14 May 2005

Konser Ermy Kulit dan Eric Watson cs


Hajatan musik rutin persembahan UPTD Balai Pemuda, CCCL (Pusat Kebudayaan Prancis), dan harian RADAR Surabaya, Rabu (11/05/2005) malam agak lain dari biasanya. Penonton membeludak memenuhi ruangan, sehingga banyak yang berdiri dan terpaksa 'nguping' dari luar gedung. Ini rekor baru gelar musik jazz di Balai Pemuda.

Dari segi penampil (artis), ada kontras menarik. Ermy Kulit, vokalis jazz kawakan, dengan iringan C26 Jazz Club Surabaya. Kemudian kwartet Prancis-Jerman, yang terdiri dari Eric Watson (piano), Christof Lauer (saksofon), Sebastien Boisseau (kontrabas alias bas betot), dan Simon Goubert (drum). Sama-sama (mengaku) jazz, namun warnanya sungguh kontras.

"Kalau Ermy Kulit itu jazz Jowo, Eric Watson cs itu jazz Londo. Makanya, cara main dan lagu-lagunya berbeda. Kita kan nggak biasa dengar jazz Londo, sehingga nggak heran banyak penonton terpaksa pulang. Gak kuat," ujar Willy, penikmat jazz asal Sidoarjo, di sela-sela konser bagus ini.

Ermy Kulit, yang hijrah dari Manado ke Jakarta tahun 1973, tampaknya sadar benar audiens yang dihadapinya. Karena itu, Ermy hanya mau menampilkan lagu-lagu jazz ringan (smooth jazz) dari beberapa albumnya, termasuk album terbaru bersama Ireng Maulana All Stars. Dibuka dengan 'Pasrah', penonton praktis bernyanyi bersama-sama Ermy.

"Saya selalu terbantu dengan penonton, karena sebagian lagu saya minta dinyanyikan penonton," ujar artis kelahiran Manado, 13 Mei 1955 ini. (Oh, ya, kemarin Ermy Kulit merayakan ulang tahun ke-50, usia emas. Selamat ya, Mbak, semoga tetap eksis di blantika musik jazz Indonesia!) Disusul kemudian lagu-lagu dari album Sangaji Production, seperti Mama Aku Ada Tanya, Blueberry Hill's, Tak Ingin Sendiri, dan Kasih. Akrab, hangat, dan tak asing lagi.

Boleh dikata, nomor-nomor Ermy Kulit ini lebih pas disebut pop yang di-jazz-kan ketimbang jazz standar yang rumit. "Enak mendengarkan suara Mbak Ermy. Usianya sudah senior, tapi tetap mantap," bisik AH Thony, calon wakil walikota Surabaya, kepada saya.

Mengenakan busana santai, kaus oblong, topi, AH Thony rela terus berdiri sepanjang konser Ermy Kulit. "Nggak perlu duduk di kursi VIP, buat apa?" tukas calon wawali yang tak pernah absen dalam hajatan musik di Balai Pemuda itu.

Tibalah giliran Kwartet Eric Watson, grup jazz campuran Prancis-Jerman. Namanya juga 'jazz Londo', sejak awal kwartet ini sudah menunjukkan permainan yang dahsyat khas Eropa.

Mereka bukan tipe pe-jazz Negro-Amerika yang ngeblues, merintih-rintih, dalam alunan nada. Ini jazz Eropa yang pakai partitur--empat pemain membaca partitur selama pergelaran--tapi tetap menyisakan ruang untuk improvisasi. Christof Lauer (saksofon) mula-mula menjadi bintang utama di nomor 'Inroads'. Tiga pemusik lain terkesan mengalah, seakan-akan hanya band biasa yang mengiringi Lauer sebagai solis. Tapi tidak lama.

Setelah saksofonis ini beraksi sekitar 10 menit, tiga pemusik lain langsung 'gatal' tangan. Baik Eric (piano), Simon (drum), dan Sebastien (bas betot) langsung menimpali dengan permainan kelas dunia. Sebuah suguhan jazz dahsyat yang jarang disaksikan di Jawa Timur.

Namanya juga jazz, komposisi di partitur hanyalah bahan dasar untuk improvisasi masing-masing pemain. Begitulah, Simon, Sebastien, Eric, dan Christof kemudian tampil habis-habisan selama hampir dua jam. Penonton seakan-akan tak diberi kesempatan untuk menikmati nomor-nomor manis, sentimental, atau mendayu-dayu ala Ermy Kulit dan Ireng Maulana All Stars. Ini jazz Londo, Bung! Menggetarkan, meledak, membakar!

