut pameran Living in Cities (1983) di Jerman. Kampung Donorejo-Donokerto mewakili Indonesia dalam buku Tipologi Permukiman Khas di Asia Pasifik oleh UNESCAP (1984). Tahun 1988, Surabaya mendapat penghargaan Japan Housing Associations IYSH Matsuhita Award. Wow, banyak sekali!

“Kunci keberhasilannya, di samping sejarah dan budaya Surabaya memang berakar di kampung, seperti diungkap Babad Surabaya, harus dicatat pula besarnya perhatian dan usaha pejabat Pemerintah Kota Surabaya,” tegas Johan Silas.

Berkat kampung itu pula, pada 1990-an itu Surabaya tak henti-hentinya menjadi tujuan ‘studi banding’ negara-negara lain. Jadi, beda sekali dengan ‘studi banding’ versi parlemen atau pejabat kita setelah era Reformasi 1998. Di setiap studi banding, Johan Silas senantiasa berada di depan, memandu para tetamu asing itu untuk menikmati ‘wisata kampung’ di Surabaya.

Johan Silas mengaku gundah karena kedatangan tamu-tamu asing ke Surabaya ini kerap luput dari perhatian media massa lokal. Padahal, menurut arsitek dari ITS ini, studi banding ke kampung-kampung Surabaya itu berita besar yang layak muat. Kenapa tidak ada berita atau foto sama sekali?

"... mungkin karena mengikuti kaidah no news is good news, atau belum diarahkan oleh humas,’’ sindir Johan Silas dalam sebuah kolomnya di Surabaya Post, koran berpengaruh di Surabaya pada 1990-an.

SELAMA 30 tahun lebih terlibat di KIP Kota Surabaya, Johan Silas menemukan rahasia sukses program pembenahan kota ala KIP dan sejenisnya. Nomor satu, katanya, warga kampung itu sendiri. Maka, berbagai hadiah atau penghargaan yang diterima Kota Surabaya itu pada hakikatnya merupakan hadiah untuk warga. Bukan karena kehebatan insinyur/arsitek atau wali kota dan aparatnya.

Namun, Johan Silas mengingatkan bahwa peranan wali kota sangat vital dan menentukan. Johan Silas kemudian menunjuk Poernomo Kasidi, seorang dokter yang menjabat wali kota Surabaya pada 1990-an. Sosok Pak Poer, sapaan akrab Poernomo Kasidi, dinilai sebagai wali kota yang paling menghayati karakter masyarakat Surabaya, berikut berbagai persoalannya.

“Pak Poer itu sering masuk kampung secara diam-diam. Dia minum kopi sama warga kampung, bicara dari hati ke hati, khas arek Suroboyo. Jadi, dia tahu betul persoalan di Kota Surabaya,” ujar Johan Silas.

Kebiasaan blusukan ala Pak Poer ini yang jarang, bahkan hampir tidak pernah dilakukan, oleh wali kota penggantinya. Sebagai dokter, Johan Silas melihat Pak Poer benar-benar menggunakan sistem berpikir holistik ala dokter untuk membedah persoalan di Surabaya. Dokter itu, kata Johan, tidak sekadar mengobati gejala-gejala penyakit di permukaan saja.

“Sakitnya diobati, tapi dokter pasti mencari lebih jauh lagi apa sebenarnya penyebab dari suatu penyakit.”

Nah, pola pikir itu diterapkan Pak Poer saat menjabat wali kota. Kalau ada limpasan air (banjir), pemerintahan Pak Poer tidak sekadar sibuk menguras air dengan pompa atau solusi jangka pendek. Pengurasan memang penting, tapi tidak cukup sampai di situ. Menurut Johan Silas, Wali Kota Poernomo Kasidi meminta masukan dari pakar tata kota, lingkungan, dan pihak mana pun untuk menemukan biang keladi banjir, misalnya.

“Kalau diberi masukan, Pak Poer itu selalu dengar dan mau melaksanakan. Sebelum Pak Poer, seperti Pak Muhaji (Wijaya) juga didengarkan,” kata Johan Silas.

Karena itu, jika ada pengembang yang menggunakan lahan terlarang, izin langsung dicabut. Tidak ada kompromi. Daerah resapan air dipelihara. Sayang, setelah Pak Poer, kebijakan positif ini mulai hilang dari para wali kota yang baru. Yang ada hanya penanganan yang parsial belaka. “Hanya gejalanya yang diobati, seperti banjir, sampah, atau kemacetan. Akar persoalan tidak disentuh,” ujar Johan Silas, sedih.

Lebih buruk lagi, sambung dia, ada wali kota yang sebetulnya baik, polos, sederhana, tapi dikelilingi kawan-kawan dekatnya yang vested interest-nya tinggi. Mereka-mereka ini ibarat juru bisik, yang ‘memagari’ orang nomor satu di KMS (Kota Madya Surabaya, istilah lama untuk Kota Surabaya). Bisa ditebak, masukan-masukan akademis dari para pakar seperti Johan Silas cenderung diabaikan pak wali.

“Soal banjir, kemacetan, sampah, kita sudah berkali-kali membuat kajian. Tapi kalau tidak dilaksanakan, ya, susah,” ujar Johan Silas.

JOHAN Silas dikenal sebagai dosen yang enggan menggunakan telepon seluler (handphone, HP). Tapi, sejak 2005 lalu Johan sering terlihat membawa HP ke kampus, Fakultas Arsitektur ITS Surabaya. “Bisa minta nomor HP Bapak,” tanya saya.

“Sebaiknya jangan, karena saya jarang pakai. Lebih baik telepon saja ke rumah,” tegas Johan Silas. “Saya pakai HP ini juga karena dikasih sama orang Aceh. Sering off karena jarang digunakan,” tambah profesor yang ramah ini.

