23 May 2017

Mourinho merusak irama MU

Akankah MU memenangi Liga Eropa (Europa League)? Saya kok ragu. Sangat ragu. Bukan apa-apa. Penampilan MU jauh dari standar MU versi Alex Ferguson yang selama dua dekade kita nikmati. Sepeninggal Sir Alex, MU berubah menjadi klub yang biasa-biasa saja.

Lebih parah lagi ketika MU dilatih Jose Mourinho. Pelatih asal Portugis yang gaya permainannya sangat tidak menarik, menurut saya. Operan-operan bola sering meleset, pemain mudah kehilangan bola, dan sulit merebutnya kembali.

Karena itu, dulu saya pernah menulis di blog ini agar Mou dipecat dari Chelsea. Dan... betul Mou akhirnya dipecat. Setelah dipegang Conte, Chelsea langsung berubah menjadi tim yang dahsyat. Juara Liga Inggris musim ini. Dengan materi pemain yang sama versi Mourinho kecuali Kante di lini tengah.

Mou yang dipecat Chelsea kok malah direkrut untuk melatih MU? Yang filosofi bermainnya beda dengan Mou? Tentu manajemen United lebih paham. Mereka rupanya terpukau dengan rekor trofi yang dikoleksi Mou. Apalagi dia pernah pegang tim raksasa Real Madrid.

Tapi seperti dugaan saya, Mou is Mou. Gayanya yang bertahan, minim ball possession ditularkan di MU. Maka laga-laga MU tidak enak ditonton... menurut saya. MU juga sulit menang meskipun sulit kalah juga.

Mou membuat MU jadi raja seri di Liga Inggris. Ya sulit jadi juara. Jangankan juara, masuk empat besar saja susah. Musim ini MU cuma finish di posisi 6. Jelas jelek untuk tim sebesar MU.

Masih untung Mou berhasil membawa MU ke final Liga Eropa. Lawannya Ajax Amsterdam. Setahu saya, tim-tim Belanda jago passing dan bermain atraktif. Tidak melulu bertahan dan sesekali counter attack ala Mourinho.

Saya membayangkan di final nanti Ajax bisa mendikte MU dengan operan-operan pendek cepat untuk mengancam gawang De Gea. Sebaiknya pelatih-pelatih yang membuat sepak bola jadi menjemukan macam Mou ini tak lagi mendampingi tim-tim besar.

Ahok memilih jadi lilin

Kalau banding, kemungkinan besar hukuman Ahok diperberat. Bisa 5 tahun, bisa 10 tahun, bisa lebih. Terserah hakim yang dianggap wakil Tuhan. Karena itu, bisa dipahami mengapa Ahok dan keluarganya memilih untuk menerima vonis 2 tahun itu.

''Kami ingin masalah ini selesai sampai di sini,'' ujar Bu Tan istri Ahok kalau gak salah ingat.

Ahok rupanya seorang negarawan sejati. Dia memilih menjalani hukuman dua tahun meskipun para pendukungnya tidak terima dengan vonis yang tidak adil ini. Ahok memikirkan nasib rakyat Jakarta (dan Indonesia) yang butuh suasana kondusif untuk bekerja dan membangun.

Seandainya proses banding tetap berlaku, maka aksi ribuan orang untuk mendukung Ahok akan terus terjadi. Lilin-lilin akan dinyalakan di mana-mana. Bagus untuk pedagang lilin tapi masyarakat akan menuai kemacetan lalu lintas.

Sebaliknya, aksi pro Ahok bakal dibalas dengan demonstrasi sejuta umat setiap Jumat siang. Perang kata-kata kasar pasti tidak akan berhenti. Caci maki, ujaran kebencian, saling hujat... jalan terus. Sampai keluar putusan final dari MA yang makan waktu satu sampai dua tahun.

Maka, kasihan gubernur Anies dan wakilnya yang baru menjabat. Polarisasi pilkada tetap ada, bahkan makin memanas. Situasi itu tidak bagus bagi Anies dan Sandi untuk membangun Jakarta Raya.

Kita yang tinggal di luar Jakarta pun jengah dengan situasi ini. Isu SARA bisa menjalar ke mana-mana.

