16 January 2018

Susy Nander, Dara Puspita, dan Yon Koeswoyo




Yon Koeswoyo, vokalis sekaligus ikon band legendaris Koes Plus, meninggal dunia pada 5 Januari 2018 lalu. Berpulangnya pria 77 tahun itu merupakan kehilangan besar bagi penggemar musik pop tanah air. Bagi Susy Nander, 70, drummer Dara Puspita, Yon Koeswoyo dan para musisi Koes Bersaudara (kemudian menjadi Koes Plus) punya kesan mendalam dalam perjalanan hidup dan karirnya sebagai pemain band perempuan pertama di Indonesia pada era 1960-an.

Saya menemui Susy Nander di rumahnya, kawasan Puri Surya Gedangan, Sidoarjo. Susy dengan lancar menceritakan riwayat perjalanan Nirma Puspita dan Irama Puspita, girl band papan atas yang kemudian berganti nama menjadi Dara Puspita pada 1965. Musisi senior bernama lahir Sioe Tjwan itu menjadi penabuh bedug Inggris alias drummer grup pop rock itu sejak masih bernama Nirma Puspita. "Anggota Nirma Puspita ada 14 orang. Waktu itu usia kami rata-rata masih 13 tahun," kenangnya.

Namanya juga masih pelajar, harus fokus ke pelajaran, ditambah tekanan orang tua, akhirnya personel band putri ini mrotol satu per satu. Susy memilih bertahanan dan menekuni musik yang memang hobi beratnya. Bersama kakak beradik Titiek Adjie Rachman (gitar melodi) dan Lies Adjie Rachman (gitar pengiring), dan Ani Kusuma (bas), Susy Nander berhasil mengibarkan bendera Irama Puspita di Surabaya dan Jatim umumnya pada pertengahan 1960-an.

Saat itu sedang jaya-jayanya Koes Bersaudara di blantika musik Indonesia. Susy dkk pun gandrung dengan band yang dimotori Tonny Koeswoyo itu. Maka, ketika Koes Bersaudara mengadakan show di THR Surabaya, Susy bersama personel Irama Puspita pun ngebet ingin bertemu Koes Bersaudara di Hotel Simpang. Susy sempat bertemu Handiyanto, teknisi dan manajemen Koes Bersaudara. "Kami hanya ingin minta tanda tangan dan foto bersama. Syukur-syukur diajak jadi band pendamping," tuturnya.

Keinginan Susy dan tiga temannya rupanya disampaikan Handiyanto kepada Tonny Koeswoyo. (Kelak Handiyanto sangat berperan dalam perjalanan Dara Puspita, khususnya saat tur ke Eropa.) Betapa gembiranya Susy dkk ketika Tonny mengajak Irama Puspita ikut tampil di THR. "Wow... itu pengalaman luar biasa. Bisa tampil bersama Koes Bersaudara di satu panggung," ujar nenek yang rutin senam pagi itu.

Tonny Koeswoyo dan personel Koes Bersaudara menilai band remaja belasan tahun ini punya potensi untuk berkembang pesat. Syaratnya, harus hijrah ke Jakarta. Saran dedengkot Koes Bersaudara dan Koes Plus itu pun diikuti Susy Nander dkk. Pada Oktober 1964 mereka berangkat ke Jakarta. Naik kereta api kelas ekonomi. "Bekal kami masing-masing Rp 1.000," tuturnya.

Tinggal di rumah bibi Titiek AR di kawasan Tanah Tinggi, setiap hari Susy dkk berangkat ke markas Koes Bersaudara di Mentawai III/14 Jakarta. Menumpang mobil tetangga, disambung oplet, plus jalan kaki. Saking antusiasnya berguru pada Koes Bersaudara. Rutinitas ini dilakukan sampai bekal mereka habis. Sementara band mereka belum dapat income karena baru merintis karir dari nol di Jakarta.

