29 November 2016

Jockey Suryo Prayogo maestro pop progresif Indonesia



Akhir-akhir ini saya cukup sering diskusi dengan Jockie Suryo Prayogo. Beliau pemusik kawakan, komposer musik pop era 70an sampai sekarang. JSOP  (begitu julukannya di media online) kondang sebagai pemain keyboards grup rock legendaris Godbless.

Sudah ratusan lagu diciptakan JSOP. Setiap saat musisi yang merintis karir dari Malang itu bahkan hampir setiap hari berkreasi. Dan... lagu-lagunya selalu unik dan berkelas. JSOP-JSOP-lah yang mewarnai album-album LCLR alias lomba cipta lagu remaja di masa lalu.

Diskusi dengan JSOP menurut saya berbeda dengan artis-artis biasa. Sebab yang dibahas bukan cuma musik tapi juga sosial politik budaya hingga agama. Kemarin kami diskusi panjang tentang fenomena pengerasan ideologi agama di Indonesia. Kami pun berpaling ke wacana lama yang sering dibahas Bung Karno pada tahun 1930an.

Saya geleng kepala melihat kemampuan JSOP yang luar biasa. Rujukannya luas. Jelas beliau komposer yang doyan baca buku, diskusi, dan jeli membaca situasi masyarakat. Berapa galaunya JSOP melihat unjuk rasa kasus Ahok di Jakarta yang dikemas begitu canggih.

Mengapa musik pop Indonesia sekarang seperti ini? Perbedaan dengan era lama terlalu jauh. Seperti terputus dengan masa lalu. Orang Indonesia yang berusia di atas 40 makin sulit menyukai lagu-lagu pop sekarang. Sebaliknya anak-anak muda pun tidak bisa mengapresiasi musik pop lama. Bahkan nama-nama besar di masa lalu macam Harvey Malaihollo, Nicky Astria, Elfa, hingga Bob Tutupolly pun tak kenal.

Ada apa dengan musik pop sekarang?

JSOP mengakui musik pop Indonesia tak bisa dilepaskan dari musik Barat. Semua instrumen dari sana. Tangga nada, pola komposisi, sound dan sebagainya aslinya dari Barat. Tapi tidak berarti kita menelan mentah-mentah-mentah gaya pop Barat.

JSOP dkk di masa lalu dengan sadar melakukan adaptasi dan modifikasi. Sehingga rasa Indonesia sangat menonjol. Bukan copy paste begitu saja musik pop USA atau Eropa. "Agnes Monica itu sebetulnya punya karakter yang kuat. Tapi kebule-bulean," ujar JSOP menanggapi pertanyaan saya.

JSOP menulis:

"Pesan yang ingin saya sampaikan: ..... ngapain generasi sekarang harus ikut2an membeo/berkiblat ke musik barat? Kalau soal modern dan lebih cerdas ... itu sudah pasti wong itu produk budaya masyarakat mereka sendiri. Tapi sosiologi kultural kita itu berbeda dengan masyarakat barat.

"Mbok dipaksa2in tetep saja akan wagu dan terdengar eksentrik .... eksentrik itu bukan artistik maupun unik. Konklusinya: pelajari modernisasinya (subjek) .... bukan meniru kulturnya (objek). Kultur dalam hal ini adalah raw material milik kita sendiri. Kuasai cara/metode membuat komposisi yang bisa diadopsi."

Bagaimana dengan musik yang berisik?

JSOP: "Definisi musik yang dianggap berisik itu bukan hanya dari perspektif 'keras atau pelannya' bunyi2an yang terdengar. Berisik itu ketika masing2 struktur bunyi yang ada terkesan tumpang tindih saling memperebutan ruang."

JSOP: "Definisi memperebutkan ruang itu karena banyaknya jenis lalu lintas progresi not yang mau tampil."

Kenapa musik pop justru kehilangan 'gairahnya' ketika di-backup dengan orkestrasi yang megah?

JSOP: "Karena frasanya menjadi 'tua' dan 'mapan'... bertolak belakang dengan filosofi pop yang progressive & revolusioner. Lalu ditulislah  line strings, woodwinds dan lain2 yang kompleks agar tidak terkesan tua, misalnya. Alih2 justru berisik kehilangan identitas karena sebagai sebuah lagu tidak lagi fokus. Musik served lagu atau lagu yang melayani musik.

Mengapa terkesan tua?