Nah, Ahok rupanya sengaja memilih menjadi lilin. Yang sengaja membakar dirinya sendiri agar ada secercah terang di tengah kegelapan. Pelan-pelan lilin itu akan hilang di belantara politik nasional yang tidak asyik ini.

Dua tahun bukan waktu yang singkat. Tapi juga tidak terlalu lama... dibandingkan terpidana 20 tahun atau seumur hidup. Selama menjalani masa pemurnian di penjara, lama-lama orang Jakarta jadi lupa sama Ahok.

Apalagi kalau Gubernur Anies ternyata memang lebih hebat ketimbang Ahok. Ini menjadi tantangan berat bagi Anies-Sandi untuk mewujudkan janji-janji manis kampanye kemarin.

22 May 2017

Ahok ngalah tapi ora kalah



Basuki Tjahaja Purnama jelas bukan orang Jawa. Tapi kelihatannya gubernur DKI Jakarta (nonaktif) ini mulai melakoni coro Jowo. Yakni dengan mencabut bandingnya. Alias menerima vonis 2 tahun penjara. Alias putusan PN Jakarta Utara beberapa lalu berkekuatan hukum tetap (in kracht).

Mengapa Ahok yang biasanya ngotot, menggebu-gebu, kini melunak? Rasanya tak ada yang membayangkan Ahok sepasrah ini. "Pertimbangan keluarga. Istri Pak Ahok dan keluarga besarnya sudah punya pertimbangan matang," kata pengacara Ahok.

Wow... Ahok kelihatannya sudah patah arang. Mungkin juga dia sudah punya firasat kalau hukumannya bakal ditambah (jadi 5 tahun) di pengadilan tinggi. Bisa diperbanyak tahunnya di MA.

Yah, mendingan terima saja dua tahun. Toh, biasanya masa hukuman tidak dijalani full dua tahun. Biasanya cuma dua pertiga setelah dapat remisi macam-macam. Bisa jadi hanya satu tahun di penjara.

Orang Jawa bilang "Wani Ngalah Luhur Wekasane" atau "Andhap Asor, Wani Ngalah Luhur Wekasane". Artinya, siapa yang mau ngalah bakal menang pada akhirnya. Apalagi kalau Ahok dipenjara karena direkayasa oleh lawan-lawan politik agar jagonya menang pilkada DKI Jakarta.

"Ngalah itu bukan berarti kalah," kata Pak Bambang, budayawan senior Sidoarjo.

Mudah-mudahan Ahok bisa memanfaatkan waktu dua tahunnya di dalam penjara untuk refleksi. Baca buku. Menimba banyak ilmu sesama warga binaan (nama resmi penghuni lembaga pemasyarakatan).

Selamat Jalan Cak Leo Kristi




Mas tau Leo Kristi? Tidak.
Pernah lihat rekaman konser Leo Kristi di YouTube? Tidak.

Begitulah jawaban seorang pemusik muda, 20 tahun, saat ditanya Cak Amdo pelukis senior di Pondok Mutiara Sidoarjo kemarin. Berita kematian Leo Kristi seniman musik kelahiran Surabaya 8 Agustus 1949 baru tersebar di media massa dan media sosial. Orang-orang lama macam Amdo, Yunus, Bello, Heri kaget bukan kepalang.

''Gak nyangka Leo Kristi meninggal. Lah, bulan lalu dia baru mampir ke sini sama seorang wanita cantik,'' tutur Amdo dengan gaya yang humoris. ''Orangnya sehat dan kekar seperti olahragawan. Beda dengan saya yang ceking hehehe....''

Di tempat jujukan seniman itu kami berbagi cerita tentang Leo Kristi. Seniman musik yang punya gaya lain dari lain. Bikin Konser Rakyat dengan tema-tema khas petani, nelayan, wong cilik. Salah satu komposisinya yang terkenal adalah Salam dari Desa.

Musik Leo Kristi berbeda total dengan musik pop industri. Karena itu, sulit masuk televisi dan radio. Karena itu, tidak heran anak-anak muda di bawah 30 tahun mengenal seniman yang suka memakai topi, kaos hitam ketat, itu. Jangankan yang muda, orang-orang tua di atas 50 pun tak banyak yang punya apresiasi terhadap Leo Kristi.

''Musiknya sangat unik. Dia memposisikan diri sebagai corong wong cilik seperti nelayan dan petani,'' ujar Amdo Brada yang asli Surabaya dan punya kedekatan dengan almarhum.