Nah, Handiyanto dari manajemen Koes Bersaudara rupanya kasihan melihat para musisi muda yang selalu mandi keringat karena berjalan cukup jauh. Ia pun menawarkan Susy dkk untuk tinggal di rumahnya yang dekat dengan studio Koes Bersaudara. Ini membuat hubungan batin mereka dengan Koes Bersaudara makin rapat. "Seperti saudara atau keluarga dekat," tutur Susy.

Ketika Koes Bersaudara dapat job besar pada malam tahun baru 1965, Irama Puspita diajak tampil. Tempatnya di restoran terkenal di kawasan Bandara Kemayoran. Selain Koes Plus dan Irama Puspita, ikut manggung grup-grup top masa itu seperti Panbers, Pantja Nada, Bimbo, dan Los Vitarahma. Sejak itulah nama Irama Puspita makin berkibar di ibukota. Apalagi mereka satu-satunya band yang semua personelnya perempuan. Gaya panggung mereka pun atraktif layaknya band-band luar.
Job demi job pun terus mengalir. Persoalan bekal dan keuangan sudah bisa teratasi. Konser di Istora Senayan pada akhir Februari 1965 membuat nama Irama Puspita kian melambung. Saat itu Ani Kusuma keluar, digantikan Titiek Hamzah sebagai pembetot bas. Pemusik kelahiran Sumatera Barat, 16 Januari 1949, ini sangat berbakat dan mahir menciptakan lagu. Titiek Hamzah yang kemudian banyak memberi warna pada musik Irama Puspta alias Dara Puspita.

Lalu dapat tawaran manggung di Makassar, Sulawesi Selatan. "Promotornya bilang nama Irama Puspita kurang bagus untuk band. Sebaiknya diganti Dara Puspita karena kami berempat masih dara (gadis)," tuturnya.

Usai tragedi berdarah 1965, ketika situasi politik dan keamanan makin stabil, Dara Puspita banjir tawaran manggung. Bahkan, show ke luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Singapura, disusul tur panjang di Eropa. Tiga tahun lebih Susy Nander dan kawan-kawan menikmati puncak karir bermusik dengan manggung di berbagai kota besar di Eropa. "Mainnya ya hampir setiap malam. Asyik banget karena kami masih muda-muda semua," ujarnya.

Kembali ke Indonesia pada akhir 1971, band putri yang fenomenal ini justru surut. Tahun 1972 terpaksa bubar. Alasannya, menurut Susy, Lies menikah dan tinggal di Belanda. Titiek Hamzah tidak fokus lagi karena memilih bersolo karir (dan sukses). Mereka juga beberapa kali ditipu oleh promotor nakal. "Kami dipaksa untuk bayar akomodasi, transportasi, dan konsumsi sendiri," paparnya.

Selain itu, selera musik masyarakat Indonesia mulai berubah. Sementara warna musik Dara Puspita yang pop rock kurang diminati. Belum lagi munculnya Oma Irama yang mengusung musik melayu dengan sentuhan hard rock (belakangan disebut dangdut).

Ditanya tentang isu hubungan khususnya dengan Yon Koeswoyo, vokalis Koes Bersaudara, Susy Nander pun tersenyum ramah. Menurut dia, hubungan itu sebetulnya tidak begitu intens layaknya orang berpacaran pada umumnya. Sebab, Susy bersama tiga temannya dari Dara Puspita sudah keburu melakukan show ke luar negeri dalam waktu yang sangat lama. Sekitar 3,5 tahun.

"Ya, otomatis nggak ada hubungan lagi. Lah, zaman dulu belum ada ponsel. Telepon biasa pun susah," ujarnya seraya tersenyum.

Meski begitu, drummer senior yang masih sempat tampil dalam sebuah festival drum di Jakarta tahun lalu ini mengaku sempat berkorespondensi lewat surat. Itu pun tidak sering. Yon Koeswoyo sendiri melepas masa lajangnya saat Susy Nander dkk sedang melakukan tur di Inggris. "Kita kemudian punya kehidupan sendiri-sendiri," ujarnya.