JSOP : "... karena disiplin intrumentasi orkestra harus patuh pada doktrin classic, antara lain perfect pitch .... sedangkan pop di era romantic bukan menjadi ketentuan2 yg bersifat mutlak. Ekspresi lebih mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi kebebasan. Maka seorang orkestrator bukan hanya harus memenuhi persyaratan teknis/akademik, lebih penting lagi harus menguasai sosiologi musik yang hendak diciptakan.

JSOP: "Perhatikan ketika group2 luar semacam Metallica ketika mereka bekerja sama dengan orkestra .... dimensi orkestra cukup hanya sebagai layer yang tidak maju ke depan mendominasi arransemen. Tidak membuat lalu lintas2 baru dalam komposisi orkestrasinya."

JSOP: "Bikin lagu itu yang susah bukan ngarang melodinya atau nulis syairnya, tapi mempertemukan dua unsur diatas menjadi satu kesatuan frasa yang bisa disebut estetika. Banyak orang asal menulis syair hanya karena merasa gaya bahasanya dianggap mewakili persoalan2 kekinian tanpa peduli pada melodi yang 'terseret2' kebingungan dalam membahasakan pesan2 syair yang tertulis .... lalu dinyanyikan saja sekenanya. Yang penting syairnya dianggap heboh atau ngetren ... duuhh. Setelah persoalan antara melodi dan syair di atas teratasi, barulah kemudian musik berperan untuk membungkusnya agar lebih sempurna."

Apa kelemahan komposer kita?

JSOP: "Kekeliruan2 yang sering kali dilakukan aranger maupun orkestrator musik kita itu seringnya mengaransemen ulang atau reinterpretasi lagu yang membuat karakter lagu tersebut berubah dari frasa aslinya. Bila komposisi baru tersebut dialamatkan ke lagu2 yang sudah dikenal hingga dianggap populer karena mendapat apresiasi yang besar dari publik .... maka yang terjadi adalah semacam 'kecelakaan'. Namun bila memang sengaja dengan tujuan ingin melahirkan image/persepsi baru yang juga ditujukan bagi generasi2 barunya.

Maka diperlakuan waktu cukup panjang sebagai pembuktian atau untuk bisa dibuktikan apakah versi yang baru tersebut mampu memperoleh besaran kadar apresiasi yang sama dari yang sebelumnya. Hal di atas tersebut juga merupakan upaya kreatif dari arranger namun memikul konsekuensi 'riskan' yang cukup besar."

JSOP: "Musik dan lagu2 yang dibuat sejak era generasi saya 1970an (LCLR dan Badai Pasti Berlalu) wajib untuk terus diindakkanjuti proses2 berikutnya melalui pola2 pemahaman yang sama. Bahwa musik pop itu produk budaya. Musik pop bukan sebatas bunyi2an harmoni diatonal apalagi dibatasi
dengan persoalan 'selera' atau kebiasaan2 tertentu yang hanya bersandar pada teori musical serta trend maupun gaya. Menguasai ilmu itu penting. Namun tanpa mengenal filsafat ilmu itu sendiri, musik pop Indonesia hanya akan menjadi komoditas dagangan pragmatis yang akan diperlakukan semena2 oleh pemodal2 yang banal
budaya."

21 November 2016

Launching, Opening, Substitusi, Konsumsi

"Launching itu apa?"

Begitu pertanyaan mas Anang asal Krian usai membaca berita di koran kemarin.

Koran itu memang memuat banyak kata launching di halaman pariwaranya. Launching ruko, launching gudang, launching buku, launching album, hingga launching kegiatan lomba-lomba santai hingga kejuaraan olahraga.

"Apa launching itu pembukaan?" ujar pria 30an tahun yang lulusan SMK itu.

"Cocok. Launching bisa juga disebut pembukaan acara atau kegiatan. Bisa juga peluncuran sebuah produk baru," kata saya berlagak paham bahasa Inggris asli bule.

"Kalau opening artinya apa? Apa bedanya dengan launching?" kejar mas Anang.

Waduh, rupanya mas ini mau ngetes saya!

"Hampir samalah. Mungkin opening lebih cocok untu pembukaan kegiatan atau sekarang lebih populer dengan event. Bisa juga membuka kantor. Ada soft opening, grand opening...," jawab saya sekenanya.
Saya pun lekas meninggalkan warung kopi rakyat jelata di kawasan Buduran Sidoarjo. Kata-kata mas Anang terus berkecamuk di kepala saya. Oh, rupanya kata-kata Inggris seperti launching, opening, soft launching, awarding, topping off... sudah inflasi di media massa. Sebagian masyarakat sangat paham, dan senang karena keren, tapi ada juga orang-orang warkopan yang bingung.