Saya sendiri beberapa kali menyaksikan Konser Rakyat. Leo Kristi benar-benar bintang. Bermodal gitar bolong, vokal dengan tekstur yang tebal, Leo terus gelisah dalam syair dan melodi yang rancak. Teman-temannya musisi lain, penyanyi latar, hanya sekadar pendukung. Wanita-wanita muda itu cuma pemanis di panggung.

Karena itu, Leo Kristi sebetulnya tidak perlu siapa-siapa untuk Konser Rakyat. Cukup dia sendiri di atas panggung. Itu yang diperlihatkan saat pembukaan pasar seni lukis di Surabaya tahun lalu. Suaranya masih garang di usia jelang kepala tujuh. ''Leo itu seniman di luar mainstream. Bahkan anti mainstream,'' ujar Amdo teman akrab almarhum.

Suatu ketika hujan deras di kawasan Ngagel Surabaya. Saya menepi untuk berteduh. Eh... gak nyangka ada seorang laki-laki berkaos hitam dengan topi yang khas. Mas Leo Kristi? Apa kabar? Lho, kok di sini?

Benar-benar kejutan dan berkah. Saya bisa bertemu dan ngobrol santai dengan seniman pengelana itu. Ternyata Bung Leo ini biasa menggunakan kendaraan umum ke mana saja. Gak beda dengan rakyat jelata. Cocok dengan konser-konsernya yang selalu ia sebut konser rakyat.

''Naik angkot atau mobil mewah itu sama saja. Sama-sama sampai ke tempat tujuan,'' ujarnya seraya tersenyum ramah.

Kesempatan lain saya bertemu Leo Kristi di Taman Surya Surabaya. Kebetulan ada tiga seniman besar yang menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Leo Kristi, Slamet Abdul Sjukur, dan Tedja Suminar. Kami ngobrol santai, bahasa Suroboyoan, plus guyonan khas arek-arek yang lepas bebas.

Kini tiga seniman besar itu sudah sama-sama paripurna. Tugas mereka sudah rampung.

Selamat jalan Cak Leo Kristi!

Koran cuma jadi bungkus kacang

Akhir-akhir ini saya sering membawa koran dan majalah bekas (tidak tua
amat) ke kawasan Jolotundo di Trawas Mojokerto. Untuk bahan bacaan
anak-anak SD sampai SMA dan masyarakat desa yang biasa cangkrupan di
warung-warung kopi. Apalagi sinyal seluler nyaris tidak ada.

Saya titipkan bahan-bahan bacaan ini di dua warung langganan saya.
Sekadar mencontoh gerakan mendiang Bambang Haryaji pelukis senior
Sidoarjo sekitar tahun 2005 dan 2006. Gerakan literasi ini gagal
total. Siapa tahu saya agak berhasil.

Betapa kagetnya saya, pekan lalu, melihat koran-koran titipan saya itu
tersebar ke mana-mana. Dibaca orang? Dikliping anak-anak? Bukan.
Justru jadi tutup makanan di warung.

''Korannya sampean memang bagus untuk nutupi makanan biar gak
dihinggapi lalat. Warungnya kelihatan lebih bersih,'' ujar Mbak
Hasanah seraya tersenyum.

Mbak yang gemuk ini cerita kalau sebagian koran diambil si Liauw,
orang Tionghoa Sidoarjo yang minggat ke pegunungan Penanggungan di
Trawas. Sang mbak kelihatan tidak suka koran jatahnya dibawa Liauw.

Ngapain Koh Liauw bawa koran? ''Katanya buat dibaca,'' ujar Hasanah.

Wow, syukurlah, masih ada orang yang serius membaca berita-berita di
koran dan majalah. Justru di tengah era media sosial dan digital yang
kian menepikan surat kabar. ''Kalau naik lagi tolong bawa koran-koran
bekas ya. Di sini saya kehilangan informasi banyak,'' ujar Koh Liauw
serius.

''Jangan dikasihkan mbak Hasanah itu. Nanti cuma dibuat bungkus kacang
dan makanan,'' ujar si Tionghoa yang cerdas tapi agak stres itu. Stres
karena tekanan ekonomi dan keluarga di Sidoarjo.

