19 January 2017

Terima Kasih Blackberry! Sayonara...

Blackberry (BBM) sudah kedaluwarsa. Ibarat wanita tua yang sudah tak dilirik kaum adam. Maka ponsel khusus BBM yang dulu harus antre untuk membeli dipensiunkan. Disimpan buat kenang-kenangan. Siapa tahu suatu saag jadi barang antik yang mahal.

Ponsel BBM saya resmi pensiun pada Desember 2016. Ini karena operator seluler langganan lawas itu tidak lagi melayani BBM. Apa boleh buat, saya harus mengistirahatkan ponsel hitam antik itu.

Grup-grup BBM sebelumnya sudah lama tutup. Grup untuk kerjaan di kantor pun tutup karena dianggap tidak efektif. Pakai WA aja. Soalnya BBM itu boros data, kata teman yang paham IT.

Bagi saya, ponsel khusus Blackberry ini punya arti yang khusus. Lewat HP itulah saya mulai belajar mengetik pakai dua jempol. Awalnya lambat tapi makin lama makin cepat. Makin mendekati kecepatan mengetik di laptop atau komputer biasa.

Sejak itulah saya mulai keasyikan dengan Blackberry dan mulai meninggalkan laptop. Laptop benar-benar jarang dipakai. Tapi untuk pekerjaan yang rumit dan makan waktu memang harus pakai laptop atau desktop (komputer biasa).

Teknologi ponsel rupanya berganti begitu cepat. Smartphone dan tablet berbasis android yang kita pakai sekarang pun sudah bukan lagi gadis remaja SMA tapi sudah lulus kuliah S1 dan S2. Di bawahnya sudah muncul gadis-gadis belasan tahun yang centil dan menggoda.

Lama-lama kita capek sendiri memburu gadis-gadis muda... eh HP anyar, yang fiturnya makin canggih dan buanyaak. Berbahagialah orang-orang di pelosok yang tak terjangkau sinyal seluler! Bisa hidup ayem tentrem terganggu rayuan produsen HP anyar.

Pidato menteri dibatasi 7 menit

Presiden Jokowi bikin kebijakan yang bagus untuk urusan pidato. Ia membatasi pidato menteri paling lama 7 menit. Tentu pejabat-pejabat lain juga perlu menyesuaikan. Ini bukan sekadar imbauan tapi ada semacam surat keputusan resminya.

Saya yang kurang suka pidato-pidato-pidato panjang (kecuali Bung Karno dan Gus Dur) sangat setuju gebrakan kecil Jokowi ini. Sebab banyak sekali pidato atau sambutan atau pengarahan dsb yang tidak berisi. Cuma omongan basa-basi aja.

Yang justru enak dikutip itu ketika sang pejabat bicara spontan. Tidak membaca teks yang biasanya disusun orang lain. Isinya klise, banyak jargon, tidak konkret. Sulit dijadikan berita. Makanya wartawan-wartawan biasanya tidak puas. Harus wawancara lagi agar pernyataan si pejabat lebih nendang.

Pidato di Indonesia sering bertele-tele karena salam dan pembukaannya terlalu panjang. Bagian isi malah tidak jelas. Data dan informasinya sangat kurang. Beda dengan pidato Bung Karno yang ditulis sendiri dan dirancang layaknya materi kuliah umum. Tapi ya tetap saja membosankan kalau sang proklamator ini berpidato pada 2017.

Sebelum ada kebijakan pidato maksimal 7 menit dari Presiden Jokowi, sebetulnya sudah ada menteri yang pidato-pidatonya selalu singkat dan enak. Siapakah dia? Dahlan Iskan.

Ketika masih jadi menteri BUMN, Pak Dahlan bahkan sering pidato singkat sesingkat-singkatnya. Mungkin tidak sampai 3 menit. Salam dan doa-doa pembukaannya pun tidak lama.

Suatu ketika Pak Dahlan yang menteri BUMN dan Menteri Pendidikan M Nuh membuka sebuah acara di Surabaya. Setelah sambutan ketua panitia, giliran Menteri Nuh pidato. Cukup panjang dan detail. Bicara tentang kualitas manusia dsb dsb.