Malam itu kwartet Prancis-Jerman itu hanya menampilkan empat komposisi: Inroads, Road Runners, Road Movies, dan Hardware. Hanya empat nomor, namun penonton dibuat lebih dari puas karena komposisi Eric Watson dan kawan-kawan ini sangat panjang, minimal setengah jam Bandingkan dengan lagu pop Indonesia yang rata-rata 4-5 menit saja. "Kita bukan saja puas, tapi agak pusing karena jazz-nya benar-benar jazz," ujar seorang penikmat jazz pemula, yang masih mahasiswa.

Kenapa komposisi Eric Watson & Quartet ini banyak road-nya?

"Sebab, kami berempat ini selalu jalan-jalan ke berbagai negara. Habis main di Surabaya, tidak waktu lagi untuk istirahat. Besok (hari ini, red) kami sudah harus di Australia untuk main di sana," ujar Eric Watson usai konser. Pianis dengan teknik bermain 'aneh' ini (kepala dan badannya dimajukan melampaui tuts) mengaku puas dengan antusiasme penonton di Balai Pemuda Surabaya.

Apalagi, ketika saya beri tahu bahwa inilah konser jazz paling ramai dalam beberapa tahun terakhir ini di Kota Surabaya. "Oh, ya? Thank you, thank you," ujar Eric seraya menjabat tangan saya di ruang ganti Balai Pemuda.

Ia berharap, suatu ketika grup ini bisa tampil lagi menemui komunitas jazz Kota Surabaya. Oke, matur sembah nuwun Cak Eric lan Mbak Ermy!

06 May 2005

Konklaf untuk memilih Paus baru


Siapa pengganti Paus Yohanes Paulus II yang baru wafat pada 3 April 2005? Pertanyaan ini sulit dijawab. Hanya Tuhan yang tahu! Begitu ucapan para pemimpin Gereja Katolik, mulai dari pastor, uskup, hingga kardinal.

Sebab, para gembala umat Katolik ini sangat yakin bahwa Paus alias Bapa Suci alias Santo Bapa itu merupakan pilihan Tuhan sendiri. Kasak-kusuk boleh saja, tapi biasanya nama-nama yang sering dihembuskan media massa (umum) tak pernah berhasil menjadi Paus.

"Semuanya tergantung konklaf," jelas Romo Alex Susilo Wijaya SJ, pejabat Komisi Komunikasi Sosial KWI, kepada saya.

Konklaf (conclave, dari bahasa Latin artinya 'kunci') merupakan satu-satunya mekanisme untuk memilih Paus baru. Konklaf akan diikuti oleh semua Kardinal di seluruh dunia yang berusia di bawah 80 tahun. Indonesia kebetulan punya seorang Kardinal, yakni Kardinal Julius Darmaatmdja SJ, yang juga Uskup Agung Jakarta sekaligus ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

"Kardinal Darmaatmadja jelas berhak ikut konklaf di Vatikan," tutur pastor Jesuit ini.

Menurut catatan Romo Alex Susilo, saat ini di seluruh dunia ada 116 orang Kardinal yang berhak mengikuti 'sidang pemilihan Paus baru'. Biasanya, sidang konklaf ini digelar paling lambat pada hari ke-15 sesudah kematian Sri Paus. Romo Alex yakin, paling lambat 20 April 2005 mendatang konklaf sudah bisa diselenggarakan.

[Pemakaman Sri Paus sendiri, menurut tradisi dilakukan hari keempat atau keenam setelah kematian. Selama sembilan hari berturut-turut diadakan misa agung untuk
mendoakan almarhum Sri Paus sesuai dengan ketentuan Ordo Exsequiarum Romani Pontificis. Kecuali ada alasan khusus, pemakaman bisa molor dari ketentuan ini].

Kembali ke konklaf. Sesuai dengan arti harafiahnya, kunci, 116 Kardinal dari seluruh dunia ini dimasukkan ke ruangan khusus (Kapel Sistinus dan Kapel Domus Sanctae Marthae) yang dikunci dari luar. Peserta dilarang sama sekali berhubungan dengan pihak luar dengan media apa pun. Telepon, HP, pager, internet, radio, surat kabar, surat... singkatnya apa pun dilarang menembus ke ruangan konklaf.

"Para Kardinal itu dikarantina secara total. Tugas mereka hanya berdoa dan memilih Paus yang baru. Kalau belum terpilih Paus baru, ya, 116 orang itu tetap berada di dalam, dikunci dari luar," urai Alex Susilo.

Lalu, siapa yang berhak dipilih menjadi Sri Paus?