''Percuma sampean bawa koran ke sini kalau tidak dibaca. Kalau cuma
untuk bungkus makanan kan bisa pakai daun pisang atau daun-daun yang
lain,'' ujar kenalan lama itu.

Benar juga si Liauw. Sebagai orang koran, saya tidak suka koran-koran
bekas dikilokan di pasar loak. Harganya terlalu murah. Bahkan tak
berharga sama sekali. Sebab yang dilihat cuma kertasnya. Bukan huruf,
kata, dan gambar yang tercetak di kertas putih pucat itu.

Karena itu, saya lebih suka menyumbangkan koran-koran bekas kepada
kenalan. Syukur-syukur dibaca. Bukan dikilokan atau dibuat bungkus
kacang rebus. Tapi... begitu sulitnya menemukan orang-orang yang mau
membaca koran gratisan.

Zaman memang berubah total. Dulu, ketika masih SD di pelosok NTT, kami
berebut membaca koran dua mingguan Dian dan majalah bulanan anak-anak
Kunang-Kunang terbitan SVD Ende Flores. Satu koran dikeroyok rame-rame
5 sampai 10 orang. Padahal berita-beritanya sudah basi satu dua bulan
lalu.

Majalah, koran, buku atau apa saja dilahap anak-anak desa yang belum
kenal peradaban listrik atau televisi. Majalah Katolik Hidup yang
bekas pun jadi rebutan. Koran-koran bekas dari Malaysia pun dibaca
rame-rame.

Rupanya era digital yang bermula awal 2000 mengubah kebiasaan membaca
rakyat kita. Koran-koran cuma dijadikan bungkus makanan di
warung-warung. Masih untung ada Liauw, 30an tahun, yang lapar
informasi dari koran.

Koran koran koraaaan....

Dahlan Iskan gemar Dangdut Academy

''Ada pelajaran penting yang saya peroleh dari DA4: menyanyi itu ternyata sulit. Lebih sulit dari yang saya bayangkan. Cengkok. Nada. Vibra. Dan banyak lagi. Ada suara perut segala. Di samping ada suara diafragma. Menjadi menteri rasanya tidak sesulit itu.''

Ini kutipan catatan Dahlan Iskan pagi ini di Jawa Pos. Catatan setiap Senin yang ngangeni. Bikin orang senyam-senyum atau ketawa sendiri. Sentilan dan guyonan khas mantan menteri BUMN itu memang cocok dengan judulnya: Pelajaran Menikmati Diri Sendiri.

Syukurlah, catatan yang dulu rutin setiap Senin di halaman 1 Jawa Pos itu muncul lagi. Setelah sempat absen lama gara-gara Pak Bos harus bolak-balik melayani aparat hukum. Kejaksaan, pengadilan, tahanan kota dsb.

Selama 4 bulan diperkarakan Kejati Jatim, Dahlan Iskan jadi kecanduan nonton Dangdut Academy 4 di Indosiar. Hampir tiap malam. Sampai hafal nama-nama peserta, juri, host, iklan-iklannya.

''Kalau sudah nonton DA4, saya lupa jaksa-jaksa yang menuntut saya,'' tulis Dahlan Iskan.

Hahaha (bukan hehehe)....

Saya ketawa sendiri di warkop dekat Juanda. Ngakak. Mas-mas lain yang sibuk main ponsel, nunut internet, pun memandang ke arah saya. Ada apa? Kok tertawa sendiri?

Begitulah. Kolom-kolom Dahlan Iskan memang sejak dulu selalu menggelitik, enak dibaca, dan bikin kangen penggemarnya. Saking khasnya, sangat sulit menemukan kolom sejenis. Sudah begitu banyak kolumnis yang coba-coba meniru Pak Dahlan tapi ya tetap saja gak asyik.

Karena itu, begitu banyak orang yang mendoakan Pak Dahlan agar selalu sehat dan terus menulis. Mereka juga tidak percaya dengan dakwaan jaksa yang macam-macam itu. ''Tuhan pasti akan melindungi orang baik seperti Pak Dahlan. Saya gak ngerti hukum, tapi feeling saya mengatakan Pak Dahlan tidak bersalah,'' ujar beberapa ibu Tionghoa di Surabaya.

