18 November 2017

Persebaya tinggal satu langkah

Lega rasanya hati ini setelah Fauzi menceploskan gol ke gawang PSPS Riau. Persebaya pun dipastikan lolos ke semifinal Liga 2. Tinggal selangkah lagi tim berjuluk Green Force itu memastikan naik ke Liga 1.

Di warkop kawasan Rungkut Surabaya, belasan penggemar bola sempat ketar-ketir melihat laga Persebaya vs PSPS di layar kaca. Begitu alot. PSPS ternyata sangat tangguh. Bahkan serangan-serangannya sangat berbahaya.

Andai saja ada celah sedikit, pemain seniornya bisa dengan mudah mencetak gol. Untung saja pemain belakang Persebaya mampu menutup ruang gerak striker gaek itu (lupa namanya).

Persebaya yang kalah fisik masih dengan gayanya bermain pendek. Kaki ke kaki. Andalkan umpan terobosan. Sayang, PSPS sudah antisipasi. Buntu di babak pertama.
Syukurlah, di menit-menit akhir ada peluang emas. Umpan Okto dari sisi kiri bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Fauzi. Goool!!!

Perjuangan Persebaya untuk kembali ke Liga 1 masih berat. Arek-arek Green Force wajib masuk final. Alias harus menang di semifinal. Dua lawan sudah menunggu: PSMS Medan dan Martapura FC.

Dari empat semifinalis, tiga tim berhak promosi ke Liga 1. Masak sih Persebaya gak iso!!!

Ayo... ayo... Persebaya!!!

12 November 2017

Umat Katolik yang terlambat misa

Misa pertama di Gereja Salib Suci, Tropodo, Waru, Sidoarjo, pagi tadi dipimpin Pater Servas Dange SVD. Lebih sejuk karena mulai pukul 05.30 dan lebih cepat karena ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus dst) tidak dinyanyikan.

Namun, misa yang terlalu pagi juga membuat cukup banyak umat yang terlambat. Ada yang telat lima menit... seperti saya, tapi ada juga yang telatnya di atas 15 menit. Repot memang umat yang terlambat misa. Sebab bangku-bangku sudah terisi penuh. Gereja Salib Suci ini memang dari dulu selalu ramai.

Nah, orang-orang yang terlambat itu biasanya malu (atau sungkan) maju untuk mengisi bangku kosong. Di bagian depan memang banyak tempat kosongnya. Saya nekat aja maju dan dapat tempat di posisi agak depan samping kiri. Namun ada pula satu keluarga yang memilih pulang karena tidak kebagian tempat duduk.

Gak nyangka, kasus umat terlambat dan sungkan maju ini jadi bahan khotbah Romo Servas. Saya pun merasa tersindir. Takut dimarahi romo. Ternyata yang dibahas adalah umat yang memilih pulang itu tadi. ''Ini harus jadi pelajaran untuk kita semua. Pengalaman itu guru terbaik,'' kata Romo Servas.

Pastor asal Flores ini menyentil sikap umat Katolik di Gereja Salib Suci yang terlalu fokus pada Tuhan dan cuek dengan jemaat yang terlambat. Mestinya ada reaksi. Diarahkan untuk mengisi tempat kosong (biasanya ada di depan). Petugas tatib (tata tertib) pun seharusnya mengantar umat yang terlambat ke tempat yang kosong.

''Kita perlu belajar untuk peduli sesama,'' ujar pater dengan sentilan khasnya.

Kelihatannya Romo Servas merasa kurang enak melihat ada domba-dombanya yang berniat ikut ekaristi tapi gagal hanya karena persoalan sepele. Buat apa gereja punya balai paroki yang luas jika tidak bisa menampung umat yang telat? Toh, tidak lebih dari 10 orang.

Ihwal disiplin ekaristi ini, sikap romo memang berbeda-beda. Ada yang toleran dan memahami seperti Romo Servas. Tapi ada juga yang keras seperti Romo X (sensor). Romo X ini tidak suka melihat umat yang terlambat. Juga tidak suka dengar anak-anak menangis atau jalan-jalan saat liturgi berlangsung.

Umat yang pernah mendengar sentilan (atau kemarahan) Romo X pasti langsung pulang jika misa sudah dimulai. Nekat masuk bisa-bisa jadi bahan homili. Gak enak blass! Dulu saya pernah disindir karena terlambat sekitar 10 menit.