Ya, selepas bencana alam gempa bumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004, yang meluluhlantakkan kawasan itu, kesibukan Johan Silas bertambah lagi. Ia dipercaya menjadi konsultan pembangunan sebuah permukiman baru untuk korban tsunami di Aceh.

“Sekarang ini saya harus bolak-balik ke Aceh karena ada garapan di sana,” ujar insinyur lulusan teknik arsitektur Institut Teknologi Bandung, 1963, itu. Sesuai dengan filosofinya yang berorientasi pada wong cilik, kawasan permukiman baru di Aceh pun dibuat sedemikian rupa agar tidak membuat warga korban tsunami tidak merasa asing di lingkungannya sendiri.

Johan Silas memang orang sibuk, mobilitasnya tinggi. Namun, di sela-sela kesibukannya sebagai dosen, arsitek, penggiat KIP, Johan Silas masih menyempatkan diri untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan ‘tambahan’ di bidang sosial atau seni budaya.

Johan pernah memimpin BUSOS--majalah sosial, budaya yang dikenal dengan moto ‘kecil-kecil cabe rawit’--tapi kini sudah diambil alih Emannuel Subangun, mantan wartawan Kompas. Johan kerap diminta bicara di diskusi bersama komunitas seniman.

Last but not least, Johan Silas seorang penikmat musik klasik yang sangat apresiatif. Di setiap konser Surabaya Simphony Orchestra (SSO), Johan Silas selalu hadir manakala tidak ada aktivitas di luar kota. “Pak Johan Silas itu salah satu penikmat utama konser SSO,” kata Solomon Tong, pendiri sekaligus dirigen SSO.

BIODATA SINGKAT

Nama : Prof Ir Johan Silas
Lahir : Samarinda, 24 Mei 1936
Pendidikan : Jurusan Teknik Arsitektur ITB, 1963
Pekerjaan : pengajar, pendiri Jurusan Teknik Arsitektur ITS Surabaya. Tahun 1992 memperoleh gelar guru besar madya.

Pengetahuan tambahan tentang perumahan, permukiman, perkotaan, dan lingkungan diperoleh di Inggris, Belanda, Jepang, Prancis, dan Jerman. Program yang diikuti antara lain Housing in Urban Development (London, 1979), Housing, Building & Planning (Rotterdam, 1980), Cooperative Housing (Tokyo, 1984/1985), Comparative Study on Urban Anthropoloy (Prancis, 1986), Inner City Conservation (Berlin, 1987).

Menjadi konsultan sejumlah pemerintah daerah dan lembaga-lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia, dan sebagainya.

Ikut mengasuh beberapa majalah ilmiah di luar negeri seperti Sustainable Development, Urbanization & Environment. Anggota Komite Nasional Habitat Indonesia, lembaga profesi dan LSM tentang perumahan dan permukiman.

Menulis dalam buku yang terbit di luar negeri, antara lain, Readings on Community Participation (IBRS), Low Income Housing in Developing Countries (London), Land for Housing The Poor (AIT), Housing Policy and Practice in Asia, Methodology for Land Market and Housing Analysis (UCL London, 1993), Living and Working in Cities (HFB-Berlin, 1993).

Sejak 1974 menjadi penulis tetap di harian Surabaya Post serta beberapa media cetak daerah dan nasional. Aktif mengikuti diskusi, seminar, dan lokakarya di dalam dan luar negeri sebagai pembicara maupun peserta.

Gombloh seniman musik yang merakyat


Oleh LAMBERTUS HUREK

Almarhum Sujarwoto yang lebih populer dengan sapaan Gombloh merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara pasangan suami-istri Slamet dan Tatoekah. Pak Slamet bekerja sebagai pedagang ayam di Pasar Genteng, Surabaya. Setiap hari Slamet dengan tekun menjual ayam-ayam potong di pasar tradisional dalam kota tersebut.

Hasil berjualan ayam cukup lumayan untuk membiayai hidup keluarga. Bagi Pak Slamet, keenam anaknya harus bisa sekolah, setinggi mungkin, agar kelak bisa menjadi manusia yang punya masa depan cerah.

“Bapak tidak ingin anak-anaknya punya pendidikan pas-pasan kayak beliau,” ujar Sujarwati, anak bungsu, yang paling dekat dengan almarhum Gombloh.

Alhamdulillah, semua anak Pak Slamet ternyata dikaruniai kemampuan inteligensia di atas rata-rata. Tak heran, mereka semua bisa menempuh pendidikan di sekolah favorit atau unggulan di Surabaya pada masa itu. SMA Kompleks, yang favorit itu, bisa ditembus anak-anak Pak Slamet dengan mudah.

Bagaimana dengan Sujarwoto alias Gombloh? “Wah, dia itu otaknya encer sekali,” tutur Sujarwati. Maka, bisa dipahami Gombloh masuk SMAN 5 Surabaya dan lulus dengan nilai bagus.

Lulus SMAN 5, darah seni Gombloh yang selama bertahun-tahun dipendam tak bisa dibendung lagi. Pria kelahiran 14 Juli 1948 di Jombang ini tampaknya lebih memilih menjadi manusia bebas ketimbang harus kuliah seperti tiga kakaknya. Tapi, menurut Sujarwati, sang ayah tetap ingin anaknya itu kuliah demi masa depannya di kemudian hari.

Asal tahu saja, profesi seniman (penyanyi, pelukis, penari) dulu masih dianggap aneh oleh masyarakat. Seniman identik dengan pengamen yang tak punya masa depan.

Apa boleh buat, Gombloh pun terpaksa mendaftar ke Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya yang bergengsi itu. Berbeda dengan remaja lain, Gombloh tidak pernah ikut bimbingan tes, latihan soal, atau belajar. “Gombloh kok disuruh belajar,” kata Sujarwati seraya tertawa kecil.