Setelah Dara Puspita bubar, Susy masih sempat bergabung dalam band baru bernama Dara Puspita Min Plus. Disebut min karena tidak ada lagi Lies dan Titiek Hamzah. "Plusnya itu dua anggota baru: Judith Mannopo dan Dora Sahertian," katanya.

Dara Puspita Min Plus ini tidak bisa bertahan lama. Hanya menghasilkan satu album, kemudian tamat riwayatnya. Susy Nander kemudian menikah dengan Leo Kolompoy yang bekerja di sektor minyak dan gas (migas). Susy pun melepas atribut artisnya dan tekun membina rumah tangga yang harmonis hingga sekarang ketika pasutri ini sama-sama berusia kepala tujuh.

Sesekali Susy diajak mengisi pelayanan musik di gerejanya. "Semuanya saya berikan untuk Tuhan. Termasuk mengunjungi para narapidana di penjara," ujarnya. (rek)

11 January 2018

Gus Ipul dan Khofifah Sama Saja

Pemilihan gubernur Jatim 2018 ini bisa dipastikan aman dan kondusif (pinjam istilah polisi). Mustahil kayak Jakarta yang super panas dengan gorengan SARA itu. Bahkan, di daerah lain pun tidak akan panas.

Jakarta panas karena ada Ahok. Sudah minoritas pangkat tiga, gubernur inkumben itu ngomong kebablasan di Pulau Seribu. Ibarat kiper yang mengoper bola ke striker lawan yang haus gol. Ahok bukan hanya kalah telak, tapi masuk penjara. Hancur pula rumah tangganya.

Itulah politik. Bikin Wong Tenglang (Tionghoa) yang umumnya apolitik, cenderung apatis, khususnya di Jawa, tambah apatis main politik. Lebih baik goreng saham, goreng tanah, goreng sembako... ketimbang digoreng monster-monster politik.

"Bagus mana Gus Ipul atau Khofifah? Saya minta masukan Bung sebagai pengamat di Jatim," tanya seorang ketua partai politik di Sidoarjo. Sejak kapan saya jadi pengamat? Hehehe...

"Kami butuh masukan dari orang media lah," ujar kenalan yang bakal jadi caleg nomor 1 itu.

Yah... saya bilang sama saja. Gus Ipul dan Khofifah sama-sama bagus. Sama-sama NU. Sama-sama asli Jatim. Sama-sama pengalaman. Jadi, silakan anda dkk memutuskan salah satu dari dua calon ini.

Kalau saya yang suka ludruk dan wayang kulit sih lebih suka Gus Ipul. Sebab, guyonan Gus Ipul itu luar biasa. Jarang ada pejabat di Indonesia yang punya kemampuan humor sehebat Gus Ipul alias Saifullah Yusuf. Yang bisa mengimbangi Gus Ipul hanya Ki Enthus bupati Tegal yang juga dalang terkenal.

Soal gender? Tidak relevan. Buktinya, PPP yang dulu ngotot mempermasalahkan Megawati (karena menolak perempuan jadi pemimpin) sekarang justru mendukung Khofifah. Kiai-kiai di Jatim juga tidak pernah menyoal jenis kelamin seorang pimpinan daerah. Kecuali yang homoseks!

Khofifah tipe petarung. Sudah dua kali ikut pilgub Jatim, kalah terus. Tapi belum kapok. Kali ini rupanya mantan pentolan PMII asal Wonocolo ini yakin bisa menang. Ingin menuntaskan ambisinya yang tertunda selama 10 tahun.

Sebagai wagub dua periode, Gus Ipul punya modal lebih dari cukup untuk menang. Siapa pun pasangannya, Gus Ipul jelas di atas angin. Monggo Bung... silakan pilih pasangan calon yang peluang menangnya tinggi.

