22 February 2017

Baba Ahok kini underdog

Blunder Baba Ahok di Pulau Seribu benar-benar dimanfaatkan Anies Baswedan untuk menyalip di tikungan. Perolehan suara Ahok kemarin masih terbanyak tapi tidak sampai 50 persen. Pilgub DKI Jakarta pun harus diulang di putaran kedua pada 19 April 2017.

Nasi sudah jadi bubur. Baba Ahok yang mestinya menang satu putaran kini harus menghadapi cabaran yang berat. Dengan posisi yang seimbang maka suara pendukung Agus SBY yang 17 persen yang bakal menentukan pemenang pilgub Jakarta.

Di atas kertas boleh dikata sebagian besar pemilih Agus condong ke Anies. Apalagi melihat aksi berbalas pendapat kubu SBY dan Jokowi akhir-akhir ini. Bagaimanapun juga Ahok itu diusung PDIP yang punya kaitan dengan Jokowi.

Kalau analisis di atas kertas itu terwujud di lapangan, ya Anies bisa dipastikan menang dengan selisih 5-7 persen. Bisa saja Ahok mengambil suara pemilih yang kemarin belum sempat nyoblos. Tapi jumlahnya tidak banyak. Dan tidak semuanya pendukung Ahok.

Satu-satunya jalan ya meyakinkan pemilih Agus SBY tadi. Mungkinkah itu? Dalam politik apa saja mungkin. Siapa yang menyangka seorang Anies yang dulu tangan kanan Jokowi, menterinya Jokowi, merapat ke Prawobo? Siapa sangka Anies yang orang Paramadina bergandengan tangan dengan Rizieq pimpinan FPI?

Begitulah. Politik bukan matematika meskipun bisa diramalkan berdasar peta sosial budaya ekonomi dsb. Kita yang berada di luar Jakarta hanya berharap Jakarta dan negara ini tetap aman dan damai.

20 February 2017

Baba Tionghoa menang lagi di Lembata



Pemilihan bupati di Lembata NTT sudah selesai. Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU, pasangan Yenci Sunur dan Thomas Ola Langoday bisa dipastikan menang. Baba Sunur yang peranakan Tionghoa masih terlalu tangguh buat empat pasangan lainnya.

Viktor Mado Watun mantan bupati rupanya harus puas di posisi ketiga. Padahal politisi asal Atawatung Ileape ini didukung penuh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, sesama kader PDI Perjuangan. Klaim tim sukses Viktor Mado pun terpatahkan.

Di mana-mana yang namanya petahana (incumbent) memang sulit dikalahkan. Kecuali dia melakukan tindak pidana kelas berat macam korupsi, jadi bandar narkoba atau otak pembunuhan. Kalau cuma salah ngomong, tidak menjaga lidah macam Ahok di Jakarta ya tidak begitu berpengaruh pada hasil pemilihan

Selama lima tahun menjabat bupati Lembata, Baba Sunur ini sering digoyang oleh lawan-lawan politiknya. Begitu banyak tuduhan miring terhadap baba yang lebih banyak menghabiskan umur di Jakarta dan Bekasi itu. Malah ada orang (anonim) yang bikin website khusus di internet untuk menyerang Baba Sunur.

Tapi buktinya baba yang kabarnya punya leluhur di Kedang ini tetap saja sakti. Lawan-lawannya justru kelelahan sendiri. Bukannya bersatu untuk maju menghadapi Baba Sunur, para politisi Lembata ini rame-rame keroyok Sunur di pilkada 15 Februari 2015.

Bayangkan, Kabupaten Lembata yang kecil itu (dulu gabung Flores Timur) punya lima pasangan calon. Yang menarik, 4 pasangan punya cabup atau cawabup asal Ile Ape, kecamatan asal saya. Bahkan ada satu desa (Atawatung) yang punya dua calon bupati: Viktor Mado Watun dan Lukas Witak.