Menurut si bungsu ini, Gombloh hanya melihat buku sepintas kilas--karena terus diawasi oleh ayahnya--pada menjelang ujian masuk di ITS. Hasilnya, Gombloh ternyata lulus, diterima di kampus ITS. Pak Slamet tentu senang, karena ini berarti anak-anaknya masuk perguruan tinggi bergengsi (kakak-kakak Gombloh lebih dulu kuliah di Universitas Airlangga). Dan, seperti di SD hingga SMA dulu, Pak Slamet tetap mengawasi anak-anak belajar pada malam hari sebelum tidur.

“Semua harus belajar. Bapak sendiri baca cerita silat Kho Ping Hoo,” tutur Sujarwati yang kini tinggal di kawasan Tanjung Perak, Surabaya.

Namanya juga tak punya niat kuliah di ITS, ‘kenakalan’ Gombloh makin menjadi. Dia sering bermain sandiwara untuk mengelabui Pak Slamet, ayahnya, seakan-akan dia berangkat kuliah di ITS, Sukolilo. Ternyata, sekitar pukul 10:00 WIB Gombloh kembali lagi ke rumah, dan tidur. Ulah Gombloh ini akhirnya ketahuan setelah Pak Slamet mendapat kiriman surat dari ITS. Di situ disebutkan bahwa Gombloh sudah terlalu banyak bolos kuliah, sehingga dapat peringatan keras.

Di saat itulah Gombloh ‘menghilang’ ke Bali untuk mengarungi petualangan sebagai seniman. Disiplin ketat, kuliah teratur, dapat titel dan pekerjaan bagus... ternyata tidak cocok untuk jiwa seorang Gombloh. Ia harus drop out (DO) di ITS hanya dalam satu semester.

GOMBLOH akhirnya menemukan dunianya yang asyik: main musik, jadi seniman bebas. Nama dan kiprahnya mulai dikenal di mana-mana. Bagaimana reaksi sang ayah, Pak Slamet? Biasa-biasa saja.

“Bapak tetap ingin anaknya kuliah, agar masa depannya lebih baik. Seniman itu apalah,” kata Sujarwati.

Sementara itu, adik Gombloh bernama Sujari sudah lulus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, sesuai dengan keinginan orang tua. Masa, Gombloh tidak ingin mengikuti saudara-saudaranya yang sudah sukses? Tapi dunia kesenian sudah sedemikian merasuki jiwa Gombloh.

Rekaman demi rekaman, manggung dari hotel ke hotel, ngamen sana-sini, pun dilakoni Gombloh alias Sujarwoto. Hasilnya lumayan. Gombloh sudah bisa mencari uang sendiri kendati dalam beberapa kesempatan ia masih minta uang pada saudaranya.

Bukankah Gombloh sudah mendapat bayaran yang lumayan sebagai penyanyi? Menurut Sujarwati, kakak kandungnya ini termasuk orang yang royal, suka menolong siapa saja tanpa pamrih, sehingga uangnya cepat habis. Ulahnya sering kali menggelikan dan bikin saudara-saudaranya geleng kepala.

Suatu ketika, cerita Sujarwati, Gombloh tiba-tiba menelepon dari Kalimantan. “Saya sakit keras, diopname di rumah sakit. Tolong segera kirim uang, tapi tidak perlu ke Kalimantan,” kata si Gombloh.

Keluarga di Surabaya pun kalang-kabut. Mereka pun urunan mengirim uang ke Kalimantan. Eh, uang itu ternyata dipakai untuk membiayai teman-temannya ke Surabaya. “Dia ikut ke Surabaya karena memang nggak sakit,” Sujarwati mengenang.

Di balik ‘kenakalannya’, Gombloh sangat mengasihi orang tua, khususnya Bu Tatoekah, sang ibunda. Gombloh pernah mengatakan bahwa ia akan mengurus sang ibu sampai tua hingga meninggal dunia. Benar saja. Ketika albumnya meledak di pasaran, Bu Tatoekah sakit keras sehingga harus dirawat di rumah sakit. Gombloh menginstruksikan agar sang ibu dirawat di rumah sakit terbaik, kelas VIP.

“Ibu tidak boleh menderita. Saya yang tanggung semua biaya rumah sakit,” kata Gombloh.

Begitulah, dedikasi Gombloh untuk ibunya memang luar biasa, sampai Bu Tatoekah meninggal dunia.


GOMBLOH telah tiada, namun kenangan manis dan pahit tentang sang seniman tak akan pernah hilang. Dan, kenangan itu kian membekas karena belakangan karya-karya Gombloh yang legendaris itu membuat saudara mereka mendapat berbagai penghargaan. Tahun 2005 saja, Sujarwati diundang dua kali ke Jakarta untuk menerima penghargaan sebagai wakil (ahli waris) Gombloh.

“Saya sangat terharu,” ujar Sujarwati. Karya-karya Gombloh pun beroleh royalti, dan itu bisa dinikmati oleh keluarganya.

“Bagi kami, royalti dari karya Mas Gombloh itu untuk diamalkan. Kalau ada keluarga yang paling membutuhkan, ya, dikasihkan ke dia,” kata Sujarwati.


KEBYAR-KEBYAR

Indonesia, merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu!

Indonesia, debar jantungku getar nadiku
berbaur dalang angan-anganmu
Kebyar-kebyar pelangi jingga....

Indonesia, nada laguku, simfoni berteduh
selaras dengan simfonimu
Kebyar-kebyar pelangi jingga....

[Biarpun bumi berguncang kau tetap Indonesiaku.
Andaikan matahari terbit dari barat, kau pun Indonesiaku.
Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan aku darimu.]

Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas
malang-malang tuntas denganmu.



YAH, Gombloh memang telah meninggalkan kita semua sejak 1988 lalu. Namun, almarhum mewarisi lagu ‘Kebyar-Kebyar’ sebagai pusaka berharga bukan hanya bagi warga Surabaya atau Jawa Timur, melainkan seluruh bangsa Indonesia.

Lagu ‘Kebyar-Kebyar’ belakangan bahkan dibanding-bandingkan dengan ‘Indonesia Raya’, national anthem karya WR Supratman, seniman pejuang yang dimakamkan di Surabaya. Ada yang bilang ‘Kebyar-Kebyar’ lebih heroik ketimbang ‘Indonesia Raya’.

Karena itu, tak berlebihan kalau musikus legendaris asal Surabaya itu menerima penghargaan ‘Nugraha Bhakti Musik Indonesia’ pada puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, 30 Maret 2005. menurut Iga Mawarni, Humas Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), ada 10 musikus yang menerima penghargaan bergengsi itu.

Para penerima ‘Nugraha Bhakti Musik Indonesia’ pada 2005 itu adalah Gombloh (alm), A Malik BZ (tokoh musik Melayu yang tinggal di Kureksari, Waru, Sidoarjo), Ki Narto Sabdo (alm), Harry Roesli (alm), Pupuk Norobe (penemu sasando), Agusli Taher (seniman tradisi Sumatera Barat), Kristian Tamaela (seniman tradisi Maluku), Khori Ali (seniman tradisi Sumatera Selatan), Nelwan Katuu (pengembang musik Kolintang asal Sulawesi Utara), dan Buya Han (seniman tradisi Maluku).

“Siapa sih yang nggak kenal Gombloh. Beliau itu pencipta lagu ‘Kebyar-Kebyar’ yang sudah dianggap sebagai lagu kebangsaan kedua setelah ‘Indonesia Raya’,” ujar Iga Mawarni yang dikenal sebagai penyanyi bernuansa jazz (jazzy) itu. Saat menentukan nominee, cerita Iga, praktis nama Gombloh langsung diterima oleh panitia Hari Musik Indonesia III.

Tak ada debat, apalagi perlawanan, karena nama Gombloh, berikut karya-karyanya memang sangat dikenal masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Ini tentu berbeda dengan sejumlah seniman tradisi yang hanya dikenal di komunitas daerah tertentu.

“Almarhum Gombloh itu sudah menjadi milik Indonesia. Jadi, bukan sekadar milik masyarakat Surabaya,” kata Iga Mawarni saat melakukan sosialisasi Hari Musik Indonesia--yang jatuh pada 9 Maret, bertepatan dengan hari lahir komponis WR Supratman--di Surabaya, awal Maret 2005.

SEBAGAI penyanyi sekaligus penulis lagu, Gombloh boleh dibilang cukup produktif. Ini dibuktikan dari delapan album yang ia rekam bersama Nirwana Record, Surabaya. Lagu-lagu karya Cak Gombloh rata-rata ‘slengekan’, spontan, ceplas-ceplos, liriknya banyak yang nakal alias urakan, tapi sangat merakyat.

“Dia benar-benar mewakili watak arek Suroboyo. Polos, apa adanya, semuanya keluar begitu saja dari hatinya. Tapi hatinya sangat baik,” kata Pardi Artin, gitaris dan salah satu teman main band almarhum Gombloh, yang tinggal di kawasan Kedungrukem, Surabaya.

Selain ‘Kebyar-Kebyar’ yang terkenal itu, lagu-lagu Gombloh yang dikenal publik musik Indonesia antara lain Kugadaikan Cintaku, Apel, Di Angan-Angan, Setengah Gila, Selamat Pagi Kotaku, Karena Iseng, Percayalah Cintaku Tetap Hangat, Gila, Semakin Gila, Sumirah, Okelah, Arjuna Cari Cinta, Hey Kamu, Berita Cuaca, Tari Kejang, Lepen, Skala, Konsumsi Cinta, Hong Wila Heng. Sebanyak 20 lagu terpopuler mendiang Gombloh ini terdokumentasi cukup rapi di album khusus berdurasi 90 menit (C-90) produksi Nirwana Record.

Dari judul-judul, apalagi lirik-lirik khasnya, rasanya sulit dipercaya kalau Gombloh masih sempat-sempatnya menulis lagu ‘Kebyar-Kebyar’ yang sangat heroik itu. Sebuah lagu yang nuansanya jauh berbeda dengan karya-karya lain. “Saya juga heran, kok beliau bisa membuat lagu sehebat itu,” ujar Pardi.

Sahabat akrab Gombloh ini belakangan membuat band khusus yang membawakan lagu-lagu tempo doeloe, khususnya lagu-lagu Gombloh dengan Lemon’s Tree-nya.

“Dari segi komposisi, Kebyar-Kebyar itu sebetulnya biasa saja. Tapi nuansa heroiknya itu yang sangat terasa. Kalau memainkan lagu itu, rasanya kita larut dalam semangat heroik, seperti maksud Cak Gombloh,” kata Toni Suwanto, drummer asli Surabaya, yang juga teman dekat almarhum Gombloh.

Baik Toni Suwanto, Pardi Artin, Rokhim, serta beberapa musisi sahabat dekat Gombloh mengaku tak pernah menyangka kalau lagu Kebyar-Kebyar menjadi begitu populer, apalagi dianggap sebagai ‘lagu kebangsaan’ tidak resmi. Gombloh sendiri pun tidak. Sebagai musisi kampung--begitu para seniman Surabaya ini menamakan dirinya--mereka hanya ‘mengamen’ dari kampung ke kampung, hotel ke hotel, atau panggung satu ke panggung lainnya.