Lalu giliran Pak Dahlan. Setelah assalamualaikum dsb, menteri BUMN ini berkata, "Pidato saya sama persis dengan Pak Nuh. Apa yang ingin saya sampaikan sudah disampaikan oleh Pak Nuh. Maka sekian saja pidato saya. Assalamualaikum...."

Ribuan masyarakat di Taman Surya bertepuk tangan dan tertawa riuh. Bukan main Pak Dahlan! Selalu punya ide dan action yang tidak terduga.

Kunjungan PM Jepang yang dingin

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe baru saja berkunjung ke Indonesia. Tak ada berita besar di media massa. Bahkan banyak koran yang tidak memuat berita atau foto lawatan orang penting dari negeri sakura itu.

Media kita lebih suka membahas harga lombok yang naik selangit. Atau kasus Ahok. Aksi-aksi FPI. Atau penangkap pelaku judi kelas teri di kampung-kampung. Jepang sudah tak penting?

Yang pasti, suasananya berbeda jauh dengan era 70an dan 80an yang masih alergi Jepang. Khususnya investasinya yang gila-gilaan. Bahkan sempat ada peristiwa Malari 74 ketika ribuan mahasiswa memprotes kunjungan PM Jepang. 

Disambut meriah atau tidak, PM Abe dan rombongan pasti senang bukan main melihat jalanan di Indonesia yang penuh dengan mobil dan motor made in Japan. Honda Yamaha Suzuki Toyota Daihatsu Nissan....

Mungkin PM Abe tak menyangka kendaraan buatan Jepang ternyata jauh lebih banyak ketimbang di negara asalnya. Saking berlimpahnya produksi, saat ini uang muka motor hampir tidak ada alias nol. Bisa dibayangkan 20 tahun lagi jalanan di tanah air seperti apa kalau kepemilikan kendaraan pribadi dibebaskan sebebas-bebasnya seperti sekarang.

Indonesia punya hubungan sejarah yang pahit dengan Belanda dan Jepang. Setelah merdeka, kita praktis memutus ikatan dengan negara bekas penjajah itu. Hubungan dengan Jepang tinggal urusan dagang semata. Dengan Belanda hampir tidak ada kecuali segelintir indo-indo yang merasa punya hubungan darah.

Beda banget dengan Malaysia misalnya yang memberi penghormatan istimewa kepada perdana menteri atau ratu atau pangeran Inggris yang berkunjung. Di Indonesia, kunjungan kepala negara/pemerintahan Jepang dan Belanda tak beda dengan Timor Leste atau Kamboja atau Filipina. 

18 January 2017

John Seme penyanyi top NTT

Tidak banyak penyanyi asal NTT yang mencuat di belantika musik pop nasional. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari. Dulu ada Obbie Messakh dan Ingrid Fernandez. Sekarang? Sepertinya tidak ada. Atau mungkin saya yang ketinggalan informasi tentang industri musik. 

Belum lama ini saya kebetulan mendengar suara JOHN SEME di ruang tunggu Bandara Juanda. Suaranya khas, melankolis, merdu dan bersih. Sedikit mirip Obbie Messakh yang sama-sama asli Rote, pulau kecil paling selatan NTT. Keduanya juga sama-sama pintar bikin lagu-lagu manis melankolis.

Bedanya, kalau Obbie ada suara sengau dan sedikit fals, John Seme ini merdu banget. Cocok dengan selera musik orang NTT yang memang suka lagu-lagu slow dan manis. 

Nah, lagu Langit Masih Biru John Seme mengingatkan saya pada bumi NTT, tempat kelahiran saya. "Enak sekali Bung," ujar seorang laki-laki menjawab pertanyaan saya mengapa dia begitu menikmati John Seme.

Padahal lagu LANGIT MASIH BIRU ini dirilis JK Records Jakarta pada 1993. Sudah lama sekali. Tapi masih disimpan di HP dan dinikmati sambil menunggu pesawat ke Kupang yang delayed cukup lama. "Orang kita memang cocok dengan lagu-lagu Obbie Messakh, Pance, John Seme," kata bung Thomas. 

Dia heran mengapa lagu-lagu koplo sangat digandrungi di Jawa, khususnya Jatim. Padahal musiknya kurang harmonis dan lebih memojokkan goyang erotis. "Beda selera Bung. Sebaliknya orang Jawa juga heran mengapa hari gini Bung masih putar John Seme. Hehe..," kata saya.

