12 February 2018

Sedih banget... Romo Karl-Edmund Prier Diserang di Gereja

Sedih banget membaca pesan berantai dari umat Katolik lewat WA Minggu pagi (11/2/2018). Isinya tentang penyerangan di Gereja Katolik St Ludwina, Sleman, Jogjakarta. Ada seorang laki-laki 20an tahun ngamuk, maki-maki, dan menghunus pedang panjang.

Patung Bunda Maria dan Yesus Kristus dirusak. Kemudian beberapa jemaat juga terkena sabetan. Bahkan pastor yang sedang memimpin misa pun diserang hingga tak sadarkan diri. Saat itu ekaristi sedang masuk Gloria atau Kemuliaan. Masih awal misa.

Saya begitu tersentak ketika membaca kiriman pesan lain dari Pak Paul, guru SMA Petra asal Flores, yang baru pulang misa di Sidoarjo. Romo yang diserang ternyata Pastor Karl Edmund Prier SJ.

Oh Tuhan... Semoga Romo Prier selamat!

Mata saya pun basah. Padahal beberapa menit lalu barusan ikut joget-jogetan koplo di Alun-Alun Sidoarjo. Perayaan hari jadi ke-159 Kabupaten Sidoarjo. Bupati Saiful Ilah seperti biasa menyanyikan lagu dangdut lawas kesukaannya: Rindu dari Ali Alatas yang ngetop tahun 1970an. Delapan penyanyi cantik mendampingi Abah Ipul bernyanyi.

Begitu cepat kegembiraan berganti kesedihan. Romo Prier SJ disabet pedang panjang nan tajam. Ngeri! Sulit membayangkan suasana misa yang pasti kacau balau. Berantakan oleh aksi teroris tunggal itu.

Romo Prier! Semua orang Katolik di Indonesia, khususnya yang aktif di kor (paduan suara), pasti kenal pater asal Jerman yang sudah puluhan tahun jadi WNI itu. Betapa tidak. Romo Prier yang mendirikan Pusat Musik Liturgi (PML) di Jogja. PML ini paling rajin blusukan ke seluruh Indonesia untuk menemukan musik-musik khas nusantara.

Romo Prier yang dibantu Paul Widyawan, komposer dan dirigen kawakan, kemudian mengolah musik nusantara itu menjadi lagu-lagu liturgi Katolik. Eksperimen musik liturgi ala Indonesia ini dilakukan setelah Konsili Vatikan II (1962-1965). Luar biasa kerja keras Romo Prier bersama PML-PML-nya.

Nah, hasil kerja keras Romo Prier dan PML ini kemudian dibukukan menjadi MADAH BAKTI. Buku nyanyian liturgi paling terkenal di kalangan umat Katolik sejak 1980 sampai akhir 1990an. Sebelum diambil alih buku baru bernama PUJI SYUKUR sampai sekarang.

Setahu saya di Indonesia belum ada komposer, ahli musik, yang begitu total menggali musik seperti Romo Prier. Begitu banyak lagu yang ditulis dan diaransemen. Terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu. Romo Prier sangat dominan di bidang musik liturgi di Indonesia.

Romo Prier juga menulis begitu banyak buku musik. Empat jilid tebal Sejarah Musik untuk mahasiswa sekolah tinggi musik merupakan kontribusi beliau untuk dunia pendidikan musik di Indonesia. Belum lagi buku-buku tentang ilmu harmoni, kontrapung, hingga teknik menjadi dirigen dan membina paduan suara.

Sebelum ada Google dan internet, saya begitu terpukau dengan empat jilid buku Menjadi Dirigen karya Romo Prier SJ. Khususnya buku merah (jilid satu) dan jilid dua (teknik membentuk suara). Boleh dikata hampir semua pelatih dan dirigen paduan suara mahasiswa di Indonesia (apa pun agamanya) menggunakan buku-buku karya Karl-Edmund Prier SJ.

Teman-teman paduan suara mahasiswa juga sangat terbantu dengan ketekunan Romo Prier dan Paul Widyawan membuat aransemen puluhan (mungkin ratusan) lagu daerah dalam format paduan suara sopran alto tenor bas (SATB). Maka kalau ada lomba atau festival paduan suara pelajar atau mahasiswa, hampir pasti ada lagu-lagu yang diaransemen Romo Prier.

Masih banyak lagi karya-karya pater berusia 80an tahun ini untuk Gereja Katolik dan bangsa Indonesia umumnya. Beliau sangat antusias dan mau membantu siapa saja di bidang musik. Termasuk masuk ke pelosok terpencil untuk membenahi paduan suara setingkat stasi, kring, atau lingkungan.