Lah, bagaimana suara rakyat tidak terpecah ke banyak pasasangan kalau yang maju begitu banyak? Apalagi Baba Sunur yang ahli strategi menggandeng orang Ile Ape, Thomas Ola Langoday, sebagai calon wakil bupati.

Maka perbedaan dukungan pun terlihat nyata. Erni di Lamahora memilih Viktor Mado, sementara suaminya mencoblos Baba Sunur. Orang Ile Ape malah banyak yang memberikan suara untuk calon bupati yang Tionghoa. ''Kita kan bebas memilih,'' ujar Siba asal Ile Ape yang senang Baba Sunur.

Leo Larantukan, pengamat politik NTT, mengatakan kemenangan Marianus Sae di Ngada, Baba Sunur di Lembata dan AG Hadjon di Flores Timur punya pola yang sama. Selain memainkan isu daerah, mereka sangat rajin mengunjungi bapa-mama petani kecil di kampung-kampung pelosok.

''Duduk makan sirih pinang bersama, Ja'i, Sole, dan Dolo bersama. Sehingga berkali-kali demo kepada Marianus dan Yenci Sunur, oleh kebanyakan orang kampung dianggap sebagai permainan para elit semata,'' ujar teman lama yang asli Waibalun Flores Timur itu.

Kemenangan kedua Baba Sunur di Lembata ini juga menunjukkan bahwa politik SARA tidak efektif di Indonesia. Orang-orang sederhana di Lembata tidak lagi berkutat dengan isu lama TITEN NIMUN (putra daerah, pribumi, orang kita) tapi sudah sangat rasional.

''Saya heran mengapa Baba Sunur dapat suara banyak dari Ile Ape. Padahal orang Ile Ape sendiri ada dua orang yang jadi calon bupati,'' ujar Siba.

13 February 2017

Komperta dan geliat kesenian di Sidoarjo

Teman-teman seniman Sidoarjo sempat loyo setelah diterjang lumpur Lapindo akhir Mei 2006. Apalagi cukup banyak seniman yang tinggal di daerah terdampak lumpur. Beberapa seniman senior yang biasa menggerakkan kesenian di Sidoarjo macam Eyang Thalib, Bambang Thelo, Eyang Bete meninggal dunia.

Bung Yasluck ketua dewan kesenian juga wafat. Pelukis Djoko Lelono Stefanus juga meninggal mendadak. Maka 10 tahun ini hampir tidak ada pemeran lukisan atau pertunjukan kesenian yang besar. Ada satu dua kegiatan seni tapi cuma percikan-percikan kecil.

Syukurlah, dua tahun ini sudah ada geliat kesenian, khususnya seni rupa. Teman-teman pelukis muda bikin Komperta : Komunitas Perupa Delta. Dipimpin Antonius Juniarto Dwi Nugroho, seniman Komperta rajin blusukan ke berbagai kawasan Sidoarjo untuk OTS.

OTS iku opo? ''On the spot. Melukis langsung di lokasi,'' ujar Juniarto yang juga guru seni rupa. OTS ini juga sekaligus mengangkat candi-candi dan tempat wisata di Kabupaten Sidoarjo.

Lama-lama OTS jadi agenda rutin seniman Sidoarjo plus Surabaya dan kota-kota sekitar. Lama-lama lukisan jadi banyak. Lama-lama ada gairah untuk bikin pameran. Jujur aja... Komperta inilah yang sekarang jadi motor penggerak kesenian di Sidoarjo.

Komunitas-komunitas lain pun ikut terprovokasi untuk bangkit lagi. Komunitas Sketsapora makin aktif. Bumbu Pawon yang dimotori Rojib alias Mbah Bey juga makin kenceng. Bung Santoso juga aktif mendampingi perupa-perupa muda.

Pasar Seni di Pondok Mutiara pun hidup lagi setelah mati suri cukup lama. Komunitasnya Jansen Jasien di Krian juga menghidupkan gedung Lokaphala yang mangkrak itu.