Pagi ini pentolan parpol itu kirim pesan. "Saya cocok sama Gus Ipul, tapi DPP menginstruksikan agar kami mendukung Khofifah," katanya.

Monggo... sami mawon!

09 January 2018

Ahok ceraikan istri... wassalam

Tahun 2018 diawali dengan suasana yang muram. Malam pergantian tahun tidak semeriah biasanya. Yon Kowswoyo vokalis Koes Plus yang fenomenal itu berpulang ke pangkuan-Nya pada usia 77.

Selamat jalan Mas Yon, ikon Koes Plus. Seniman yang setia mengabdi seni hingga ajal menjemput. Sulit dibayangkan bakal ada band-band atau penyanyi kita yang bisa bikin lebih dari 100 album. Apalagi di era Youtube yang tidak membutuhkan album fisik.

Masih di awal 2018, Ahok menggugat cerai istrinya Veronica Tan. Ada apa dengan Ahok yang sedang menjalani penjara dua tahun? Hanya Ahok dan Vero yang tahu.

Tak dinyana, nestapa politik yang menimpa Ahok punya implikasi sejauh ini. Kalah pilgub, masuk bui, rumah tangga hancur. Perceraian ini sungguh di luar dugaan kita di luar lingkaran Ahok dan Vero.

Masuk penjara, dengan dakwaan seperti itu, sejatinya tidak akan menghancurkan karir Ahok. Beda kalau kasus korupsi atau mencuri duit rakyat atau rasuah. Nama Ahok justru tetap berkibar.

Sayang, kasus rumah tangga ini membuat Ahok boleh dikata selesai di politik. Sebab orang kita yang konservatif masih melihat seorang pemimpin dari keharmonisan rumah tangganya. Pamor Ahok jelas ambruk setelah menggugat cerai istrinya. Meskipun bisa saja yang salah pihak wanita.

"Seorang pemimpin itu keluarganya harus beres dulu," ujar Jerry yang mantan dosen di Surabaya. "Makanya saya tidak mendukung Prabowo."

Bukankah banyak pejabat kita yang keluarganya juga tidak harmonis? Malah ada pejabat dari parpol yang poligami?

"Betul Bung... tapi mayoritas rakyat tetap menginginkan pejabat yang keluarganya rukun damai sentosa," ujar Jerry yang asli Maluku itu.

Nasi sudah jadi bubur. Kita boleh berharap tapi Ahok yang punya otoritas di keluarganya. Sebagai orang cerdas, jenius, risk taker... Ahok tentu sudah punya 1001 pertimbangan yang dianggap terbaik bagi dirinya, Vero, dan anak-anaknya.

07 January 2018

Presiden Trump makin ndableg di Twitter

Donald J. Trump :

"I use Social Media not because I like to, but because it is the only way to fight a VERY dishonest and unfair "press," now often referred to as Fake News Media. Phony and non-existent "sources" are being used more often than ever. Many stories & reports a pure fiction!"

Presiden USA Donald Trump ini memang ndableg. Gaya bahasanya berbeda dengan pemimpin negara umumnya yang diplomatis dan sopan santun. Setiap hari Trump memuntahkan peluru di media sosial favoritnya: twitter.

Dulu saya pikir Trump jadi lebih arif bijaksana setelah resmi jadi presiden. Perang kata-kata di twitter hanya dipakai saat kampanye menuju Gedung Putih.

Eh... Mbah Trump ini malah tambah nemen aja di twitter. Makin tua malah kelihatan kayak remaja belasan tahun yang belum pengalaman menghirup oksigen kehidupan.

Twitter jadi senjata utama Trump untuk melawan media arus utama (mainstream) yang dituduhnya hanya menyebarkan fake news alias berita bohong. Wartawan-wartawan dimusuhi. Koran, televisi, online... dianggap Trump sebagai musuh.

Waduh.. waduh....

Mengapa seorang presiden negara adikuasa bisa kerdil seperti itu? Doyan perang kata di twitter? Saya tanyakan kepada seorang profesor di Pittsburg, Amerika Serikat.