Karena itu, saya kaget dan tak habis pikir mengapa romo yang jasa-jasanya begitu besar itu justru jadi sasaran penyerangan? Mengapa Tuhan membiarkan hamba-Nya diserang? Justru saat sedang memimpin ekaristi? Mengapa? Mengapa?

Saya pun teringat Paus Yohanes Paulus II (sekarang santo) yang ditembak Mehmet Ali Agca pada 1983. Paus asal Polandia itu harus menjalani perawatan serius. Kira-kira mirip dengan yang dialami Romo Prier sekarang. Paus JP2 kita tahu kemudian mengampuni dan mendoakan Mehmet yang telah menembaknya.

Tuhan, ampunilah dia karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat!

Di tengah perjalanan dari Sidoarjo ke Surabaya, saya akhirnya menyimpulkan bahwa Suliyono yang menyerang Romo Prier dan jemaat gereja di Sleman itu pasti tidak suka musik. Pasti tidak suka paduan suara. Pasti tidak suka kesenian.

Juga pasti tidak punya hormat terhadap sesama manusia yang sama-sama ciptaan Tuhan.

10 February 2018

Diskon Gusur Rabat

Pagi ini saya menemukan kata IMPAK di Kompas edisi 27 Januari 2017. Koran lama yang saya temukan di warkop dekat Bandara Juanda. Rupanya kertas-kertas koran ini mau dijadikan bungkus makanan.

"... memberikan IMPAK besar untuk memerangi korupsi di pemerintahan (Liberia)," tulisan Anton Sanjoyo wartawan senior yang lebih dikenal sebagai komentator sepak bola di televisi. Tulisan itu tentang George Weah, mantan bintang sepak bola yang belum lama ini dilantik jadi presiden Liberia.

Kata IMPAK di sini tentu serapan dari IMPACT yang English itu. Setahu saya, orang Indonesia lebih banyak pakai DAMPAK untuk IMPACT. Sangat jarang yang pakai IMPAK karena sudah ada DAMPAK. Ini sesuai dengan petuah Pusat Bahasa agar kita tidak boleh terlalu mudah menyerap kata asing. Boleh kalau memang belum ada padanannya dengan bahasa Indonesia.

Jika terlalu banyak kata serapan, sementara kata-kata asli sudah ada, bukan tidak mungkin kata-kata lama akan hilang. Ada di kamus tapi tidak dipakai. Kata KARCIS (aslinya dari Belanda) sudah lama hilang. Orang lebih suka pakai TIKET (asli English).

Minggu lalu saya sengaja ngetes seorang nona yang baru lulus dari sebuah universitas negeri di Surabaya. (Kata NONA juga hampir tidak dipakai lagi di Jawa. Orang lebih suka CEWEK.) "RABAT itu apa?" begitu pertanyaan saya dalam konteks jual beli barang dan jasa.

"Maksudnya RAPAT ya? Itu sih meeting atau pertemuan," jawab nona manis.

"Bukan RAPAT tapi RABAT. Pakai P bukan B."

"Saya kok belum pernah dengar kata RABAT."

Aha... kata RABAT memang sudah lama tenggelam di dasar kamus. Khususnya di Jawa. Saya bilang RABAT itu sama artinya dengan DISKON (serapan English juga DISCOUNT). Si nona masih belum ngeh karena tidak pernah mengenal kata RABAT ini.

Di masa lalu, ketika masih ada pengaruh kakek-nenek yang bisa berbahasa Belanda, potongan harga bisa dikenal dengan KORTING. Ada pula istilah REDUKSI yang artinya sama dengan diskon atau rabat.

Kini, seiring makin dahsyatnya pengaruh bahasa Inggris, orang Indonesia kelihatannya lebih suka istilah yang NGINGGRIS. Memaksakan kata-kata serapan baru dari bahasa Inggris meskipun sudah ada sinonimnya dalam bahasa Indonesia.

Karena itu, saya salut dengan mendiang Anton Moeliono yang semasa hidupnya sangat rajin "menemukan" istilah-istilah baru dari khasanah pribumi seperti PETAHANA untuk INCUMBENT. Meskipun beberapa media lebih suka pakai INKUMBEN seperti majalah Tempo.

06 February 2018

JSOP resah melihat industri musik

Yockie Suryo Prayogo itu bukan sekadar pemusik. Itu yang diucapkan Fariz RM di rumah duka almarhum JSOP (sapaan akrab Yockie, arsitek musik pop kawakan) kemarin.