Di NTT, khususnya kampung-kampung di Flores Timur dan Lembata, setahu saya romo-romo tidak marah meskipun banyak umat yang terlambat. Maklum, orang desa harus mengurusi kebun, ternak dsb. Belum lagi harus jalan kaki ke gereja.

Hanya saja, umat yang terlambat itu biasanya punya kesadaran untuk tidak maju sambut komuni. Jika terlambat hingga homili atau khotbah imam. Kalau masih kyrie atau gloria masih dibolehkan komuni. Prinsip ini masih saya pakai sampai sekarang di Jawa.

Lebih baik terlambat daripada tidak misa sama sekali! Begitu alasan pemaaf di NTT. Rupanya pastor asal NTT yang bertugas di Salib Suci itu, Romo Servas, masih menggunakan kearifan lokal NTT untuk 'memahami' umat yang terlambat. Bisa saja ban bocor di jalan, bukan? Bisa juga umat paroki lain yang belum tahu jadwal misa.

Perseka Waru Mundur dari Liga Askab Sidoarjo

Yang namanya kompetisi sepak bola di Indonesia selalu panas. Mulai dari Liga 1 hingga pertandingan bola kelas tarkam. Kompetisi internal Liga Askab Sidoarjo 2017 pun makin lama makin panas. Padahal tujuan utama liga tertinggi di Kabupaten Sidoarjo ini murni untuk pembinaan pemain muda.

Total ada 30 tim peserta kompetisi. Mereka terbagi dalam kelas utama, kelas satu, dan kelas dua. Yang paling keras tentu kelas utama alias kelas tertinggi. Saya biasa menonton di Lapangan Banjarsari Buduran setiap akhir pekan.

Wuih... saling jegal antarpemain, protes wasit, saling dorong, hingga mutung alias mogok main. Wasit terpaksa merogoh banyak kartu kuning. Ada juga kartu merah meskipun saya lihat wasitnya cenderung membiarkan permainan kasar di lapangan.

Sayang, kompetisi yang seharusnya jadi tontonan akhir pekan itu diwarnai aksi tidak terpuji. Perseka Waru memilih mundur dari kompetisi. Padahal tim asal Desa Kepuhkiriman ini dikenal sebagai salah satu klub terbaik di Sidoarjo. Perseka pun kerap menyumbang pemain-pemain bagus untuk Kabupaten Sidoarjo.

Ada apa dengan Perseka? Pihak Askab PSSI Sidoarjo enggan menyebutkannya. Namun bisa diduga Perseka kecewa dengan keputusan wasit dalam satu laga penting. Ganjalan ini gagal diselesaikan pihak askab dan panitia pelaksana (panpel).

''Perseka sudah mengirim surat menyatakan mundur dari kompetisi internal,'' ujar Ibnu Hambal, sekretaris Askab PSSI Sidoarjo, saat saya hubungi via telepon. Tidak disebut alasan mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo.

Yang pasti, pengurus askab sudah koordinasi dengan pandis (panitia disiplin) untuk membahas kasus ini. Khususnya mencari sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Perseka bakal degradasi?

''Saya tidak tahu. Soal itu (sanksi) jadi kewenangan pandis. Askab hanya meneruskan surat dari Perseka yang menyatakan mundur,'' kata tokoh bola Kota Delta yang juga pemilik PS Bligo Putra Candi itu.

Dengan mundurnya Perseka, maka peserta kelas utama tinggal 9 tim. Bligo Putra, Tiga Putra Agung, Pesawad Waru, Putra Bungurasih, Tunas Jaya Sepande, Sinar Harapan, Cakra Buana, Trisula Tanggulangin, dan New Star Salam Sukodono.

Mundurnya Perseka sekaligus membuat jumlah laga masing-masing-masing klub berkurang satu. Mestinya 9 kali menjadi 8 kali. ''Kami sudah surati semua tim yang isinya pertandingan melawan Perseka dianggap tidak ada. Pengelola lapangan juga sudaj disurati,'' kata Pak Benu, sapaan akrab Ibnu Hambal.

Sedih juga mendengar kabar mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo. Maklum, saya sangat sering ngopi-ngopi di warkop yang berada di kompleks Lapangan Perseka, dekat pintu gerbang Perumahan Rewwin Waru. Saya juga kerap membahas kiprah klub ini yang selalu berhasil membina pemain-pemain muda. Pelatih-pelatihnya pun banyak mantan pemain top Persebaya.