"Saya juga benci sama Trump. Orang itu tidak pantas jadi presiden," kata profesor yang botak itu.

Masalahnya, orang-orang kritis macam profesor ini biasanya malas menggunakan hak suaranya. Jadi golput. Mereka baru terkejut ketika tokoh yang ndableg dan setengah gila justru menang pemilu.

Kok bisa Trum menang? Perolehan suaranya sampai 60 persen? "Tidak tahu," katanya.

Saya jadi teringat ucapan seorang wartawan senior di Surabaya yang cenderung antidemokrasi dan anti-USA. Mas Qodir itu bilang sistem demokrasi bisa melahirkan presiden atau gubernur atau bupati yang gila. Siapa saja bisa terpilih asal populer dan kaya raya. "Suaranya maling sama saja dengan profesor atau kiai," katanya.

Itu sering diucapkan Mas Qodir ini jauh sebelum Trump jadi presiden USA. Qodir dari dulu ingin presiden + kepala daerah dipilih oleh parlemen. Semacam MPR dan DPR. "Itu yang dimaksudkan sila keempat Pancasila," katanya.

Saya pikir bukan salah Trump yang makin doyan menyerang siapa saja dengan kata-kata kasar + brutal di twitter. Yang salah itu Partai Republik yang mencalonkan Trump sebagai presiden. Sudah tahu Trump ndableg dari dulu kok dicalonkan?

"Yang salah juga orang Amerika kok mau-maunya memilih Trump," kata seorang teman di Surabaya.

Nasi sudah jadi bubur. Trump makin gandrung main twitter dan tidak mau dengar masukan dari media massa yang dianggapnya "very dishonest and unfair".

Natal dan Tahun Baru tanpa Kustomisasi

Sudah tiga empat tahun ini saya jarang menerima ucapan selamat natal dan tahun baru yang cutomized. Kustomisasi memang barang langka di zaman now. Era digital, media sosial, membuat orang malas mengetik beberapa kata sederhana : selamat natal + selamat tahun baru.

Cukup mencomot kartu ucapan digital di internet... lalu dikirim. Bagus-bagus tapi standar. Sama saja untuk semua orang. Tidak jelas siapa gerangan yang mendesain greeting card yang ciamik itu. Sebab tidak ada copyright di medsos.

Beda dengan masa lalu di zaman analog. Ketika kita masih menulis nama orang yang kita kirimi kartu + sedikit basa-basi + tanda tangan.

Di zaman SMS pun kita masih punya ruang untuk mengetik nama dan sedikit ucapan standar. Tidak main share begitu saja. Masa analog itu sudah lalu. Old school. Masa ketika kartu natal masih ditulis tangan seperti syair lagu White Christmas yang terkenal itu.

Tahun ini saya hanya dapat kiriman 3 ucapan selamat yang customized. Diketik sendiri oleh Bung Jerry teman lama yang Protestan + dua kawan yang bukan kristiani. Tentu saya jawab dengan antusias. Plus sedikit bumbu guyonan... selamat makan sagu papua untuk Jerry.

Anehnya, pesan-pesan natal dari teman yang katolik + kristen lain semuanya digital. Hasil copy paste atau comotan dari internet. Biasanya share dari teman... yang juga mencomot dari temannya dst.
Tidak ada kustomisasi. Seperti surat kendaraan bodong yang tidak ada identitasnya. Maka, saya pun diam saja. Tidak membalas ucapan-ucapan khas era digital itu.

Saya malah jengkel karena kiriman kartu-kartu digital itu justru menyedot memori ponsel + menyedot pulsa internet. Sebab kebanyakan kartu digital itu pakai musik dan video. Bagus tapi menjengkelkan.

Pagi ini, seperti pagi-pagi yang lain, saya kembali menerima ucapan selamat pagi dari seorang guru sekolah swasta terkenal di Surabaya. Tidak diketik sendiri, tidak ada kustomisasi. Cuma mencomot kartu digital yang tersedia berlimpah-limpah di jagat maya.