Saya pun sulit membedakan launching dan opening. Sudah minta bantuan Google tapi tetap tidak meyakinkan. "Mengapa tidak dipakai pembukaan saja? Mengapa harus launching?" tanya mas Anang.

Penjelasannya bisa panjang lebar. Dan merambat ke mana-mana: sosial budaya, bahasa, ekonomi, gaya hidup (life style lebih populer di media) hingga mentalitas pribumi yang minderwaardigheids complex di era Hindia Belanda. Mentalitas anak negeri yang tidak percaya diri dengan bahasa nasionalnya.

Kalau mas Anang sering mempertanyakan kata-kata English, saya selalu tersenyum sendiri ketika menemukan kata-kata serapan yang dipaksakan untuk mengganti kata-kata asli yang sudah sangat umum. Contohnya di berita olahraga (sekarang nama rubrik olahraga sudah diganti SPORT):

"Zizou dengan cerdas menyubstitusi hilangnya tiga pilar itu."

Hehehe... MENYUBSTITUSI.

Mengapa tidak dipakai MENGGANTI saja? "Zizou dengan cerdas mengganti tiga pemain pilar yang cedera."

Selain SUBSTITUSI, menyubstitusi, kata serapan lain yang sangat populer di media adalah KONSUMSI: mengonsumsi, dikonsumsi, pengonsumsian....

"Karena tidak punya beras, warga mengonsumsi tiwul."

Lama-lama kata MAKAN bisa tergusur dari percakapan orang Indonesia di kota. "Saya makan nasi" bakal disubstitusi menjadi "saya mengonsumsi nasi".

Begitulah jalannya peradaban. Mesin ketik sudah lama disubstitusi komputer (PC). Komputer disubstitusi laptop. Laptop pun disubstitusi telepon pintar alias smartphone. Dan seterusnya...

Sent from my BlackBerry

15 November 2016

Umat Kristen Diminta Mengampuni Pengebom Gereja Oikumene di Samarinda

Pernyataan Sikap Badan Musyawarah Antar Gereja/Lembaga Keagamaan Kristen Indonesia (Bamag LKK Indonesia) tentang Pengeboman Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda Kaltim, 13 November 2016.

1. Meminta aparat kepolisian dalam hal ini penegak hukum untuk mengusut dan menindak pelaku pengeboman sesuai dengan hukum yang berlaku untuk menjamin tegaknya hukum dan keadilan.

2. Meminta pemerintah (TNI/Polri) untuk memberikan rasa aman atau jaminan/perlindungan keamanan kepada warga negara Indonesia, termasuk umat Kristen (jaminan keamanan untuk beribadah).

3. Bahwa pengeboman tempat ibadah agama apa pun termasuk pengeboman Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda adalah satu bentuk tindakan keji terhadap kemanusiaan dan bukti perlawanan terhadap NKRI dan Pancasila.

4. Presiden RI kiranya  mengambil langkah-langkah strategis dalam menjaga, mengamankan, mempertahankan terhadap upaya-upaya penghancuran NKRI dan Pancasila.

5. Berharap pemerintah untuk menanggung segala beban biaya yang diderita ileh korban dari mulai pengobatan sampai kehidupan ke depanya sebagai wujud tanggung jawab negara kepada warga negaranya.

6. Mengimbau umat Kristen agar tetap tenang serta berdoa untuk kedamaian Indonesia dan mengampuni/memberkati pelaku pengeboman,  memperkokoh kerukunan antar umat beragama dan senantiasa berkoordinasi dengan aparat(TNI/Polri), pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan FKUB setempat.

7. Salam perdamaian dan kesatuan berbangsa dari umat Kristen kepada umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia.

TUHAN memberkati! Salam! Merdeka!!!

Jakarta, 13 November 2016

Ketua Umum Bamag/LKK Indonesia


Agus Susanto                                   

10 November 2016

Pelajaran dari Pilpres USA yang luar biasa cepat

Kok bisa Trump? Begitu judul koran besar di Surabaya pagi ini.

Ya, banyak orang tidak percaya Donald Trump yang bakal jadi presiden USA. Mereka menganggap Donald punya terlalu banyak kelemahan untuk ngantor di Gedung Putih.

Hamid Awaluddin bekas menteri menulis analisis di Kompas kemarin yang intinya Hillary pasti menang telak. Sehingga Bu Hillary bakal jadi perempuan pertama yang jadi presiden USA. Kok kalah ya sama Indonesia yang pernah punya Presiden Megawati.