Gombloh tidak punya pretensi macam-macam, selain menjadi diri sendiri. Menurut Pardi, sejak dulu Gombloh memang sudah berani tampil beda, dengan identitas dan karakter yang kuat. Rambut panjang, kacamata, topi, jaket.... Koleksi topi dan kacamata Gombloh cukup banyak kendati harganya, ya, biasa saja: khas koleksi orang kampung.

“Sederhana banget kayak kita-kita ini. Ketika namanya melambung di tanah air pun gayanya tidak berubah,” kata Rokhim, pemain bass yang pernah menemani Gombloh ‘ngamen’ dari hotel ke hotel di Bali pada awal 1970-an. Gombloh itu, kenang sehabat-sehabatnya, adalah trend setter, pencipta tren, bukan pengikut tren atau korban mode.

Gombloh, kendati sudah eksis di Kota Surabaya bersama band Lemon’s Tree, sebetulnya kurang dikenal di belantika musik nasional. Bisa dipahami karena itu tadi, karya-karya Gombloh, cenderung slengekan, sarat kritik sosial, dan itu bukan mainstream dalam industri musik pop Indonesia saat itu.

Entah dapat ilham dari mana, pada 1986 Gombloh menulis lagu Kugadaikan Cintaku. Ceritanya tentang kekecewaan seorang pemuda ketika memergoki pacarnya sedang bercumbu dengan pria lain saat apel malam Minggu. Apa boleh buat, si pria itu (Gombloh?) akhirnya ‘menggadaikan cintanya’. Lagu jenaka ini benar-benar meledak.

“Setelah Di Radio itu nama Gombloh benar-benar melambung. Rezekinya mengalir deras karena kaset Di Radio laku keras,” tutur Pardi Artun.

Toh, Gombloh tetaplah Gombloh, arek Suroboyo yang sederhana, tidak lupa daratan dengan popularitas yang melambung. Ketika ditawari hijrah ke Jakarta--agar bisa lebih terkenal lagi--Gombloh bergeming. Ia tak ingin didikte oleh cukong-cukong industri musik di Glodok, Jakarta.

“Saya kan orang Surabaya. Saya tidak boleh meninggalkan Surabaya karena saya komunitas saya di Surabaya,” ujar Gombloh seperti ditirukan teman-teman dekatnya. Maka, rekaman selanjutnya tetapia lakukan di Surabaya, tepatnya di dekat kawasan Tunjungan.

Ada yang menarik.

Ketika berproses di studio rekaman, para sahabat Gombloh dari lingkungan ‘marginal’ seperti pekerja seks di Gang Dolly dan sekitarnya ikut menyaksikan. Gombloh ibaratnya mendapat suntikan semangat dari sekian banyak PSK itu. Kenapa PSK?

“Dia dekat sekali dengan mereka. Ketika PSK dilecehkan masyarakat, dikejar-kejar, Gombloh justru menyapa mereka. Mungkin, karena itu, ketika Gombloh rekaman, gantian para PSK dari Dolly datang memberikan dukungan,” ujar Pardi Artin, serius.

Sebuah koran di Jawa Tengah mencatat sebuah adegan menarik tentang keakraban antara Gombloh dengan PSK binaannya.

“Gombloh itu manusia sangat merdeka. Pencinta rakyat kecil dan membaur dalam kehidupan mereka. Pernah honornya dibelikan ratusan BH, dibagi-bagikan di perkampungan prostitusi. Bayangkan, Gombloh naik becak dengan tumpukan keranjang BH. Dia sibuk melemparkan BH itu satu per satu ke setiap rumah prostitusi,” tulis surat kabar harian tersebut.

Seniman bernama asli SUJARWOTO ini memang murah hati. Ketika berada di puncak karier, rezeki mengalir berkat Kugadaikan Cintaku, Gombloh tidak mau melepaskan diri dari komunitas, teman-teman, serta warga kampungnya.

Ia tidak membeli rumah mewah di kawasan real estat yang mulai tumbuh di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota besar saat itu. Padahal, kalau mau, Gombloh mudah saja melakukannya. Posisi tawarnya sedang di puncak, sehingga ia bisa meminta rumah gedong, mobil mewah, serta fasilitas lain.

Yang paling berkesan bagi Pardi Artun, dan seniman-seniman Surabaya seangkatan, Gombloh senang mentraktir siapa saja yang ia temukan di kampung. Silakan makan apa saja--bakso, nasi goreng, bakmi, tahu tektek--Gombloh yang bayar. Buat Gombloh, rezeki harus dinikmati bersama, dibagi-bagi kepada teman serta sesama warga kampung.

“Sisi ini yang sulit saya lupakan dari Gombloh,” kata Pardi, tetangga dekat Gombloh saat aktif bermusik bersama di Surabaya dan sekitarnya.

Yah, Gombloh memang manusia sangat merdeka. Manajemen artis ala industri musik modern praktis tidak bisa dikenakan untuk seorang Gombloh. Dia senang bebas yang tetap berjiwa ‘wong cilik’, tak bisa keluar dari akarnya sebagai wong kampung. Bukankah Kota Surabaya ini, meminjam istilah Prof Johan Silas, tak lebih dari aglomerasi kampung-kampung? Dan itu membawa konsekuensi bagi Gombloh dan keluarganya.

Setelah Gombloh meninggal dunia pada 1988, sang seniman tak meninggalkan harta apa pun selain karya-karya musik serta kisah hidupnya yang eksentrik dan bersahaja. Lahir sebagai orang kampung, bermain musik secara otodidak bersama teman-temannya di kampung, sempat ngetop... akhirnya pergi untuk selamanya ala orang kampung.

“Dia memang seniman rakyat,” kata Pardi Artin.