John Seme boleh dikata tidak dikenal di Jawa meskipun kaset-kasetnya dirilis JK Records yang waktu itu masih ngetop. Tapi di NTT bung John ini penyanyi top yang awet sampai sekarang. Selain pop manis, dia bikin rekaman lagu rohani  (gospel) dan lagu-lagu daerah NTT, khususnya Rote.

John Seme sempat kolaborasi dengan Obbie Messakh dan Deddy Dores, sesama penyanyi dan komposer sealiran. Ini juga sangat digemari orang NTT karena liriknya pakai bahasa Melayu Kupang. 

Syukurlah, di era internet ini rekaman-rekaman lama John Seme tersimpan di Youtube. Maka saya pun bisa menikmati lagu pop lawas itu. Sambil nyeruput kopi pahit sedikit gula!

LANGIT MASIH BIRU
Vokal: John Seme

Jangan buang air gula 
kalau memang kau tak suka 
Jangan buang air mata 
Hanya karena putus cinta 

Laut masih biru 
Langit masih tinggi 
Masih ada aku
Yang ada di sini

Janganlah kau simpan suka
Kenangan boleh kau simpan
Jangan lagi kau sesalkan
Cintamu yang kini hilang
Laut masih biru....

Jangan biarkan 
Yang lalu biarlah berlalu 
Jangan biarkan
Duka hatimu
Kini ku datang 
membawa cinta untukmu

Cintaku bukan cinta palsu
Cintaku hanyalah untukmu 

17 January 2017

Cabai rawit jadi isu politik

Cabai rawit jadi isu panas di Indonesia sekarang ini. Gara-gara cabai (lebih lazim ditulis CABE), ada mahasiswa yang meminta Jokowi dilengserkan karena dianggap tidak mampu mengendalikan harga cabai dan kebutuhan lainnnya.

Saya sendiri tidak suka cabai. Sambal yang pedas membuat perut saya mules. Karena itu, saya sih cuek aja ketika cabai (bahasa Lamaholot: SILI atau chili) melonjak tajam. Setiap hari ada berita di televisi, internet, radio, surat kabar tentang harga cabai yang di atas Rp 100 ribu.

Wow... mahal banget si cabai!

Solusinya apa? Tentu menggerojok cabai ke pasar. Tapi cabai bukan beras atau gula yang bisa disimpan berbulan-berbulan-bulan di gudang. Orang Indonesia, khususnya Jawa, membutuhkan cabai segar. Beda dengan sebagian orang NTT yang lebih suka cabai tepung kering.

Impor cabai juga belum tentu menjawab persoalan cabai. Menanam cabai pun butuh waktu lama. Sementara setiap menit orang butuh cabai untuk sambal atau bumbu masak.

Saya punya pengalaman pahit menanam cabai rawit dan cabai lain ketika mahasiswa. Sekaligus praktek lapangan budidaya pertanian. Harga cabai saat itu memang lagi bagus-bagusnya. Di atas kertas bisa dapat untung 200 persen.

Apa yang terjadi? Rupanya dalam waktu bersamaan banyak orang punya pikiran serupa: menyewa tanah untuk menanam cabai. Maka hasilnya sudah bisa ditebak. Panen sangat melimpah sehingga harga cabai hancur berantakan.

Boro-boro untung, balik modal saja tidak. Utang pun sulit dibayar. "Cabai itu memang pedes," kata teman saya Mas Budi yang modalnya paling banyak.

Sejak itu saya malas bicara cabai rawit, cabai hijau dsb. Selera makan cabai makin hilang meskipun saya hidup di tengah masyarakat yang doyan sambal pedes.

Di televisi, beberapa menit lalu, ada pengamat yang meminta masyarakat ramai-ramai menanam cabai. Kalau cuma menanam di lahan samping rumah yang sempit sih gak masalah. Tapi kalau menyewa sawah yang agak luas kayak saya dan teman-teman dulu ya... monggo mawon.

16 January 2017

Di radio warga marah dan ngamuk

Beda banget isi siaran radio sekarang dan dulu. Apalagi bagi kita yang sejak kecil aktif mendengarkan radio-radio swasta di kota. Sekarang ini radio-radio berlomba menyiarkan komentar dan pendapat masyarakat yang kritis, tajam, emosional. Kata-kata saru pun sering on air tanpa sensor.