Tapi apa yang terjadi? Semua analisis di Indonesia (mungkin juga di USA) meleset semua. Bapak Trump mengacaukan semua jajak pendapat. Hasil survei berantakan. Pak Trump menang 279 vs 218.

Kita sering lupa bahwa pemilihan umum (pilpres atau pileg) selalu melahirkan kejutan. Tak terkecuali di USA. Sehebat-hebatnya Hillary, pintar, berpengalaman, bicaranya enak, bukan jaminan menang. Rakyat punya naluri sendiri. "Ada kekuatan semesta yang bermain dalam kehidupan," ujar mas Rokim, wartawan senior yang mendalami dunia supranatural.

Itulah yang bagi kita orang Indonesia disebut takdir! Kalau memang sudah dikehendaki Hyang Kuasa, jadilah! Tidak ada yang bisa menghalangi. Orang-orang lama selalu bilang seorang raja (pemimpin) adalah orang yang ketiban pulung. Cara mendapat pulung itu? Kerja kerja kerja... dan selanjutnya takdir yang bicara.

Saya yang bukan wong Amerika sih netral saja. Yang menang Trump atau Hillary sama saja. Sebab kedua capres itu tentu sama-sama punya kemampuan untuk jadi presiden. Gak mungkinlah wong kenthir, goblok, ngawur... dipaksakan untuk nyalon. Apalagi menang telak. Emangnya orang USA yang memilih Trump itu goblok semua?

Yang mengharukan, seperti siaran langsung di Metro TV kemarin, Donald Trump menyampaikan pidato kemenangan yang mengesankan. Normatif sih tapi saya apresiasi tinggi sebagai pelajaran untuk Indonesia. Ia memuji Hillary yang sudah mengabdi sangat lama untuk rakyat Amerika. Meskipun terlibat kampanye yang keras, saling menista segala, pada akhirnya pertarungan ini untuk USA juga.

Pak Trump juga bilang di awal pidato bahwa dia sudah menerima telepon dari Bu Hillary yang mengucapkan selamat atas kemenangannya. Luar biasa!

Di usia 70 tahun Pak Trump masih ngotot berjuang untuk tugas kenegaraan yang menyita waktu, energi, pikiran, dsb. Beda dengan para lansia kita yang lebih banyak nongkrong di rumah, ngemong cucu, dengar wayang kulit di radio, ngaji agama, dan sebagainya. Pak Trump membuktikan bahwa manusia punya kesempatan untuk mengabdi, tetap produktif, sampai kapan saja... kalau mau!

Bagi saya, pelajaran paling penting bagi kita di Indonesia adalah ini: Satu, hasil pilpres USA ini luar biasa cepat diketahui. Coblosan hari Selasa, besoknya Rabu sudah final result.

Di Indonesia, hasil pilpres baru diumumkan KPU hampir SATU BULAN setelah hari pencoblosan. Sama persis dengan pemilu pertama tahun 1955. Kalau ada gugatan, bisa tertunda dua minggu lagi.

Dua, capres yang kalah (bersama timmnya) langsung menelepon capres yang menang. Ucapkan selamat! Dan itu tidak sampai 24 jam usai coblosan. Hiruk pikuk pilpres, kampanye yang panas, selesai dengan sejuk.

Di Indonesia? Hehehe.... Jangankan mengakui kekalahan, capres yang kalah malah mengumumkan di televisi, mengklaim sebagai pemenang. Lengkap dengan data lembaga survei abal-abal pesanannya sendiri. Si kalah itu malah menuduh proses pilpres curang, banyak pelanggaran, penggelembungan suara, dsb.

Kita masih ingat, tahun 2014 lalu capres Prabowo berapi-api merasa jadi pemenang (meskipun faktanya terbalik) berbekal data dari PKS. Ternyata data yang dirujuk itu tidak valid. Akibatnya, setelah pilpres suasana politik di Indonesia makin panas.

Saya rasa cukup dua pelajaran itu dulu. Kok bisa ya hasil pilpres di USA bisa diketahui dalam tempo kurang dari 24 jam? Bukan hitung cepat alias quick count yang bisa meleset itu!

Indonesia memang bukan USA yang sudah sangat maju dan canggih. Tapi kalau hasil pilpres kita baru diumumkan satu bulan lebih ya kebangetan!

Sent from my BlackBerry

04 November 2016

Mahalnya harga politisasi agama

Beberapa hari ini kita dibombardir isu yang tidak enak. Politisasi agama dalam pilkada. Khususnya di Jakarta. Begitu banyak pilkada di tanah air tapi cuma Jakarta yang paling heboh.