Mereka ini sejak 90an tidak pernah melewatkan tulisan-tulisan Dahlan Iskan. Surabaya yang panas akan terasa sejuk kalau baca tulisan Pak Dahlan. Wow...

17 May 2017

Nyadran di Balongdowo

Menjelang bulan puasa, nelayan di Balongdowo Candi, Kabupaten Sidoarjo, mengadakan ritual nyandran. Atau ruwat desa. Nyadran tahun ini digelar pada Ahad pagi kemarin.

Saya pun datang ke lokasi karena kangen suasana nyadran yang (biasanya) sangat meriah. Biasanya ada puluhan perahu (di atas 50an) yang beriringan ke pantai Kepetingan di muara sungai perairan Selat Madura.

Sayang, kali ini cuma 25 perahu. Mungkin kurang sedikit. ''Dulu memang banyak perahu. Tapi beberapa tahun ini sebagian perahu dijual. Lah, anak-anak muda sekarang lebih suka kerja di pabrik ketimbang jadi nelayan,'' kata Bu Sanipah.

Ibu yang rumahnya dekat sungai ini dulu juga punya perahu. Tapi, karena itu tadi, suaminya sudah tua dan anaknya tak mau melanjutkan, ya dijuallah perahu itu. ''Padahal hasil kupang itu lumayan lho. Bisa mbangun omah,'' katanya.

Asyik juga ngobrol sama ibu-ibu nelayan Balongdowo. Kampung yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil kupang dan petis di Sidoarjo. Kita jadi tahu banyak tentang dunia nelayan hingga pergeseran pilihan kerja anak-anak nelayan. Boleh dikata, sangat jarang ada anak cucu nelayan yang mau nyemplung ke laut setiap hari untuk mengambil kupang atau ikan.

Doa pelepasan rombongan ke makam Dewi Sekardadu di Kepetingan pun dibacakan seorang kiai. Lalu berangkatlah para nelayan untuk unjuk syukur sekaligus pengajian di makam ibunda Sunan Giri itu. Ada pula polisi air yang ikut mengawal peserta nyadran.

''Biasanya kalau mau coblosan atau pilkada ada pejabat yang ke sini. Sekarang kan nggak ada hajatan politik. Makanya nggak ada pejabat yang nongol,'' ujar seorang bapak seraya tersenyum.

12 May 2017

Vonis Ahok yang overdosis


Vonis 2 tahun penjara untuk Gubernur Ahok memang terlalu berat. Ini kalau dibandingkan tuntutan jaksa yang cuma hukuman percobaan.

Sebaliknya, dari sudut lawan-lawan Ahok yang rajin unjuk rasa itu, hukuman 2 tahun terlalu ringan. Sebab mereka maunya minimal 5 tahun. Saat orasi bahkan ada tokoh yang meneriakkan hukuman yang sangat sangat berat.... digantung!

Berat ringan memang relatif. Tergantung kepentingan. Maka majelis hakim sebagai wakil Tuhan yang mestinya jadi penengah. Membuat ultra petita alias memutuskan jauh lebih tinggi ketimbang tuntutan tidak bisa dibilang bijaksana.

Yang lebih ganas lagi: hakim malah meminta Ahok ditahan saat itu juga. Wow... putusan yang rasanya membuat para lawan politik Ahok pun geleng kepala. Mereka memang meminta Ahok dipenjara tapi sesuai prosedur.

Artinya, Ahok dijebloskan ke penjara setelah putusan itu inkracht. Alias sudah banding sampai MA. Alias sudah mentok.

Lah, terdakwa Ahok banding kok langsung eksekusi? Ditahan? Ada apa dengan majelis hakim? Memangnya Ahok itu tersangka teroris atau penjahat berbahaya sehingga perlu dikurung di penjara?

Tentu majelis hakim yang mulia, yang punya pengalaman membuat vonis, punya pertimbangan tertentu. Tapi rakyat, setidaknya yang bersimpati pada Ahok, merasa vonis ini berlebihan.

''Overdoing! Overkill!'' kata ahli hukum Todung Mulya Lubis.

Ahok sudah kalah telak di pilkada DKI Jakarta. Dia bersama wagub Djarot tinggal menyelesaikan tugas untuk melayani rakyat Jakarta sampai Oktober 2017. Tinggal 4 bulan lebih sedikit.