Ada lagi catatan penting dari Pardi Artin. Menurut pemusik serba bisa ini, sejatinya si Gombloh tidak pernah benar-benar sehat. Tubuhnya yang kerempeng sudah dititipi penyakit macam-macam. Ditambah kebiasaan merokok yang sulit dihilangkan, fisik Gombloh setiap hari digerogoti kuman-kuman penyakit tersebut.

“Kalau bicara atau bersin, sering kali keluar darah. Dan itu sudah sangat lama,” Pardi mengenang.

Tapi Gombloh bukan tipe manusia yang mudah menyerah pada sakit-penyakit. Daya hidup yang luar biasa ini membuat Gombloh mampu memperpanjang masa baktinya di dunia. “Itu semua karena anugerah dari Allah. Sebab, kalau dipikir-pikir dengan logika biasa, melihat kondisi Gombloh seperti itu, kok dia bisa kuat? Dia main musik, menciptakan lagu, semua dalam kondisi yang tidak sehat-walafiat. Ini luar biasa,” kata Pardi dengan mata berkaca-kaca.

KOMUNITAS seniman Surabaya, dan warga Surabaya umumnya, sangat kehilangan Gombloh. Seniman sederhana yang dengan lantang, semangat, menyanyikan Kebyar-Kebyar, karyanya sendiri, di nada dasar D. Dengan kunci D, maka nada lagu ini sangat tinggi untuk masyarakat biasa, bahkan penyanyi profesional sekalipun. Orang tentu sulit melupakan almarhum Gombloh.

“Kita baru benar-benar merasakan betapa pentingnya Gombloh setelah beliau meninggal,” kata Djoko Lelono, pelukis dan penggiat seni rupa di Surabaya dan Sidoarjo. Maka, pada 1996 para seniman Surabaya secara spontan membentuk Slidaritas Seniman Surabaya.

Seniman apa saja (musik, rupa, tari, teater, tradisi) bersama-sama menggagas even untuk mengenang Gombloh di Surabaya. Ada sejumlah agenda kesenian dalam rangka menjadikan Gombloh sebagai Pahlawan Seniman Kota Surabaya. “Kita semua sepakat bahwa Gombloh itu pahlawan seniman,” ujar Djoko Lelono, yang waktu itu dipercaya sebagai Ketua Solidaritas Seniman Surabaya.

Nah, untuk mengikonkan Gombloh, Djoko (bersama Oto dan Didit) membuat patung Gombloh seberat 200 kilogram terbuat dari perunggu. “Kita garap selama enam bulan. Kita fokus benar untuk menghasilkan karya terbaik demi mengenang almarhum Gombloh,” ucap Djoko Lelono, yang lebih dikenal sebagai pelukis dan penggiat seni rupa itu.

Patung itu kemudian dipasang di halaman Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

“Sengaja di THR karena (dulu) THR itu salah satu pusat aktivitas kesenian di Kota Surabaya. Agar orang tahu bahwa Mas Gombloh itu seniman besar yang pernah dilahirkan Surabaya,” kata Djoko.

Bagi Djoko Lelono, dan para seniman Surabaya, Gombloh itu tak akan bisa hilang dari memori kolektif warga Surabaya, Jawa Timur, bahkan Indonesia. Bahkan, 100 tahun lagi pun Gombloh tetap akan dikenang oleh bangsa Indonesia. “Sebab, begitu orang mendengar atau menyanyikan lagu Kebyar-Kebyar, maka Gombloh akan hadir. Dia benar-benar pahlawan,” tegas Djoko.

Jumat, 20 Juni 2003.

Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya, komunitas musisi rock Surabaya, serta musisi lain nyekar ke makam Gombloh di Makam Umum Tembok, Surabaya. Mereka menyanyikan dua lagu karya Gombloh yang paling terkenal: Gebyar-Gebyar dan Berita Cuaca (Lestari Alamku). Dari atas makam Gombloh itu, para musisi jalanan menobatkan Gombloh sebagai Pahlawan Musisi Jalanan Surabaya.

Menurut Yus, koordinator rock se-Surabaya, acara nyekar ke makam almarhum Gombloh oleh musisi Surabaya ini sangat mengesankan, apalagi Gombloh adalah sosok musisi idealis. "Ide-idenya pun cukup didengar. Dan kami berpikir layak untuk menjaga idealisme Gombloh dalam bermusik," katanya.

BIODATA SINGKAT

- Nama lengkap : Sujarwoto alias Gombloh
- Tempat/tanggal lahir : Jombang, 14 Juli 1948
- Meninggal dunia : Surabaya, 9 Januari 1988
- Pendidikan : SMAN 5 Surabaya, ITS jurusan arsitektur (tidak selesai)
- Orang tua : Slamet dan Tatoekah
- Kekerabatan : Anak ke-4 dari enam saudara (Anwar Sujono, Siti Alifah, Askur Prayitno, Sujarwoto alias Gombloh, dr Sujari, Sujarwati)
- Alamat : Kebangsren I/48 Surabaya

08 April 2006

Mengenang Anita Susanti Jawa Pos


Di koran Jawa Pos edisi 6 April 2006 ada foto Anita Susanti bersama Pramoedya Ananta Toer. Ani, sahabat kita yang wartawan Jawa Pos, memang pengagum berat Pak Pram, novelis hebat Indonesia. Keduanya meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Melihat foto Ani dan Pak Pram itu, saya langsung teringat ‘Bukan Pasar Malam’, novel karya Pak Pram. Saya yakin, Ani pernah membaca novel tipis itu. Di situ Pak Pram melukiskan penderitaan hebat sang Ayah yang digerogoti TBC.