Maka, saya pun langsung menghapus tanpa membaca dulu. Orang itu sepertinya tidak punya waktu lagi untuk mengetik beberapa kata sederhana. Padahal selama ini dia dikenal sebagai penulis beberapa buku yang pasti terbiasa mengetik ribuan kata.

Selamat tahun baru!

26 December 2017

Macet di Malang tanpa solusi

Malang tidak lagi asyik untuk berwisata. Selain suhu udara yang tidak sesejuk tahun 1990an, jalan rayanya makin macet. Mulai dari Pasar Lawang hingga masuk wilayah Kota Malang.

Yang paling parah Lawang sampai Karangploso. Mobil dan motor dari arah Surabaya seperti masuk perangkap. Bergerak pelan-pelan kayak siput. Masih lebih cepat pejalan kaki di trotoar.

Polisi, seperti dikutip Malang Pos, menyebut kendaraan mencapai 15 ribu unit per jam. Itu karena banyaknya warga dari Surabaya dan sekitarnya yang berekreasi di Malang Raya. "Apalagi libur Natal dan tahun baru ini bersaman dengan liburan anak sekolah," kata Kasatlantas Polres Malang AKP Probandono.

Kalau saya amati, kemacetan di Malang ini sebetulnya tidak hanya karena libur akhir tahun atau Idulfitri. Setiap hari pun macet. Dan titik-titik rawan kemacetan bisa dilihat dengan mudah. Dan penyebab kemacetan pun gampang diidentifikasi. Tidak perlu jadi ahli untuk menganalisis kemacetan lalu lintas di Malang Raya.

Setahu saya, ruas jalan raya utama sejak 30 tahun lalu sampai sekarang sama saja. Tidak ada pelebaran. Yang sedikit beda adalah pembangunan jembatan layang atau flyover di dekat Terminal Arjosari. Lain-lainnya sami mawon.

Di pihak lain, seperti juga di kota-kota lain, pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi luar biasa. Kita makin sulit menyeberang di Malang. Jangankan di jalan protokol Surabaya-Malang, jalan-jalan kecil kayak Kahuripan menuju Alun-Alun Bunder pun super padat. Anda dijamin sulit menyeberang di kawasan alun-alun di depan balai kota itu.

Lalu, apa solusinya? Pemkot Malang sepertinya tidak berbuat banyak. Mungkin karena jalan utama itu tergolong jalan nasional atau jalan provinsi. Tapi kalau tidak ada action, ya situasinya akan semakin parah.

Pemkot Malang mestinya bisa meniru Surabaya yang ngotot membuat jalan pendamping atau frontage road. Padahal Surabaya itu sebetulnya tidak macet parah. Titik kepadatan hanya di Jalan Ahmad Yani dari bundaran Waru karena kendaraan-kendaraan yang datang dari Sidoarjo. Nah, titik macet di Ahmad Yani yang tidak seberapa jauh itu kini sudah sembuh berkat FR itu.

Bandingkan dengan Malang Raya yang macetnya dari Lawang sampai Blimbing. Itu benar-benar parah. Tapi kelihatannya pemkot adem ayem saja. Yang ramai justru orang Surabaya yang sering cuap-cuap di radio. Curhat soal kemacetan di Malang yang tanpa solusi itu.

Abah Anton, wali kota, tentu sudah punya jurus-jurus jitu. Selain minta tolong Tuhan yang mahakuasa tentu saja.

Pantai Sendang Biru dengan Homestay Selangit

Salah satu objek wisata yang mulai naik daun di Kabupaten Malang adalah pantai Sendang Biru di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Pantainya unik, airnya tenang, meskipun terletak di Segoro Kidul alias Laut Selatan yang terkenal ganas. Posisi Sendang Biru, Goa Cina, dan beberapa destinasi wisata lain kebetulan agak menjorok masuk di teluk.