Fariz yang juga komposer hebat tentu tidak asal bicara. Di usia remaja dia diajak JSOP untuk membuat sejumlah proyek musik era 70an dan 80an yang fenomenal. Di antaranya Badai Pasti Berlalu serta Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR).

Proyek-proyek musik JSOP kemudian mewarnai jagat musik pop Indonesia hingga sekarang. Termasuk Godbless dengan Semut Hitam, Menjilat Matahari, Maret 1989, Badut-Badut Jakarta. Sentuhan khas JSOP juga sangat terasa di Kantata Takwa, Swami, dan beberapa band idealis lainnya. Jangan lupa Biar Semua Hilang ciptaan JSOP (dipopulerkan Nicky Astria) - lagu wajib lomba vocal group saat saya sekolah dan kuliah dulu.

Sebagai seniman, pemikir, dan budayawan, JSOP ibarat mahaguru yang tak ingin bangsa ini terjebak dalam lumpur kebanalan yang hampa. Tak ingin seniman-seniman musik khususnya didikte oleh cukong-cukong yang hanya memburu profit. Musik pop Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Setelah membaca kabar kematian JSOP, kemarin saya membaca kembali puluhan tulisan JSOP di internet. Almarhum memang rajin mempublikasikan pikiran-pikirannya sejak kemunculan blog pada awal 2000-an. Di situ kita bisa melihat betapa seorang JSOP sangat konsisten dengan idealisme berkesenian dan berkebudayaan yang diyakininya.

Ketika hendak mengadakan konser LCLR + pada Januari 2016, JSOP membuat catatan menarik. Tentang industri musik yang dia nilai sudah tidak sehat lagi. Yang membuat musik pop kita tidak lagi variatif, tidak punya roh dsb dsb.

Berikut kutipan tulisan JSOP:

"Perjuangan musik [pop] semenjak tahun 2000an adalah melepaskan ketergantungan nasib industri panggung musik hiburan dari subsidi sponsorship, dimana wilayah otoritas para pemodal sudah jauh melewati batas2 kewajaran dalam mempengaruhi perkembangan iklim dunia musik itu sendiri. Hilangnya keberagaman produk karena tidak adanya bargaining position diantara pemodal dengan produsen2nya membuat kondisi2 transaksional keduanya bukan hal yang mudah seperti membalikkan kedua telapak tangan, agar seniman2 musik jenis lainnya bisa menyelenggarakan kegiatan2 konser musik seperti termaksud di atas.

"Dunia musik pop adalah dunia kegiatan berekspresi yang berada diranah kegiatan ekonomi. Oleh karenanya harus dipahami sebagai kegiatan dari sebuah profesi yang berperilaku profesional. Profesi pemusik wajib berkesadaran untuk mengelola pasar ekonominya sendiri. Melahirkan produk2 berkualitas yang dibutuhkan oleh masyarakat konsumennya dengan sendirinya akan menciptakan 'posisi tawar' yang setara dengan kepentingan pemodal. Pasar itu tidak datang dengan sendirinya. Pasar itu dibentuk oleh sistim rekayasa. Labelisasi2 yang menyesatkan pikiran harus dibenahi dan dikendalikan.

"Salah satu cara berkesadaran membentuk dan merawat pasar ekonomi musik adalah dengan menciptakan dialektika yang 'riil' antara pemusik dengan masyarakatnya sendiri melalui produk2 musikalnya. Tidak ada manfaatnya pemusik bernilai jual tinggi karena disubsidi oleh sponsorship apabila pada kenyataannya dia asing dihadapan masyarakat dilingkungannya sendiri. Seorang artis yang profesional mengenal dengan baik kebutuhan konsumen2nya lalu menentukan nilai yang equivalent dengan apa yang memang pantas diperolehnya.

"Saya wajib merawat apa yang mulai bisa saya kerjakan lagi hingga hari ini... berkegiatan konser musik/lagu saya sendiri. Upah atau pendapatan tinggi bukanlah tujuan dari konser2 musik sepanjang hidup saya selama ini. Namun harapan agar saya bisa mewakili kebutuhan konsumsi musik bagi masyarakat saya sendiri adalah jauh lebih penting dan diatas segalanya. Konser berbiaya mahal yang tak terjangkau daya beli masyarakat adalah ancaman yang menjadi tantangan untuk harus kita taklukkan bersama2.

"Artis musik yang hidupnya bisa sejahtera atau kaya sendirian itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan2. Kesejahteraan materi itu akibat dari pengabdian seseorang kepada profesi apapun namanya … dan yang memberikan apresiasi bukanlah sekelompok kecil pemodal2 tetapi masyarakat luas yang sudah cerdas secara keseluruhan."

Selamat jalan JSOP!