Kendati sangat menderita, tulis Pak Pram, Ayah tetap tegar. Tak ingin merepotkan orang lain. Ayah tetap berolah pikir, idealismenya bernyala, demi bangsanya.
“Engkau... tak perlu menunggu aku. Tidurlah,” kata Ayah.

“Dan terasalah olehku betapa gampangnya orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang--dengan diam-diam--menikmati kebahagiaan,” tulis Pak Pram.

Saya tak pernah tahu kalau Ani dalam dua tahun terakhir ini bertarung melawan ganasnya sel-sel kanker. Bagaimana tidak. Ani tak pernah memberi tahu teman-teman dekatnya. Lewat SMS Ani selalu bilang baik-baik saja. Mungkin, seperti si Ayah dalam novel Pak Pram, Ani tak ingin merepotkan orang lain. Ani tetap ceria, santun, mau bicara... tentang apa saja, khususnya seni dan sastra, dan bukan penyakitnya.

“Ani, are you okay?” begitu celetukan khas saya saat meliput bareng acara-acara seni budaya dan hiburan di Surabaya beberapa tahun lalu. Gadis Ponorogo kelahiran 27 Februari 1975 ini pun selalu menjawab, “Okay!”

Mungkin, seperti dikatakan Pak Pram, “Orang yang hidup dalam kesengsaraan kadang-kadang, dengan diam-diam, menikmati kebahagiaan.”

Ani sangat menikmati jurnalisme, dunia yang asyik, tapi keras. Karena itu, dia senantiasa mendalami objek liputannya secara detail. Ani bukan tipe wartawan instan yang hanya mengandalkan wawancara by phone, apalagi minta berita pada wartawan lain. Sudah lama ia mengkritik praktik ‘jurnalis copy-paste’, yang makin banyak pengikutnya di Indonesia saat ini.

Dengan copy-paste, si wartawan tak perlu capek-capek wawancara, turun ke lapangan, tapi cukup meng-copy paste berita dari temannya atau situs internet. Tanpa kerja keras, 'produktivitas' luar biasa.

“Bagaimana kita bisa menulis dengan baik kalau kita tidak pernah wawancara langsung, face to face meeting?” ujar Ani kepada saya.

Nah, suatu ketika kami meliput konser di kafe. Sampai di sana, tahulah saya bahwa Ani ini bukan sekadar peliput atau pengamat, melainkan penikmat. Dia tampak sangat enjoy, menikmati beat-beat musik yang menghentak, katakanlah dari The Groove.

“Lagu itu judulnya apa?” tanya teman wartawan.

Ani kemudian menggelar semacam ‘jumpa pers’ khusus untuk mendeskripsikan musik serta performance band yang baru saja diliput.

Tanpa pemahaman yang baik, papar Ani, maka wartawan hanya bisa menulis seputar gosip artis. Artis A pacaran dengan B, cerai dengan C, selingkuh dengan D, dipelet E, dan seterusnya. “Kalau sekadar nulis gosip, buat apa?” tegasnya.

Sikap ‘politik’ Anita Susanti ini tak lepas dari kegemarannya membaca buku. Saat kuliah di Universitas Jember, Ani mengaku menjadi pengunjung setia perpustakaan di Bumi Tegalboto itu. Selain buku-buku Pramoedya Ananta Toer alias Pak Pram, Ani gemar karya-karya Karl May.
Buku-buku lain, khususnya sastra, seni, budaya, selalu ia koleksi. “Belanja buku saya luar biasa. Membeli pakaian malah jarang,” ujarnya di Balai Pemuda, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Ketika dimutasi dari seni budaya--mutasi di Grup Jawa Pos tergolong sangat sering dan cepat--Ani tetap enjoy. Padahal, saya tahu, pos baru ini tak pernah ia bayangkan sama sekali. Kecewa?

“Oh, nggak. Kenapa kecewa? Kita harus enjoy meskipun ditempatkan di mana saja. Waktu yang akan bicara,” katanya, tegas. Justru di pos baru, yang tak ada hubungan dengan kesenian, Ani lebih intens menggeluti dunianya (seni, budaya, buku) lewat diskusi informal maupun di internet.

Kini, rekan Ani telah meningalkan kita.

Rasanya, bukan kebetulan kalau Ani menyusul Pak Pram, idolanya, hanya dalam tempo tiga hari. Ungkapan Pak Pram di ‘Bukan Pasar Malam’ kiranya layak untuk mengantar kepergian Ani dan Pram.

“... mengapa kita harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam.”

Selamat jalan Ani!

Selamat jalan Pak Pram!

07 April 2006

Belajar Menulis di Majalah Kunang-Kunang


Selain dua mingguan–kemudian berubah jadi mingguan–DIAN, sejak kecil kami, anak-anak SD di Lembata, Flores Timur, rutin membaca majalah KUNANG-KUNANG. Ini majalah bulanan anak-anak, bagian tak terpisahkan dari SKM Dian. Sama-sama milik Kongregasi SVD yang beralamat di Jalan Katedral 5 Ende, Flores.

Dilihat dari standar majalah anak-anak nasional masa sekarang, Kunang-Kunang boleh dikata masih sangat sederhana. Sampul warna, tapi isinya kertas koran. Tak segemerlap majalah/tabloid anak-anak zaman sekarang. Toh, bagi anak-anak kampung (tanpa listrik) macam saya, Kunang-Kunang merupakan majalah yang selalu ditunggu-tunggu.

Isinya cukup seru: dongeng, kisah-kisah fiksi, reportase, mirip tapi tak sama (menebak lima perbedaan dari dua gambar yang hampir sama, lalu karangan kecil. Ada juga surat dari Kak Emma, yang fotonya tak pernah ditayangkan. Saya duga, Kak Emma ini nama samaran dari redaksi Kunang-Kunang. Bisa laki-laki, bisa perempuan.