Dibandingkan wisata pantai di Jember, apalagi Kuta dan Sanur di Bali, masih jauh lah. Sendang Biru (sekitar 60 km dari Malang) masih sederhana. Belum dikemas bagus kayak Kuta. Yang ada cuma perahu-perahu nelayan saja. Pengunjung tidak bisa main-main di pasir karena memang tidak ada pasirnya.

Mandi atau berenang? Kelihatannya tidak dianjurkan. Sebab, bagaimanapun juga ini segoro kidul. Airnya tenang tapi dalam. Hanya nelayan setempat yang saya lihat bermain-main di air.

Para pengunjung cuma menghabiskan waktu di warung-warung yang cukup banyak. Pohon-pohon yang rindang dan besar-besar bikin kerasan. Duduk di pantai serasa di pinggir danau tengah hutan saja. Ini juga kelebihan Sendang Biru dibandingkan objek wisata pantai yang lain. Apalagi pesisir pantai Sidoarjo yang panas karena cuma ada pohon-pohon bakau yang tidak tinggi.

Bagaimana dengan penginapan? Tidak ada hotel memang di desa yang umat kristennya cukup banyak itu (ada GKJW yang bagus). Tapi jangan khawatir. Warga Sendang Biru ternyata sangat sadar wisata. Lebih tepat: sadar uang!

Kamar-kamar rumah warga disewakan. Jadi homestay. Mereka juga manfaatkan situs online macam Travelola untuk promosi kamar. Homestay ini tentu sangat membantu pengunjung yang ingin bermalam. Tidak perlu balik ke Malang yang makan waktu lama. Apalagi harus lewat di jalan desa yang gelap gulita di tengah hutan.

Saya iseng-iseng survei tarif homestay di Sendang Biru. Wow... selangit harganya. Ada yang minta Rp 300 ribu, 350, bahkan 400. Saya juga mampir di rumah orang Kristen yang ada pohon natalnya.

Berapa tarif kamar? Bapak yang ramah itu berunding dengan istrinya. Agak lama. Lalu keluar angka 200 ribu. Tarif yang paling murah ketimbang lima rumah lainnya. Padahal, ya, rumah biasa. Tidak ada fasilitas layaknya hotel, selain AC.

Rupanya konsep homestay sudah berubah total di Desa Sendangbiru itu. Aslinya homestay itu numpang nginap di rumah orang. Biayanya pasti lebih murah ketimbang hotel. Suasana rumah, home, yang jadi kelebihan homestay (yang otentik).

Dulu rumah saya di pelosok NTT juga sering diinapi turis Eropa, Jawa, atau tamu dari mana saja. Tidak bayar alias gratis.

Homestay yang asli juga ditemukan di tempat-tempat ziarah Katolik seperti Gua Maria Lourdes, Sendangsono, Kulonprogo, Jogjakarta. Saya beberapa kali homestay di rumah Pak Warno dekat Gua Maria yang terkenal itu. Gratis. Tapi biasanya tamu macam saya menitipi sedikit duit saat pamitan.

Maka, homestay di Sendang Biru ini saya anggap aneh. Masak, harganya lebih mahal daripada hotel di Malang! Masih banyak hotel bagus di Malang yang pasang tarif di bawah 200 ribu. Hotel bintang pun ada yang 300an di luar peak season.

Penginapan untuk backpacker di Malang sekitar Rp 70-80 ribu per malam. Dengan fasilitas yang lebih bagus ketimbang homestay di pantai Malang Selatan itu.

Sambil menyeruput kopi buatan pabrik di Taman Sidoarjo, saya merenungkan perilaku orang desa yang komersial abis alias mata duitan. Menguangkan kamarnya dengan harga yang tidak patut. Lebih mahal ketimbang hotel-hotel di Kota Malang.

Kehangatan dan keramahtamahan orang desa sepertinya tinggal cerita zaman old. Di zaman now... uang adalah segalanya.