05 February 2018

Selamat Jalan Maestro Yockie Suryo Prayogo

Siang kemarin, Minggu 4 Februari 2018, saya mampir di pendapa Candi Watutulis, Prambon, Sidoarjo. Buadi, pengurus candi, menyuguhkan kopi hitam setengah pahit. Setengah jam kemudian datang seniman musik setempat Mas Yus.

Meskipun belum akrab, maklum pertemuan pertama, obrolan kami sangat asyik. Lebih banyak tentang musik pop, keroncong, dangdut, hingga koplo yang sedang booming. Musisi lawas macam Yus seperti sulit mengikuti jiwa musik jaman now.

Gampang mainnya tapi gak nyantol, katanya. Beda dengan musik-musik lawas yang tetap membekas sampai sekarang. Lalu Yus kasih contoh beberapa lagu pop lawas. Salah satunya yang dibawakan Ramona Purba. Seniman serba bisa ini kemudian menyenandungkan lirik yang puitis dan dalam.

Anak-anak muda sekarang mungkin sulit menikmati lagu 80an seperti itu Mas, kata saya. Sama sulitnya dengan kita menikmati lagu-lagu koplo saat ini. Sering ikut goyang, malah sering nyanyi, sering memainkan melodinya... tapi cuma di permukaan saja. Cepat hilang. Gak nyantol di hati.

Spontan saya memutar lagu lawas dari ponsel saya. Selamat Jalan Kekasih. Penyanyinya bukan Chrisye tapi Yockie Suryo Prayogo - biasa kami sapa JSOP. Intronya pendek, sederhana... dan JSOP menyanyi.

resah rintik hujan
yang tak henti menemani...
sunyinya malam ini
sejak dirimu jauh dari pelukan
selamat jalan kekasih....

Yus tersenyum dan menyimak lagu karangan JSOP dengan antusias. Lagu yang luar biasa, katanya. Makin sulit dijumpai hari ini di era digital.

Lalu saya menceritakan diskusi selama bertahun-tahun dengan JSOP, mantan pemain kibod Godbless, sejak awal munculnya blog, kemudian media sosial, khususnya Facebook. Mas JSOP sangat serius dan intens membahas permasalahan di industri musik Indonesia yang masih centang perenang.

Ketika para seniman, khususnya komposer seperti dirinya, belum mendapat apresiasi yang layak. JSOP sangat sering menyinggung norma positif + norma sosial yang makin dipinggirkan di jaman now. Sampai sekarang profesi seniman, musisi... dianggap tidak ada, katanya.

Obrolan di pendapa candi dekat pabrik gula yang tutup tahun 2017 itu pun kian mengalir lancar. Yus bilang senang ngobrol dengan saya yang dinilai punya kemampuan untuk menganalisis musik. Yockie Suryo Prayogo itu salah satu ikon musik di tanah air, katanya.

Saya pamit pulang karena harus ngantor. Deadline dimajukan 90 menit. Kapan-kapan kita kolaborasi, main bareng, ujar Yus yang mengira saya seorang musisi.

Eh... rupanya beberapa lagu dan aransemen musik karya JSOP yang diputar di Watutulis Prambon itu semacam isyarat alam. Bahwa sang maestro, JSOP, pamit dari alam fana menuju kasunyatan. Menuju ke pangkuan sang mahadaya.

Pagi jelang siang, Senin 5 Februari 2018, muncul berita di internet. Mas JSOP meninggal dunia pada usia 63 tahun. Sempat koma selama dua bulan selepas konser terakhirnya bersama sejumlah musisi papan atas negeri ini.

Selamat jalan Mas JSOP!

Semoga berbahagia bersama Sang Pencipta di surga!

25 January 2018

Revolusi Jurnalistik Jawa Pos di Kembang Jepun

Oleh DAHLAN ISKAN

(Kata pengantar buku API REVOLUSI JAWA POS KEMBANG JEPUN)

Generasi Kembang Jepun Jawa Pos yang dimaksud dalam buku Api Revolusi ini terbagi tiga angkatan. Ada angkatan lama. Yang sudah lebih dulu bekerja di Jawa Pos sebelum saya ditunjuk untuk memimpin Jawa Pos. Mereka ada yang sudah puluhan tahun bekerja di koran yang didirikan tahun 1949 oleh Mr The Cung Shen ini. Bisa juga disebut angkatan sebelum Jawa Pos diambil alih oleh PT Grafiti Pers di mana Pak Eric Samola adalah direktur utamanya.