Mengapa majelis hakim tidak memberi kesempatan kepada Gubernur Ahok untuk menyelesaikan tugasnya sampai Oktober? Toh dia pasti diganti
Anies. Toh, kalaupun tidak ditahan sekarang (karena belum inkracht), Ahok pasti dipenjara juga ketika sudah ada putusan final dari MA.

Sayang, majelis hakim rupanya sangat gregetan. Tidak sabar melihat Ahok menyelesaikan sisa masa baktinya. Apa pun protes orang, kecaman luar negeri, hakim sudah ketok palu. Ahok divonis sebagai penoda agama.

Yang jelas, ketika ribuan orang melakukan aksi simpati untuk Ahok, majelis Ahok naik pangkat. Dapat promosi. Katanya jubir MA sih cuma kebetulan. Hem....

Selamat untuk majelis hakim!

Waisak - Semua Makhluk Bahagia

Hari Waisak kemarin menjadi saat yang tepat untuk mengambil jarak dengan gonjang ganjing sosial politik ekonomi di tanah air. Mas Nico Tri Sulistyo Budi, yang memimpin upacara di Wihara Dharma Bakti Sidoarjo, mengajak umat Buddha untuk melakukan meditasi dan puja bakti untuk Yang Kuasa.

Saya yang bukan Buddhis ikut merasakan ketenangan saat meditasi sekitar 20 menit. Anak-anak hingga lansia macam Tante Tok memejamkan mata, menata pernapasan, konsentrasi, dan membersihkan pikiran. Suasana damai begitu terasa.

Saat khotbah, Pandita Nico menyampaikan pesan perdamaian dan cinta kasih. Bukan cuma antarmanusia tapi semua makhluk di alam raya ini. Maka tidak heran umat Buddha selalu menyampaikan salam: Semoga semua makhluk berbahagia!

Melihat umat Buddha yang larut dalam meditasi, menata hati dan pikiran, saya merasa begitu damai. Serasa berada di lingkungan keluarga sendiri. ''Jangan pulang dulu sebelum makan ya,'' ujar Bu Nugroho, mamanya mas Nico sang pandita muda.

Selamat Hari Waisak.
Semoga semua makhluk berbahagia.

09 May 2017

Mulut Ahok jadi harimau

Sudah jatuh diimpit tangga pula. Itulah yang dialami Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sudah kalah telak di pilkada Jakarta... eh divonis 2 tahun penjara. Majelis hakim bahkan memerintahkan agar Ahok ditahan.

Sudah berbulan-bulan kita berdiskusi, debat, tentang ucapan Ahok di Pulau Seribu yang dianggap menodai agama Islam. Sudah banyak saksi ahli yang memberi keterangan di persidangan. Baik yang memberatkan dan meringankan. Sidangnya juga sangat lama dan panjang.

Akhirnya... palu hakim dijatuhkan. Ahok harus masuk penjara. Di tingkat banding hukumannya bisa ditambah, bisa kurang, bisa tetap. Yang pasti, Ahok punya banyak waktu untuk meditasi atau introspeksi di dalam penjara.

Jauh sebelum rame-rame unjuk rasa ribuan umat, saya sudah menulis bahwa Ahok telah melakukan blunder besar. Mulutnya jadi harimaunya. Gara-gara mulut besar yang tak terkontrol itulah, lawan-lawan politik beroleh peluang untuk melakukan serangan masif jelang pilkada.

Strategi serangan berbasis SARA itu sangat efektif. Masyarakat Jakarta boleh puas dengan kinerja Ahok tapi di bilik suara mereka justru memilih Anies. Suara Ahok cuma 40 persen. Sangat jauh dari tingkat kepuasan yang mencapai 70 persen.

Nasi sudah jadi bubur. Ahok kalah total. Masuk bui pula. Peluang untuk maju lagi di pilkada lain pun rasanya berat. Jokowi pun mungkin berpikir panjaaang jika harus mengangkat Ahok sebagai menteri dsb. Bisa-bisa didemo sejuta umat karena dianggap melindungi penista agama.

Puaskah para demonstran itu? Saya rasa belum. Mereka baru puas kalau Ahok dipenjara 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun. Tapi mungkin mereka bisa menerima karena toh Ahok sudah kalah di pemilihan gubernur DKI Jakarta. Bukankah itu motif utama gerakan mereka selama ini?