Saat ini dua komunitas perupa lagi bikin pameran dalam waktu bersamaan. Komperta gelar pameran bersama dengan tajuk Among Karsa di Taman Budaya Jatim, Gentengkali Surabaya. Ada 21 pelukis Sidoarjo plus Surabaya dan sekitar ikut bergabung. Masing-masing pelukis dibatasi 2 karya.

Luar biasa! Karena itu, saya gembira ketika diminta Mas Juniarto ketua Komperta untuk menyumbang tulisan di katalog Among Karsa. Saya sampaikan apresiasi kepada Komperta yang kembali memanaskan mesin kesenian di Sidoarjo yang macet sangat lama.

Saya juga salut dengan Cak Amdo yang menghidupkan kembali pasar seni yang tidur lama itu. Apalagi kemarin Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan beberapa pejabat penting hadir untuk membuka pameran lukisan bertema lingkungan itu.


12 February 2017

Nasi jagung murah di Tanggulangin



Hampir tidak ada orang Sidoarjo yang makan nasi jagung. Apalagi yang menanam jagung. Kecuali beberapa penduduk Kecamatan Jabon di pinggir selatan Sungai Porong. Itu pun cuma sekadar memanfaatkan bantaran sungai yang kosong.

Makanya kita sangat kesulitan mencari warung yang jualan nasi jagung. Orang NTT yang pernah menghabiskan masa kecil dengan makan nasi jagung setiap hari biasanya kangen makanan wong cilik itu. Dulu ada PKL yang buka lapak di luar Stadion Gelora Delta. Tapi belakangan saya tak menemui ibu itu.

Eh, pagi ini saya tidak sengaja berjumpa dengan nasi jagung di pinggir jalan raya Tanggulangin. Harganya cuma Rp 3500. Mana ada nasi bungkus di bawah Rp 5000 di Sidoarjo dan Surabaya?

''Nasi jagung itu punya penggemar khusus,'' ujar mas pemilik warkop yang doyan lagu2 dangdut koplonya si Shodiq kriwul itu.

Maka sambil nunut nyetrum HP, saya menikmati nasi jagung yang lezat. Pake iwak asin. Teh tawar. Total tidak sampai Rp 5000. Malah dapat bonus nonton video konser dangdut koplo Monata plus internet gratis plus nyetrum ponsel.

Seandainya orang Indonesia, khususnya NTT, makan nasi jagung melulu, biaya konsumsi bisa ditekan banyak. Tak sampai Rp 500 ribu sebulan per mulut. Kalau masak sendiri pasti lebih murah lagi.


11 February 2017

Homili Minggu Ini Bahas KAFIR



Matius 5 : 22
''Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.''

''But I say to you, whoever is angry with his brother will be liable to judgment, and whoever says to his brother, 'Raqa,' will be answerable to the Sanhedrin, and whoever says, 'You fool,' will be liable to fiery Gehenna.''

Minggu ini umat Katolik di seluruh dunia membahas tema ini: marah, kafir, perzinaan, sumpah dsb. Yang aktual hari2 ini, di tengah suhu politik yang panas, adalah KAFIR.

Siapa yang KAFIR? Definisinya apa kafir itu? Apakah orang yang berbeda agama itu kafir? Yang agamanya sama2 kristiani tapi beda aliran gereja bagaimana? Kafir kah?

Kalau mengacu pada ucapan Yesus Kristus yang dibahas di gereja2 Minggu ini, Minggu VI Masa Biasa, maka kata KAFIR harus dicoret dari kamus rohani kristiani. Kita tidak berhak menyebut siapa pun KAFIR atau RAQA dan kata2 sinonimnya.

''Siapa yang menyebut sesamanya KAFIR harus dihadapkan ke mahkamah agama,'' begitu peringatan Gusti Yesus.

Sayang, di era media sosial ini, di Indonesia, kata KAFIR mengalami inflasi luar biasa. Begitu mudah orang mencap sesama manusia dengan kafir kafir kafir...