Saya ditugaskan memimpin Jawa Pos sejak 2 April 1982 tapi baru masuk kantor tanggal 5 April 1982. Waktu itu tidak jelas siapa pemimpin redaksinya. Secara formal pimrednya masih Pak Theo Oen Sik. Tapi sudah bertahun-tahun tidak pernah masuk kantor. Lagi bermusuhan dengan pemilik koran itu, The Chung Shen. Pimred sehari-hari dijabat Pak Oetje, tapi yang paling mengerti jurnalistik adalah almarhum Imam Sudjadi.

Saat buku ini terbit di akhir 2017, beberapa orang dari angkatan ini masih hidup dan sehat. Misalnya Pak Koesnan Soekandar yang ganteng, Mas Sudirman yang cabe rawit, Bung Nasaruddin Ismail yang gagah, Nany Wijaya yang kian cantik, Zainal Muttaqin yang waktu itu korektor naskah tapi kemudian menjadi wartawan olahraga. Jangan lupa masih ada Johny Budimartono, redaktur olahraga yang legendaris yang masih aktif jadi komentator olahraga di TV lokal.

Satu deret nama lagi masih hidup dan masih bisa menyaksikan perkembangan Jawa Pos hari ini. Misalnya Eddy Sudaryono (beliau sekarang sakit kena stroke). Santoso Bondet. Itulah angkatan harap-harap cemas. Di satu pihak ada harapan nasib mereka berubah. Terutama di tangan pemimpin baru.

 Sudah terlalu lama mereka menderita. Kinerja perusahaan kian sulit. Tidak ada uang makan. Tidak disediakan minum. Tidak ada tunjangan-tunjangan. Fasilitas kerja pun sangat minim. Pesawat telepon hanya satu. Untuk semua orang redaksi. Itu pun dikunci. Yang ingin telepon harus minta izin. Itu pun harus jelas untuk apa dan telepon ke mana. Dan hanya untuk sambungan lokal.

Mengetik berita hanya boleh di kertas bekas. Waktu itu memang belum ada komputer. Kertas untuk mengetik itu di baliknya harus sudah ada bekas tulisan yang tidak digunakan lagi.

Di lain pihak mereka cemas jangan-jangan tidak dipakai lagi. Mereka mengira pastilah manajemen baru menerapkan syarat-syarat yang tinggi. Mereka merasa belum tentu bisa memenuhi standar seorang wartawan yang saya inginkan. Pastilah, pikir mereka, saya akan menerapkan standar wartawan Tempo.

Itulah angkatan yang di satu pihak tidak ingin lagi gajinya begitu kecil, tapi di lain pihak jangan-jangan justru kehilangan pekerjaan.

Saya tahu perasaan mereka yang seperti itu. Saya harus sabar. Saya tidak ingin heboh-heboh. Akibatnya memang kurang dirasa. Banyak pembaca tidak bisa melihat apa perbedaan edisi Jawa Pos sebelum dan sesudah tanggal 5 April 1982. Tidak ada perubahan radikal. Boleh dikata perubahan isi Jawa Pos seperti siput yang lagi sakit perut. 

Itulah era jurnalistik press release. Wartawan hanya menulis berita berdasar siaran pers. Press release mendominasi isi koran. Tidak ada berita hasil wawancara. Tidak ada berita hasil liputan. Tidak ada berita hasil penyelidikan. Tidak ada feature. Tidak ada pojok. Tidak ada karikatur. Saya menyebutnya tidak ada karya jurnalistik di Jawa Pos.

Pelan-pelan mulailah wartawan Jawa Pos menerima penugasan. Semua penugasan datang dari saya. Wartawan A harus ke mana, mencari siapa dan menanyakan apa. Wartawan B harus ke mana meliput apa. Begitulah. Semua wartawan menunggu penugasan dari saya. Sebelum berangkat mereka saya bekali cara meliput, cara wawancara, dan pertanyaannya apa saja. Inilah era baru untuk wartawan Jawa Pos. Tidak lagi hanya menunggu undangan dari instansi.

Setiap mereka kembali ke Kembang Jepun saya pun menyalaminya. Menyambutnya dengan senyuman. Capek ya? Sulit ya? Ketemu ya? Dapat apa saja? Yang menarik apa?

Ada yang wajahnya penuh semangat. Ingin melaporkan semua penugasan berhasil dilaksanakan. Ada yang agak takut-takut karena gagal. Semuanya saya dengarkan dengan sabar. Yang berhasil saya puji habis. Lalu memintanya segera menuliskannya. Yang gagal saya ajak diskusi mengapa gagal. Lantas apa lagi yang harus dilakukan. Saya dorong dia untuk ke lapangan lagi. 