Terlalu banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kasus Ahok. Khususnya bagi kaum minoritas di Indonesia. Jangan ngawur kalau bicara tentang agama mayoritas. Diam itu emas. Lebih baik bicara tentang musik, kuliner, kesenian, pemandangan yang indah, wanita cantik, atau angin sepoi basa.

06 May 2017

Mengapa naskah makin sedikit

Bulan April 2017 kemarin total naskah yang diposkan di blog ini anjlok drastis. Tidak sampai 10. Padahal biasanya di atas 15 (asumsinya posting dua hari sekali). Bahkan dulu dalam sehari bisa 5 naskah sekaligus.

Ada apa gerangan? Kehilangan ide? Blog sudah memasuki masa senja? Tidak juga.

Ide-ide sih banyak. Bahkan makin banyak kesumpekan sosial politik budaya yang bisa jadi lumayan panjang, kadang 2000 karakter, tiba-tiba disapu bersih oleh si back space. Srrretttt.... habis. Saya coba menulis ulang tapi kasusnya kambuh lagi.

Maka, apa boleh buat, blog ini belum bisa seramai dulu. Yang menggembirakan saya, pengunjung yang kesasar di sini (biasanya diajak mbah Google) masih stabil.

Sekian dulu. Naskah yang pendek ini pun barusan disapu bersih. Ya... harus ngetik lagi. Korban keyboard virtual yang sejak dulu tidak saya suka.

Jadi rindu dengan ponsel Blackberry lawas yang bisa dipakai untuk mengetik naskah sepanjang apa pun tanpa masalah seperti di Samsung ini.

05 May 2017

Cak Priyo Ingin Wayang Goro-Goro



Pelawak sekaligus presenter senior Priyono, yang akrab disapa Cak Priyo, saat ini terbaring lemah di rumahnya kawasan Jenggolo, Kelurahan Pucang, Kecamatan Sidoarjo. Mantan host Cangkrukan JTV itu baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor ganas di dalam perutnya.

Cak Priyo menjelaskan, operasi dilakukan di RSUD dr Soetomo Surabaya tepat pada Hari Kartini, 21 April 2017. Tindakan medis ini dilakukan sekitar tujuh jam. Tepatnya, mulai pukul 06.31 dan keluar kamar operasi pukul 13.14.

"Katanya dokter operasi biopsi. Yaitu pengambilan contoh tumor untuk dievaluasi. Lain hari harus dilaser atau kemo atau operasi pengangkatan. Menurut dokter, tumor itu tergolong jenis baru, yaitu lemak yang bisa menjadi tumor ganas," tutur pria yang masih senang bercanda usai menjalani operasi besar itu.

Puluhan rekannya pun datang membesuk Cak Priyo di rumahnya. Meski begitu, dia sering berpesan melalui media sosial agar diberi kesempatan untuk istirahat di 'ruang inspirasi'. "Yang paling penting itu, saya mohon doa dari teman-teman untuk kesembuhan. Nggak perlu bertanya nama penyakitku itu apa," ujarnya.

Seniman yang sehari-hari bekerja di Dinas Sosial Jatim, Jalan Pahlawan Sidoarjo, ini kemarin dikunjungi Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Meski sakit berat, Cak Priyo masih senang bercanda dengan Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Saifullah Yusuf. Jika sembuh, Cak Priyo ingin menggelar wayang goro-goro bersama Djadi Galajabo di THR Surabaya. Ada Petruk, Gareng, Kresno dan Semar yang nanti dimainkan.

"Nanti Semar tetap bijak, Petruk dan Gareng penuh polemik berdebat, apakah Kresno apik opo ino. Dan begitulah hidup: ono seng podo, ono seng gak podo, biarkan tidak perlu dirisaukan," kata Cak Priyo.

Bagaimana ending dari kisah wayang itu? Cak Priyo menjawab, "Akhir cerita diserahkan ke penonton. Hidup itu tidak ada kesimpulan, biarkan
penonton yang menyimpulkan sendiri," ujarnya.

Sebelum meninggalkan rumah Cak Priyo, Gus Ipul sempat menelepon direktur RSUD Dr Soetomo agar segera mengirimkan tim dokter guna memeriksa Cak Priyo.