Kata KAFIR ini kayaknya lebih cocok dikenakan pada para koruptor pencuri uang rakyat. Siapa pun orangnya, apa pun agama dan jabatannya, kalau korupsi ya kafir. Alias ingkar dari amanat rakyat. Menteri agama sekalipun yang hafal kitab suci, kalau korupsi ya kafir. Hakim konstitusi yang korupsi? Sama aja kafirnya. Begitu.

07 February 2017

Norma di ruang pengadilan memang beda

Dialog antara Ahok (plus penasihat hukumnya) dengan saksi di persidangan KH Maruf Amin masih jadi bahan polemik di masyarakat. Pagi tadi politisi Demokrat kembali mengangkat isu ini di televisi untuk menyerang Ahok yang lagi berjuang agar terpilih jadi gubernur Jakarta.

Yockey Suryo Prayogo (JSOP) musisi senior dan budayawan berkali-kali mengingatkan masyarakat untuk menempatkan segala sesuatu pada porsinya. Ini yang sulit. ''Kita ini berbangsa tapi belum siap bernegara,'' ujar JSOP.

Ribut-ribut kasus Ahok yang berkepanjangan menjadi contoh gamblang kegamangan kita untuk belajar demokrasi. Norma sosial, norma hukum... kacau balau di sini. Omongan Ahok yang bocor, kurang tenggang rasa digoreng jadi masalah pidana. Kemudian diseret ke pengadilan.

Lalu muncul masalah baru pekan lalu. Orang-orang tersinggung karena ulama senior, tokoh NU, ketua MUI, dicecar pertanyaan oleh terdakwa dan pengacaranya. Apakah salah Ahok dkk mengorek keterangan dari saksi-saksi?

Kita sering lupa bahwa ruang pengadilan itu punya norma atau unggah-ungguh sendiri. Siapa pun yang duduk sebagai saksi atau terdakwa harus siap dicecar pertanyaan-pertanyaan oleh hakim, jaksa, pengacara.

Begitu kita berada di ruang sidang maka segala atribut di luar dilepas. Tak peduli profesor, pastor, pengusaha yang punya 30 pabrik, ulama, gubernur, bupati, tukang becak, nelayan, petani.

Beberapa tahun lalu Romo Frans Amanue, pastor dan tokoh Katolik di Flores Timur, jadi terdakwa di Pengadilan Negeri Larantuka. Romo ini pun dicecar pertanyaan bertubi-tubi dari hakim dan jaksa (yang mewakili pelapor). Kata-kata mereka tidak enak didengar bagi umat Katolik di NTT yang sangat menjunjung tinggi seorang romo yang mendapat urapan imamat kudus.

Tapi hukum adalah hukum. Sidang pengadilan jalan terus dengan segala dinamikanya. Romo Frans yang diadili karena paling gencar menolak tambang mineral itu akhirnya divonis bebas. ''Ini memang risiko saya sebagai gembala umat,'' ujar romo asal Adonara itu.

Semoga orang Indonesia semakin rasional dan mau belajar untuk bernegara.

Salah Kaprah Penjahit Perempuan dan Polisi Wanita

Ini kebiasaan lama tapi cukup mengganggu. Istilah PENJAHIT PEREMPUAN muncul lagi di grup media sosial teman-teman Sidoarjo.

Semua orang tentu paham maksudnya. Cak Yakin mencari perempuan (bukan laki-laki atau waria) untuk jadi penjahit. Apa yang dijahit? Pakaian tentu. Khusus menjahit pakaian perempuan atau laki-laki dewasa dan anak-anak? Silakan bertanya langsung ke Cak Yakin.

Dari segi bahasa, kalau kita sedikit berpikir pakai logika sederhana, frase PENJAHIT PEREMPUAN tidak berterima. Perempuan kok dijahit? Bisa ditangkap polisi karena melakukan tindak pidana penganiayaan.

Sudah lama Pusat Bahasa meluruskan istilah PENJAHIT PEREMPUAN dengan PEREMPUAN PENJAHIT. Sama dengan WANITA PENGUSAHA, bukan PENGUSAHA WANITA. Wanita pengusaha berarti pengusaha yang berjenis kelamin wanita. Pengusaha wanita ya pengusaha yang berbisnis wanita. Orangnya (pelaku usaha) bisa laki-laki, perempuan, atau waria.