Begitu hebatnya politisasi SARA, agama dan ras, bahkan ada gerakan unjuk rasa sejuta umat pada 4 November. Tujuannya menekan polisi agar segera memproses hukum Ahok. Tuduhan: penistaan agama.

Gubernur Ahok sendiri sebetulnya sudah minta maaf berkali-kali. Tapi masalah justru makin merembet luas. Politisasi agama memang luar biasa dahsyat dan liar. Apalagi di era media sosial seperti ini. Ketika semua orang bebas membuat isu, gosip, fitnah... dan apa saja sesuai kepentingannya.

Syukurlah, di Indonesia masih jauh lebih banyak orang yang tidak terhasut isu agama. Ajakan demonstrasi malah disambut dengan guyonan segar. "Saya pasti ikut demo 4 November... tapi demo masak nasi goreng jawa," ujar seorang aktivis LSM di Surabaya

"Polisi sudah siapkan pagar betis untuk mengamankan unjuk rasa," tulis teman yang tak lupa menyertakan meme betis-betis mulus wanita cantik. Asem tenan!

Yockie Suryo Prajogo, musisi senior, komposer kondang, teman diskusi saya, menulis status pendek tapi sangat tajam. "Selama isu agama masih menjadi komoditas politik.. pertanda masih banyak orang bodoh di Indonesia...."

Glodak! Kita tidak perlu terlalu cerdas untuk memahami manuver politik SARA yang memang sudah sangat lazim ini. Cukup main feeling saja kita sudah tahu betapa gonjang-ganjing isu agama dalam pilkada Jakarta tak lebih dari komoditas orang-orang yang lapar kekuasaan.

Kalau kita ikut terhasut permainan elite yang tak bertanggung jawab, ya makin benar sinyalemen Yockie Suryo Prajogo. Apa boleh buat, masih buanyaaak orang bodoh di Indonesia.

"Itu seperti kondisi di Amerika pada abad ke-16," kata Sascha sang bintang YouTube yang suka bikin parodi tentang orang Indonesia itu.

Tapi mau gimana lagi? Ribuan polisi dan tentara terpaksa dikerahkan untuk mengamankan unjuk rasa. Berapa duit untuk biaya pengamanan? Mobilisasi kendaraan militer ke Jakarta? Konsumsi dan sebagainya?

Belum kekhawatiran para pedagang atau pemilik toko jika unjuk rasa berbuah kerusuhan. Jalanan yang macet. Citra bangsa yang terpuruk di dunia internasional. Dsb dsb...

03 November 2016

PG Watoetoelis pun ikut ditidurkan

Masih soal pabrik gula (PG) di Kabupaten Sidoarjo. Ternyata tidak hanya PG Toelangan yang ditutup, tapi juga PG Watoetoelis akan ditidurkan tahun depan. Alias tidak giling tebu lagi.

Manajemen PTPN X sepertinya sudah lempar handuk setelah sempat mencoba menggairahkan lagi produksi gula di beberapa parik gula di Jatim. Total ada 10 PG yang "ditidurkan" (istilah pejabat PTPN). Dua di antaranya di Sidoarjo, yakni PG Toelangan dan PG Watoetoelis.

Seperti dugaan saya, manajemen PTPN menilai PG-PG lawas peninggalan Belanda itu sudah tidak efisien. Kapasitasnya jauh di bawah skala ekonomi. Selain mesin-mesin tua, yang paling utama, pasokan tebu yang seret. "Sidoarjo punya empat pabrik gula. Padahal produksi tebu di Sidoarjo tidak mampu memenuhi kebutuhan semua pabrik gula," ujar seorang manajer PG.

Selain dua PG ini, ada dua PG lagi di Sidoarjo, yakni PG Kremboong dan PG Candi Baru. Rupanya PG Kremboong ini yang masih dipertahankan PTPN. Sedangkan PG Candi Baru di bawah manajemen PT Rajawali Nusantara Indonesia. Selama ini Candi Baru mengandalkan pasokan tebu dari luar Sidoarjo.

Apakah PG Toelangan dan PG Waoetoelis hanya ditidurkan sementara? Kemudian dibangunkan lagi? Atau tidur seterusnya? Manajemen PTPN belum memberikan penjelasan gamblang. Yang pasti, sebagian besar petani tebu di Sidoarjo sudah mulai mengalihfungsikan lahannya untuk tanaman lain di luar tebu.