Untuk kembali ke lapangan seperti itu ada beberapa sikap. Ada yang langsung berangkat sambil membawa semangat baru. Ada yang berangkat dengan ngedumel. Ada pula yang beralasan tidak mungkin berhasil. Misalnya karena sudah larut malam. Atau lokasinya jauh. Atau sudah terlalu lelah. 

Untuk yang seperti terakhir itu biasanya saya mengerutkan kening, menatapnya agak lama dam dengan sekejap saya berangkat ke lapangan. Saya tidak memberi tahu dia saya ke mana. Besok paginya dia akan baca sendiri liputan saya di koran. Yang dia anggap tidak mungkin berhasil itu. Di hari-hari berikutnya dia tidak lagi enggan kalau diminta balik ke lapangan.

Dari jawaban-jawaban mereka yang baru pulang dari lapangan, saya memberi beberapa komentar. Misalnya, nah, bagian itu yang menarik. Bagian itu yang harus dijadikan lead tulisan. Dari sini mereka mulai tahu mana bagian yang paling menarik dari sebuah peristiwa. Untuk dijadikan pembuka sebuah tulisan.

Kemampuan menilai mana bagian yang menarik dari sebuah peristiwa itulah yang harus dilatih. Mereka harus memiliki penciuman berita yang ibarat kemampuan kucing mencium ikan asin.

Kadang mereka kembali ke Kembang Jepun menceritakan panjang lebar apa yang barusan didapatkannya. Tapi ternyata tidak ada satu bagian pun yang menarik untuk ditulis. Tentu saya minta dia kembali ke lapangan untuk melengkapinya.

Setelah mereka menuliskan berita, saya sendiri yang memeriksa tulisan itu. Biasanya si wartawan yang bersangkutan saya minta duduk di sebelah saya. Agar tahu bagaimana menuliskan berita dari bahan yang didapat di lapangan tadi. Di tahap ini saya tidak hanya bertindak sebagai editor tapi juga mentor. 
Dari proses seperti itu mereka bisa belajar dengan cepat. Ada juga yang lambat. Pak Koesnan termasuk yang cepat menyesuaikan diri. Bahkan Nany Wijaya sering menolak menerima bimbingan. Langsung kabur ke lapangan. Dan hasilnya hampir selalu memuaskan.

Dengan ritme kerja seperti itu tentu banyak yang kelelahan. Termasuk kelelahan batin. Apalagi gaji mereka belum banyak berubah. Beban kerja yang berat itulah yang membuat mereka tidak lagi merasa terancam kalau akan masuk wartawan-wartawan baru. Tugas-tugas kian banyak. Tenaga yang ada tidak cukup lagi. Tapi Jawa Pos belum punya uang.

Maka masuklah angkatan baru. Memang kami belum bisa merekrut wartawan hebat. Rekrutmennya masih berdasarkan pertemanan dan pengamatan. Ada teman-teman yang saya bawa dari Tempo Biro Jatim seperti Mas Slamet Oerip Prihadi yang ekstremis rokok, ada teman-teman muda yang dinamis seperti Yamin Ahmad, Aloysius Koes Riyanto, Iwan Irawanto, Kholili Ilyas dll. Inilah generasi wartawan yang kemampuan mengejar beritanya sangat unggul. Terutama berita Kota Surabaya. Hampir tiap hari Jawa Pos membuat pembacanya terkejut oleh berita eksklusif mengagetkan.

Angkatan ketiga di Kembang Jepun adalah angkatan yang rekrutmennya mulai menggunakan syarat kesarjanaan. Harus sarjana muda. Itulah angkatan Margiono yang kelak jadi bos Rakyat Merdeka dan ketua umum PWI Pusat dua periode. Ada Sholihin Hidayat. Ada Boedi Ganet Oetomo, Ita Lizamia, Diah Indra Cahyuni, M Baehaqi.

Saat itu syarat sarjana muda itu sudah mengejutkan bagi Jawa Pos. Belakangan kami sering menertawakan syarat itu. Tapi, dulu, waktu mengumumkannya kami mengumumkannya dengan penuh kebanggaan. Sarjana muda rek! Maklum, kami yang ada di Jawa Pos saat itu umumnya hanya lulusan SLTA. Termasuk saya, Pak Koesnan, Nany Wijaya, Mas Slamet dll itu. Bahkan setelah membaca pengumuman penerimaan wartawan baru itu Pak Koesnan sering guyon begini: untung kita sudah masuk Jawa Pos duluan. Kalau baru masuk sekarang sudah tidak bisa diterima. Lalu... hahahaha... dengan riuhnya.