Satu lagi istilah salah kaprah yang identik dengan PENJAHIT WANITA adalah POLISI WANITA yang biasa disingkat POLWAN. Istilah yang benar adalah WANITA POLISI. Wanita yang berprofesi sebagai polisi. Bukan polisi yang khusus mengurusi wanita.

Saya sendiri dari dulu tidak menggunakan istilah POLWAN karena saya anggap polisi berjenis kelamin laki-laki dan perempuan sama saja. Cukup disebut POLISI titik. Membedakan polisi atas dasar jenis kelamin hanya akan jadi bahan tertawaan di era semodern sekarang.

06 February 2017

Zilvia Iskandar Presenter Metro TV

Tak banyak orang Tionghoa yang bekerja di media. Biasanya jadi laopan media macam Hary Tanoe itulah. Zilvia Iskandar merupakan salah satu dari sedikit nona tenglang yang saben hari kita orang liat dia punya paras ayu di Metro TV.

Awalnya Aling, sapaan Zilvia Iskandar yang asal Bangka Belitung, jadi presenter program bahasa Inggris. English-nya memang fasih karena Aling pernah jadi juara Asian English Olympics, semacam lomba membawakan berita dalam bahasa Inggris.

Kini, setelah empat tahun jadi presenter, Aling makin sering nongol di Metro TV. Tidak lagi berita bahasa Inggris tapi lebih ke politik hukum keamanan (polhukam). Saya lihat Aling tampil wajar, menguasai materi, tanya jawab mengalir lancar.

Sumber berita pun kelihatannya nyaman diwawancarai nona Tionghoa Blitong ini. Contohnya Antasari Azhar. Mantan ketua KPK ini bisa bercerita banyak tentang hal-hal sensitif. Padahal di televisi lain Antasari cenderung hemat bicara. Tidak bicara selepas saat diwawancara Aling.

Dari dulu yang namanya narasumber memang begitu. Cocok-cocokkan dan milih-milih reporter. Dengan reporter A dia bicara satu dua kalimat saja. Bahkan tidak mau diwawancarai. Dengan reporter B lumayan lama. Dengan si C bisa ngobrol berjam-jam, ngopi, dsb.

Di Surabaya ada taipan Tionghoa yang hanya mau diwawancarai panjang lebar sama N, reporter senior. Tak hanya ngobrol, si N ini teman main pingpong laopan kelas atas itu. ''Kuncinya itu soal rasa. Gak bisa dipaksa,'' ujar Pak N seraya tersenyum lebar.

Nah, si Aling alias Zilvia Iskandar ini saya perhatikan bisa 'dinyamani' siapa saja. Ini karena pertanyaan-pertanyaannya tidak mirip polisi menginterogasi pelaku kejahatan atau hakim/jaksa mengorek keterangan terdakwa. Pertanyaan Aling itu dikemas polos, sederhana, tapi membuat narasumber bisa bercerita dengan enak.

''Saya dari kecil memang suka memperhatikan news anchor di televisi,'' ujar putri pemilik sebuah restoran di Manggar Belitung Timur, kota asalnya Ahok, gubernur Jakarta nonaktif.

Alah bisa karena biasa. Awalnya Aling mengaku grogi berbicara di depan kamera. Tapi lama-lama terbiasa dan menikmati pekerjaan sebagai presenter televisi berita. Termasuk harus bagun pagi-pagi atau begadang karena harus siaran di studio.

Kelihatannya berat menjadi jurnalis atau presenter TV. Tapi Aling bilang tidak capek, malah enjoy, karena pekerjaan ini memang hobi. Tidak terasa seperti bekerja.

''Profesi ini juga membuat aku bisa menemui orang-orang penting di negeri ini. Aku bisa ngobrol, diskusi, membangun jaringan dengan berbagai kalangan. Itu akan sulit dilakukan kalau aku tidak di posisi ini,'' ujarnya.