"Menanam tebu itu gak untung. Apalagi masa depannya gak jelas," kata Mas Amak Junaedi, petani tebu asal Kajeksan Tulangan. "PG Toelangan dan PG-PG lain itu memang sudah pantas ditutup. Kondisinya seperti pasien di ICU."

Bukankah PG Toelangan itu membuat Tulangan sangat terkenal? Jadi setting novel Pramoedya Ananta Tour?

"Ah, itu kan masa lalu. Kita tidak bisa hidup dari cerita tentang kejayaan masa lalu. Kita harus lihat ke depan Bung! Mbah saya itu mantan sinder di PG Toelangan... Tapi mau bagaimana lagi? Kondisi ekonomi sudah jauh berubah," kata Amak.

Diskusi dengan pentolan LSM dan tukang demo di Sidoarjo ini kemudian jadi panjang. Saya tidak menyangka kalau orang Tulangan sendiri malah santai saja menanggapi rencana penutupan PG Toelangan. Padahal, saya yang bukan orang Tulangan (Sidoarjo) malah sedih, keberatan, dengan tutupnya PG-PG di Sidoarjo.

Dari 16 PG bikinan Hindia Belanda (ada yang bilang 14 atau 12), sekarang tinggal 4. Tahun depan tinggal 2. Tahun depannya lagi tak tahulah kita. Melihat tren ini, bisa dipastikan ke depan tidak ada lagi PG di Sidoarjo yang ekonomi pertaniannya makin ditinggalkan. Seperti belasan PG di Surabaya yang sekarang tinggal dongeng di buku-buku sejarah.


Sent from my BlackBerry

Paroki Mojorejo Blitar jadi paroki ke-44 di Keuskupan Surabaya

Keuskupan Surabaya ketambahan satu paroki baru: Paroki Santo Fransiskus Asisi di Mojorejo, Kabupaten Blitar. Peresmian dilakukan dalam ekaristi yang dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono pada awal Oktober 2016.

Dengan demikian, saat ini Keuskupan Surabaya memiliki 44 paroki. Sekitar 2000 orang datang menghadiri peristiwa bersejarah di Mojorejo ini. Sekitar 40 pastor tumplek blek bersama umat Katolik setempat. Bupati Blitar dan pejabat-pejabat lain tak ketinggalan.

Jauh sebelum jadi paroki, Stasi Mojorejo sangat terkenal di Jawa Timur. Umat Katolik yang mayoritas petani dikenal sangat religius dan selalu merawat budaya Jawa. Kesenian wayang kulit sangat hidup. Begitu pula kesenian-kesenian tradisional Jawa lainnya.

Panggilan imamat pun tergolong subur. Saat ini tercatat 14 romo berasal dari Mojorejo. Belum suster dan frater calon imam yang masih dalam masa formasi di seminari rendah dan seminari tinggi. Karena itu, sudah sangat layak Stasi Mojorejo dinaikkan statusnya sebagai paroki. Setelah uji coba atau kuasi paroki selama tiga tahun.

Jumlah umat Katolik sekitar 2.310 jiwa. Tersebar di Mojorejo dan sembilan stasi: Bejirejo, Tugurejo, Wonorejo, Mirigede, Sidorejo, Gondangtapen, Sekargading, Sumberejo, dan Jolosutro.

Selamat untuk Paroki Mojorejo Blitar! Semoga benih iman dan panggilan makin subur setelah jadi paroki ke-44.

Lidah Api Ahok Bikin Kisruh

Kita yang tinggal di luar Jakarta tidak punya kepentingan dengan Ahok. Mau Ahok menang atau kalah, UMK Surabaya dan Sidoarjo tak berubah. Macet di Sidoarjo, banjir yang makin sering, pungutan ini itu pun tak bisa diselesaikan Ahok yang bukan bupati atau gubernur kita.

Tapi begitulah yang terjadi beberapa minggu terakhir. Kita sibuk debat soal Ahok di Jakarta. Tentang omongan ngawur Ahok yang bikin geger di Pulau Seribu. Ucapan yang kini jadi bumerang buat Ahok yang katanya calon gubernur terkuat.

Teman-teman di grup media sosial di Sidoarjo ikut panas. Saling maki, saling serang, ungkit SARA, gara-gara Ahok. Beberapa admin jadi bulan-bulanan karena dianggap berpihak. Waduh... waduh... panas pagi ini.

Makin panas jelang rencana unjuk rasa besar-besar di Jakarta 4 November yang terkait erat dengan Ahok. "Ahok itu menistakan agama. Menistakan kitab suci. Harus ditangkap," begitu antara lain komentar salah satu anggota grup yang dikenal suka dakwah di grup FB.