Dulu saya tinggal di tengah Kota Malang. Ada tiga stasiun radio terkenal yang biasa saya datangi: Senaputra, TT 77, dan Immanuel. Ketiga radio Ngalam ini punya segmen pendengar berbeda. Corak musik, gaya penyiar, sound berbeda. Tapi semuanya sama-sama menyajikan hiburan yang memanjakan telinga. 

Radio Senaputra terkenal karena bung Ovan Tobing sangat piawai mengawal program musik rock, metal. Saat itu tidak ada internet. Majalah pun terbatas. Maka Senaputra jadi rujukan utama musik rock di Malang dan sekitarnya. 

Radio TT 77 lain dari lain. Musiknya dominan jazz dan blues. Lagu pop Indonesia pun cenderung ngejes macam Dian Permana Putra, Ermy Kullit, Karimata, Krakatau... Jangan harap ada lagu pop manis ala Dian Piesesha, Betharia Sonata, atau Tommy J Pisa diputar di radio yang berlokasi di samping sekolahan Santu Yusuf ini.

Radio Immanuel lebih ringan dan ngepop. Lagu-lagu Dian Piesesha, Obbie Messakh, Nike Ardilla, Nicky Astria dan sejenisnya punya tempat besar di Immanuel. Tiap akhir pekan ada tangga lagu pop macam ini. Betharia Sonata, Vina Panduwinata, sering jadi favorit. Tak lupa kirim lagu kirim salam....

Mendengar radio-radio lokal sambil membaca buku.. asyik banget. Apalagi sering ada lawakan ala Kartolo, Wono Kairun, hingga guyonan BOM di Radio KDS 8. Kita dibikin ketawa sendiri. 

Pagi ini saya putar beberapa radio di Surabaya. Isinya sebagian besar kritik masyarakat tentang apa saja. Saat menulis catatan ini Pak F lagi bahas jalan raya Surabaya-Gresik. 'Tiap hari saya menderita saat lewat di sana,' katanya. 

Ada lagi warga Taman Pinang Sidoarjo yang marah-marah karena perumahannya sering dipadati pedagang kaki lima. Dia heran pemerintah daerah cenderung membiarkan ratusan PKL berjualan di situ. 

Ada pula pengendara mobil yang melapor kemacetan di Aloha Gedangan. Banjir di beberapa kawasan. Tak ketinggalan bicara tentang unjuk rasa FPI, kasus Ahok, lombok mahal, dsb. 

Alunan musik yang membelai telinga makin jarang terdengar. Musik tidak lagi jadi menu utama tapi selingan. Yang dijual justru traffic report dan laporan para pendengar. Untunglah, sekarang ada Youtube yang menyediakan jutaan lagu.

Mungkin iklim demokrasi membuat rakyat berlomba-lomba mengkritik pemerintah, marah, maki-maki siapa saja. Beda dengan zaman Orde Baru yang tidak demokratis. Rakyat takut mengkritik penguasa, tidak berani membahas jalan rusak, banjir dsb. Rakyat dulu lebih suka menikmati musik, ludruk, atau sandiwara radio Mak Lampir atau Saur Sepuh.

Dulu ada lagu yang sangat ngetop:

''Di radio... aku dengar
lagu kesayanganmu
Kututupi telingaku
Dengan dua tanganku...''

Gelandangan tidur pulas di emperan

Setiap malam pria 40an tahun ini tidur di emperan bekas showroom Nissan di Sidoarjo. Nyenyak banget. Pagi tadi saya coba bangunkan... gak mempan.

Semalam hujan deras. Cuaca jauh lebih sejuk dari biasanya. Ini membuat orang itu makin menikmati tidurnya. 'Saya suka blusukan ke mana-mana,' ujar lelaki yang tidak mau menyebutkan namanya itu.

Dia bilang bisa tidur di mana saja. Emperan bangunan kosong cukup banyak. Peseban alun-alun luas dan bersih. Bisa hi-wifi pula. Kadang tidur di masjid. 'Saya cuma cari ketenangan. Di rumah saya justru tidak bisa tidur,' katanya.