Mudah-mudahan kasus Perseka segera dicarikan jalan keluar terbaik. Demi masa depan anak-anak dan remaja yang sudah lama mengukir mimpi menjadi pemain sepak bola masa depan.

11 November 2017

Ibu dan anak sibuk main HP

Ibu dan anaknya ini asyik dengan ponsel masing-masing. Sambil menunggu cuci motor di kawasan Pagesangan Surabaya. Serius banget. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut si anak dan ibu.

Apa boleh buat. Saya pun mencari kesibukan dengan ponsel. Menulis cerita singkat ini. Sebab paket dataku sudah habis. Tidak bisa untuk internet.

Yah... zaman memang sudah berubah. Teknologi informasi, khususnya ponsel pintar (smartphone) telah mengubah perilaku masyarakat. Budaya tutur, jaringan, ngobrol di warkop dsb sudah diganti dengan media sosial.

Luar biasa!

09 November 2017

Pejalan kaki kok disalahkan

Masalah pejalan kaki sedang ramai di internet. Gara-gara Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno melontarkan pernyataan yang sedikit banyak menyinggung perasaan pejalan kaki. Katanya pejalan kaki justru ikut menyumbang kemacetan.

Wuih... Baru jadi pejabat sudah bikin kontroversi yang tidak perlu. Jelas saja warganet ramai-ramai mengecam bapak wagub ini. Lah, rakyat dianjurkan jalan kaki, naik kendaraan umum, kok malah diserang? Yang pakai mobil pribadi, bikin jalan macet, malah tidak disinggung sama Sandi.

Soe Tjen Marching, teman lama, dosen di London, Inggris, rupanya ikut panas membaca pernyataan Wagub Sandiaga. Wanita Surabaya yang aktivis ini kemudian menulis begini:

''Pengalaman saya selama di Indonesia: kendaraan itu justru tidak menghargai pejalan kaki. Orang mau nyeberang dilanggar saja. Trotoar dipenuhi sepeda motor plus PKL, jadinya saya males jalan. Padahal di negeri2 yg sudah lebih sadar lingkungan, berjalan itu digalakkan & pejalan kakinya dilindungi. Eh, wa-Gabener satu ini malah bilang begini: Pejalan Kaki Penyebab Semrawut Tanah Abang.''

Betul juga Dr. Soe Tjen yang asli Surabaya ini (meskipun Tionghoa). Saya sudah sering curhat soal itu. Pejalan kaki di Indonesia kalah sama kucing. Kalau kucing lewat di jalan, pengemudi mobil dan motor pasti memperlambat kendaraannya. Kasih kesempatan si kucing lewat. Sebab menabrak kucing bisa kualat.

Beda dengan manusia. Jangankan berhenti agar pejalan kaki bisa menyeberang di zebra cross, pengemudi biasanya tambah gas. Mempercepat laju kendaraannya. Maka sering banget terjadi pejalan kaki jadi korban tabrakan. Pemkot dan pemkab juga tidak membuat jembatan penyeberangan orang.

Minggu lalu saya melihat sendiri pejalan kaki ditabrak di Sidoarjo dan Surabaya. Untung tidak mati.

Ganyang Malaysia cuma jargon kosong

Apa saya bilang minggu lalu. Jangan dulu puas timnas sepak bola kita bisa mengalahkan Timor Leste dan Brunei Darussalam dengan skor telak. Pelatih Indra Sjafrie mestinya paham bahwa dua negara itu levelnya jauh di bawah Indonesia.

Indonesia baru dikasih jempol kalau bisa menggasak Malaysia. Sebab sulit mengalahkan Korea Selatan yang langganan Piala Dunia. Kalau bisa mengalahkan Malaysia, apalagi skor besar tiga atau lima gol, baru hebat. Gak juara gak papa... pokoknya tidak boleh kalah sama Malaysia.

Rupanya prinsip pantang kalah sama Malaysia ini dilupakan Indra Sjafrie. Hasilnya babak belur. Kalah telak 1-5. Jelas aja timnas U-19 dimaki-maki di internet. Pelatih Indra dihajar dengan kata-kata kasar kayak brengsek dan sejenisnya. Padahal Indra pernah dipuji setinggi langit ketika membawa timnas U-19 jadi juara Piala AFF di Sidoarjo.