Kubu yang netral tak kalah banyak. Mereka tak punya urusan dengan Ahok. Bung Karno dari Wunut Porong sebagai tiyang sepuh mengingatkan semua pihak untuk mewaspadai agenda ekstremis yang menumpang isu Ahok. "Ingat empat pilar," pesan Bung Karno yang juga budayawan senior Sidoarjo.

Luar biasa panas suhu politik Jakarta yang merembet ke mana-mana-mana. Dan pemicunya adalah satu kalimat Ahok yang maunya bercanda tapi ngawur pol itu. Ahok sangat tidak peka dengan isu agama. Padahal dia berasal dari Belitung yang sejak kecil hidup di tengah masyarakat Melayu yang sangat islami.

Ibarat sepak bola, Ahok ini pemain konyol yang melakukan blunder luar biasa. Dia mengoper bola kepada penyerang lawan di depan gawang yang sudah kosong. Bagaimana tidak gol?

Sudah pasti blunder itu membuat elektabilitas Ahok turun. Bisa turun banyak bisa sedikit. Bisa juga Ahok dijadikan tersangka dan dijebloskan ke penjara.

Tidak bisa lagi jadi calon gubernur? Itulah yang diinginkan para politisi dan ormas-ormas penentang Ahok. Itulah harga mahal yang harus dibayar Ahok akibat ketidakmampuannya menjaga lidah.

Lebih celaka lagi jika ucapan Ahok di Pulau Seribu itu mengguncang stabilitas politik dan ekonomi di Indonesia.

29 October 2016

Senjakala Blog di Hari Blogger Nasional

Saya baru tahu kalau di Indonesia ada hari blogger nasional. Diperingati setiap 27 Oktober. Tahun ini sudah jalan sembilan tahun. Wow, ternyata blogging masih ada di Indonesia yang makin gandrung media sosial ini.

Ketika masih baru (seperti semua barang baru), blogging memang luar biasa bergairah di tanah air. Mulai artis, guru, orang biasa, pedagang, pelajar, hingga petani dan nelayan bikin blog. Komunitas blogger sempat ramai di berbagai kota.

Di Surabaya, dulu, arek-arek blogger biasa berkumpul, diskusi, nulis bareng di Taman Bungkul. Masih pakai laptop yang besar. Belum ada netbook. Smarphone belum terbayang. Di Sidoarjo kumpulnya di alun-alun. Bahkan Sidoarjo pernah jadi tuan rumah kongres blogger. Ramai banget!

Tapi teknologi informasi berkembang dan berubah begitu cepat. Revolusi itu datang lewat smartphone. HP yang bisa nyambung internet. Media sosial makin bergairah. Muncul micro blogging dengan twitter dan sejenisnya. Facebook makin booming karena telepon pintar tadi.

Lalu, blogging pun menjadi cerita lawas. Barang antik. Teman-teman yang dulu rajin blogging hijrah ke medsos. Tulisan pendek, status informal, langsung disambut komentar berjubel di social media. Beda dengan blog yang makin kehilangan pembaca dan komentator.

Maka blogger kawakan AH, yang dulu mengajari wartawan-wartawan muda belajar blogging, pun tak lagi rajin menulis di blognya yang dulu jadi rujukan banyak orang Indonesia. Selain sibuk dengan urusan lain, AH lebih banyak diskusi di media sosial. Blognya mangkrak.

Inikah senja kala blog? Bisa jadi benar tapi bisa salah. Sebab media sosial sebagus apa pun tidak bisa menggantikan tulisan panjang ala blog. Meskipun di Facebook pun ada fasilitas untuk blogging.

Masih relevankah blog di era serba medsos? Masih perlukah hari blogger nasional? Yang pasti, komunitas-komunitas blogger di banyak kota sudah lama bubar jalan.

Selamat hari blogger nasional?


Sent from my BlackBerry

Dahlan Iskan ditahan! Kajati Jatim kebablasan!

Sulit dipercaya Kajati Jatim Maruli Hutagalung melakukan tindakan hukum seekstrem ini. Menahan Dahlan Iskan di Rutan Medaeng Sidoarjo. Pak Dahlan dirut PT Panca Wirausaha (perusahaan daerah milik Pemprov Jatim) dituduh korupsi.