Kita yang 'normal' sering merasa aneh melihat Pak X yang menggelandang ini. Mengapa tidak tidur di rumah? Kalau tidak punya gubuk, di Sidoarjo ada liponsos untuk menampung para tunawisma, pengemis dsb?

Orang ini pernah dicokok satpol PP dan dimasukkan ke liponsos. Tapi dasar pengelana, dia kembali ke jalanan. Tidur malam di emperan bekas showroom yang belum laku itu.

Malam sebelumnya, saya menikmati malam di sebuah vila mewah di kawasan Pacet Mojokerto. Udara sejuk, bersih, dengan sawah-sawah hijau di sekelilingnya. Sayang, malam itu saya sangat sulit tidur. Bagun pagi, jalan kaki ke permandian air panas, rasanya badan gak enak blass...

Begitulah. Ternyata vila bagus, hotel berbintang yang mahal... tak menjamin lelapnya tidur.

Rekor tidur siang lelap saya yang panjang, pukul 13.00 sampai 19.00, justru terjadi di sebuah gubuk bambu sederhana di kawasan Jolotundo Trawas. Ah... namanya aja wong kampung!

15 January 2017

Kata ABSEN yang salah kaprah

''Sudah absen belum?''

''Kalau gak absen, uang makannya dipotong lho!''

''X gak pernah absen. Makanya uang makannya gak ada!''

Begitu kata-kata yang hampir tiap hari kita dengar di lingkungan buruh, karyawan, PNS, bahkan anggota parlemen di pusat dan daerah. Begitu masuk kantor harus memasukkan sidik jari ke kotak elektronik kecil itu.

''Wartawan-wartawan dulu tidak pernah mengisi buku daftar hadir dan sejenisnya. Yang penting kita bikin berita banyak dan bagus. Percuma Anda rajin ngisi daftar hadir kalau beritamu cuma satu atau dua dan jelek semua,'' kata wartawan senior Peter Rohi.

Era Peter Rohi yang berjaya pada 70an dan 80an sudah lama berlalu. Reporter-reporter sekarang tidak bisa bebas blusukan kayak jurnalis lawas. Bung Peter yang bikin banyak koran itu sering meninggalkan newsroom berminggu-minggu. ''Tapi beta selalu setor berita HL halaman depan. Beta tidak akan setor berita yang ecek-ecek,'' ujar bung asal Pulau Sabu NTT itu.

Berita ecek-ecek itu kayak apa? Bung Peter tertawa kecil lalu menunjuk beberapa berita di koran lokal. Seperti bupati meresmikan projek A, senam bersama ibu-ibu, komunitas anggrek, judi togel dsb. ''Siapa yang baca berita ecek-ecek? Itu yang bikin koran tidak laku.''

Lalu? ''Bikinlah berita-berita investigasi. Investigative reporting. Ungkap kasus-kasus besar yang merugikan rakyat kecil. Kongkalikong pejabat dan pengusaha. Indepth reporting... Kalau cuma ecek-ecek ya cukup baca media sosial atau online,'' ujar Peter Rohi dengan gaya meledak-ledak.

Eitt... sudah melantur jauh.

Saya sebetulnya hanya ingin membahas kata ABSEN yang sering salah kaprah. Termasuk di kalangan karyawan yang semuanya lulusan strata satu. Di KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), seperti aslinya dalam English, ABSEN artinya tidak hadir. Mangkir.

Dulu di SD saya ingat tiga macam absen di kampung: SIA = sakit, izin, alpa. Sakit dan izin biasanya ada pemberitahuan kepada guru kelas. Alpa berarti tidak masuk tanpa menyampaikan alasan.

Lah.. kok ABSEN yang artinya tidak hadir jadi terbalik-balik di Indonesia? ABSEN dianggap sinonim dengan hadir. Dus, rajin absen artinya rajin mengisi daftar hadir elektronik atau buku tulis biasa. Hehe...

Namanya juga salah kaprah, kekeliruan mengartikan ABSEN ini sudah sangat meluas di masyarakat. Orang asing dipastikan bingung begitu mengetahui ABSEN ternyata sangat jauh maknanya dari bahasa Inggris.

Syukurlah, KBBI tidak ikut arus salah kaprah di masyarakat. KBBI mengartikan ABSEN dengan tidak masuk atau tidak hadir. ABSENSI ketidakhadiran. Sidang IN ABSENTIA sidang tanpa kehadiran terdakwa.