Menurut Alex, kriteria secara normatif sebetulnya sangat longgar. Siapa saja, asalkan Katolik, berpeluang menjadi Paus meskipun dia bukan pastor, uskup, atau Kardinal. Bisa jadi yang terpilih itu 'orang luar', bukan 116 Kardinal peserta konklaf.

Paus Urbanus VI (tahun 1378), misalnya, bukan Kardinal tapi terpilih sebagai Paus. Paus Gregorius XVI (1831) hanya pastor alias romo biasa. Paus Kalistus III (1455) bahkan umat biasa (awam), bukan romo. Tapi itu sejarah.

Di abad ke-20 ini kasus-kasus khusus macam itu jarang terjadi. Biasanya, kata Alex Susilo, Paus-Paus ini sebelumnya sudah menjabat pemimpin gereja lokal (Uskup) atau Kardinal. "Sekali lagi, konklaf ini tidak seperti pemilihan presiden yang bisa dianalisis. Selalu penuh dengan kejutan," ujar juru bicara KWI ini.

Yang jelas, selama ratusan tahun ada semacam 'tradisi' bahwa Paus berasal dari kardinal/uskup di negara Italia. Akan halnya Karol Wojtyla (asal Polandia), yang kemudian menjadi Paus Yohanes Paulus II, tercatat sebagai satu-satunya Paus yang berasal dari luar Italia. Latar belakang Paus yang hampir semuanya orang Italia kerap dianggap 'wajar' mengingat posisi Paus itu tak lain adalah Uskup Roma.

Sesuai dengan tradisi Katolik, status Uskup Roma (sebagai penerus Santo Petrus, Paus Pertama) merupakan primus inter pares alias pemimpin di antara para Uskup di seluruh dunia. "Tapi, kita lagi-lagi belum tahu apakah Paus mendatang orang Italia atau luar Italia seperti almarhum Yohanes Paulus II," jelas Romo Alex Wijaya panjang lebar.

Kapan proses konklaf selesai, lagi-lagi jawabannya tidak tentu. Bisa cepat, bisa sangat lama. Pada abad ke-13 proses konklaf ini bertele-tele karena tidak ada
kesepakatan di antara para Kardinal. Paus Innocentius IV, misalnya, terpilih dalam konklaf selama 1,5 tahun. Terpilihnya Paus Gregorius X, masih di abad ke-13, bahkan melalui konklaf selama 3,5 tahun. Bukan main!

Karena itulah, umat Katolik yang selalu berkumpul di Lapangan Santo Petrus setelah Paus meninggal dunia gregetan, tidak sabar. "Mereka mengunci para Kardinal dari luar supaya tidak bisa keluar sebelum ada Paus baru. Ini semacam tekanan agar peserta konklaf bisa mengangkat Paus yang baru. Kalau tidak begitu, mereka tidak mungkin bisa keluar dari ruangan bawah tanah," tutur Romo Alex.

Berdasar pengalaman, dalam tempo dua pekan hingga satu bulan saja Paus baru sudah terpilih. Yang jelas, selama konklaf berlangsung, umat Katolik di Italia (dan negara-negara lain) 'nyanggong' alias 'mengepung' lokasi sidang. Tapi, karena media komunikasi dalam bentuk apa pun diharamkan, komunikasi antara para Kardinal dengan umat dilakukan dengan 'bahasa asap'.

Di sana ada cerobong asap yang bisa dipantau masyarakat Italia dari luar. Manakala konklaf berlangsung alot, belum ada kesepakatan, maka yang keluar adalah asap hitam. Tapi, begitu para Kardinal seluruh dunia berhasil memilih Paus baru, maka yang muncul adalah asap putih. Nah, begitu asap putih tebal ini muncul di cerobong, jutaan umat Katolik di sana akan berteriak histeris:

"Viva il Papa! Viva il Papa! Viva il Papa!" atau 'Hidup Sri Paus! Hidup Sri Paus!"

Paus yang baru terpilih 'biasanya' (jadi, tidak harus) memilih nama baru. Kardinal Albino Luciani pada 1978 mengganti namanya menjadi Paus Yohanes Paulus I menggantikan Paus Paulus VI. Hanya menjabat satu bulan, Paus asal Italia itu meninggal dunia. Konklaf berlangsung lancar dan terpilih Kardinal Karol Wojtyla, yang mengganti namanya menjadi Yohanes Paulus II.

Akankah Paus baru nanti memakai nama Paus Yohanes Paulus III? Lagi-lagi, Romo Alex Susilo Wijaya SJ menjawab belum tentu.