Mereka yang tidak sarjana muda itu juga sering menghibur diri sendiri begini: lulusan SLTA gini-gini kita tidak akan kalah sama yang sarjana. Dan itu memang bukan sekadar guyon. Nyatanya sampai kantor Jawa Pos pindah dari Kembang Jepun ke Karah Agung masih belum ada yang bisa menulis feature mengalahkan Pak Koesnan.

Dalam praktik kerja sehari-hari memang terjadi persaingan prestasi. Antara yang otodidak dengan yang berbau kampus itu. Saling tidak mau kalah. Saling menunjukkan prestasi. Hasilnya: Jawa Pos kian dilihat orang. Dari koran yang hampir bangkrut dan oplahnya hanya 6.000 eksemplar menjadi koran yang mulai dilirik masyarakat Surabaya.

Angkatan sarjana muda inilah yang mengubah citra Jawa Pos sedikit lebih elit. Mulai ada tulisan-tulisan berbau kampus.
Walhasil tiga angkatan itulah yang mewarnai perjuangan menghidupkan Jawa Pos di Kembang Jepun. Kembang Jepun bukan lagi kantor tapi sudah padepokan. Margionon sering tidak pulang. Tidur dengan kemul sarung di atas meja kerja. Bangunnya pun sering kesiangan. Banyak karyawan yang masuk kantor pagi sungkan melongok ke ruang redaksi. Takut terlihat para redaktur yang masih tidur dengan sarung tersingkap.

Di Kembang Jepun juga oplah Jawa Pos mulai melejit. Khususnya berkat liputan eksklusif dari Manila selama hampir dua bulan terus-menerus. Yakni saat Nany Wijaya tinggal di Manila meliput runtuhnya kekuasaan diktator Marcos. Nany Wijaya membuat rekor yang belum terpecahkan oleh siapa pun sampai sekarang: menghasilkan headline halaman satu selama 40 hari terus-menerus.

Dari Kembang Jepun pula Jawa Pos mulai dikenal keunggulannya dalam liputan sepak bola. Khususnya mengenai Persebaya dan Piala Dunia. Ada Johny Budimartono yang sampai sekarang masih tetap segar, langsing dan bujang. Dialah dewa penulisan sepak bola. Dia pula yang melahirkan wartawan olahraga andal seperti Zainal Muttaqin. Yang kelak di tahun 2000 dan setelahnya lebih dikenal sebagai andalan manajemen di Jawa Pos Group. Yang karirnya pindah ke jalur manajemen. Menjadi dirut Kaltim Pos. Direktur holding Jawa Pos dan dirut perusahaan listrik. Kembang Jepunlah kawah candradimukanya.

Saya menyambut gembira terbitnya buku ini. Sebuah revolusi jurnalistik yang menghasilkan kerjaan media di Indonesia. Sebuah kerja rodi yang menghasilkan kemakmuran bagi generasi sesudahnya.***

Bikin kata pengantar pameran lukisan di Sidoarjo

Masih di awal 2018 teman-teman pelukis Sidoarjo mulai bikin kegiatan pameran. Bahkan dua pameran sekaligus. Pameran solidaritas mengenang pelukis senior almarhum Dharganden di Museum Mpu Tantular, Buduran, dan pameran Napak Tilas SidoARTjo di Gedung Joang Jalan Ahmad Yani 10 Sidoarjo.

Saya kira dua pameran lukisan keroyokan ini merupakan awal yang bagus. Greget kesenian yang sempat loyo, khususnya sejak semburan lumpur akhir Mei 2006, pelan-pelan mulai pulih. Selama ini teman-teman seniman Sidoarjo juga aktif berkarya, tapi pamerannya di Surabaya dan kota-kota lain. Bahkan ada yang di luar negeri seperti Mas Jumaadi di Sydney, Australia.

Yang menarik, di dua pameran ini saya diminta menulis kata pengantar. Untuk melengkapi semacam katalog singkat. Memangnya saya pengamat kesenian, khususnya seni rupa? "Wis lah... pokoknya tulisanmu ditunggu. Paling lambat lima hari," ujar Mas Kris, wartawan RRI yang belakangan juga belajar jadi seniman lukis.

Waduh... pakai deadline segala! Kayak tulisan di media massa saja. "Anda layak jadi pengamat kesenian Sidoarjo," ujar Kris merayu saya. Hehehe...

Tak lama kemudian Juniarto Dwi Nugroho, seniman lukis yang juga pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, meminta hal yang sama. Bikin tulisan pengantar pameran lukisan bersama Komperta (Komunitas Perupa Delta) dan kawan-kawan pelukis Sidoarjo. "Tolong cepat dikirim karena katalognya mau saya cetak," ujar Juniarto yang juga guru seni rupa di beberapa sekolah itu.