14 January 2017

Ahok masih di atas angin

Debat di televisi baru saja usai. Ahok kelihatannya tenang, santai, tahu masalah, dan bisa ngomong enak. Itulah enaknya petahana alias incumbent. Sudah tahu isi perutnya program-program pemerintah daerah.

Ahok juga punya kelebihan fasih lidah. Omongnya lancar, runtut, logikanya enak. Orang Tionghoa Belitong ini juga kemampuan mengingat angka-angka yang sangat teknis. Maka Ahok bisa menjawab pertanyaan apa pun dengan enak. 

Diserang soal penggusuran warga di pinggir sungai, tidak manusiawi, Ahok punya tangkisan yang jitu. Dia jawab dengan fakta bahwa sungai makin bersih, normalisasi sungai bisa jalan... dan ujung-ujungnya untuk mengatasi banjir yang kronis di Jakarta.

Jujur aja... sangat jarang ada pejabat yang punya kemampuan komplet macam Ahok. Banyak bupati atau wali kota atau gubernur yang bagus, tapi tidak bisa presentasi dengan lancar. Presiden Jokowi atau Presiden Megawati misalnya bukan tipe pembicara yang mengalir lancar. Ahok ini punya kecepatan berpikir plus kecepatan bicara. 

Agus Yudhoyono yang masih muda, belum pengalaman di politik atau birokrasi, kelihatannya berusaha menyerang petahana. Wajar dan harus begitu. Tapi Agus belum punya ketenangan dan kedalaman berpikir seperti bapaknya, SBY. 

Kelihatan sekali Agus masih emosional. Khas anak-anak muda yang tidak sabaran. 

Anies Baswedan pun fasih bicara dan punya ketenangan. Tapi dia bukan teknokrat yang biasa menangani hal-hal teknis. Anies lebih banyak bicara filosofi yang cenderung abstrak. Tapi saat debat kandidat gubernur DKI Jakarta ingin menunjukkan bahwa dia pun seorang eksekutor.

Berdasar pengalaman, debat di televisi tidak punya korelasi dengan keterpilihan. Di Jawa Timur lebih banyak calon bupati atau wali kota yang bicara tak lancar, tidak meyakinkan saat debat, justru menang. 

Saat debat wali kota Surabaya beberapa tahun lalu, calon dari jalur independen yang paling fasih berdebat dengan retorika yang mengundang tepuk tangan. Tapi perolehan suaranya justru paling sedikit. Pemenangnya Bu Risma.

Maka anggap saja debat Ahok vs Agus vs Anies ini sebagai hiburan di tengah harga cabai yang makin pedas ini. Di Sidoarjo cabai satu kilogram sudah Rp 90 ribu.

13 January 2017

Buruh Tiongkok vs TKI Ilegal

Isu tenaga kerja asal Tiongkok makin heboh akhir-akhir ini. Di media sosial banyak orang yang asbun, asal bunyi, tanpa verifikasi. Seakan-akan wong cungkuo itu merebut peluang kerja orang Indonesia.

Tiongkok yang dulu lebih miskin dari Indonesia kini menjadi salah satu kampiun ekonomi dunia. Produksinya berlimpah. Mesin-mesinnya dikirim ke seluruh dunia. Tentu saja pengusaha-pengusaha kita membutuhkan beberapa teknisi Tiongkok untuk operator mesin.

Itu pun hanya tahap asal saja. Setelah itu dihanti pekerja lokal. Yang jadi masalah kalau buruh-buruh kasar Tiongkok juga diselundupkan ke Indonesia. Namanya juga cari makan. Itu mah urusan imigrasi, dinas tenaga kerja, aparat keamanan.

Kok bisa lolos? Jangan-jangan ada oknum yang bermain? Sayang, banyak pengamat di Indonesia malah ngomporin rakyat dengan memainkan isu SARA. Salah satunya Dr Sri Bintang Pamungkas yang sedang berurusan dengan polisi karena dugaan kasus makar. Analisisnya melebar terlalu jauh, ke zaman Kertanegara segala.

Warga Tionghoa di Indonesia yang tak punya kaitan dengan orang Tiongkok dibuat ketar-ketir. Apalagi ada kasus Ahok yang panas di Jakarta. Di Sidoarjo yang punya ribuan pabrik, pekerja asal Tiongkok masih normal. Cuma ada 5 atau 7 orang yang menyalahgunakan visa dan dokumen lainnya.