Kemarin dan pagi tadi saya masih membaca kecaman pedas untuk timnas U-19. Alasan Indra sengaja mencoba taktik tidak bisa diterima. Bahkan ada yang menuduh Indra kemungkinan terima suap sehingga mengalah dari Malaysia.

Kalah menang dalam sepak bola itu biasa. Tapi kalah dari Malaysia itu benar-benar menyakitkan. Kita belum lupa di SEA Games Agustus lalu Indonesia disingkirkan Malaysia di semifinal. Padahal pelatihnya Luis Mila asal Spanyol yang terkenal luar biasa.

Beberapa tahun lalu Indonesia juga disingkirkan Malaysia di final Piala AFF. Padahal di laga-laga awal Indonesia main bagus banget. Gocekan coach Alfred Riedl yang berkelas. Kok keok oleh Malaysia di final? Sulit menjelaskannya.

Saya sendiri baru mulai nonton televisi saat duduk di SMP. Di Larantuka NTT. Hitam putih televisinya pakai aki. Ngecas aki di toko kaset paling top di Jalan Niaga milik baba Tionghoa. Sejak itulah saya pelan-pelan tertarik siaran olahraga macam Dari Gelanggang ke Gelanggang, Arena dan Juara, dan siaran langsung sepak bola sesekali di TVRI.

Nah, setiap kali lawan Malaysia, acara nonton bareng puluhan orang (maklum TV sangat langka dan barang mewah saat itu) selalu heboh. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Ganyang itu apa? Pokoknya hajar. Setelah pindah ke Jatim baru saya paham arti kata ganyang itu.

Sayang, timnas era TV hitam putih selalu kesulitan lawan Malaysia. Dihajar si penyerang jiran yang namanya Dollah Saleh. Mungkin suatu saat Indonesia akan menang. Kita ganyang Malaysia. Di sepak bola.

Tahun demi tahun berganti. Timnas sudah bolak-balik dirombak. Pemain-pemain timnas era TV hitam putih sudah jadi pelatih senior semua. Sebut saja Herry Kiswanto, Rudi Keltjes, Hermansyah, yang sempat jadi teman saya saat melatih Persebaya. Dulu saya kagum banget sama Hermansyah, kiper timnas yang nyentrik dan jago.

Tapi begitulah hasilnya....

Di tahun 2017 ini timnas Indonesia masih belum bisa mengalahkan Malaysia. Ganyang Malaysia cuma sekadar jargon kosong.

Eh, pelatih Indra Sjafrie malah memilih ngalah dari Malaysia. Brengsek!!!

03 November 2017

Baru disahkan, mau direvisi

Perppu ormas baru saja disahkan menjadi undang-undang. Eh, belum sampai seminggu sudah muncul usulan untuk merevisi UU itu. Waduh... kepriye iki?

Mungkin Indonesia ini negara paling aneh di dunia. Bikin undang-undang, regulasi, atau apa pun namanya yang tidak bisa tahan lama. Bahkan ada undang-undang yang bisa dibongkar di tengah jalan agar Koalisi Merah Putih bisa menguasai parlemen. Masih ingat?

Apa boleh buat. Indonesia memang negara yang krisis negarawan. Surplus politisi picik. Ada politikus tua macam Amien Rais yang akhir-akhir ini suka unjuk rasa. Padahal Pak Amien sempat jadi ketua MPR. Posisi yang mestinya membuat politisi naik derajat sebagai negarawan.

Apa pun kritik terhadap KUHP, saya salut dengan undang-undang hukum pidana yang dibuat kolonial Belanda itu. Sampai sekarang KUHP masih dipakai polisi, jaksa, hakim, pengacara dsb. KUHP mampu bertahan satu abad lebih.

Indonesia sudah lama berusaha membuat KUHP baru. Agar lebih cocok dengan perkembangan zaman. Agar sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Hasilnya? Sampai sekarang gak jelas nasibnya. Saya ragu anggota DPR dan pemerintah mampu membuat undang-undang yang bisa tahan lama.

Saya jadi ingat istilah lawas banana republic. Republik pisang. Bangsa yang lembek. Tidak punya prinsip. Pragmatis. Partai-partai tidak punya ideologi selain pragmatisme kekuasaan.

Maka, perppu yang sejatinya dibuat untuk merevisi undang-undang ormas pun direvisi lagi. Nanti UU hasil revisi itu direvisi lagi. Habis kita punya energi untuk revisi revisi revisi.