Kalau ditodong seperti ini, apa boleh buat, harus dituruti. Sebab bagaimanapun juga Juniarto, Kris, dan para seniman itu memang cowas: konco lawas. Hubungan saya dengan seniman-seniman Sidoarjo itu bukan cuma reporter vs narasumber tapi lebih dari itu. Konco ngopi, guyon, diskusi, hingga piknik ke Jolotundo Trawas.

Saya jadi tahu Jolotundo ya berkat jasa pelukis senior almarhum Bambang Thelo dan pelukis-pelukis Sidoarjo. Mereka juga yang dulu membantu memberikan informasi tentang seluk beluk Sidoarjo dan permasalahannya.

Syukurlah, saat ini eranya HP pintar. Menulis kata pengantar pameran lukisan atau tulisan apa saja bisa dilakukan di mana saja. Paling enak sambil ngopi di warkop. Maka dua tulisan untuk seni rupa itu pun tuntas dalam waktu singkat.

Tidak pakai teori-teori kesenian yang ruwet, cuplik omongan sana sini, daftar pustaka dsb dst. Saya membuat kata pengantar seakan-akan saya sedang didaulat untuk berpidato saat pembukaan acara. Maka isinya pun dibuat enak dan gayeng. Tidak boleh bikin tuan rumah tersinggung.

Selamat pameran untuk teman-teman pelukis Kota Delta Sidoarjo!

Sys NS ikon radio lawas yang fenomenal

Bintang-bintang lama ikon pop 70an dan 80an pulang satu per satu. Belum lama Yon Koeswoyo, vokalis Koes Plus, dipanggil, barusan giliran Sys NS yang harus menghadap Sang Mahadaya. Sys NS tutup usia pada 23 Januari 2018 karena sakit jantung.

Sys NS, bagi saya yang pernah menikmati masa kejayaan radio, sering bawa radio kecil ke mana-mana, merupakan orang yang luar biasa. Saat itu dia pentolan Prambors. Radio yang menyebarluaskan gaya hidup anak muda ibukota ke kota-kota kecil + desa-desa di seluruh Indonesia.

Radio-radio swasta lokal biasanya ikut memutar banyolan khas Sys NS dan kawan-kawan Sersan Prambors. Serius tapi santai! Itulah istilah lawas, sersan, yang masih saya pakai sampai hari. Sersan aja... gak usah tegang-tegang, begitu pesan saya kepada mahasiswa komunikasi yang magang wartawan.

Namanya juga radio, saya hanya bisa membayangkan wajah Sys dkk di Prambos. Suara Ida Arimurti yang gurih. Ada Tono Sebastian yang suaranya dipakai untuk iklan-iklan top masa lalu. Contohnya iklan Marlboro yang dahsyat itu. "Nomor satu di Amerika... nomor satu di Indonesia!"

Betapa kagumnya saya dengan energi kreatif Sys NS dkk di Prambor zaman biyen. Betapa tidak. Mereka bikin LCLR: lomba cipta lagu remaja yang kualitasnya luar biasa. Musik pop yang sangat berkelas. Sampai sekarang pun saya tak bosan memutar lagu-lagu hasil LCLR di ponsel.

Kok bisa ya remaja tahun 70an dan 80an bisa bikin musik dengan syair yang dahsyat macam Kidung, Lilin Kecil? Aransemennya digarap Yockie Suryoprayogo - sekarang lagi sakit parah setelah bikin konser Menjilat Matahari.

Dahsyat nian pencapaian remaja masa lalu yang dikatalisasi Sys dkk di Prambors! Saya bandingkan syair dan musik lagu-lagu jaman now. Wow.. jauh banget jarak mutunya. Padahal yang menulis syair bukan remaja tapi om-om di atas 35 tahun. Lagu-lagu renyah yang easy come easy go....

Setelah reformasi, Sys NS ikut main politik. Sempat nunut sukses bersama SBY dan Partai Demokrat. Tapi kesenimanannya masih ada sisa. Ini terlihat saat dia bersama Ida Arimurti memandu Zona 80, acara lagu-lagu lawas di Metro TV.

Di situ barulah saya sadar bahwa duet maut Sys dan Ida di Radio Prambors itu ternyata tidak cocok di televisi. Kurang asyik. Tidak lancar mengalir seperti yang saya nikmati di radio-radio saat saya masih SMA dan kuliah. Orang radio yang hebat memang tidak otomatis jadi presenter televisi yang bagus.

Lama tidak mengikuti perkembangan Sys NS, saya membaca judul berita di internet. Sys NS sudah pulang.

Selamat jalan Mas!