Bicara soal WNA Tiongkok atau negara lain yang masuk ke Indonesia secara ilegal, saya dari dulu menganggapnya biasa aja di era globalisasi. Sejak dulu orang nekat masuk ke negara mana pun untuk mencari nafkah.

Kalau mau fair, orang Indonesia yang menjadi pendatang haram di Malaysia jauh lebih banyak. Bukan puluhan atau ratusan, tapi ribuan. Dulu sebagian besar warga NTT yang merantau di Malaysia - paling banyak di Sabah - tidak punya surat-surat imigrasi. Paspor tak ada. Visa tak. KTP pun banyak yang tak punya. Modalnya cuma nekat dan kebiasaan. Orang-orang lama sudah tahulah celah-celah menembus imigresyen jiran itu.

TKI ilegal di Timur Tengah juga buanyaak. Jauh lebih banyak ketimbang total warga Tiongkok yang bekerja di Indonesia. Lah... kok kita ribut dengan wong Tiongkok? Itu mah urusan kecil. Tangkap dan deportasi... beres!

Yang bikin saya gumun itu: kok Tiongkok yang komunis, tak kenal demokrasi, cenderung ateis... bisa jadi negara maju dengan fresh money berlimpah? Bisa menyulap kampung-kampung-kampung kumuh menjadi kota modern dalam waktu kurang dari 30 tahun? Kok Indonesia masih begini-begini aja?

Malah belakangan kita lebih rajin bertengkar soal agama, ras, kelompok, golongan... dan lupa membahas cara membuat Indonesia jadi makmur. Energi kita tersedot ke FPI dan ormas-ormas radikal, fatwa-fatwa agama, dan masalah tetek bengek.

Jangan kaget kalau negara-negara yang baru lepas dari jerat perang saudara kayak Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar melesat meninggalkan Indonesia. Jangan-jangan kita malah dikalahkan Timor Leste!

Pabrik Sepatu PT Salim Brothers di Sedati tutup

Sudah tiga bulan ini puluhan buruh pabrik sepatu PT Salim Brothers di Sedati Sidoarjo berkemah di pinggir jalan raya. Persis di depan pabrik. Hujan panas tak membuat para buruh yang kebanyakan wanita itu bubar.

Ada kompor gas dan peralatan masak. Sampai kapan unjuk rasa nginap itu? "Sampai hak-hak kami dipenuhi majikan," ujar seorang buruh pria.

Pabrik sepatu yang cukup terkenal itu praktis tutup total. Ada yang bilang mau relokasi ke kota lain di Jatim yang upah minimumnya lebih rendah ketimbang Sidoarjo. UMK Sidoarjo yang masuk ring 1 bersama Surabaya dan Gresik dianggap terlalu mahal: Rp 3,2 juta.

Namanya juga unjuk rasa, spanduk-spanduk di pinggir jalan berisi kecaman terhadap pengusaha. Intinya buruh minta pesangon segera dibayar. "Jangan biarkan kami keleleran. Kami kan sudah kerja bertahun-tahun," ujar buruh 40an tahun.

Sebagai kota industri, kasus macam PT Salim Brothers ini sebetulnya cukup banyak. Para pengusaha besar, pemilik pabrik, mengalami kesulitan dalam 10 tahun terakhir. Banyak pabrik yang mengurangi pekerja, relokasi, bahkan tutup.

Pabrik Philips yang besar itu, di Berbek Industri Waru, bahkan sudah pindah ke Vietnam. Ribuan buruh kehilangan pekerjaan. Ada lagi pabrik-pabrik lain yang lesu darah.

Salah siapa? Ada apa dengan industri kita? Masih gelap. Yang pasti, UMK yang naik terus setiap tahun sudah sering dikeluhkan bos-bos pabrik. Para laopan ini sering membandingkan produktivitas buruh kita dengan buruh di negara-negara lain.

"Jujur aja satu buruh di Tiongkok bisa menghasilkan produk lima kali lebih banyak ketimbang buruh Indonesia," ujar Pak Han pengusaha Tionghoa muslim yang sering jalan-jalan ke Tiongkok.