Korupsi apa? Puluhan perusahaan plat merah yang sangat parah itu justru diselamatkan DI. Sebagai pengusaha berpengalaman, DI melakukan restrukturisasi. Agar aset-aset mati itu hidup lagi. Kebijakan korporasi ala DI ini justru dipuji berbagai kalangan di Jatim. Parlemen pun ikut mendukung.

Betapa tidak. Perusahaan-perusahan daerah itu terbukti bisa cetak laba. Dari aset yang cuma Rp 63 miliar menjadi Rp 250 miliar. Naik empat kali lipat.

Bukannya diapresiasi, apalagi DI bekerja 10 tahun sebagai dirut PWU tanpa digaji, mantan menteri BUMN ini malah dijadikan tersangka. Kemudian dijebloskan ke penjara kemarin malam.

Rabu pagi, ketika Pak Bos diperiksa kali kelima di Kejati Jatim, tetangganya Graha Pena markas Jawa Pos, feeling saya sudah gak enak. Kalau sampai diperiksa lima kali, dengan materi yang diulang-ulang, biasanya ada apa-apa....

"Yo opo iki Pak Bos... kok diginikan sama jaksa," bisik saya kepada teman saat rapat di Kembang Jepun Surabaya. Ruang yang pada medio 80an dipakai Pak Bos (Dahlan Iskan) untuk membereskan koran lama Jawa Pos yang saat itu beroplah kecil dan merugi.

Saya pun tidak konsentrasi lagi menyimak materi rapat. Pencet terus beberapa laman berita online. Tak ada perkembangan. Kemudian televisi bikin siaran langsung vonis Jessica. Penjara 20 tahun!

Breaking news! Dahlan Iskan ditetapkan sebagai tersangka! Lima menit kemudian : Dahlan Iskan ditahan di Rutan Medaeng!

Oh Tuhan....

Bahwa Dahlan Iskan bakal jadi tersangka sudah bisa ditebak. Tapi ditahan di rutan? Ini yang benar-benar di luar dugaan hampir semua orang yang mengetahui riwayat kesehatan Dahlan Iskan. Cerita panjang lebar nan mencekam sudah ditulis Pak Bos, maestro features, di buku Ganti Hati dan Hati Baru yang laris manis itu.

Singkat cerita, Dahlan Iskan menjalani operasi transplantasi liver di Tianjin Tiongkok pada Agustus 2007. Sejak itu beliau wajib menjaga diet, olahraga, rutin minum obat-obatan sekian macam sekian kali sehari. Harus tepat waktu. Lingkungan kerja dan tempat tinggalnya pun harus sangat steril.

Pak Maruli dan para jaksa tentu sudah tahu kondisi Pak Dahlan. Apalagi ada surat resmi dari Dr Sun Xiaoye dari rumah sakit di Tianjin tentang kondisi kesehatan Dahlan Iskan. Intinya, nyawa Pak Dahlan terancam jika berada di dalam penjara.

Apalagi, kita tahu, Rutan Medaeng ini sejak dulu kelebihan penghuni. Sekitar 2000 orang. Padahal idealnya di bawah 1000 tahanan. Bisa dibayangkan seorang Dahlan Iskan yang hidup dengan liver cangkokan harus tinggal dalam penjara macam ini.

Betul kalau di Medaeng ada poliklinik. Ada dokter, perawat dsb. Tapi kapasitasnya tidak dirancang untuk menangani orang dengan rekam medik seperti Dahlan Iskan. Bahkan rumah sakit terbaik di Indonesia pun belum tentu adekuat. Makanya Pak Dahlan harus rutin kontrol ke Tiongkok.

Sungguh tega pihak kejaksaan, khususnya Pak Maruli, menjebloskan Pak Dahlan ke penjara di Medaeng Sidoarjo. Surat dokter dari Tiongkok itu sebenarnya sudah sangat cukup untuk "menahan" Dahlan Iskan di luar penjara. Menahan pasien ganti hati di dalam penjara sama dengan melanggar hak asasi manusia (HAM) karena terkait kelangsungan hidup manusia yang bermartabat.

Biarlah proses hukum tetap berjalan karena Pak Dahlan tak akan melarikan diri. Juga tidak mungkin mengulangi perbuatan dan menghilangkan barang bukti. Sebab kasus ini sudah berlalu 14 tahun....

Kita berharap Pak Kajati Maruli Hutagalung masih punya hati demi kesehatan Pak Dahlan Iskan. Terlalu mahal risikonya! Kita juga percaya Tuhan melindungi Pak Dahlan yang selalu bilang ingin memaksimalkan umur untuk berbuat baik sebanyak mungkin untuk bangsa dan negara yang dicintainya.