Saya selalu menunggu karangan kecil–cerita pendek satu alinea tulisan anak-anak SD–karena memang sering mengirim naskah ke redaksi Kunang-Kunang. Apa karangan saya dimuat? Hati selalu berdebar-debar setiap awal bulan ketika majalah anak-anak itu datang.

“Horeee… masuk,” teriak saya. Saya begitu gembira karena karangan kecil saya dimuat.

Diam-diam, pemuatan karangan kecil anak-anak SD di Kunang-Kunang menjadi perang urat saraf antar-SD di kecamatan kami, Ile Ape. Kalau karangan muridnya masuk Kunang-Kunang, ya dianggap hebat. Kalau karya teman dari SD kampung lain dimuat, sementara kita belum, maka kita didorong oleh guru-guru, termasuk bapak saya yang kepala sekolah, untuk bikin karangan lagi.

Saat sekolah di SMPK San Pankratio Larantuka, saya membuat tulisan panjang, masih cerita dongeng atau fiksi anak-anak, untuk Kunang-Kunang. Pakai tulisan tangan di sobekan buku tulis. Beberapa karya saya dimuat dua halaman. Saya senang luar biasa, apalagi dapat honor Rp 2.500 yang dikirim lewat wesel pos.

Inilah pertama kali saya mendapat ‘nafkah’ dari hasil tulisan di media massa.

Gara-gara Kunang-Kunang inilah, minat saya untuk menulis semakin terasah. Saya pertama kali membuat reportase ketika menulis kunjungan anak asrama Pankratio, Larantuka, ke Seminari Hokeng. Reportase ini sampai sekarang saya anggap sangat menarik karena berbentuk ‘features’, dan ditulis anak SMP kelas 2.

Lancar, mengalir, ada kutipan bagus, ada humor dari Rektor Seminari, deskripsi, sedikit opini pribadi. Saya membuka tulisan dengan kisah seorang Narcisismus yang memuja bayangannya sendiri di dalam air.

Sekarang, ketika saya menjadi redaktur di koran Radar Surabaya, Grup Jawa Pos. Saya sering kecewa melihat sebagian besar wartawan profesional, di berbagai media, ternyata belum bisa membuat tulisan features. Stright news melulu. Piramida terbalik melulu.

Features (atau boks) macam momok yang selalu dihindari wartawan-wartawan masa kini. Lha, kok kalah sama murid SMPK Pankratio di kampung terpencil pada era 1980-an? Hehehe…

Dari Kunang-Kunang, saya mencoba menulis di majalah anak-anak kelas nasional seperti Bobo, Hallo, Kuncung. Beberapa di antaranya dimuat, tapi jauh lebih banyak yang tidak dimuat. Sejak zaman dulu risiko penulis, ya begitu. Menulis banyak, yang dimuat sedikit.

Beda sekali dengan wartawan-wartawan muda masa kini. Sangat sedikit yang sejak awal hobinya menulis, tapi sekadar pekerjaan biasa. Roh tulisannya tak tampak. Minta berita atau kloning dari sana-sini tanpa rasa bersalah. Tulisannya sering jauh dari kriteria layak muat.

Redaktur macam saya terpaksa memuat juga karena tak ada features lain. Ketika tidak dimuat–karena kualitas jelek, di bawah standar layak muat–eh, si wartawan bersangkutan marah-marah. “Mas, kenapa nggak dimuat? Saya kan udah kerja capek-capek?” protes banyak reporter masa kini.

“Sekarang kita semakin sulit menemukan wartawan yang bisa menulis features bagus. Features yang benar-benar features,” ujar teman saya, redaktur features halaman satu koran terkenal di Surabaya.

“Wartawan-wartawan sekarang perlu kursus khusus buat features. Pasti ada yang salah di sistem rekrutmen,” tambah Jaka Mujiana, mantan wartawan senior Surabaya Post, yang kini menjadi pekerja budaya dan penulis buku di Surabaya.

Saya pun jadi teringat features pertama saya, tentang Seminari Hokeng, di Kunang-Kunang pada 1980-an. Saya tak pernah kursus jurnalisme, tak pernah dengar apa yang namanya ‘boks’ atau features, tak punya mesin tik, komputer belum ada, menulis pakai tangan…. Kok bisa bikin features panjang (dua halaman) di Kunang-Kunang?

Saya akhirnya sadar, ini semua talenta dari Tuhan.

Terima kasih untuk Kak Emma dan redaksi Kunang-Kunang saat itu.

MENULIS itu–termasuk di blog pribadi ini–adalah hobi atau kesenangan yang sulit ditinggalkan. Writtingis a part of my life. Saat kuliah di Universitas Jember, saya benar-benar produktif membuat tulisan di SKM Dian. Hampir tiap minggu tulisan saya dimuat, bisa 2-5 artikel/berita sekaligus. Saya yakin, pengalaman macam ini pun dirasakan teman-teman lain dari berbagai darah di NTT. Betapa Kunang-Kunang dan Dian (plus majalah HIDUP) telah berperan penting dalam membuka cakrawala pandangan masyarakat NTT pada umumnya.

“Orang-orang Flores dan Timor bukanlah pembaca. Belum suka membaca. Budayanya hampir murni lisan,” tulis Pastor Josef Koenigsmann SVD. Mantan pengajar STFT Ledalero itu menyebutkan, peranan media massa terbitan SVD–di antaranya Kunang-Kunang dan Dian–sedikit banyak membantu tumbuhnya budaya baca di NTT.

Sampai sekarang Kunang-Kunang masih terbit. Saya harap majalah kebanggaan Flobamora ini tetap mewarnai dunia anak-anak di Nusa Tenggara Timur. Tentu saja, isinya perlu disesuaikan dengan selera dan tuntuan zaman sekarang.